Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.
Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 **Ayah jangan makan bunda**
Siang itu, suasana ruang tengah kediaman keluarga Weylin terasa hangat namun penuh kekacauan kecil. Ila akhirnya menghela napas panjang, melepaskan kucing persia putihnya yang tampak sangat pasrah setelah dipaksa mengenakan bando kelinci dan diajak "rapat formal" oleh majikan kecilnya itu.
"Abang!!! Ila bosan!" keluh Ila dengan nada manja yang khas.
Sebenarnya, kata "bermain" kurang tepat untuk menggambarkan apa yang baru saja terjadi. Ila lebih tepatnya sedang melakukan diktator cilik; memaksa kucing malang itu mengikuti segala perintah absurdnya seolah si kucing adalah prajurit yang sedang wajib militer.
Alzian dan Elzion sang abang kembar, hanya bisa tertawa gemas melihat pemandangan itu dari sofa. Begitu pula dengan teman-teman mereka—Lanka, Dian, Liam, dan Juna—yang ikut terhibur melihat tingkah ajaib adik kecil sahabat mereka.
"Udah bosan mainnya, hm?" Alzian mendekat, mengacak pelan rambut Ila dengan penuh kasih sayang.
"Hu'um... Ila mau main di luar bareng Awan, ya?" izin Ila dengan mata bulat yang berbinar penuh harap.
"No, Princess," sahut Alzian dan Elzion secara serempak.
Keduanya tidak mungkin membiarkan adik kecil mereka berkeliaran di luar sendirian. Bagi mereka, Ila itu terlalu polos. Di tengah maraknya berita penculikan yang sedang hangat di televisi, membiarkan Ila keluar rumah tanpa pengawasan sama saja dengan menyerahkan bongkahan emas di tengah pasar.
Ila langsung memanyunkan bibirnya. Raut wajahnya berubah drastis saat mendengar penolakan kompak dari kedua abangnya.
"Ihh, Ila gak like Abang Al dan El!" rajuk Ila sambil melipat tangan di dada, membuang muka dengan gaya yang sangat dramatis.
Dian dan Juna hanya bisa menahan tawa, gemas setengah mati melihat pipi Ila yang menggembung. Di sisi lain, Lanka—yang sejak tadi hanya menyimak—merasa jantungnya berdegup tak karuan. Rasanya ia ingin sekali mencubit atau bahkan menggigit bibir tipis Ila yang sedang cemberut itu karena terlalu lucu.
"Gemes banget lo, Cil," celetuk Juna spontan.
"Iya astagaaa, pengen gue mam itu bibir," ucap Liam tanpa sadar.
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Liam karena ia sudah tidak kuat menahan rasa gemas yang memuncak. Namun, sedetik kemudian...
Setttt!
Suasana mendadak dingin. Tiga pasang mata—Alzian, Elzion, dan Lanka—menoleh tajam ke arah Liam. Tatapan mereka seolah siap mengirim Liam ke kutub utara saat itu juga.
Liam yang baru menyadari kebodohan ucapannya langsung meneguk ludah kasar. Keringat dingin mulai menetes. Ia hanya bisa nyengir kuda sambil mengangkat tangan membentuk simbol "V" sebagai tanda damai dan permintaan maaf. Dian dan Juna hanya bisa menahan tawa melihat Liam yang kini pucat pasi akibat mulutnya yang tidak difilter.
Ila, yang tidak mengerti arti kata "mam" dalam konteks tersebut, menatap Liam dengan tatapan polos sekaligus prihatin.
"Bang Liam miskin?" tanya Ila tiba-tiba.
Seketika, atmosfer ketegangan yang tadi menyelimuti Liam menguap begitu saja. Semua atensi yang semula menatap tajam ke arah Liam kini beralih sepenuhnya kepada Ila. Mereka semua tampak bingung dengan arah pemikiran gadis kecil itu.
Bagaimana mungkin seorang Liam dianggap miskin? Padahal yang mereka tahu, meskipun Liam bukan keturunan konglomerat kelas atas seperti keluarga Weylin, ia tetap berasal dari keluarga berada dengan gaya hidup yang cukup mewah.
"Kenapa tanya gitu, Dek?" tanya Elzion sambil berusaha menetralkan ekspresi wajahnya yang bingung.
