Perjalanan mendaki gunung sebuah rombongan, mengantarkan mereka untuk mengalami hal mistis. Niat ingin bersenang-senang, harus merasakan perasaan mencekam sepanjang perjalanan.
Namun, di akhir kisah mendaki. Salah satu dari rombongan, ternyata merupakan takdirnya salah satu anggota Zandra.
Penasaran?? yuk kita simak ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bingung, Mau Kasih judul Apa???
Sedangkan di tempat lain, di sebuah kafe kecil yang jarak nya tak terlalu jauh dengan tempat tinggal Anggun.
Seorang pria dan wanita, duduk berhadapan.
"Apa tujuanmu mengajakku ke sini?" tanya perempuan, yang membenci Anggun. Ia menyandarkan punggungnya, melipat kedua tangannya di depan perut. Menatap datar, pria yang duduk di depannya.
"Kenalkan, aku Darius. Paman ketiganya Anggun, aku sudah mencari Anggun kemana-mana, baru bisa menemukannya sekarang." jawab Darius
"Lalu, apa tujuanmu mengatakan ini padaku? Aku ga peduli, mau si Anggun kabur dari rumah kek, mau anak yatim piatu kek, mau apalah itu... Aku ga peduli, emang urusan situ sama aku apa?" tanya perempuan itu lagi, ia masih enggan menyebutkan namanya.
Darius mengangkat salah satu sudutnya, ia tersenyum sinis.
"Aku tau kamu membenci ponakan ku, mau bekerja sama?" perempuan itu, mengangkat salah satu alisnya.
"Kalo aku tebak, kamu adalah seorang paman yang tak menginginkan keponakannya. Kerja sama seperti apa?? Kalo harus menghilangkan nyawa seseorang, sorry... Aku menolak" jawab perempuan itu
"Kenapa?? Bukankah kamu tak suka dengan keberadaan ponakanku, kalo dia tiada. Bukankah membuat mu merasa di untungkan?" perempuan itu terkekeh
"Aku memang tak menyukainya, bahkan membencinya. Aku iri padanya, karena di suka oleh warga sekitar. Banyak pria yang mengaguminya, termasuk pria yang aku sukai. Tapi... Bukan berarti aku harus menghilangkan nyawa seseorang, apalagi aku mengakui. Dia memang perempuan baik, senang membantu orang lain. Iri dengki ini, memang sudah sifat ku yang sangat buruk, tapi aku juga tidak sampai buta hati." jelas perempuan itu
"Sepertinya kamu tipe orang, yang sangat mudah menghabisi orang, yang tidak kamu sukai. Bila tebakanku benar, ini semua masalah perebutan harta warisan. Jangan-jangan...." Darius menatap tak suka perempuan di depannya, terlalu banyak bicara. Sepertinya ia sudah salah, mengajak orang untuk kerja sama.
"Jangan-jangan apa?? Jangan pernah berpikiran buruk tentangku..." tawa perempuan itu pun pecah
"Kamu pasti sudah menghabisi orang tua Anggun, benar??" ucap perempuan itu, dengan berbisik
DEG
Tawa perempuan itu kembali terdengar, saat ia melihat wajah pias Darius. Bahkan ia pun bertepuk tangan, karena tak menyangka bila tebakannya benar.
"Wah wah... Tebakanku ternyata benar, ck ck ck" perempuan itu menggelengkan kepalanya
"Aku masih punya otak, aku masih punya hati. Aku hanya membenci keberadaannya, bukan nyawanya. Aku tak memberi dia makan, tak menghidupinya, tak pula membiayainya. Punya hak apa aku, sampai harus menghabisinya?? Aku tak mau hidupku, selalu di kejar dosa dan rasa bersalah karena menghilangkan nyawa seseorang. Hidup penuh ketakutan, merasa di hantui oleh arwahnya yang tak terima atas kematiannya. Cukup sifat ku yang buruk, jangan ditambah dengan kelakuan yang kriminal." lanjutnya
"Sebaiknya urungkan niat jahat mu itu, atau aku akan melaporkan kamu."
BRAKK
Darius berdiri, sembari menggebrak meja. Membuat pengunjung lain, langsung mengalihkan perhatian padanya.
"KAMU..." Darius menunjuk perempuan itu, tetapi perempuan itu terlihat biasa saja. Menatap mata Darius dengan berani, dengan wajahnya yang datar.
"KAMU TIDAK TAU BERURUSAN DENGAN SIAPA, SIALAN" bentak Darius, membuat perempuan itu terkekeh.
"Memang kamu anak siapa? Anak sultan kan?? Presiden? Penguasa? Kenapa aku harus takut padamu?? Makanan kita masih sama, nasi kan?? Kalo kamu makannya besi, mungkin aku takut." balas perempuan itu, dengan santainya.
Dada Darius terlihat naik turun, antara marah, malu dan takut. Perempuan di depannya, ternyata tidak bisa ia tekan.
