Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 PENGAKUAN MAHIRA
#
Satu hari tersisa.
Mahira duduk di perpustakaan kecil apartemen safehouse—dikelilingi buku-buku lama tentang sejarah, spiritual, dan ritual. Tapi matanya tidak benar-benar membaca. Pikirannya melayang. Ke Zarvan. Ke Khaerul. Ke ritual besok malam yang bisa mengakhiri semuanya—atau menghancurkan semuanya.
"Kamu belum makan sejak tadi pagi."
Mahira menoleh. Mama berdiri di ambang pintu dengan nampan berisi nasi dan lauk.
"Aku tidak lapar, Ma."
"Aku tahu." Mama masuk—meletakkan nampan di meja. Lalu duduk di kursi di seberang Mahira. "Tapi kamu butuh tenaga. Besok kamu akan—" suaranya tercekat, "—kamu akan hadapi sesuatu yang berat. Sangat berat. Dan kamu tidak bisa lakukan itu dengan perut kosong."
Mahira menatap makanan itu. Lalu menatap Mama. Wanita yang melahirkannya. Yang merawatnya. Yang—yang sekarang harus rela melepasnya menghadapi bahaya.
"Ma," bisik Mahira, "aku takut."
Mama tersenyum sedih. "Aku tahu, sayang. Aku juga takut."
"Aku takut gagal. Takut tidak bisa selamatkan Zarvan dan Khaerul. Takut—" suaranya bergetar, "—takut aku mati dan Ma kehilangan aku."
"Maka jangan mati." Mama menggenggam tangannya. "Bertahan. Lawan. Dan menang. Karena kamu—kamu Mahira Qalendra. Putri dari Irfash dan Syafira. Dan kamu juga Aisyara—putri Sultan Mahmud yang pernah dikutuk tapi tidak pernah menyerah. Kamu punya kekuatan dari dua kehidupan. Gunakan itu."
Mahira menangis—untuk kesekian kalinya hari ini.
"Aku tidak tahu apakah aku cukup kuat—"
"Kamu cukup kuat." Mama memeluknya. "Karena kamu punya cinta. Cinta yang membuat kamu rela lakukan apapun untuk orang yang kamu sayang. Dan cinta itu—cinta itu adalah kekuatan terbesar yang ada di dunia ini."
***
Malam itu, Mahira duduk sendirian di balkon. Langit Jakarta masih sama—gelap dengan lampu-lampu kota. Tapi entah kenapa malam ini terasa berbeda. Terasa seperti—seperti malam terakhir.
"Jangan berpikir negatif."
Mahira tersentak. Raesha berdiri di belakangnya dengan dua cangkir kopi.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan," lanjut Raesha sambil menyerahkan satu cangkir. "Kamu pikir ini malam terakhirmu. Tapi bukan. Ini malam terakhir sebelum kamu mengakhiri kutukan sialan itu dan hidup normal seperti orang lain."
Mahira menerima cangkir itu—menyesap kopi pahit yang entah kenapa terasa menenangkan.
"Kak," katanya pelan, "ada yang ingin aku tanyakan."
"Apa?"
"Apa aku mencintai Zarvan karena dia reinkarnasi Dzarwan yang dulu dicintai Aisyara? Atau aku mencintai dia—Zarvan sendiri—terlepas dari takdir dan kutukan dan semua omong kosong masa lalu?"
Raesha duduk di kursi sebelah. Menatap langit.
"Kamu tahu jawabannya," katanya akhirnya.
"Aku tidak—"
"Kamu tahu, Mahira." Raesha menatapnya. "Coba ingat. Saat pertama kali kamu ketemu Zarvan—sebelum kamu tahu siapa dia—sebelum kamu tahu tentang reinkarnasi—apa yang kamu rasakan?"
Mahira menutup matanya. Mengingat.
Pertemuan pertama di kantor. Saat Zarvan berjabat tangan dengannya. Tatapan mata yang dalam. Senyum yang hangat. Dan—dan degup jantung yang tiba-tiba cepat tanpa sebab.
"Aku—" Mahira membuka matanya, "—aku merasa nyaman. Merasa aman. Seperti ketemu orang yang sudah lama aku kenal meskipun baru pertama kali bertemu."