"Katanya tadi Bang Liam mau mam bibir Ila... Bang Liam gak punya uang buat beli makanan? Bang Liam miskin kah?" tanya Ila dengan nada yang sangat tulus dan raut wajah penuh simpati.
Ila benar-benar bingung. Dalam logikanya yang polos, hanya orang yang sangat kelaparan dan tidak punya uang untuk membeli nasilah yang akan memakan bibir orang lain. Padahal, jika dilihat dari ujung rambut sampai ujung sepatu, penampilan Liam sangat berkelas dan jauh dari kata kekurangan.
Liam ternganga. Mulutnya sedikit terbuka namun tak ada kata yang keluar. Ia merasa harga dirinya sebagai anak seorang perwira polisi jatuh seketika di hadapan bocah berumur lima tahun.
"Pfftt... Hahaha!"
Elzion, Dian, dan Juna tak bisa lagi menahan diri. Wajah mereka memerah padam, hidung mereka kembang-kempis menahan ledakan tawa yang nyaris meledak agar tidak menyinggung perasaan Ila. Sementara itu, Alzian dan Lanka hanya bisa tersenyum simpul, mencoba tetap terlihat keren meski perut mereka mulai kaku karena geli.
"Ihhh jawab! Bukan malah gini!" gerutu Ila.
Ia kemudian menirukan gerakan hidung kembang-kempis Elzion dan kedua temannya dengan sangat lucu. Melihat aksi parodi dari bibir mungil itu, Elzion, Dian, dan Juna seketika berhenti tertawa. Kini mereka beralih memegang dada masing-masing, menahan gemas yang luar biasa karena tingkah Ila yang terlalu kiyowo.
"Hufftt, iya... Bang Liam itu sebenarnya miskin banget, Sayang. Makanya hati-hati kalau dekat Bang Liam ya, nanti Adek dimakan beneran loh karena dia lapar," ucap Elzion mulai jahil, sengaja menakut-nakuti adiknya.
Bukannya takut atau menjauh, tatapan Ila malah berubah menjadi sangat kasihan. Matanya berkaca-kaca melihat Liam yang hanya bisa pasrah dijadikan bahan bullyan.
"Bang Liam tunggu sini ya? Jangan sedih. Ila mau ke Ayah dulu minta uang buat Bang Liam beli makan!" teriak Ila penuh semangat.
Tanpa menunggu jawaban, kaki-kaki kecilnya langsung berlari kencang menuju kamar Ayah dan Bundanya di lantai atas. Suara langkah kakinya yang berdegub di lantai kayu terdengar sangat terburu-buru, seolah ini adalah misi kemanusiaan yang sangat darurat.
Begitu sosok Ila menghilang di balik pintu, tawa nyaring Elzion, Dian, dan Juna langsung pecah memenuhi ruangan. Mereka tertawa sampai terpingkal-pingkal di atas sofa.
"Hahaha! Makanya kalau ngomong itu hati-hati, Liam! Sekarang lo disangka gembel kan!" ledek Elzion di sela-sela tawanya. Elzion memang kalau sudah meledek temannya tidak punya ampun sama sekali.
"Gila sih... Anak dari seorang polisi dianggap gak punya duit dong! Hahaha! Gembel berkelas ya lo, Li?" sambung Juna sambil memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa.
Liam hanya bisa mengusap wajahnya kasar, meratapi nasibnya yang baru saja "disumbang" oleh seorang bocah kecil karena dianggap tidak mampu membeli makan siang.
"Sudah dibilangin juga, hati-hati kalau bicara di depan bocil polos. Ya kan gini jadinya sekarang? Lo resmi disangka gembel, haha!" timpal Juna sambil menyeka air mata yang keluar karena terlalu banyak tertawa.
Liam mendengus kesal, wajahnya memerah padam melihat ketiga temannya itu terus-menerus menertawakan nasibnya. Ia merutuki bibirnya sendiri; memang ini murni kesalahannya karena sering berbicara spontan tanpa disaring terlebih dahulu, apalagi di depan Ila yang otaknya sebersih kertas putih.
"Ck, gue beli makan di restoran mahal pun sanggup!" decak Liam membela diri, mencoba memulihkan harga dirinya yang sudah jatuh ke titik nadir.
