NovelToon NovelToon
Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Almira

Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Air Sungai dan Air Mata Yang Disembunyikan

Pagi itu kami kembali menjalani hari seperti biasa, hari yang nyaris tak pernah memberi jeda untuk bernapas. Sejak sebelum subuh, rumah kecil kami sudah dipenuhi suara wajan berdenting dan aroma minyak panas. Ibu, kakak-kakakku, dan aku bergerak dalam irama yang sama setiap hari—membuat gorengan dan kue untuk dijajakan demi menyambung hidup.

Ada yang berjualan sebelum berangkat sekolah, ada pula yang melanjutkan pekerjaan rumah. Pukul enam pagi, adonan terakhir akhirnya selesai digoreng. Namun pekerjaan belum benar-benar usai. Seperti rutinitas yang tak pernah berubah, Kak Rini dan Kak Pipi bersiap menuju sungai. Ember, pakaian kotor, dan tumpukan piring sudah menunggu.

Aku ikut bersama mereka. Meski usiaku baru enam tahun, aku sudah terbiasa membawa piring-piring ke sungai yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Jalan setapak masih basah oleh embun, kakiku yang kecil sering terasa perih, tapi aku terus berjalan. Saat itu, belum ada PDAM dan belum ada sumur di rumah kami. Air bersih adalah sesuatu yang harus diusahakan. Di kampung kami, orang yang memiliki sumur galian sendiri dianggap orang berada—bahkan bisa dibilang orang terkaya.

Setelah semua pekerjaan pagi itu selesai, kakak dan abang-abangku yang bersekolah pun berangkat. Satu per satu mereka pergi, meninggalkan rumah yang kembali sunyi. Ibu, dengan wajah lelah dan mata yang sembap karena kurang tidur, biasanya akan menidurkan adik bungsuku, Alfa. Aku masih ingat caranya mengelus kepala Alfa perlahan, suaranya lirih saat bersenandung agar adikku cepat terlelap.

“Adek tidur yang manis ya… ibu capek,” bisik ibu pelan, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri.

Sekitar pukul sepuluh pagi, aku, Kak Pipi, dan Kak Rini pulang dari sungai. Matahari sudah tinggi, panasnya terasa menyengat. Rumah terasa sepi. Aku kembali membantu menjemur pakaian. Padahal sebenarnya, pekerjaan itu belum sepenuhnya menjadi tugasku. Aku masih kecil, belum paham bagaimana menjemur baju dengan rapi dan benar.

Aku menjemurnya asal-asalan. Ada yang terlipat, ada yang terlalu rapat. Kak Rini langsung melihatnya.

“Kenapa bajunya kayak gini? Kamu itu kalau kerja pakai otak!”

Nada suaranya meninggi.

“Dasar bodoh, bego!”

Aku terdiam. Tanganku gemetar memegang kain basah. Dadaku terasa sesak, tenggorokanku perih menahan tangis. Air mataku jatuh satu per satu tanpa suara.

Ibu yang mendengar keributan itu keluar dari kamar sambil menggendong Alfa. Wajahnya tampak lelah, matanya sayu.

“Rini, jangan keras-keras ngomongnya,” kata ibu pelan tapi tegas.

Lalu matanya beralih padaku.

“Kamu juga… kalau disuruh bantu, yang benar. Jangan asal-asalan.”

Aku ingin berkata bahwa aku sudah berusaha. Aku ingin bilang tanganku kecil, aku belum mengerti. Tapi kata-kata itu hanya berputar di kepalaku. Yang keluar hanyalah isak tertahan.

Ibu menghela napas panjang.

“Ibu capek. Jangan bikin ibu tambah pusing,” ucapnya lirih, bukan dengan marah, tapi dengan nada kelelahan yang menusuk lebih dalam dari bentakan.

Kalimat itu membuatku berhenti menangis. Aku mengangguk pelan, menunduk, lalu kembali menjemur baju tanpa suara. Aku belajar hari itu—dan mungkin sejak hari-hari sebelumnya—bahwa menangis tak selalu membuat keadaan membaik. Kadang justru membuat beban orang dewasa semakin berat.

Sejak kecil, aku belAjar diam. Belajar menahan. Belajar mengerti bahwa di rumah ini, semua orang sedang berjuang dengan caranya masing-masing. Dan aku, anak kecil berusia enam tahun, hanya bisa ikut bertahan—meski sering kali harus menelan luka sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!