Sisi Caldwell dipaksa keluarganya mengikuti pesta kencan buta demi menyelamatkan perusahaan, hingga terpilih menjadi istri keenam Lucien Alastor, miliarder dingin yang tak percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Sore itu, Sisi mengakhiri pekerjaannya dan bergegas pulang dari kantor. Begitu tiba di mansion, ia langsung naik ke atas dan mengganti pakaiannya dengan cepat. Ia memilih gaun panjang berlengan panjang berwarna gelap dengan belahan tinggi di kaki kanan.
Sial. Dalam hati, Sisi mengumpat. Ia benar-benar harus mengingatkan dirinya untuk menampar Aletta karena gaun ini.
Ia merias wajahnya tipis, memasang sepasang anting sederhana, lalu mengikat rambut panjangnya menjadi sanggul yang sedikit berantakan. Tanpa usaha berlebihan, Sisi berhasil membuat dirinya tampak anggun dan memikat.
Sial. Saat melirik jam, ia hampir berlari menuruni tangga, ia hampir terlambat.
Lyra yang melihatnya langsung terpaku beberapa detik, lalu tersenyum lebar.
“Wow. Benar-benar wow. Kau cantik sekali,” puji Lyra dengan mata berbinar. “Apa kau mau kencan?”
Sisi nyaris tertawa.
“Tidak. Aku mau ke pesta,” jawab Sisi singkat sambil tersenyum tipis.
“Sendirian atau dengan Kakak?” tanya Lyra penuh rasa ingin tahu.
Sisi melirik ke arah pintu dengan cemas. Kekhawatiran mulai muncul, bagaimana jika pria bajingan itu berubah pikiran? Atau lebih parah, lupa?
“Dengannya. Tapi sepertinya dia tidak akan datang karena lihat saja, dia belum--”
Kalimat Sisi terputus.
Beep! Beep!
Suara klakson mobil yang nyaring terdengar dari luar. Tak perlu ditebak, itu pasti Lucien.
“Lihat? Seharusnya kau lebih percaya pada Kakakku,” goda Lyra sambil terkekeh. “Mungkin ke depannya kau bisa lebih mempercayainya.”
Sisi membalas dengan senyum palsu.
“Aku akan mencoba. Sekarang aku harus pergi,” ucapnya sambil menyeringai.
Di luar, Lucien menatap Sisi melalui jendela mobil. Ada getaran aneh yang singgah di dadanya, tapi menghilang secepat ia menyadarinya.
Sudah lama aku tidak melihat senyum sehangat itu, desis Lucien dalam hati, lalu segera menepis pikirannya sendiri.
“Apa kau tidak lihat aku sudah menunggu? Cepat!” teriak Lucien tidak sabar.
Sisi masuk ke mobil sambil memutar bola mata.
“Menyebalkan. Seolah aku tidak menunggunya. Ingin rasanya mencongkel matanya,” gumam Sisi pelan.
“Mengeluh lagi?” suara Lucien terdengar dingin.
Sisi langsung menutup mulutnya.
Dia harus bersyukur aku berutang budi padanya. Kalau tidak, mulutnya sudah kutampar, batin Sisi kesal.
Sepanjang perjalanan, keheningan menyelimuti mereka. Tidak ada yang membuka suara. Sisi hanya menatap keluar jendela, sementara Lucien sesekali mencuri pandang, terutama ke arah kaki Sisi yang terekspos jelas oleh belahan gaunnya.
Napas Lucien terasa berat. Tangannya mencengkeram setir lebih erat.
“Sial… tubuhnya benar-benar menyebalkan,” gumamnya lirih.
Sisi langsung menoleh tajam.
“Kau bicara apa di belakangku?” hardiknya.
Lucien memilih diam dan mengabaikannya.
Sesampainya di lokasi pesta, Lucien memarkir mobil. Sisi tidak langsung turun. Ia menunggu Lucien membukakan pintu, demi sandiwara mereka.
Sisi menghela napas sebelum merangkul lengan Lucien. Begitu kulit mereka bersentuhan, tubuhnya terasa seperti tersengat listrik. Refleks, ia langsung melepaskan pegangan itu. Lucien mengangkat alis, tapi Sisi hanya tersenyum tipis dan mendahuluinya masuk ke aula pesta.
Aula sudah dipenuhi tamu. Begitu masuk, Lucien melingkarkan lengannya di pinggang Sisi, membuat gadis itu menegang. Ia tidak menyangka pria itu akan bertindak sejauh ini.
Banyak orang menyapa mereka, sebagian besar tertuju pada Lucien. Kehadiran seorang miliarder jelas bukan hal biasa.
“Sis--Sisi!” panggil Aletta sambil mendekat.
Lucien tetap diam dengan tangan masih di pinggang istrinya, sampai Aletta menyadari bahwa Sisi tidak datang sendiri.
“Senang kau datang. Eh, Tuan Lucien, selamat malam,” ucap Aletta gugup.
Wajah Aletta yang semula bersemangat langsung berubah canggung. Sisi mengernyit, menyadari perubahan itu, terutama saat Aletta melihat tangan Lucien di pinggangnya.
“Selamat malam,” balas Lucien singkat.
Lucien melirik sekeliling aula sebelum membungkuk sedikit ke arah Sisi.
“Aku akan berkeliling satu kali denganmu, setelah itu aku pergi. Aku tidak tahan terlalu lama berada di sini,” bisiknya.
Sisi menepuk dahinya pelan.
“Oke,” jawabnya datar.
Ia memang sudah menduga ini akan terjadi. Ia sendiri tidak berniat menahannya lama.
Mereka baru akan melangkah ketika Aletta tiba-tiba menarik Sisi menjauh. Tatapan Lucien langsung mengeras, tertuju pada Aletta.
“Aku pinjam dia sebentar. Ada yang harus kukatakan,” ujar Aletta dengan senyum dipaksakan.
Lucien mengangguk singkat.
Aletta menyeret Sisi ke sudut yang lebih sepi. Belum sempat Sisi bertanya, Aletta sudah lebih dulu membuka mulut.
“Jericho sudah kembali,” ucap Aletta hampir berteriak.
Sisi membeku. Dunia seakan berhenti berputar. Jantungnya berdegup tak karuan.
“Hah?” gumamnya lirih.
Kenapa sekarang? Seharian ia di kantor, tapi tak ada satu pun yang memberi tahu Jericho sudah pulang. Dan Jericho tidak tahu apa pun tentang pernikahannya.
Bagaimana ia harus menjelaskannya, sementara suaminya ada di sini?
“Apa yang harus kita lakukan? Lucien ada di sini,” tanya Aletta frustrasi melihat Sisi yang masih terpaku.
“Dia harus tahu--”
“Tidak!” potong Sisi cepat.
“Aku akan menyuruh Lucien pulang dulu. Kau hibur Jericho sebentar. Aku akan bicara dengannya nanti,” ucap Sisi tergesa, lalu berbalik dan kembali ke arah suaminya.
Lucien menatapnya dengan alis berkerut, jelas menyadari ada sesuatu yang tidak beres.