"Iya sanggup, tapi cuma beli sebutir nasi, haha!" sahut Dian dengan nada julid yang membuat tawa yang lain kembali meledak.
"Sekarang, biasakan jaga bicara lo di depan adek gue."
Suara bariton itu seketika membelah tawa di ruangan. Alzian akhirnya angkat bicara. Ia menatap Liam dengan tatapan dingin dan tajam, seolah-olah siap menguliti Liam saat itu juga jika berani berbicara aneh-aneh lagi di depan sang adik.
"I-iya, gue be-rusaha jaga bicara gue d-depan Ila."
Liam meneguk ludah kasar. Suaranya terbata-bata karena nyalinya menciut. Belum selesai dengan intimidasi Alzian, ia menatap ke arah Lanka yang duduk di sudut sofa. Ternyata, Lanka juga sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam—bahkan silet pun kalah tajam jika dibandingkan dengan tatapan penuh peringatan dari pria itu.
Tiga manusia yang tadi tertawa—Elzion, Dian, dan Juna—sekarang malah semakin ngakak hingga hampir guling-guling di karpet bulu. Mereka sangat puas melihat ekspresi ketakutan Liam yang terjepit di antara dua "predator" pelindung Ila.
"Anak dari polisi kok takut," cibir Elzion di sela-sela tawanya yang belum reda.
"Anak polisinya lemah!" ledek Dian ikut memanasi suasana.
"Hahaha!" Juna hanya bisa tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya yang kaku.
Liam mendelik tajam ke arah mereka semua, mencoba memberikan perlawanan terakhir.
"Gue cuma anaknya ya! Bukan bapak polisinya langsung!" sinis Liam dengan nada kesal yang justru terdengar lucu bagi yang lain.
Tiga pria tadi tidak mempedulikan sahutan Liam. Mereka terus saja tertawa ngakak. Di dalam hati, mereka semua mengakui bahwa semenjak perubahan karakter Ila yang semakin menggemaskan dan ajaib, lingkaran pertemanan mereka jadi jauh lebih berwarna. Biasanya mereka lebih banyak diam atau bersikap kalem dan "cool", tapi sekarang tawa selalu meledak setiap kali mereka berkumpul.
Tak dapat dipungkiri, mereka sangat menikmati momen-momen penuh tawa seperti ini, meski harus mengorbankan harga diri Liam sebagai tumbalnya.
...****************...
Ila berlari sekencang mungkin menaiki satu per satu anak tangga dengan kaki kecilnya. Begitu sampai di depan pintu kamar utama, tanpa ragu dan tanpa mengetuk terlebih dahulu, ia langsung mendorong pintu tersebut dan nyelonong masuk begitu saja.
"Ayah... Bunda..." panggil Ila dengan suara yang agak bergetar.
Namun, langkahnya mendadak terhenti di tengah ruangan. Mata bulatnya seketika berkaca-kaca melihat pemandangan di depannya. Zeline dan Bryan benar-benar terkejut melihat putri kecil mereka muncul tiba-tiba. Bryan merutuki dirinya sendiri dalam hati karena lupa mengunci pintu kamar.
Saat itu, Bryan tengah mengukung Zeline di atas tempat tidur; mereka sedang berbagi ciuman panas yang penuh kerinduan. Ciuman itu otomatis terlepas saat mendengar suara Ila. Beruntung, mereka masih mengenakan pakaian lengkap. Dengan gerakan cepat, Bryan beranjak dari posisi itu dan berjalan menghampiri Ila yang masih mematung.
"Ada apa, Princess?" tanya Bryan lembut. Tangannya terulur ingin mengelus rambut putrinya, namun sebelum jemarinya menyentuh helai rambut itu, Ila lebih dulu menepisnya dengan gerakan kasar.
"Ayah jahat! Hikss..." isak Ila pecah.
Ia langsung berlari melewati ayahnya menuju ranjang. Dengan susah payah ia memanjat naik, lalu memeluk Zeline dari samping dan menyembunyikan wajahnya di lengan sang Bunda sambil menangis sesenggukan.
