NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Tuan Ammar

Istri Kontrak Tuan Ammar

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Nikah Kontrak
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: hermawati

Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.

Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?

Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.

Sementara di sisi lain.

Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.


Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertanggung Jawablah!!!

"Serius kamu mau pinjemin aku uang?" Nina memastikan apa yang didengarnya melalui sambungan video. Dia sedang berbincang dengan sahabat terbaiknya, Nanik.

Teman masa kecil hingga sekolah menengah atas, walau Nina tak sampai menyelesaikan pendidikannya kala itu.

Ketika dunia mencaci Nina, hanya Nanik yang dengan tangan terbuka menerimanya, tanpa sekalipun meninggalkannya.

Nanik pula yang tidak keberatan menjadi sponsor utama, saat Nina dan anak-anaknya merantau ke ibu kota.

"Iya aku serius!" perempuan berambut ikal di seberang sana menunjukkan dua jarinya. "Kamu ingat beberapa bulan lalu, aku pernah cerita. Kalau tanah bapakku yang di Pemalang kena proyek pembuatan jalan tol."

Nina mengangguk, "iya aku ingat."

"Nah, uang penggantian udah cair dua hari lalu. Aku dan mas ku dapat jatah rata. Maka dari itu, aku tawarin ke kamu."

"Tapi kan kamu mau hajatan, Nik!"

"Kalau soal biaya hajatan, biar ayahnya Adit yang tanggung. Ini kan uang pribadi aku." Nanik sempat menyahut sejenak panggilan dari putranya. "Lagian beliau sama sekali nggak keberatan kalau aku bantu kamu." Tambahnya.

Kebaikan Nanik, terkadang membuat Nina merasa terbebani. Dia merasa bersalah pada sahabatnya.

"Jadi kamu butuh berapa? Entar aku transfer ke rekening biasa."

Nina sudah menceritakan soal tawaran soal menyewakan rahimnya. Nanik sempat terkejut dan tak menyangka ada hal semacam itu.

"Mister Dami bilang, itu ada tambahan bunga lima puluh persen dari biaya yang dibayarkan beliau buat lunasin SPP si kembar, Nik! Banyak banget itu loh." Nina ragu. "Aku bingung bayarnya sama kamu."

Pulang dari rumah sakit dan begitu tiba di Penthouse milik Tuan Ammar, Nanik menghubunginya. "Apa aku terima aja ya? Aku nggak enak ngrepotin kamu terus."

Nanik menggelengkan kepalanya." Nggak ada yang merasa direpotkan, aku udah anggap kamu saudara. Jadi nggak usah sungkan." Terlihat di layar, Nanik bangun dari duduknya. Dia berjalan kearah lemari di belakangnya, dan kembali lagi membawa kotak kayu. Nanik membukakannya, lalu menunjukkannya kearah kamera. "Kalau uang aku kurang, aku bisa jual ini. Yang penting kamu udah nggak terlibat sama orang-orang kaya itu."

"Tapi, Nik!"

"Aku ke toko dulu, buat jual ini. Entar kalau udah aku transfer, aku kabari kamu lagi." Panggilan video itu diakhir oleh Nanik terlebih dahulu.

Dan karena pembicaraan tadi, kini Nina menggenggam erat amplop tebal berisi uang tunai untuk mengganti biaya sekolah si kembar yang dibayarkan oleh Damian. Tapi berhubung ini sudah malam, dan Nina tak memiliki nomor lelaki blasteran itu, dia memilih mengembalikan pada Ammar saja.

Bukan tanpa alasan Nina menerima begitu saja bantuan dari Nanik. Dua kejadian tadi pagi, membuatnya sadar untuk segera mengakhiri hubungan yang menurutnya aneh ini.

Kejadian pertama, ketika Ammar dengan liar tiba-tiba menciumnya. Membuat Nina merasa sangat berdosa. Hal yang sudah lama sekali tak pernah dia terima.

Lalu kejadian kedua, ketika dirinya diajak Damian untuk menemui Ammar terlebih dahulu, usai pulang dari rumah sakit. Ammar meninggikan suaranya di depannya. Lelaki beralis tebal itu, meminta agar Nina segera enyah.

Sebagai orang yang peka dan amat tau diri, Nina harus segera mundur dari hubungan aneh ini.

Yang membuatnya heran, bukannya menurut pada bos-nya. Damian justru membawa Nina kembali ke Penthouse. Padahal jelas-jelas Ammar mengatakan tak ingin melihat wajahnya lagi.

Nina sama sekali tak bisa menolak perintah Damian. Selain karena takut, Nina diancam dengan hal sama seperti kemarin.

Jadi demi keselamatan dirinya dan si kembar, lebih baik Nina segera mengakhiri saja. Dia pikir, Ammar tak akan menolak inisiatifnya ini. Karena lelaki asal timur Tengah itu, sepertinya sangat membencinya. Meski tak dipungkiri, kejadian di Penthouse tadi pagi. Menunjukkan hal sebaliknya. Tapi tetap saja, Nina merasa itu bukan hal yang bisa dibenarkan.

