Luka.
Adalah kata yang membuat perasaan carut marut, tak terlukiskan.
Setiap insan pasti pernah merasakannya atau bahkan masih memilikinya. Entah hanya sekadar di kulit, atau bahkan di bagian terdalam dari jiwa.
Layaknya Bagas.Terpendam jauh, tak kasat mata.
Luka adalah bukti.
Bukti kelemahan raga, keruhnya jiwa. Bukti kalau dirinya hanyalah makhluk fana yang sedang dijahili takdir.
Akal dan hati yang tumpang tindih. Tak mudah untuk dipahami. Menenun jejak penuh liku dan terjal. Dalam manis-pahitnya sebuah perjalanan hidup.
Bukan cerita dongeng, namun hanyalah cerita manusia biasa yang terluka.
*Update setiap hari kecuali Senin dan Rabu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baginda Bram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan
Bagas telah memulai langkah besarnya. Ia telah mulai mengikuti kursus. Bahkan ia berniat mengikuti sebuah kompetisi—jika ada.
Ia sempat ragu, namun ketika menjalaninya, rupanya tak seberat yang ia kira. Ternyata benar apa yang ia pernah baca kalau sesuatu hal jika dijalani dengan dasar suka, kemungkinan konsistennya lebih tinggi ketimbang dijalani dengan terpaksa.
Meski sulit, meski berulang kali ia ingin berhenti, namun ia tetap tidak ingin keluar dari jalur yang ia sukai ini.
Di kala suntuk menyerang, Bagas mengisinya dengan mengikuti kegiatan sebagai relawan. Memang terbukti ampuh mengusir serangan suntuk. Ketika melakukannya, tiba-tiba saja kegiatan itu memicu kenangannya bersama Renata. Membuatnya kembali terngiang.
Gadis itu memang tak tergantikan.
Berkat gadis itu, ia sadar akan hal yang sangat penting. Ia mungkin masih takut dengan perempuan, tapi, di saat yang sama, hubungan dengan mereka sebenarnya tidaklah menakutkan.
Karena itu, meski tanpa menatap mereka, Bagas tetap harus bisa berkomunikasi dengan baik.
Oh iya, apa kabar dia?
Sudah beberapa bulan ia tak mendapat kabar tentangnya. Bertukar pesan pun hanya sebatas saling mengomentari postingan dalam status masing-masing.
Bagas merasa hari ini adalah sebuah kebetulan. Hari ini libur akhir pekan. Ia juga selesai latihan membuat lemon tart. Lalu tiba-tiba teringat akan Renata. Yang memunculkan dorongan untuk mampir ke rumahnya.
Ia segera membungkus kuenya dengan rapi. Berangkat ke sana tanpa pikir panjang lagi. Tak sampai setengah jam, ia sudah sampai.
Rasa ragu menghentikan tangannya yang hampir membunyikan pagar. Bagas tidak tahu apa-apa sejak Renata lulus. Ia khawatir jika hari libur gadis itu terganggu karena kedatangannya. Tapi, ia juga tidak tahu mesti ia apakan lemon tart yang ada di tangannya sekarang.
Ia membuang rasa itu jauh-jauh; melanjutkan laju tangannya. Tiga kali bunyi pagar sudah cukup membuat penghuni rumah tersadar.
Awalnya hanya Gea yang menyembul dari balik tirai. Tak begitu lama, tante Lala keluar diiringi senyum ramah khas miliknya.
Langkahnya sedikit terburu membuka pagar. Senyum kecil Bagas tunjukkan—tentunya masih dengan menghindari kontak mata.
"Ayo masuk, Nak."
"Tidak usah, Tante. Saya cuma mau memberi ini saja kok." ujarnya sembari menyuguhkan kantong dari tangannya
Tante Lala menyambutnya dengan senang hati,
"Ayo masuk dulu. Temani Gea sama Gio main ya? Kamu libur 'kan?"
"Iya sih."
"Ya sudah ayo."
Bagas selalu kesulitan saat menolak permintaan orang, ditambah ketika membayangkan ekspresi Gea dan Gio yang menggemaskan, membuatnya semakin sulit untuk menolak.
Gea dan Gio sumringah melihat sosoknya. Kedatangannya amat dinanti karena ia tidak pernah datang tanpa membawa buah tangan.
"Kalian apa kabar?" tanya Bagas.
"Baik, Kak. Kali ini kakak bawa apa?" sahut Gio.
"Tebak hayo."
"Apa ya? Pasti kue coklat." terka Gea
"Kue strawberry?" Gio ikut menimpali.
"Kalian semua salah."
Mereka berdua kebingungan. Beberapa jawaban mereka tak ada yang tepat. Mereka yang penasaran, buru-buru ke dapur untuk melihat tante Lala membuka bingkisan itu.
Menyisakan Bagas sendirian di ruang tamu. Belum sampai lima menit, tante Lala datang dengan secangkir teh di tangannya.
Wanita itu menyodorkannya. Duduk juga di sofa yang ada di hadapannya.
"Kalau soal Renata, dia belum pulang." jelas tante Lala, menerka isi hatinya.
"Sekarang sibuk apa dia, Tante? Bekerja? Atau kuliah?"
"Jelas bekerja, karena kedua orang tuanya sudah meninggal, cuma dia satu-satunya tulang punggung keluarga ini."
"M-meninggal?" Bagas terkejut.
"Iya."
"Tapi, Tante tahu pekerjaannya?"
"Melanjutkan usaha orang tuanya 'kan?"