Zeline tentu saja terkejut melihat putrinya menangis sampai menepis tangan ayahnya sendiri. "Heyy sayang, kenapa hm? Kok nangis?" tanya Zeline lembut sembari mendekap erat tubuh kecil itu.
"Ayah jahat, Hikss..." isak Ila lagi, suaranya teredam di pelukan Zeline.
Alis Zeline dan Bryan bertaut, keduanya saling lirik dengan raut bingung. Mereka merasa tidak melakukan kesalahan apa pun pada Ila hari ini.
"Jahat kenapa, hm? Coba bilang sama Bunda," tanya Zeline lagi dengan nada menenangkan.
"Ayah jahat mau makan Bunda, Hiksss... Bunda jangan tidur bareng Ayah lagi ya? Bunda tidur di kamar Ila aja..."
Ucapan polos itu meluncur begitu saja dari mulut Ila. Zeline yang mendengarnya langsung menggigit bibir bawah, menahan tawa yang nyaris meledak.
Sementara itu, Bryan hanya bisa ternganga. Logika macam apa itu? Mana mungkin ia membiarkan istrinya pindah kamar. Bryan sudah menahan rindu selama beberapa hari karena pekerjaan kantor yang menumpuk, dan sekarang ia harus "diusir" oleh anaknya sendiri? Skenario itu sama sekali tidak ada dalam rencana Bryan.
"Gak bisa gitu dong, Princess," protes Bryan mulai merasa panik. Ia berjalan mendekat ke arah dua wanita kesayangannya itu.
"Jangan dekat-dekat Ayah! Ila gak mau bicara dan dekat-dekat Ayah!" sentak Ila saat melihat Bryan mulai mendekat.
"Princess kan sudah besar, tidurnya sendiri aja ya? Ayah mohon..." Bryan memasang wajah memelas, mencoba bernegosiasi.
Ila menggeleng kuat. "Bunda tidur sama Ila. Titik!" tegasnya sambil mengeratkan pelukannya pada pinggang Zeline. Zeline hanya bisa tertawa kecil melihat wajah suaminya yang tampak sangat menderita.
"Emang kenapa kalau Bunda tidur bareng Ayah, sayang?" tanya Zeline sengaja memancing penjelasan lebih lanjut.
Ila cemberut, menatap bundanya dengan kesal. "Bunda... Ila tadi udah bilang kalau Ila gak mau Ayah makan Bunda kek tadiii!" serunya dengan nada menggemaskan yang membuat Bryan gemas sekaligus frustrasi.
Bryan menghela napas panjang, mencoba meredam suasana. "Ayah minta maaf ya, Sayang? Ayah janji gak makan Bunda lagi," ucapnya sungguh-sungguh. 'Gak makan Bunda di depan kamu maksudnya,' lanjut Bryan dalam hati dengan seringai tersembunyi.
Ila menatap ayahnya dengan ragu. "Ila akan maafin Ayah, tapi tidak sekarang. Ila tetap mau tidur dengan Bunda, dan Ayah tidurnya sendiri!" putusnya dengan final. Lagi-lagi, tawa Zeline pecah melihat betapa posesifnya putri kecil mereka.
"Ayah kalau lapar minta masakin Bunda, jangan Bunda yang dimakan!" nasihat Ila dengan nada sok dewasa.
"Iya, iya... gak lagi-lagi deh," sahut Bryan melas, menyerah sepenuhnya pada keinginan sang tuan putri.
"Udah bicaranya, Ila kan mau ngambek ke Ayah..." ucap Ila lagi dengan wajah serius. Bryan dan Zeline saling pandang; mana ada orang yang mau ngambek tapi laporan dulu?
"Oh ya Sayang, ngapain tadi panggil Bunda dan Ayah? Ada sesuatu?" tanya Zeline baru teringat tujuan awal Ila masuk ke kamar.
Ila tampak berpikir sejenak, memutar ingatannya yang sempat terdistraksi oleh "kejadian" tadi.
"Ah! Ila mau minta uang!"
"Buat apa?"
"Tadi kata Bang Liam, dia mau mam bibir Ila. Karena Ila gak mau dimam kek Bunda tadi, jadi Ila kesini mau minta uang untuk kasih ke Bang Liam, biar Bang Liam bisa beli makan dan gak kelaparan lagi," jawab Ila dengan wajah tanpa dosa.