"Hanya anak yang lahir dari Tulang wangi satu suro yang akan selamat! Istrimu, adalah keturunan ke tujuh dari penganut iblis. Dia tidak akan memberimu anak, setiap kali dia hamil, maka anaknya akan di berikan kepada sesembahannya. Sebagai pengganti nyawanya, keturunan ke tujuh yang seharusnya mati."
Pria bernama Sagara itu terdiam kecewa, istri yang telah ia nikahi sepuluh tahun ternyata sudah menipunya.
"Pantas saja, dia selalu keguguran."
Harapan untuk menimang buah hati pupus sudah. Sagara pulang dengan kecewa.
"Lang, kamu tahu tidak, ciri-ciri perempuan yang memiliki tulang wangi?" tanya Sagara.
"Tahu Mas, kebetulan kekasihku di kampung memiliki tulang wangi." jawab Alang, membuat Sagara tertarik.
"Dia cantik, tapi lemah. Hari-hari tertentu dia akan merasa seluruh tulangnya nyeri, kadang tiduran berhari-hari." jelas Alang lagi.
"Lang, kamu mau nggak?" sagara meraih bahu Alang.
"Mau apa Mas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Saga
Mobil hitam itu akhirnya meluncur membawa serta Niken yang kini tertidur lelap di kursi belakang.
Alang sendiri, kini memutar stir dengan tatapan lurus ke jalanan, hatinya berkecamuk hebat tak bisa menghalangi Niken pergi ke kota.
Tuan Saga ini, benar-benar mahir membujuk. Bilangnya khawatir Niken tinggal di dekat hutan seorang diri, sehingga Niken merengek untuk ikut dengannya.
Ya, walaupun ada benarnya. Tapi mengajak Niken ke kota rasanya sungguh tidak tepat. Tuan Saga lagi gencar-gencarnya mencari sosok tulang wangi.
"Alang, a_"
Saga urung bicara, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Iya Mbak." jawab Saga.
"Saga, kamu udah dimana?" tanya Wanita yang menghubunginya, tidak lain adalah Rasni.
"Udah jauh Mbak, setengah jalan." jawab Saga.
"Anu, _" Saga mengecilkan volume ponselnya, kode dari Rasni membuatnya hati-hati bicara.
"Ada yang mencari Niken, baru saja keluar dari rumah ini. Katanya, paman niken dari kota. Adik almarhum ayahnya?"
"Oh." jawab Saga, berusaha setenang mungkin, sekilas ia melirik Niken yang tertidur di belakang. "Nanti kita bicarakan Mbak, jangan bilang apa-apa dulu. Takutnya, orang jahat."
Alang melirik Saga, penasaran dengan apa yang sedang di bicarakan, tapi tak berani bertanya.
Pura-pura tak ada apa-apa, sejak beberapa hari lalu, Saga sudah menyelidiki tentang Niken, tentu saja lewat bantuan Rasni.
Saga memejamkan mata, rasa mengantuk tiba-tiba melanda karena minimnya waktu istirahat. Tapi, ada rasa lega telah berhasil membawa Niken pulang.
"Tuan, kita sudah sampai." kata Alang, perjalanan yang jauh itu tak terasa, tiba-tiba tidurnya amat nyenyak.
Saga menoleh, seolah baru mengingat sesuatu di belakangnya. Niken menunduk menanti Saga keluar lebih dulu.
"Antar Niken ke rumah belakang, biarkan dia tidur di kamar perempuan." kata Saga.
Alang mengangguk. Niken sendiri, kini berdiri bingung berada di halaman rumah besar bak istana itu.
"Ayo, Ken. Mas antar ke belakang." kata Alang.
Lumayan jauh berjalan, tenyata di balik rumah bak istana itu ada lagi rumah dua lantai yang besar. Pintunya berjejer searah, sepertinya penghuninya ada banyak.
"Mas Alang." sapa seorang pembantu, menyapa Alang.
"Ani, di suruh Tuan Saga ngantar Niken. Kamar kosong di mana?" tanya Alang.
"Ada di ujung Mas Alang, sebelahan sama Nina. Tapi kalau mau di atas masih banyak." kata Ani.
"Ya sudah, di bawah saja. Banyak temannya." kata Alang.
"Mari, saya temani." Ani menggandeng Niken menuju kamar paling ujung, membuat Alang berdecak kesal dibuatnya. Niat hati ingin melepas rindu, malah Ani datang mengganggu.
Mau tak mau Alang meninggalkan Niken dan Ani di kamarnya.
Mana di rumah, Saga tak mau pergi. Di sini juga Ani yang menjadi penghalang.
Akhirnya, malam beranjak juga. Orang baru tentu kebingungan tinggal di rumah seperti istana. Beruntung Ani si bawel itu mengajaknya makan di dapur khusus pembantu, mereka cukup akrab.
"Ken, nantinya kamu di bagian apa? Gak mungkin bersih-bersih rumah kayak kita kan?" tanya Ani, memandangi wajah Niken yang cantik.
Niken tersenyum, menelan makanan di mulutnya kemudian berkata. "Tuan Saga belum memberi tahu, tapi kata anaknya aku akan mengasuh mereka Mbak." jawab Niken membuat Ani dan yang lain menghentikan aktifitas makan mereka.
"Anak Ken?" tanya Ani.
