"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"
Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.
Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.
Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.
Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur Sebentar Saja
Dengusan kesal lolos dari bibir seorang wanita yang tengah terkapar di atas kasur busa tipisnya. Kamar apartemen berukuran tiga kali empat meter itu terasa semakin sempit dengan tumpukan berkas kantor yang berserakan. Dia menatap langit-langit plafon yang mulai menguning dengan pandangan kosong.
"Cukup. Aku udah muak banget kerja bagai kuda tapi gaji cuma cukup buat bayar kosan dan makan mi instan," gumamnya.
Lelah yang merayap di tulang-tulang terasa berlipat ganda setiap kali dia mengingat wajah bosnya yang terus menuntut lembur tanpa kompensasi. Hidup di Jakarta benar-benar mencekik leher secara perlahan.
Dia meraba sisi tempat tidur, mencari ponsel untuk sekadar membuang penat dengan menggulir media sosial, tapi benda pipih itu mati total. Baterainya habis.
"Sial banget sih hari ini," gerutunya.
Karena terlalu malas beranjak hanya untuk mencari kabel pengisi daya, dia menyeret tubuh menuju lemari kayu tua di sudut ruangan. Lemari itu adalah peninggalan ibunya yang sudah lama meninggal.
Saat pintu kayu itu berderit terbuka, aroma kamper dan kertas tua menyapa indra penciuman. Di tumpukan paling bawah, sebuah buku bersampul kulit kusam menarik perhatiannya.
Dia mengambil buku itu. Pada halaman pertama yang sudah menguning, terdapat tulisan tangan yang sangat dia kenali.
Untuk anakku tersayang, Rosie Camelia.
"Mama," bisik Rosie. Jemarinya mengusap tulisan itu dengan perasaan sedih.
Dia membawa buku itu kembali ke kasur. Ternyata itu berisi kumpulan dongeng rakyat. Halaman pertama menampilkan judul besar, Bawang Merah dan Bawang Putih. Rosie mendengus, teringat bagaimana dulu ibunya selalu membacakan cerita ini sebelum tidur.
"Astaga, bisa-bisanya aku baca dongeng anak kecil kayak gini? Ck, bocil banget sih aku," sindir Rosie pada dirinya sendiri.
Dia mulai membaca baris demi baris. Tentang seorang gadis bernama Bawang Putih yang disiksa ibu tiri dan saudara tirinya, Bawang Merah. Rosie memutar bola mata saat membaca bagian di mana Bawang Putih hanya diam saja saat bajunya dibuang atau saat dia dimarahi tanpa alasan.
"Enggak logis. Kalau aku jadi dia, udah aku laporin ke Dinas Sosial atau minimal aku balas jambak rambutnya. Kenapa juga harus jadi lemah kayak gitu?"
Baru saja dia hendak membalik halaman ke bagian pertemuan dengan nenek ajaib di hutan, matanya terasa sangat berat. Rasa kantuk yang tidak tertahankan menyerang.
Pandangannya mengabur, buku itu merosot dari tangannya, dan kesadarannya hilang ditelan kegelapan.
Mata Rosie perlahan terbuka, tapi segalanya bergoyang dan buram. Kepalanya berdenyut. Dia mencoba mengerjapkan mata berkali-kali untuk menjernihkan penglihatan.
Hal pertama yang dia sadari adalah aroma. Bukan lagi bau parfum ruangan vanilla murah dari apartemennya, melainkan aroma tanah basah, melati, dan kayu yang terbakar. Dia merasakan punggungnya menyentuh permukaan yang keras dan tidak nyaman.
Saat matanya benar-benar terbuka, dia terperanjat. Dia tidak melihat langit-langit plafon apartemennya. Yang ada di atas sana adalah struktur atap dari anyaman bambu dan rumbia yang tertata rapi di antara balok-balok kayu besar.
"Racun apa yang kamu masukkan dalam minuman putriku?! Kenapa dia belum bangun juga?!"
Suara lengkingan wanita itu memecah keheningan, membuat Rosie terlonjak kaget. Suaranya penuh amarah, sangat dekat dengan tempatnya berada.
"Apaan sih? Berisik banget!" gumam Rosie sambil memijat pelipisnya.
Dia bangkit dari tempat tidur. Bukan kasur busa, melainkan sebuah balai-balai kayu rendah yang dialasi kasur kapuk keras dengan sprei kain jarik cokelat kusam.
