Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.
Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.
Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Mulai Dikenal
Hari itu, Alvaro tiba agak terlambat dari biasanya. Bukan karena dia ingin, melainkan karena hujan lagi-lagi membuat keadaan jalanan kota menjadi sulit.
Jaketnya sedikit lembab, rambutnya agak acak-acakan, dan tas kameranya tampak lebih berat dari biasanya. Saat memasuki kafe, matanya langsung mencari meja yang dekat dengan jendela—dan tanpa disadari, ia juga mencari seseorang di balik bar.
Aurellia sedang mencatat pesanan ketika matanya menangkap sosok Alvaro. Pandangan mereka bertemu sejenak. Meski sebentar, itu cukup untuk membuat Aurellia tersenyum kecil sebelum kembali fokus pada catatannya.
“Americano kayak biasa? ” tanya Aurellia ketika Alvaro mendekati bar.
Alvaro mengangguk. “Iya. Kamu hafal, ya. ”
“Udah jadi kebiasaan,” jawab Aurellia santai. “Jam segini, orangnya, minumannya. ”
Alvaro tertawa kecil. Ia duduk, melepaskan jaketnya, kemudian menunggu kopi sambil mengamati suasana kafe yang sedikit lebih ramai dibandingkan hari sebelumnya. Musik lembut mengalun, suara hujan terdengar pelan dari luar, dan ada beberapa pengunjung yang sibuk dengan laptop mereka.
Aurellia meletakkan cangkir di depannya. “Ini. ”
“Makasih. ”
Mereka terdiam sejenak. Bukan keheningan yang canggung, melainkan lebih kepada keheningan yang… nyaman. Aurellia bersandar di meja bar, menatap Alvaro.
“Kemarin,” kata Alvaro akhirnya, “aku jadi memikirkan sesuatu. ”
Aurellia mengangkat alisnya. “Mikirin apa? ”
“Cerita kamu tentang rumah. ”
“Oh ituu. ” Aurellia tersenyum tipis. “Aku kira aku terlalu banyak cerita. ”
“Enggak kok,” Alvaro cepat menjawab. “Sebaliknya… itu bikin aku merasa lebih kenal kamu. ”
Aurellia tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk perlahan, lalu berkata, “Rumah itu berisik, Var. Tapi aku suka banget. ”
Alvaro menyesap kopinya. “Aku sebaliknya. ”
Aurellia menoleh. “Kamu tinggal sendiri, kan? ”
“Sekarang iya. Ngekos. ”
“Oh. ”
“Dulu tinggal sama keluarga, tapi saat ini ya… sendiri. Yang paling ramai pas Roni datang. ”
Aurellia tertawa. “Roni? ”
“Iya. Teman kos yang kemarin dateng itu. Suka numpang makan, suka ribut, tapi baik. ”
“Oh iyaa... kirain ada temen kos yang lain,” kata Aurellia.
Alvaro tersenyum. “Dia juga orang yang gampang dikenali. Begitu ketemu, kamu pasti langsung paham. ”
Aurellia mengangguk, lalu bertanya perlahan, “Kamu sering cerita tentang dia? ”
“Ke orang lain? ” Alvaro berpikir sejenak. “Nggak juga. Tapi entah kenapa, ke kamu… nyebut namanya terasa lebih mudah. ”
Pernyataan itu membuat Aurellia terdiam sejenak. Ada sesuatu dalam cara Alvaro mengatakannya—tidak berlebihan, dan juga tidak dibuat-buat. Hanya tulus.
“Kamu fotografer freelance, kan? ” tanya Aurellia, mengalihkan topik.
“Iya. ”
“Sering bekerja sama dengan siapa? ”
"Macem-macem. Kadang dengan brand kecil, kadang buat acara, kadang cuma motret orang yang pengen punya foto bagus. "
Aurellia tersenyum. “Rasanya bikin capek. ”
“Emang capek,” Alvaro mengakui. “Tapi aku suka. Apalagi waktu ketemu orang-orang baru. ”
Aurellia mengangguk. “Aku juga suka ketemu orang. Itu alasanya aku betah di kafe. ”
Mereka tertawa kecil, lalu terdiam sejenak lagi.
“Ngomong-ngomong,” kata Alvaro, “Nara itu… sekolah di mana? ”
Aurellia sedikit terkejut. “Kamu ingat? ”
“Iya,” jawab Alvaro santai. “Kamu sebut namanya beberapa kali kemarin. ”
“Dia di SMA,” jelas Aurellia. “Masih sok dewasa, padahal sikapnya kayak anak kecil. ”
“Biasanya emang gitu,” kata Alvaro sambil tersenyum. “Orang yang paling ramai biasanya itu yang paling peduli. ”
Aurellia menatapnya. “Kok kamu bisa tau? ”
“Aku dulu kayak gitu,” jawab Alvaro dengan jujur. “Sama keluargaku. ”
Aurellia tidak bertanya lebih lanjut. Namun, kalimat itu tertanam dalam pikirannya.
Siang itu berlangsung dengan lambat. Aurellia bolak-balik menyambut pelanggan, tetapi setiap kali ada kesempatan, ia menyempatkan diri untuk berbincang dengan Alvaro. Tentang berbagai hal sepele. Tentang kopi yang terlalu pahit, tentang hujan yang tak kunjung reda, dan tentang musik yang diputar oleh pemilik kafe hari itu.