"Itu karena jiwamu mengenali jiwanya," jelas Raesha. "Tapi—" dia menggenggam tangan Mahira, "—tapi setelah itu? Setelah kalian mulai sering ketemu? Setelah kalian bicara tentang banyak hal—bukan hanya tentang masa lalu tapi tentang mimpi, harapan, ketakutan kalian di kehidupan ini?"
Mahira tersenyum—senyum pertamanya dalam dua hari ini.
"Aku jatuh cinta," bisiknya. "Aku jatuh cinta pada caranya bicara. Cara dia peduli pada anak-anak yatim di yayasannya. Cara dia serius tapi kadang jahil. Cara dia—cara dia menatapku seolah aku satu-satunya wanita di dunia."
"Nah itu." Raesha menepuk tangannya. "Itu bukan Aisyara yang mencintai Dzarwan. Tapi Mahira yang mencintai Zarvan. Dua jiwa yang berbeda di dua kehidupan yang berbeda. Tapi cintanya—cintanya sama tulusnya."
Mahira menatap kakaknya—dan untuk pertama kalinya dalam dua hari, dia merasa—lega.
"Terima kasih, Kak."
"Untuk apa?"
"Untuk selalu ada. Untuk selalu tahu apa yang harus dikatakan saat aku bingung."
Raesha memeluknya. "Itulah gunanya kakak, kan?"
***
Tengah malam, Mahira tidak bisa tidur lagi. Dia berjalan ke ruang tamu—dan terkejut melihat Papa duduk di sofa, menatap foto keluarga yang terpajang di dinding.
"Pa?"
Papa menoleh. "Kamu belum tidur?"
"Tidak bisa." Mahira duduk di sampingnya. "Papa juga?"
"Aku sedang berpikir." Papa menatap foto itu—foto saat Mahira dan Raesha masih kecil, tertawa bahagia. "Berpikir bagaimana waktu berjalan cepat. Bagaimana putri kecilku yang dulu takut gelap sekarang—sekarang harus hadapi kegelapan yang jauh lebih menakutkan."
Mahira bersandar ke bahu Papa.
"Aku masih takut gelap, Pa. Tapi sekarang aku punya alasan untuk melawan ketakutan itu."
"Zarvan?"
Mahira mengangguk.
Papa diam sejenak. Lalu berbicara dengan suara pelan.
"Saat aku pertama kali ketemu Mamamu," katanya, "aku tahu dia orangnya. Aku tahu—di lubuk hati paling dalam—bahwa dia adalah wanita yang akan aku nikahi. Yang akan jadi ibu dari anak-anakku. Yang akan tua bersamaku."
Mahira tersenyum mendengar cerita yang sudah sering dia dengar tapi tidak pernah bosan.
"Dan aku benar," lanjut Papa. "Kami menikah. Punya kalian. Dan setiap hari—setiap hari aku bersyukur karena aku tidak menyerah pada perasaan itu. Karena aku—" dia menatap Mahira, "—karena aku memilih cinta."
"Zarvan adalah pilihanku, Pa," kata Mahira tegas. "Bukan karena takdir atau kutukan. Tapi karena aku memilih untuk mencintainya."
Papa memeluk putrinya erat.
"Maka lawan untuk dia," bisiknya. "Lawan dan menang. Dan bawa dia pulang. Karena aku—aku ingin suatu hari nanti bisa lihat kamu menikah dengannya. Punya anak. Dan bahagia seperti aku dan Mama."
Mahira menangis lagi—tapi kali ini bukan karena takut. Tapi karena harapan.
***
Jam menunjukkan pukul empat pagi. Enam jam lagi sebelum matahari terbit. Dua puluh jam lagi sebelum ritual.
Mahira berdiri di depan cermin kamarnya. Menatap pantulan dirinya sendiri.
Wanita di cermin itu terlihat lelah. Matanya sembab. Rambutnya berantakan. Tapi ada sesuatu di matanya—determinasi yang tidak ada sebelumnya.
"Aku siap," bisik Mahira pada pantulannya. "Aku siap untuk mengakhiri ini."
