NovelToon NovelToon
PERISAI MALAM

PERISAI MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Kaya Raya / Keluarga / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU

Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan yang Tersingkap — Kegelisahan

Para Pejabat dan Pengkhianat Lama

Di gedung tinggi yang menghadap pelabuhan Batam, beberapa pejabat negara berkumpul di ruang rapat tertutup. Jendela besar menampilkan cahaya senja yang memantul di laut lepas.

“Dia kembali,” gumam salah seorang pejabat, suara serak dan penuh kekhawatiran.

Seorang perwira menatap layar laptop, menekan beberapa tombol dengan jari gemetar. Peta, foto, dan dokumen rahasia terhampar di layar. “Armand telah mengambil langkah pertama. Semua jalur yang kita pikir aman… sekarang terbuka. Dia tahu. Dia sudah tahu.”

Seorang pengacara yang dulu dibantu Armand namun kemudian berbalik mengangkat tangan. “Dia… dia tahu semua yang kita curi darinya. Semua proyek gelap, aliran uang… semuanya. Jika ia bergerak, kita… kita bisa hancur.”

Senyum licik muncul dari seorang pengusaha yang ikut duduk di sudut ruangan. “Tapi ini kesempatan kita. Armand selalu jadi ancaman. Jika kita menangkapnya sekarang… kita bisa menghentikan semuanya sebelum ia menyebarkan kebenaran. Semua orang yang pernah ia bantu tapi kemudian mengkhianatinya… mereka akan tetap aman, asalkan kita bergerak cepat.”

Seorang pejabat senior menepuk meja, nada suaranya meninggi. “Kita tidak bisa panik. Ini soal strategi. Dia cerdas, tapi kita punya kekuasaan, jaringan, dan posisi. Kita buat jebakan, kita tarik dia keluar… lalu kita lakukan apa yang perlu dilakukan.”

Seorang pengkhianat lama—mantan bawahan Armand—menatap layar dengan napas tertahan. “Tapi… kita sudah dicurigai. Sistem keamanan, mata-mata di jaringan, semua bisa dipantau. Jika ia mencurigai satu langkah kita… semua akan hancur.”

Seorang pejabat lainnya menyeringai. “Maka kita bergerak sekarang, dengan diam-diam. Tidak ada jejak. Kita tidak bisa menunggu. Kita harus menangkapnya sebelum ia menempatkan semua orang yang dulu ia lindungi di posisi aman.”

Suara-suara bisik bercampur tawa dingin, ketegangan memenuhi ruangan. Semua menyadari satu hal: Armand kembali. Dan kembali bukan sekadar hadir—ia adalah ancaman nyata.

“Persiapkan tim,” kata pejabat senior itu akhirnya, menatap semua orang. “Segala sesuatu harus siap. Senjata, dokumen, pengawasan. Kita tidak bisa gagal. Armand harus dihadang sebelum dia bergerak lebih jauh.”

Di luar gedung, lampu kota Batam mulai menyala. Malam turun, menutupi jalanan dengan bayangan panjang. Tapi bagi mereka yang tahu Armand telah kembali, gelap itu bukan sekadar malam. Itu adalah peringatan.

Armand yang dulu dianggap legenda kini menjadi target. Semua orang yang pernah dibantunya tapi mengkhianatinya panik, cemas, sekaligus bersemangat. Mereka ingin menangkapnya, menghentikannya, dan mengambil alih kendali sebelum kebenaran tersebar lebih luas.

Dan di tengah semua itu, Armand tetap bergerak—tenang, terkontrol, tapi sadar setiap mata yang mengawasinya, setiap langkah yang diikuti, dan setiap niat jahat yang mulai merayap mendekat.

Armand — Strategi di Balik Bayangan

Malam di Batam terasa panas, namun Armand duduk di balik jendela kamar hotel yang setengah gelap. Lampu kota memantul samar di kaca, seolah memperlihatkan jalur-jalur yang harus ia lalui. Di tangannya, peta digital kota dan dokumen yang ia ambil dari map cokelat. Semua nama yang dulu ia kenal, semua orang yang pernah ia bantu tapi kemudian mengkhianatinya, kini tercatat rapi.

Armand menutup mata sejenak. Napasnya tenang, tapi pikirannya bergerak cepat. Setiap langkah yang ia ambil akan diperhitungkan, setiap keputusan bisa menjadi perang atau jebakan.

“Armand,” gumamnya pelan, “mereka sudah mulai bergerak. Mereka menganggap aku ancaman. Mereka pikir bisa menangkap ku.”

Ia membuka map digital lagi, menandai titik-titik penting: gedung pemerintahan, lokasi mantan bawahan yang dulu mengkhianatinya, rumah-rumah orang yang pernah diberinya perlindungan. Semua rencana yang dulu tertata rapih kini menjadi alat untuk membaca pergerakan lawan.

Di layar laptop, satu pesan masuk dari kontak anonim—seorang informan lama yang masih setia.

"Mereka panik. Banyak dari mereka mengincar mu. Tapi juga ada yang senang. Mereka merencanakan jebakan. Jangan lengah."

Armand tersenyum tipis. Itu bukan ancaman, itu informasi. “Informasi selalu lebih berharga daripada kekuatan,” gumamnya.

Ia menyalakan lampu meja, menulis beberapa kode, koordinat, dan skema pengawasan. Tidak ada satu langkah pun yang akan ia lakukan tanpa memastikan keselamatan dirinya, dan lebih penting lagi, untuk memastikan keselamatan Elisabet dan anak-anak.

Ia mengingat kembali alasan ia dulu membangun organisasi itu—untuk menjaga keseimbangan, untuk melindungi mereka yang tak mampu melindungi diri sendiri. Sekarang, sejarah berulang, tapi skenarionya lebih rumit. Para pejabat, aparat, bahkan pengkhianat lama kini menjadi lawan.

Armand menatap layar, menghitung kemungkinan. Setiap tindakan mereka bisa diprediksi—asal ia tetap fokus pada informasi dan bukan emosi. “Mereka mengira aku akan menyerang,” bisiknya pelan, “padahal aku hanya akan menunggu momen yang tepat.”

Malam itu, rencana-rencana terstruktur mulai terbentuk: jalur aman, titik pengawasan, bahkan jebakan balik jika mereka mencoba menangkapnya. Tidak ada yang bisa bergerak tanpa Armand mengetahuinya.

Di dalam hatinya, satu hal tetap jelas: masa lalu mungkin menghantui, tapi ia memiliki keunggulan yang mereka lupakan—pengalaman, strategi, dan insting yang telah diasah bertahun-tahun.

Dan malam itu, di Batam, di tengah panas dan bau laut yang samar, Armand bersiap. Mereka bergerak. Mereka panik. Mereka mungkin senang. Tapi Armand tahu—siapa pun yang mencoba menaklukkannya, akan menemukan bahwa legenda tidak pernah hilang

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!