Rosie menatap sekeliling dengan bingung. Dinding ruangan itu terbuat dari papan kayu jati tua yang kokoh. Ada sebuah cermin perunggu di atas meja rias kayu di sudut ruangan.
"Ini bukan apartemenku. Ini di mana? Aku diculik ke desa mana?" batinnya panik.
Suara keributan di luar semakin menjadi-jadi. Rosie berjalan sempoyongan menuju pintu yang hanya ditutupi selembar kain gorden putih lusuh sebagai penyekat. Dia menyibak kain itu dengan kasar.
"Loh? Apaan ini? Lagi syuting film kolosal ya?" Rosie bertanya dengan suara parau.
Di hadapannya, seorang gadis muda bersimpuh di lantai tanah beralas tikar pandan. Gadis itu mengenakan kemben putih lusuh dengan kain jarik pudar. Bahunya gemetar, wajahnya basah oleh air mata. Begitu melihat Rosie, matanya membelalak lebar.
"Nona! Nona sudah bangun!" Gadis itu langsung bersujud syukur, bahunya terguncang hebat karena tangis haru.
Rosie terpaku. Di hadapannya juga berdiri seorang wanita dewasa yang penampilannya sangat kontras. Wanita itu mengenakan kemben dari kain sutra berwarna merah marun dengan jarik bermotif parang yang indah.
Rambutnya disanggul rapi dengan hiasan tusuk konde emas. Wajahnya yang semula merah padam karena marah, tiba-tiba berubah menjadi penuh sukacita yang berlebihan.
"Merah! Kamu sudah bangun, Nak! Terimakasih pada Yang Kuasa, akhirnya anakku sudah pulih!"
Tanpa aba-aba, wanita itu langsung memeluk Rosie dengan sangat erat. Rosie yang merasa sesak dan bingung secara refleks mendorong bahu wanita itu hingga pelukan mereka terlepas.
"Aduh, apaan sih? Lepasin! Kamu siapa? Kalian ini siapa?" tanya Rosie sambil mundur beberapa langkah hingga menabrak tiang kayu.
Seluruh orang di ruangan itu mendadak diam. Beberapa orang yang tampak seperti pekerja rumah tangga yang berdiri di belakang mereka saling berpandangan dengan wajah pucat.
Wanita berbaju merah marun itu memegang dadanya, tampak sangat terkejut. "Kamu bicara apa, Sayang? Aku ibumu! Apa kepalamu terbentur sangat keras sampai tidak mengenali ibumu sendiri?"
"Ibu?" Rosie mengerutkan kening. "Maaf ya Tante, tolong jangan bercanda. Kalian lagi syuting sinetron atau reality show ya? Mana kameranya? Mas kameramen, keluar dong, enggak lucu nih!"
Rosie celingukan, mencari kru film atau lampu studio di sudut-sudut ruangan yang remang-remang itu. Namun yang dia temukan hanyalah tungku api di kejauhan dan kendi-kendi tanah liat.
"Su ...? Kamera? Bahasa apa yang kamu pakai itu, Merah? Jangan menakut-nakuti Ibu," ucap wanita itu dengan suara bergetar.
Gadis berpakaian putih yang masih bersimpuh di lantai merangkak mendekat ke kaki Rosie. "Nona Merah, ini saya, Putih. Tolong jangan bicara aneh-aneh. Pasti Nona sedang hilang akal karena sakit panas yang belum reda."
Rosie menunduk, menatap gadis yang memanggil dirinya sendiri sebagai 'Putih'. Tunggu dulu. Merah? Putih? Ibu tiri?
"Lancang sekali kamu! Berani-beraninya kamu bilang anakku hilang akal!" Wanita berbaju merah itu tiba-tiba melayangkan dorongan keras pada bahu si gadis berbaju putih. "Ini semua salahmu, pelayan tidak tahu diri! Kamu pasti memberi Merah ramuan yang keliru!"
"Ampun, Ibu ... saya tidak berani berbuat begitu," isak gadis bernama Putih itu sambil merapatkan kedua tangannya di depan dada.
Rosie melongo melihat adegan itu secara langsung. "Eh, tunggu, jangan main tangan dong. Kasihan itu anaknya sampai nangis kayak gitu."