Tiba-tiba cermin berkilau. Cahaya putih lembut muncul—dan Mahira melihat bayangan lain di sebelah pantulannya.
Aisyara.
Putri dari tiga ratus tahun lalu. Dengan wajah yang persis seperti Mahira tapi dengan mata yang lebih tua—mata yang sudah melihat pengkhianatan dan kematian.
"Kamu siap?" tanya Aisyara—suaranya bergema di kepala Mahira.
"Aku siap," jawab Mahira. "Aku akan menyelesaikan apa yang kamu mulai. Aku akan—"
"Aku tahu." Aisyara tersenyum—senyum sedih. "Dan aku percaya padamu. Karena kamu—kamu lebih kuat dariku. Kamu punya keluarga yang mendukung. Punya cinta yang tulus. Dan kamu—kamu tidak sendirian seperti aku dulu."
"Aku janji tidak akan gagal."
"Aku tahu kamu tidak akan." Aisyara perlahan memudar. "Dan saat semuanya selesai—saat kutukan putus—aku bisa istirahat dengan tenang. Karena aku tahu—aku tahu cinta kita dengan Zarvan akhirnya terpenuhi. Meskipun tiga ratus tahun terlambat."
Bayangan Aisyara menghilang.
Dan Mahira tersisa sendirian dengan pantulannya sendiri.
Tapi kali ini—kali ini dia tidak merasa sendirian.
***
Pagi itu, tim berkumpul di ruang tamu. Ustadz Hariz menjelaskan strategi terakhir. Papa mengecek tim keamanan. Raesha mempersiapkan perlengkapan medis—berharap tidak akan digunakan tapi tetap siap kalau-kalau.
Mahira duduk di sudut—menggenggam tasbih di lehernya. Membaca doa dalam hati.
Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tidak dikenal.
*"Aku menunggumu, Mahira. Jangan terlambat. Atau Zarvan akan menderita lebih lama. —I"*
Mahira menghapus pesan itu. Tidak akan dia biarkan Isabelle melihat ketakutannya lagi.
"Mahira." Ustadz Hariz menghampiri. "Ini." Dia menyerahkan sesuatu—liontin kecil berbentuk bulan dengan tulisan Arab.
"Apa ini?"
"Ayat Kursi yang ditulis di atas perak murni. Sudah dibacakan doa ribuan kali. Pakai ini bersama tasbihmu. Ini akan melindungimu dari—dari apapun yang Isabelle lakukan."
Mahira memakai liontin itu. Merasakan kehangatan yang menenangkan.
"Terima kasih, Ustadz."
"Jangan berterima kasih dulu." Ustadz Hariz tersenyum tipis. "Berterima kasih setelah kamu dan Zarvan selamat."
***
Pukul sepuluh malam, mereka berangkat. Dua mobil. Satu untuk Mahira—yang akan masuk sendirian sesuai permintaan Isabelle. Satu lagi untuk tim—yang akan sembunyi di sekitar reruntuhan, menunggu saat yang tepat.
Mahira duduk di kursi belakang—sendirian. Tangannya gemetar memegang tasbih. Liontin di lehernya hangat—menenangkan sedikit ketakutannya.
"Kamu pasti bisa," bisiknya pada diri sendiri. "Kamu pasti bisa."
Mobil berhenti di pinggir jalan—sekitar lima ratus meter dari reruntuhan. Lebih dekat dari ini, Isabelle bisa mendeteksi kehadiran orang lain.
Mahira turun. Berdiri sendirian di kegelapan malam.
"Ini saatnya," bisik Raesha lewat earpiece kecil yang tersembunyi di telinga Mahira. "Kami akan ada di sini. Mengawasi. Kalau ada masalah—kalau kamu dalam bahaya—kami akan bertindak."
"Aku tahu," jawab Mahira pelan. "Aku percaya kalian."
Dia mulai berjalan. Melangkah masuk ke kegelapan. Menuju reruntuhan yang menjadi saksi bisu kematian Aisyara tiga ratus tahun lalu.
Dan mungkin—mungkin malam ini juga akan jadi saksi bisu kematian atau kemenangan Mahira.
Area reruntuhan diterangi bulan purnama. Cahayanya membuat bayangan-bayangan aneh di antara batu-batu tua.