Niken mengangguk. "Tadi anaknya main di kamarku Mbak. Ganteng banget."
Enam orang pembantu yang makan bersama itu tercengang, saling pandang tapi tak berani membantah.
"Sudah, cepat makan dan habiskan." kata Mak Puah menengahi, dia adalah pembantu sepuh di sana.
"Hihik hik, hi hik hik." suara tawa anak-anak tiba-tiba menggema.
"Ayo kejar, adik."
"Mau makan."
"Bibi!"
Mak Puah tercengang, telinganya berdenging dan mata mengabur. Anak-anak itu berlarian mengitari meja makan, salah satunya meraih lengan Niken meminta makan.
"Mau makan a_"
"Niken." Mak Puah memotong ucapan Niken yang akan memberi makan anak laki-laki itu.
Niken terkejut, sehingga sendoknya terlepas jatuh. Seketika anak-anak itu hilang entah kemana. Niken menoleh kesana kemari mencari keberadaannya.
"Cepat makan, lalu masuk kamar masing-masing!" titah Mak Puah, mengusap keringat yang tiba-tiba mengalir.
*
*
Malam semakin merayap, sudah menjadi kebiasaan Saga duduk seorang diri di malam hari. Sedangkan Gendis sibuk dengan segala ritual, apalagi malam Selasa dan Jum'at. Baru sadar, selama ini Saga hanya menjadi alat pembuat anak.
Di dalam kamar, Aroma kemenyan menguar menelusup indera penciuman. Gendis sedang duduk bersila dengan tangan menangkup dada.
Di tengah malam ini ia gunakan untuk berkomunikasi dengan sesembahannya.
Satu persatu pakaiannya lepas seperti di lucuti makhluk tak kasat mata.
"Sudah lama tidak bertemu, kerutan di matamu semakin banyak." makhluk hitam menyeramkan datang di dalam kegelapan.
Gendis tersenyum, menjatuhkan diri diatas matras yang empuk. Ia membiarkan makhluk itu menikmati dirinya.
"Belakangan, aku merasa tak tenang. Tidur gelisah, siang pun rasanya tak tenang." ucap gendis.
"Kau tahu, kau tidak bisa lari dariku. Kalau kau tidak hamil, maka aku akan mengambil nyawamu." bisik setan yang kini menyatu dengan diri gendis.
Gendis mengerang, sakit dan nikmat menjadi satu. matanya yang sayu terkadang juga membelik seakan ingin keluar. Setiap hujaman makhluk itu membuat ia melayang tapi terkadang seakan segera mati.
"Sakit." ringis Gendis.
Makhluk itu mengeram hebat, semakin ia bersemangat semakin gendis kesakitan.
"Kau harus hamil lagi." ucapnya. Lalu makhluk itu mengeluarkan lendir yang cukup banyak.
Bau menyengat anyir dan busuk menyeruak. Gendis menggeliat di bawah kungkungan setan. Setan tersebut menjilati seluruh tubuhnya tanpa terkecuali. Lalu menghilang tanpa jejak meninggalkan gendis yang tak berdaya.
"Suamimu, sudah tidak setia."
Bisikan itu menggema, membuat mata gendis terbuka lebar.
"Mas Saga." dia bergumam sambil berlinang air mata.
Tidak bohong, cintanya kepada Saga begitu besar. Tapi dia sendiri tidak berdaya, takut mati.
Sedangkan di bawah sana, Saga menatap ponselnya sambil berpikir. Ia melangkah ke halaman samping, dimana kamar Alang berada.
Tampak lah Alang duduk menoleh halaman belakang dimana Niken tinggal, dia berdecih kesal.
"Tuan?" Alang terkejut melihat Saga datang ke kamarnya.
Saga melangkah masuk tanpa izin terlebih dulu, wajahnya datar sekali. Duduk di atas ranjang Alang.
"Ada apa Tuan datang kemari?" tanya Alang.
Saga mengeluarkan sebatang rokok seperti biasa. Menyulutnya dan menghisap dengan nikmat.
"Apakah kau sudah menemukan gadis yang aku cari?" tanya Saga.
Alang tersentak, bukannya lalai, tapi memang sulit sekali menemukannya.
"Belum Tuan." jawab Alang.
Saga menghembus asap rokoknya sehingga berbentuk bulat. "Benarkah?"
Alang sedikit takut.
"Ini sudah sebulan." kata Saga.
"Aku tahu, tapi memang aku belum menemukannya." jawab Alang.
Saga tersenyum sinis, kali ini ia menatap tajam kepada Alang.
"Kamu bukan belum menemukannya Alang, tapi kamu menyembunyikannya dariku."
Alang tercengang, tiba-tiba tatapan Tuan Saga itu membuatnya kesulitan menelan ludah sendiri.
aq mlah deg2an wis semua terbongkar kan alang mau dewi tau kebusukan mu juga lang
waktu ku tolol aq ga tau yang nongol2
ku sengol2 ku kira pistol ehh ternyata nya pistol 🤭🤭🤭
gendis g bisa lagi bikin saga tunduk akhirnya cari tumbal lain dan memghabisi dgn dgn sadis krn ketahuan 👻👻👻👻👻 the mit nya laper cuuuyy
kasih mie ayam apa yaaa 🤭
jd sebenarnya siapa itu hayoo
dan gendis ohh klakuan mu sunguh iblis