NovelToon NovelToon
Hanya Wanita Pelarian

Hanya Wanita Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Dijodohkan Orang Tua / Pernikahan rahasia / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.

BLAMM!!

Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.

"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.

Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.

Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.

Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?

Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suasana Baru

KEESOKAN HARINYA

Masih di jam berangkat yang sama. Rama dan Aya berangkat bersama ke kantor baru. CV BERKAH SAWIT di bawah asuhan Bayu sepupu Rama.

Di sepanjang jalan, Rama menceritakan hasil pembicaraannya dengan Bayu pada Aya.

"Bayu sudah gelikoordinasi dengan kepala bidang keuangan disana. Kalau statusmu ini sudah pegawai tetap, hanya promosi kerja dan penempatan di anak perusahaan. Tapi, mungkin tetap perlu penyesuaian. Kalau tugas staf perlu bantuan, kamu boleh saja membantu asal secukupnya."

Aya mengangguk mengerti.

"Untuk sementara, aku akan antar jemput seperti biasa. Apa perlu aku belikan motor? Biar kamu leluasa."

"Motor baru?" tanya Aya sungkan.

"Ya, nanti kita mampir sabtu besok? Bagaimana? "

Aya mengangguk sambil tersenyum malu.

'Enak juga punya suami banyak duit, beli motor kayak beli es krim. Tinggal tunjuk, ' batinnya geli.

Rama tersenyum, lega melihat Aya bersemangat di tempat barunya. Meski, tetap ada rasa kasihan karena Aya harus pindah dari kantor impiannya.

Rama tiba-tiba teringat kembali obrolan dengan Bayu kemarin sore.

"Jadi sudah eksplorasi berapa gaya? "

Rama tertegun, lalu tertawa terbahak.

"Boro-boro, aku aja tidur di kamar Raka. Eh, tpi besok Raka pulang, aku bakal tidur di mana ya? Masa di kamar Papa? " tanyanya sendiri.

"Nah, loh? kenapa begitu? " tanya Bayu heran.

Rama akhirnya menceritakan syarat yang diajukan Aya sebelum akhirnya setuju menikah dadakan dengannya.

"Wah, pantas saja secepat itu dia setuju. Jadi, akhirnya kamu sama Amel gimana?" tanya Bayu lagi.

"Jujur, aku memang nggak bisa tiba-tiba mutusin dia. Aku merasa bersalah dengannya. Tapi, situasi mama waktu itu membuat ku tak punya pilihan lain selain menikah dengan Aya."

"Tapi Rama, kamu nggak bisa terus-terusan main kucing-kucingan begini sama om dan tante. Betul kata Aya, kamu harus ambil keputusan segera. Wajar aja dia minta pernikahan kalian di rahasiakan."

Rama tertegun, dia sendiri masih bingung. Mengikuti kata hatinya memperjuangkan Amel atau mengalah pada putusan orangtuanya sepenuhnya.

"Entahlah Yu, aku masih galau. Aku cuma berharap Aya bisa bekerja dengan baik disini. Bagaimana nanti..kita lihat saja."

"Aku cuma nggak mau kamu mengorbankan perasaan banyak orang Rama. Makanya aku bilang begitu."

"Aku tahu, Yu."

Rama menghela nafas dan mengusak wajahnya kasar. Bayu tertawa geli melihat reaksinya.

"Bang, sudah lampu hijau, " teriak Aya menyadarkan Rama.

TIIIN..

TIIIN..

Kendaraan di belakang sudah mengklakson beberapa kali. Rama buru-buru menginjak pedal gasnya.

"Di depan gerbang aja, Bang."

Aya menyampir tas di bahunya, lalu mencium punggung tangan Rama.

"Aya, " panggil Rama.

Aya menatap Rama menunggu apa yang hendak ia katakan.

Sudah satu bulan mereka bersama, sebelum sekali pun Rama mencium kening Aya seperti para suami pada umumnya. Ia sangat ingin melakukan itu, tapi khawatir Aya menolak.

"Kerja yang baik, ya. Kalau ada yang mengganggumu. Jangan ragu sampaikan padaku atau Bayu."

Aya mengangguk, "Oke, Terima kasih."

Aya tersenyum dan turun dari mobil.

Rama menghela nafas menatap punggung Aya yang makin menjauh dari pandangnya.

