"Menikahi ku atau melihat ayahmu membusuk di penjara?"
Elena tidak punya pilihan. Demi melunasi utang yang dijebak oleh Arkan—pria masa lalunya yang kini menjadi penguasa angkuh—ia setuju menjadi istri di atas kertas. Namun, di balik kemewahan rumah Arkan, Elena bukanlah nyonya, melainkan budak. Ia dijambak, diludahi, bahkan dipaksa melayani selingkuhan suaminya sendiri.
Setiap hari adalah neraka, hingga Arkan melampaui batas dengan menyentuh satu-satunya alasan Elena untuk hidup.
Di saat Elena hampir menyerah, sosok pria dari masa lalu yang menghilang selama lima tahun kembali. Ia bukan lagi pemuda desa yang miskin, melainkan putra mahkota dinasti mafia yang haus darah.
"Siapa pun yang menyentuh milikku, hanya punya satu tempat: liang lahat."
Pembalasan dendam dimulai. Ketika Sang Mafia menjemput ratunya, istana emas Arkan akan berubah menjadi abu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Saat Meja Makan Menjadi Medan Perang
Pagi itu, rumah mewah yang biasanya tenang dengan irama kemewahannya, mendadak terasa seperti medan ranjau yang siap meledak. Arkan tidak tidur semalaman. Matanya merah, kantung matanya menghitam, dan ia terus-menerus memutar-mutar pisau lipat yang ia temukan semalam. Kotak hitam berisi jam tangan berdarah itu telah ia buang, tapi pesan di dalamnya masih terpatri jelas di dinding otaknya: Sekarang, giliran permainanku.
Arkan merasa seperti ada mata-mata di setiap sudut rumahnya. Ia memanggil Elena keluar dari gudang pagi-pagi buta. Elena keluar dengan kondisi yang memprihatinkan; gaun tidurnya kering di badan dengan noda deterjen yang meninggalkan bercak putih, rambutnya kusut, dan matanya merah akibat peradangan kimia. Kulit lehernya yang tergores rantai kalung kini membiru.
"Duduk," perintah Arkan saat mereka berada di meja makan.
Meja itu penuh dengan hidangan mewah—omelet truffle, roti panggang artisan, dan buah-buahan segar—tapi suasananya lebih mirip ruang interogasi. Arkan duduk di ujung meja, sementara Elena duduk di sisi lain, gemetar. Ibu Widya dan Selin duduk berhadapan, keduanya tampak gelisah karena melihat kemarahan Arkan yang tertahan.
"Makan," ucap Arkan singkat sambil menatap Elena dengan tajam.
Elena mencoba memegang sendok, tapi jemarinya yang perih dan bengkak akibat mencuci baju kemarin tidak bisa menggenggam dengan benar.
Sendok perak itu jatuh, berdenting nyaring di atas lantai marmer. Suaranya memecah keheningan pagi yang mencekam.
BRAK!
Arkan menggebrak meja hingga cangkir kopi di depannya terguling, cairannya yang hitam pekat mengalir seperti darah di atas taplak meja putih. Selin menjerit kecil, sementara Ibu Widya hanya mematung.
"Bahkan memegang sendok pun kamu tidak becus?" Arkan berdiri, melangkah pelan memutari meja, mendekati Elena yang langsung menunduk dalam. "Atau kamu sedang berpura-pura lemah agar pengawal-pengawal di luar sana merasa kasihan padamu? Katakan, Elena! Siapa yang menyusup ke rumah ini semalam?!"
Arkan menjambak rambut Elena, memaksa wajahnya mendongak hingga Elena bisa melihat urat-urat kemarahan di leher suaminya. "Apa dia yang memberimu daun beringin itu? Apa dia pria desa yang kamu puja-puja itu?!"
"Aku... aku tidak tahu, Tuan... aku di gudang semalaman..." Elena merintih, air mata kembali membasahi pipinya yang pucat. Rasa perih di kulit kepalanya tidak sebanding dengan rasa takut yang menghimpit dadanya.
"Jangan berbohong!" Arkan mengambil sebuah piring berisi omelet panas dan menyodorkannya ke depan wajah Elena. "Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu sengaja lari semalam untuk memberinya sinyal, kan? Kamu ingin menunjukkan bahwa aku jahat agar dia datang menyelamatkanmu?"
Arkan kemudian melakukan sesuatu yang membuat Ibu Widya sendiri menutup mulutnya dengan tangan. Ia menuangkan kopi panas yang masih tersisa di meja ke atas piring omelet itu, lalu mendorong piring tersebut ke depan Elena.
"Karena tanganmu tidak bisa memegang sendok, makan langsung dari piringnya. Seperti anjing yang patuh," desis Arkan. "Jika piring ini tidak bersih dalam lima menit, aku akan menelepon rumah sakit sekarang juga dan memastikan ayahmu mendapatkan 'tidur abadi' pagi ini."
Elena menatap piring di depannya. Campuran kopi pahit dan telur yang sudah hancur itu tampak menjijikkan. Tapi, ancaman tentang ayahnya adalah rantai yang tidak bisa ia putuskan.