Di tengah reruntuhan—di paviliun utama—ada dua sosok terikat di pilar.
Zarvan dan Khaerul.
Mahira hampir berlari—tapi dia tahan. Harus hati-hati. Ini pasti jebakan.
"MAHIRA!"
Suara Zarvan—lemah tapi penuh lega.
Mahira melangkah lebih dekat—dan jantungnya hancur melihat kondisi Zarvan. Wajahnya lebam. Bibir pecah. Baju robek dengan bekas luka di mana-mana.
"Zarvan—" suaranya bergetar.
"Jangan—jangan mendekat—" Zarvan mencoba memperingatkan. "Ini jebakan—"
Terlambat.
Dari balik pilar, Isabelle muncul. Dengan senyum kemenangan.
"Selamat datang, Mahira," katanya. "Aku sudah menunggu."
Mahira berhenti. Menggenggam tasbih erat-erat.
"Lepaskan mereka," katanya dengan suara tenang meskipun ketakutan merajalela di dadanya.
"Atau apa?" Isabelle tertawa. "Kamu akan melawanku? Dengan tasbih kecilmu itu?"
"Kalau perlu." Mahira melangkah maju. "Lepaskan mereka. Sekarang."
Isabelle menatapnya lama. Lalu—mengejutkan—dia mengangguk.
"Baiklah." Dia mengangkat tangannya—dan tali yang mengikat Zarvan terlepas.
Zarvan jatuh ke tanah—tubuhnya terlalu lemah untuk berdiri.
Mahira langsung berlari menghampiri—berlutut di sampingnya.
"Zarvan—Tuhan—kamu—"
"Aku tidak apa-apa—" Zarvan tersenyum—senyum yang menyakitkan untuk dilakukan. "Aku tidak apa-apa karena kamu di sini."
Mahira memeluknya—tidak peduli dengan darah dan luka. Hanya peduli bahwa dia—dia hidup.
"Aku mencintaimu," bisiknya. "Aku sangat mencintaimu."
"Aku juga," jawab Zarvan dengan suara serak. "Aku juga mencintaimu, Mahira. Bukan karena kamu Aisyara. Tapi karena kamu—kamu."
Mereka saling menatap. Dan di tengah kegelapan. Di tengah bahaya. Di tengah reruntuhan yang bersaksi pada tragedi tiga ratus tahun lalu—
Mereka berciuman.
Ciuman pertama mereka. Lembut. Penuh cinta. Penuh harapan.
Dan saat bibir mereka bertemu—
Cahaya meledak.
Cahaya putih menyilaukan yang memenuhi seluruh area reruntuhan.
Dan visi menghantam.
Visi masa lalu yang lebih jelas. Lebih detail. Lebih—menyakitkan.
Mahira melihat Aisyara dan Dzarwan malam sebelum pernikahan. Melihat janji mereka. Melihat cinta mereka.
Tapi dia juga melihat—
Khalil. Berdiri di balik pilar. Mendengar percakapan mereka. Dan mata Khalil—mata Khalil penuh kebencian dan—
Kesedihan.
Kesedihan yang dalam. Kesedihan yang berubah jadi obsesi. Jadi—pembunuhan.
Visi berubah.
Mahira melihat malam tragedi. Melihat Khalil datang ke kamar Aisyara. Melihat—
Danial ada di sana. Membisikkan sesuatu. Membujuk Khalil untuk—
Membunuh.
"Kalau dia tidak bisa jadi milikmu," bisik Danial di visi itu, "maka bunuh dia. Dan bunuh Dzarwan. Agar tidak ada yang bisa memilikinya."
Dan Khalil—Khalil setuju.
Visi berakhir.
Mahira dan Zarvan terlepas dari ciuman—sama-sama menangis.
"Kamu lihat?" bisik Zarvan.
"Aku lihat," jawab Mahira. "Aku melihat semuanya."
Mereka saling menatap—dan paham sekarang. Paham kebenaran yang selama ini tersembunyi.
Khalil bukan satu-satunya pengkhianat.
Danial adalah dalang sebenarnya.
***
**BERSAMBUNG KE