Rasa bimbang itu hadir lagi. Sebulan ini, ia merasakan manisnya hubungan baru dengan Aya meski tak terlepas dari perdebatan dan pertengkaran kecil. Seakan lupa, kalau ada hati yang masih menunggunya.

***

"Selamat Pagi, Saya Cahaya yang di tempatkan di sini dari PT UTAMA JAYA, " sapa Aya dengan petugas resepsionis.

"Oh mutasi dari kantor pusat ya. Silahkan ke lantai dua ruang sebelah kiri. Nanti bisa temui Bu Mila Kabid keuangannya."

"Baik, Terima kasih."

Aya berjalan menuju lift. Beberapa karyawan menyapanya ramah. Ada juga yang hanya tersenyum sambil mengangguk.

"Mbaknya baru kerja disini? " tanya salah satu karyawati berkacamata di dalam lift.

"Iya betul mutasi dari Utama Jaya."

"Ooh dari kantor pusat. Asisten kabid keuangan kan? "

"Iya betul. "

" Perkenalkan, Aku Tami. Aku staf Umum, kita masih di satu lantai tapi ruangannya berseberangan."

"Oh iya, aku Cahaya Insaniah, panggil aku Aya. Senang bisa dapat teman kerja yang baru."

Tami tersenyum ramah.

TING

Pintu lift terbuka hawa dingin dari AC central menyambut saat mereka baru memasuki lantai dua.

"Selamat bertugas ya, Aya. Istirahat siang nanti kita ngobrol lagi."

Aya mengangguk saat Tami melambai padanya dan memasuki ruang Bidang Umum dan legal.

TOKTOKTOK

CEKLEK

"Permisi, " sapa Aya sedikit menyembul kepalanya dibalik pintu.

Beberapa orang yang ada di ruangan menoleh ke arahnya.

"Masuk saja, " ujar pria yang duduk dekat pintu.

Aya masuk lalu menghampirinya.

"Saya Cahaya, pindahan dari PT UTAMA JAYA. Katanya di minta ketemu Kabid Keuangan. Di mana ruangannya ya? "

"Oh, mutasi dari pusat ya. Silahkan ditunggu. Ibu kabidnya belum datang. Duduk saja dulu di sofa, " ujar pria yang bernama Heri itu. Aya sempat melihat sekilas name tag di lehernya.

Aya mengangguk lalu duduk di sofa setelah meletakkan tas kerjanya di lantai.

CEKLEK

Seorang wanita berjilbab kuning bermotif bunga masuk ke ruangan. Berjalan tegas menuju pintu ruang Kabid keuangan.

Aya menatap pria tadi, ia memberi kode bahwa itulah Kabid keuangannya.

'Lebih horor dari bu Clara ternyata, ' batin Aya.

Aya mengangguk lalu berjalan cepat menuju ruang kabid keuangan.

TOKTOKTOK

"Masuk, " jawab wanita tadi dari dalam.

"Assalamu'alaikum, Bu. "

"Wa'alaikumsalam."

Wanita itu menatap Aya yang berjalan cepat dan tergopoh mendekat ke mejanya.

Matanya menyapu Aya dari atas kepala hingga ujung kakinya.

"Selamat pagi, Bu. Saya Cahaya Insaniah, pindahan dari PT UTAMA---"

"Oh dari kantor pusat? " tanyanya dengan tatapan sinis.

"Iya, Bu, " jawab Aya tertunduk.

Ia sama sekali tak berani menatap mata wanita yang usianya terlihat lebih tua dari Bu Clara.

"Oke, sudah diberitahu mejamu dimana? " tanya wanita itu.

"Belum, Bu. "

"Kamu lihat saja nanti, mana meja yang masih kosong, duduk di sana."

"Baik, Bu. Apa ada tugas untuk saya pagi ini? " tanya Aya sungkan.

"Sementara belum. Setelah kita rapat bidang, baru saya kasih arahan tugas untukmu. Sudah menghadap pak Bayu? "

"Belum, Bu."

"Oke, jam delapan tepat ikut saya ke ruangannya."

"Baik, Bu. Kalau begitu saya pamit keluar mencari meja saya."

Wanita itu mengangguk.

Aya berbalik dan berjalan tenang keluar ruangan.

Wanita itu menatap punggung Aya yang menghilang di balik pintu.

"Sehebat apa kerjanya sampai dimutasi khusus ke sini? " gumamnya.