Rencananya, saat ini Nina akan memberikan uang itu dan langsung pamit pada si empunya Penthouse. Mereka tak boleh berada di bawah atap yang sama lebih lama. Ini benar-benar berbahaya, atau kejadian tadi pagi akan terulang lagi.

Nina bahkan sudah mengemasi barang-barangnya. Tak banyak, hanya satu tas besar berisi baju-baju dan surat penting.

Setelah mengumpulkan keberanian, Kini Nina berdiri tepat di depan pintu kamar milik Ammar di lantai dua Penthouse. Di tangannya ada amplop cokelat dari bank dan di samping tempatnya berdiri, ada tas besar miliknya.

Sekali mengetuk tidak ada tanggapan, Nina sempat berpikir. Apa Tuan Ammar sudah tidur?

"Kalau sampai tiga kali aku ketuk nggak dibuka, berarti aku bakal tinggalin amplop ini dan aku tulis memo buat pamitan." Monolognya.

Nina tau, pemilik Penthouse ini sudah pulang sedadi tadi. Dia tau, tapi tak mau menemui buru-buru. Nina perlu mengumpulkan keberanian.

Untungnya ketukan kedua, tak lama pintu terbuka. Lelaki bertubuh kekar itu hanya mengenakan piyama dengan bagian dada tak dikancing. sehingga memperlihatkan bulu-bulu halus di sana.

Nina sempat terpaku sejenak, namun kemudian tersadar dan membuang pandangannya kearah sandal rumahan yang dikenakannya. Dengan kata lain, Nina menunduk. "Maaf Tuan, saya mengganggu istirahat anda." Katanya pelan. Entah mengapa keberaniannya mulai terkikis begitu berhadapan langsung dengan lelaki yang memiliki aura dominan kuat di hadapannya ini.

Tak ada tanggapan dari pria itu, hanya terdengar suara napas dan suara samar pendingin ruangan. sisanya sepi menyelimuti Penthouse berlantai dua yang letaknya di lantai teratas gedung.

Nina berusaha mati-matian mengumpulkan sisa keberanian yang tersisa. "Maaf Tuan Ammar, saya menggangu istirahat anda." Dia mengulang kalimat yang sama dan dengan posisi sama, dia tak berani menatap balik. "Saya bermaksud mengembalikan uang yang tempo hari kalian bayarkan untuk biaya sekolah anak-anak saya, berikut bunga perhari yang Mister Dami katakan." Nina menyodorkan amplop yang sedari tadi digenggamnya. "Saya mundur dan merasa tak sanggup menerima permintaan kalian." Dia beralasan. "Jadi malam ini juga, saya bermaksud untuk berpamitan pada anda. Terima kasih."

Sayangnya tangannya dibiarkan menggantung di udara. Ammar sama sekali tak memberikan reaksi apapun.

Mulai merasa pegal di tangan, Nina memberanikan diri mengangkat kepalanya. Dia mendongak dan memastikan lawan bicara. Tapi yang Nina dapati justru tatapan tajam lelaki tinggi di depannya.

Nina merasakan tatapan amarah dari mata hitam Ammar, entah mengapa tiba-tiba tengkuknya merasa dingin. Sontak tangannya yang bebas memegang leher belakang dan mengusapnya pelan.

Jadi sekarang, Nina harus bagaimana?

Ammar mulai merespon, dengan cara mengalihkan tatapnya pada amplop cokelat yang disodorkan padanya. Melihat hal itu, rasanya ingin sekali membakar isinya. Harga dirinya terluka.

Setelah membuat harinya kacau, dengan mudahnya perempuan ini akan pergi?

Seorang Ammar Rasyid diperlakukan begini oleh perempuan biasa. Apa yang akan dunia katakan tentang ini, jika mereka tau?

Ammar yang digilai banyak perempuan sedari muda hingga saat ini, ditolak mentah-mentah oleh perempuan kampung ini.

"Cih ..." Ammar menatap marah perempuan berhijab hitam di depannya. "Setelah membuat aku kacau, kamu mau pergi begitu saja? Bertanggung jawablah hingga akhir, Nina Khairunnisa?

1
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
siapa ya? apakah ammar atau ibu tuti? lanjut kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
up lg kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
jangan jatuh cinta ya nina, karena jatuh cinta sendirian itu sakit...
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
mudah mudahan nina hamil
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
cerita nya bagus, update nya jangan lama2 kak🙏
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀: aamiin,, cepat sembuh kak🤲🏼
total 2 replies
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
nina apa sofia kak
Mareeta: maaf banget ya, aku typo Mulu.
agak nggak konsentrasi. ngerjainnya kadang malam dan nggak sempat edit.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!