Darius berbalik, ia pergi meninggalkan perempuan yang ia ajak bicara. Perempuan itu menatap lurus pria itu, sampai keluar kafe dan pergi menggunakan mobilnya.
Begitu yakin, pria itu sudah pergi. Tubuh perempuan itu langsung terasa lemas, ia mengangkat kedua tangannya. Sangat jelas kedua tangannya bergetar hebat, sejak tadi ia pura-pura kuat dan berani.
"Takut banget, gimana kalo dia benar-benar berbuat sesuatu ma gue? Gue harus gimana sekarang?" perempuan itu meletakkan dahinya di meja, lemas sekali rasanya.
"Fris" sapa seseorang, seraya menepuk bahunya
"KYAAAAAA" saking kagetnya, perempuan yang dipanggil Fris itu berteriak kencang. Membuat para pengunjung, menatap aneh padanya.
"Friska, ini gue Ditya." ucap orang, yang memanggil menyapanya. Friska menengadahkan kepalanya, tanpa sadar air matanya menetes.
Takut, ya... Dia ketakutan saat ini, melihat pria yang ia sukai menyapanya. Hatinya terasa sedikit tenang, meski masih kalah oleh rasa takut.
"Dit... Hiks... Gue takut Dit" ucap Friska, seraya menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Gue tau, gue denger semuanya. Gue bakal jagain lo, lo ga usah takut." ucap Ditya
DEG
Friska perlahan kembali menatap pria, yang berdiri di sampingnya itu.
"Kenapa?" tanya Friska sesenggukan, Ditya mengerutkan dahi
"Maksud lo?" tanya Ditya
"Kenapa ku mau jagain gue?? Bukannya lu ga suka ma gue, bukannya lu risih ma gue? hiks... Ku suka ma si Anggun.. Anggun itu kan.. hiks" jawab Friska, Ditya tersenyum. Ia lalu menarik kursi, menempatkan kursi iti di sebelah Friska
"Gue cuma kagum ma itu cewek, dia tuh baik banget. Bantu tanpa pamrih, kagak bawel kek lu, kagak ngintilin gue mu lu..."
Nyuutt
Friska memalingkan wajahnya, sakit banget rasanya.
"Tapi dia itu cuma pendatang baru Fris, kalaupun gue ada rasa ma itu cewek. Belum tentu dia ada rasa ma gue, si Anggun keliatan banget cueknya. Jaga jarak ma laki, Anggun cewek yang waspada. Mungkin idupnya, ga semudah yang kita liat." lanjut Ditya, Friska masih bungkam. Mencerna setiap ucapan, yang keluar dari mulut Ditya.
"Lu itu, meski cerewet, ma banyak tingkah. Tapi itu semua, cuma ma gue doang. Judesnya minta ampun, ma yang lain. Kita juga udah kenal lama, Fris. Beberapa hari ga denger ocehan lu, ga liat lu sekitaran gue. Gue sadar, kalo ternyata lu udah ada di hati gue. Sepi idup gue, ga ada lu Fris." Friska terdiam, ragu-ragu ia menoleh dan menatap Ditya
DEG
Jantung Friska, berasa mau lepas dari tempatnya. Di saat Ditya, merapihkan rambutnya.
"L-lu.. lu... Dit.. lu.." mendadak Friska cosplay, jadi Azis gagap. Eaaaa...
"La lu la lu... Mau ngomong apaan lu??? Dengerin gue, berenti lu benci ma iri ma Anggun. Gue tau, lu selalu musuhin itu cewek. Gue juga tau, kalo itu karena gue. Asal lu tau Fris, gue suka ma lu." Friska membulatkan kedua bola matanya, jantung rasanya berhenti berdetak.
"Dit, lu... Ga lagi mabok kan?" tanya Friska, Ditya terkekeh
"Gue sadar Fris, lagian kapan sih gue mabok. Lu kalo ngomong suka asal nyablak aja, yang ga tau bisa ngira beneran lagi. Gue ulang ya..." Ditya menggenggam kedua tangan Friska, ia menatap dalam gadis di depannya.
"Gu... Ehem... Friska, aku suka sama kamu. Kamu mau kan jadi pacar aku?? Atau kita langsung serius aja, kamu mau kan jadi istri aku?" Ditya mengulang ungkapan cintanya, Friska memegang dadanya
"G-gue... Ga lagi mimpi kan?" Ditya menggelengkan kepalanya, air mata Friska kembali menetes..
"Gu.. ehem, a aku mau. Mau bangeett, lu tau gimana perasaan aku selama ini. Bego kalo aku nolak kamu, hiks." Ditya tertawa kecil, ia mengusap kepala Friska.
"Kita ke rumah Anggun, kita ceritain semuanya.....
...****************...
Jangan lupakan like, komen, gift sama vote nyaaa🥰
ganbate kak
votenya emak😘