***

Aya mengambil tas yang ia tinggalkan di dekat sofa tadi, lalu melihat ke sekeliling meja yang belum ada papan namanya. Ternyata meja itu persis di sebelah kiri pintu ruang kepala bidang tadi.

"Huuft.. Hari pertama sudah dibikin tegang, " gumam Aya.

"Halo, selamat pagi, " sapa seorang perempuan seusianya yang baru datang dan duduk di meja belakang Aya.

Aya hanya mengangguk dan tersenyum.

Satu persatu pegawai lain mulai berdatangan. Setelah dihitung. Semua staf keuangan ada sekitar enam orang termasuk dia sebagai asisten Kabid keuangan.

"Hai, kamu yang dari pusat ya? " sapa wanita tadi yang duduk di belakangnya.

"Iya, salam kenal aku cahaya. Panggil saja Aya."

"Aku Feni, bagian keuangan khusus proyek."

"Feni, maaf aku mau tanya. Sejak aku datang tadi, sepertinya semua tahu kedatanganku. Dari security sampai staf bidang lain tahu. Kok bisa ya? " tanya Aya heran

Feni tersenyum geli. "Tentu saja semua tahu, Pak Bayu mengumumkan langsung saat acara HUT kantor beberapa hari yang lalu. Katanya ada pegawai khusus mutasi dari kantor pusat. Dan kami harus bersikap ramah padanya kalau tidak mau kehilangan pekerjaan. Meski pak Bayu suka bercanda, tapi omongan seperti itu tentu saja bikin kami waspada."

DEG

"Ooh begitu, pantas saja semua sangat ramah cuma satu sih yang tatapannya kurang enak."

"Siapa? Bu Mila ya? "

Aya nyengir kuda.

"Memang begitu orangnya, tapi kalau stafnya dituduh nggak kompeten, dia yang paling depan membela. Kamu harus ambil hati Bu Mila. Oke!! "

Aya mengangguk sambil tersenyum.

CEKLEK

"Ayo ke ruangan pak Bayu, " ajak Meli tanpa menoleh ke arah Aya.

"Baik, Bu."

Aya Buru-buru mengejar langka Mila yang cepat dan tegas.

Ruangan Bayu ternyata berada di tengah-tengah dua ruangan keuangan dan umum.

TOKTOKTOK

CEKLEK

"Selamat Pagi, Pak Bayu. "

Mila masuk ke ruangan, Aya mengikuti langkahnya setelah menutup pintu.

'Oh, abang yang ini. Iya aku lupa, dia sepupu bang Rama. Tapiii... kenapa di sini dia terlihat tampan sekali dari terakhir yang ku lihat saat akad waktu itu? ' batin Aya.

"Cahaya," panggil Mila.

Aya tersadar dari lamunannya.

"Iya Bu? " tanya bingung.

Mila menepuk kursi di sampingnya. Aya buru-buru duduk.

Bayu tersenyum melihat reaksi Aya yang menatapnya lama seperti menerka siapa orang di hadapannya.

"Ini Cahaya yang dari kantor pusat, Pak. Sudah datang dan siap bekerja, " ujar Mila.

"Selamat datang Aya, " ujar Bayu mengulur tangan.

Aya menangkup kedua tangannya ke dada.

"Selamat Pagi, Pak Bayu. Salam kenal, Terima kasih sambutannya."

Bayu mengangguk, menarik kembali tangannya. Ia sempat terkejut, tak ada info sebelumnya dari Rama kalau istrinya cukup menjaga diri seperti ini.

"Saya senang, akhirnya asisten keuangan yang saya minta datang juga. Kalau ada apa-apa jangan ragu bertanya dengan Bu Mila ya. Semoga betah bekerja di sini."

"Baik, Pak. Terima kasih saya akan bekerja keras dan segera beradaptasi."

"Bagus. Bu Mila, tolong ajarkan beberapa hari soal tugasnya ya Bu. Pastikan tidak ada yang bersikap kasar padanya. Saya bisa ditegur pak Rama nanti."

UHUKUHUKUHUK

Aya tersedak salivanya sendiri tak menyangka Bayu berbicara seperti itu.

1
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Cahaya Tulip: masih review ya kak🥰🙏
total 1 replies
Retno Harningsih
up
Cahaya Tulip: masih direview sistem kak.. ditunggu ya🥰🙏
total 1 replies
Retno Harningsih
lanjut
Cahaya Tulip: siap kak.. on progress🙏😁
total 1 replies
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
waalaikumsalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!