Kemudian Rosie menyadari sesuatu yang janggal pada dirinya sendiri. Dia menunduk melihat tubuhnya. Dia tidak memakai kaos atau celana kain.
Dia mengenakan kemben berwarna merah cerah dengan kain jarik bermotif bunga-bunga yang terlihat mahal. Tangannya halus, tidak ada bekas luka kerja, dan pergelangan tangannya dihiasi gelang emas.
"Kok aku pakai baju begini? Apa-apaan ini?!" Rosie mulai berteriak. Dia berlari menuju cermin perunggu di dalam kamar tadi.
Di cermin itu, dia melihat wajahnya sendiri, dengan riasan yang berbeda. Rambutnya panjang hitam legam dan tertata cantik. Dia terlihat seperti putri bangsawan desa.
"Enggak mungkin! Ini pasti mimpi! Bangun Rosie, bangun!" Dia menampar pipinya sendiri berkali-kali. Plak! Plak!
"Aduh, sakit!" pekiknya. Jika sakit, berarti ini bukan mimpi.
"Nona, tolong tenang, Nona!" Gadis bernama Putih mencoba memegang tangan Rosie untuk menenangkannya.
"Jangan sentuh aku! Aku mau pulang! Aku mau ke apartemenku! Aku mau pesan ojek online!" Rosie berteriak tantrum. Dia mengacak-acak rambutnya yang semula rapi hingga sanggulnya miring. "Ini di mana?! Tahun berapa sekarang?! Mana HP-ku?!"
Wanita yang mengaku ibunya itu tampak sangat ketakutan melihat tingkah Rosie. "Cepat panggil tabib! Anakku kemasukan roh jahat hutan! Merah, sadarlah Nak, ini Ibu!"
"Aku bukan Merah! Namaku Rosie! R-O-S-I-E! Rosie Camelia!" teriak Rosie sambil menunjuk-nunjuk wajahnya sendiri di depan wanita itu. "Kalian semua gila ya? Ini pasti acara prank kan? Mana krunya? Keluar sekarang atau aku lapor polisi!"
Orang-orang di ruangan itu semakin bingung. Mereka tidak mengerti satu pun kata yang diucapkan Rosie seperti 'apartemen', 'ojek online', 'HP', atau 'prank'. Bagi mereka, bahasa yang keluar dari mulut Rosie terdengar seperti mantra kuno yang kacau.
"Tolong, Putih, bawa kakakmu kembali ke tempat tidur!" perintah sang ibu dengan nada panik.
"Jangan mendekat! Kalau ada yang berani mendekat, aku ... aku bakalan ...." Rosie mencari sesuatu untuk mengancam, lalu dia mengambil sebuah sisir kayu di atas meja. "Aku bakal laporin kalian atas dugaan penculikan dan perbuatan tidak menyenangkan!"
Si gadis bernama Putih hanya bisa menangis sesenggukan, sementara sang ibu tampak mulai kehilangan kesabaran dan mulai menangis dramatis. Rosie terduduk di lantai kayu, napasnya memburu. Pikirannya melayang pada buku dongeng yang dia baca tadi malam.
Putih? Merah? Bawang Merah dan Bawang Putih?
"Enggak mungkin aku masuk ke dalam buku itu kan?" bisik Rosie pada dirinya sendiri. Dia menatap tangannya yang mulus dengan ngeri. "Kalau aku jadi Bawang Merah, berarti wanita galak ini ibuku, dan gadis malang yang menangis itu adalah..."
Rosie menoleh ke arah Putih yang sedang bersimpuh ketakutan.
"Kamu ... namamu beneran Bawang Putih?" tanya Rosie dengan nada yang jauh lebih rendah, matanya membelalak penuh tuntutan.
Gadis itu mendongak dengan wajah basah dan sedikit bingung tapi tetap menjawab, "be—benar, Nona Merah. Saya Putih, adikmu."
Rosie menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu berteriak sekencang mungkin ke sela-sela jarinya. "TIDAAKKKKKKK! AKU JADI TOKOH JAHATNYAAAA!"
Hening seketika. Ibu tiri dan Putih hanya bisa mematung melihat Rosie yang kini berguling-guling di lantai tanah sambil meratapi nasibnya yang berpindah dari budak korporat menjadi antagonis dongeng legendaris.