“Eh,” ucap Aurellia saat kafe mulai sepi, “kalo aku sebut nama kamu, rasanya beda. ”
Alvaro mendongak. “Maksud kamu? ”
“Nama kamu,” Aurellia mengulangi. “Alvaro. ”
Alvaro tertawa kecil. “Kenapa gitu? ”
“Entahlah. Kayak… baru kali ini aku manggil orang bukan cuma sebagai pelanggan. ”
Alvaro terdiam sejenak. Lalu ia menjawab, “Aku juga ngerasain hal yang sama. ”
“Kenapa gitu? ”
“Aku biasanya manggil barista dengan ‘mbak’,” ujarnya sambil bercanda. “Tapi sekarang aku tau nama kamu. Aurellia. ”
Aurellia tersenyum lebar. “Bukan hal yang biasa ya. ”
“Iya,” Alvaro menjawab. “Tapi rasanya menyenangkan. ”
Menuju sore, hujan akhirnya reda. Sinar matahari kembali masuk melalui jendela, menciptakan cahaya hangat di lantai kayu. Alvaro melihat jamnya.
“Aku harus pergi sekarang,” ujarnya.
“Oh. ” Aurellia mengangguk. “Ada kerjaan? ”
“Ya. Ada yang perlu diedit. ”
Aurellia menuangkan air ke gelas kecil, kemudian berkata, “Hati-hati di jalan. ”
Alvaro berdiri, mengambil jaketnya. “Kamu juga nanti berhati-hati pulangnya. ”
Ia melangkah ke arah pintu, lalu berhenti sejenak. Menoleh.
“Rel,” panggilnya dengan suara pelan.
Aurellia menoleh. “Iya? ”
“Makasih banyak… udah mau cerita. ”
Aurellia tersenyum. “Makasih juga… udah mau dengerin. ”
Alvaro keluar. Aurellia berdiri sejenak di belakang bar, memperhatikan sosoknya menjauh melalui kaca.
Nama-nama itu—Roni, Nara, Bu Dewi—berputar lambat di pikirannya. Begitu juga dengan satu nama lain yang kini terasa lebih dekat dari sebelumnya.
Alvaro.
Dan untuk pertama kalinya, interaksi mereka tidak lagi terasa seperti kebetulan. Ada benang yang mulai menghubungkan dua dunia, satu nama demi satu nama.
Aneh, pikir Aurellia sambil merapikan gelas-gelas.
Biasanya nama orang hanya lewat begitu saja—datang, disebut sekali, lalu lenyap. Namun nama Alvaro terasa menetap. Seolah seperti lagu yang teringat meskipun hanya mendengar sepotong. Ia tidak sedang jatuh cinta, ia percaya itu.
Namun ada rasa ingin tahu yang tidak bisa ia buang jauh. Rasa ingin tahu yang lembut, yang duduk tenang di sudut pikirannya dan tidak mengganggu, tetapi tetap ada.
Ia merasa heran pada dirinya sendiri. Sudah cukup lama ia tidak memperhatikan nama seseorang yang berada di luar lingkungan rumah dan pekerjaan. Pelanggan umumnya singgah sebentar, meninggalkan pesanan dan uang tip. Namun Alvaro meninggalkan… pikiran.
Ketika Alvaro menyebut Nara sekali lagi, Aurellia sempat terkejut. Bukan karena terkejut, tetapi karena merasa ceritanya benar-benar diperhatikan. Ia biasa didengarkan sekilas—orang mengangguk dan lalu melupakan. Namun Alvaro mengingat. Nama saudaranya, cara ia bercerita, bahkan intonasi suaranya.
Apa ini karena aku jarang berbagi cerita, ya?
Ia tidak ingin berlebihan. Tidak mau berharap terlalu jauh. Namun tubuhnya seolah bereaksi sebelum pikirannya—lebih ringan, lebih damai. Seperti ada ruang aman baru, kecil tetapi cukup hangat untuk sekadar bersantai sejenak.
Aurellia menyukai cara Alvaro tidak terburu-buru mendekat. Ia hadir di sana, namun tidak menekan. Bertanya dengan halus tetapi tidak memaksa. Ada tetapi tidak menuntut. Hal ini membuat Aurellia berani berpikir: mungkin aku tidak perlu selalu bersikap waspada.
Ia pernah belajar bahwa kedekatan itu bisa menjadi melelahkan. Bisa gaduh. Bisa menyakitkan. Namun bersama Alvaro, segala sesuatunya terasa lambat. Tidak ada komitmen, tidak ada harapan yang berlebihan. Hanya percakapan yang mengalir dan nama-nama yang mulai menemukan tempatnya.
Ketika Alvaro meninggalkan kafe dan suasana kembali sepi, Aurellia terus mengulang satu nama itu di pikirannya. Bukan dengan perasaan berlebihan, bukan dengan senyum lebay. Hanya pengakuan jujur pada dirinya sendiri.
Aku suka mendengar namanya disebut.
Dan kemungkinan, tanpa disadari, ia juga mulai menyukai bagaimana namanya sendiri diucapkan oleh orang yang tepat.
Ia tidak tahu akan kemana ini akan berlanjut. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus tahu jawabannya saat ini.