Dengan tubuh yang terguncang hebat karena isak tangis yang tertahan, Elena menundukkan kepalanya. Ia mulai melakukan apa yang diminta Arkan, menghancurkan sisa-sisa martabat yang ia miliki di depan Selin yang kini tersenyum sinis dan Ibu Widya yang hanya menonton dengan tatapan dingin.
Setiap suapan yang masuk ke mulutnya terasa seperti duri yang merobek tenggorokan. Rasa asin air matanya bercampur dengan pahitnya kopi. Elena merasa jiwanya benar-benar telah mati di atas meja makan itu.
"Lihat itu, Sayang," Selin bersuara, suaranya seperti kicauan burung yang membawa sial. "Istrimu memang cocok jadi peliharaan. Dia terlihat sangat alami saat makan seperti itu."
Arkan tertawa, sebuah tawa yang terdengar hampa dan penuh kegilaan. Tapi, tawa itu terhenti saat salah seorang pengawalnya masuk dengan terburu-buru, wajahnya pucat pasi.
"Tuan... ada kiriman lagi," ucap pengawal itu dengan suara bergetar.
Arkan melepaskan jambakannya pada rambut Elena dan berjalan cepat menuju ruang depan. Elena ditinggalkan dalam kondisi bersimpuh di kursinya, dengan wajah yang kotor oleh sisa makanan.
Di ruang depan, sebuah televisi layar datar yang biasanya memutar berita bisnis, kini menampilkan gambar yang berbeda. Layarnya telah diretas. Di sana terlihat sebuah gedung tua yang terbakar—itu adalah gudang penyimpanan barang-barang yang paling penting. Dan di depan gedung yang terbakar itu, terdapat sebuah coretan besar di dinding: "UTANG NYAWA, BAYAR NYAWA."
Arkan berteriak murka, menendang vas bunga besar hingga pecah berkeping-keping. "Cari dia! Temukan siapa yang melakukan ini atau kalian semua mati!"
Saat Arkan sibuk dengan kemarahannya, Bi Inah mendekati Elena di ruang makan dengan cepat. Sambil berpura-pura membersihkan meja, Bi Inah menyelipkan sebuah benda kecil ke dalam saku gaun tidur Elena.
"Ini ponsel khusus, Nyonya. Hanya ada satu nomor di dalamnya," bisik Bi Inah cepat. "Tuan Eros sudah berhasil memindahkan Ayah Nyonya. Orang-orang di rumah sakit itu bukan lagi orang-orang Arkan, mereka hanya mengenakan seragam yang sama. Ayah Nyonya aman sekarang."
Elena mendongak, matanya yang merah kini memancarkan keterkejutan yang luar biasa.
"Ayah... aman?"
"Benar. Tuan Eros hanya menunggu Nyonya memberi sinyal melalui ponsel ini. Begitu Nyonya menekan satu tombol saja, tim kami akan menyerbu rumah ini," lanjut Bi Inah sebelum Arkan kembali masuk ke ruangan.
Elena meraba benda keras di sakunya. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Rantai yang selama ini mengikatnya pada Arkan—nyawa ayahnya—baru saja diputuskan. Untuk pertama kalinya dalam setiap siksaan yang di terimanya, Elena merasakan kekuatan kembali ke dalam nadinya.
Arkan masuk kembali ke ruang makan, tampak seperti banteng yang terluka. Ia melihat Elena yang masih duduk di sana, tapi ia menyadari ada yang berbeda dari tatapan istrinya. Elena tidak lagi menunduk. Ia menatap Arkan tepat di mata.
"Kenapa? Kamu mau menantangku lagi?" tanya Arkan, langkahnya mendekat dengan ancaman.
Elena menarik napas panjang. Rasa pahit kopi di mulutnya kini terasa seperti amunisi. Ia berdiri perlahan, mengusap wajahnya yang kotor dengan punggung tangan.
"Tuan Arkan," ucap Elena, suaranya kini tenang, stabil, dan dingin. "Silakan telepon rumah sakit itu sekarang. Aku ingin tahu... apakah pengawalmu masih di sana untuk mengangkat teleponmu."
Arkan membeku. Hening seketika menyelimuti ruangan itu. Detak jarum jam di dinding terdengar seperti bom yang sedang menghitung mundur.
Arkan dengan panik merogoh ponselnya dan mendial nomor pengawalnya di rumah sakit. Telepon berdering... satu kali... dua kali... dan saat diangkat, suara yang terdengar di seberang sana bukanlah suara pengawalnya, melainkan suara berat dan rendah yang membuat Arkan hampir menjatuhkan ponselnya ke lantai.
📞"Arkan... terima kasih sudah menjaga Elena untukku. Sekarang, bisakah kamu menebak... berapa menit lagi sebelum aku sampai di depan pintu rumahmu?"
gas up yng bnyk ka semoga makin sukses dikarya" nya aamiin 🤲
smngat up kaka🤗
smngat up kaka🤗🤗
semangat cerita smpai pnjang dan semangat update juga kaka
novel kaka good
semoga makin sukese disemua karya" nya
ceritanya bagus kak
dan mudah dipahami
semangat kaka untuk update iya