Ternyata memang betul kalau tidak ada yang tahu soal pekerjaannya selama ini.
"Oh begitu ya. Sudah lama dia seperti itu?"
"Sepertinya sejak dia SMP kelas tiga deh. Aku tidak tahu detailnya karena aku belum bekerja di sini."
"Hmm begitu, Tapi, tante itu keluarganya 'kan?"
"Bukan. Aku bukan siapa-siapa."
"Lalu mengapa bisa berada di sini?"
"Waktu itu, kebetulan aku bertemu dengan Renata di jalan sehabis melarikan diri."
"Melarikan diri? Dari?" Tanya Bagas terheran mendengar ceritanya.
"Dari orang yang menipuku. Jadi ceritanya aku dari Garut sedang merantau kemari. Aku mendapat panggilan kerja untuk asisten rumah tangga. Setelah aku datang, ternyata syaratnya adalah harus menjadi istri ketiga dari orang yang memanggilku. Bukannya dapat pekerjaan, aku malah kabur dari rumahnya. Aku yang kebingungan karena tidak punya sepeser pun uang, bertemu dengan Renata. Akhirnya aku berakhir di sini sampai sekarang."
"Ternyata tante juga mengalami hidup yang sulit ya?"
"Ya begitulah. Namanya juga hidup. Untung saja aku bertemu orang baik seperti Renata."
Bagas mengangguk dalam. Setuju akan perkataannya barusan.
Terdengar suara dari arah luar. Tante Lala yang sadar, segera bangun dari sofa. Mengintip dari celah tirai. Hanya sesaat, lalu kembali ke tempatnya semula.
Suara dari lubang kunci terdengar, tak lama pintu pun terbuka. Sosok Renata berbalut blazer panjang masuk ke dalam. Ia mendapati sosok yang familiar duduk di sofanya. Alisnya sedikit terangkat. Sejurus kemudian senyum ramah ia tampilkan.
Perasaan Bagas bercampur aduk. Antara senang, juga merasa tak enak hati karena tiba-tiba berkunjung tanpa menghubunginya terlebih dahulu. Terlebih setelah hampir satu bulan, ia tidak bertukar pesan.
"Ternyata ada Bagas."
"Eh kakak. Maaf ya tiba-tiba berkunjung."
"Kenapa malah minta maaf? Aku senang kok kamu datang kemari. Ngomong-ngomong, apa kabar?"
"Baik, Kak."
"Sudah lama kita tidak ketemu. Terakhir pas kelulusan ya?"
"Iya, betul."
Renata menghempaskan tubuh di sofa yang ada di hadapan Bagas. Sembari melepas tas dari lengan dan blazer dari tubuhnya.
"Aku ke belakang dulu ya?" ucap tante Lala. Sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.
"Bagaimana sekolahmu?"
"Lancar, Kak. Lebih lancar di banding sebelum-sebelumnya."
"Senang mendengarnya."
"Saking lancarnya, aku sudah memutuskan apa yang ingin kulakukan nanti."
"Benarkah? Apa itu?"
"Aku akan menjadi pattisier."
"Hmm ... betulan itu?"
Renata merasa pernyataannya adalah sebuah keanehan. Bagas memang mahir membuat pastri, tapi ia pernah dengar kalau pastri jugalah yang lekat dengan kenangan buruknya.
"Serius, Kak. Aku sudah memutuskan akan tetap menekuninya apapun yang terjadi."
Sorot mata Bagas terlihat pancarannya. Keseriusan yang ia tunjukkan seolah cukup menjawab ke khawatiran Renata padanya.
Ternyata dia terlihat lebih baik. Kurasa tidak ada alasan untuk khawatir lagi.
"Awas kalau kamu kulihat menangis lagi."
"M-mana pernah aku menangis?"
"Iya, iya percaya deh."
"Kalau kakak bagaimana?" Bagas mendadak bertanya balik.
"Bagaimana apanya?" Renata balik bertanya, tidak paham.
"Kakak yakin akan terus hidup seperti ini?"
Renata butuh beberapa detik untuk paham yang lelaki itu maksud. Mulutnya membulat, sebelum akhirnya menyahut,
"Aku masih tidak punya pilihan."
Pandangan Renata terangkat, memandang ke langit-langit.
"Menurutku tidak begitu. Pilihan akan selalu terbuka bagi orang yang menginginkannya."
"Tapi, tidak semudah membalikkan tangan."
"Betul. Tapi, tidak ada jawaban yang dapat memuaskan seseorang, didapat dengan cara spontan. Percayalah, jalan pintas itu tidak ada, kecuali bayarannya sangat mahal."
Renata tersenyum getir mendengar kalimatnya. Ia paham apa yang sedang ia lakukan. Ia tetap melakukannya pun karena kepeduliannya kepada kedua adiknya. Tak terbayang jika adiknya harus merasakan pahitnya hidup di usia mereka yang masih belia.
Justru ia merasa dirinya yang sudah kotor dan berlumuran lumpur itu lebih berharga ketika bisa mendapatkan pundi-pundi darinya.
"Gas, apa kamu pernah melihat neraka?" tanya Renata sambil menatap lurus ke bola mata Bagas.
"Belum pernah. Kalau pun bisa, aku tidak mau."
"Tapi aku pernah."
Bagas tak bisa berkata-kata saat mendengar ucapan gadis itu.
"Ini buktinya." lanjutnya lagi sembari menunjuk ke bekas luka yang ada di dahinya.
Bagas hanya bisa menerbitkan senyum getir sebagai ganti jawaban.