NovelToon NovelToon
Bahu Yang Memikul Langit Prau

Bahu Yang Memikul Langit Prau

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Mengubah Takdir / Keluarga
Popularitas:887
Nilai: 5
Nama Author: Nonaniiss

Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka Rindu di Tengah Malam

Waktu ternyata bukanlah obat. Bagi anak sekecil aku, hari-hari tanpa Ibu bukan membuatku terbiasa, melainkan membuat lubang di hatiku semakin menganga. Kerinduan itu seperti ombak, ia bisa tenang di siang hari saat aku bermain dengan Pipit, namun akan berubah menjadi badai yang menghantam saat kegelapan malam mulai menyelimuti rumah.

Tahun-tahun itu bukanlah zaman di mana suara seseorang bisa kudengar hanya dengan menekan layar ponsel. Tidak ada panggilan video untuk melihat senyumnya, tidak ada pesan singkat untuk sekadar tahu ia sudah makan atau belum. Yang kumiliki hanyalah doa yang kupanjatkan dengan terbata-bata, air mata yang membasahi bantal, dan harapan kosong yang kupeluk erat-erat setiap kali menutup mata.

Hampir setiap malam, badai itu datang.

"Ibu... aku mau Ibu..." tangisku pecah di tengah malam yang buta, sekitar pukul sebelas.

Isak tangisku yang sesenggukan pasti menghancurkan istirahat Ayah. Dalam remang lampu kuning redup, aku melihat Ayah segera bangun. Wajahnya yang sangat lelah, dengan mata yang merah karena kurang tidur, sama sekali tidak menunjukkan kemarahan. Ia tidak membentakku agar diam. Sebaliknya, ia segera mengangkat tubuhku ke dalam gendongannya.

"Sstt... anak cantik jangan menangis. Ibu sedang berjuang buat kita, Nak," bisiknya parau sambil membawaku keluar rumah.

Ayah tahu, berada di dalam kamar yang sunyi hanya akan membuatku semakin sesak. Maka, di tengah malam yang dingin, ia membawaku ke depan rumah atau berjalan-jalan kecil di halaman. Ia mendekapku erat, membiarkan air mataku membasahi pundaknya yang sudah penuh luka lecet akibat memikul kayu.

"Yah, kenapa Ibu lama sekali? Apa Ibu lupa jalan pulang?" tanyaku di sela tangis, suaraku parau karena terlalu banyak berteriak.

Ayah mengusap punggungku dengan irama yang tenang. "Ibu tidak pernah lupa. Ibu selalu ingat jalan pulang ke hatimu. Sekarang, Ibu sedang menabung rindu, supaya nanti saat pulang, pelukannya jadi lebih hangat."

Kami tetap seperti itu sampai jam menunjukkan pukul dua pagi. Ayah tetap sabar, tetap mendekapku, tetap membisikkan kata-kata penenang meski ia sendiri mungkin sedang menahan kantuk yang luar biasa. Baginya, menenangkan jiwaku yang rapuh jauh lebih penting daripada jam istirahatnya yang sangat terbatas.

Baru setelah aku benar-benar tenang dan kembali terlelap karena kelelahan menangis, Ayah meletakkanku kembali ke tempat tidur. Ia hanya punya waktu satu jam untuk memejamkan mata sebelum jam tiga pagi tiba, saat di mana ia harus bangun untuk sujud kepada Tuhannya dan bersiap memikul kayu ke gunung lagi.

Aku yang sekarang sering tertegun memikirkan masa itu. Bagaimana mungkin satu orang manusia bisa mengambil dua peran sekaligus dengan begitu sempurna? Ayah menjadi punggung yang kokoh untuk nafkah, sekaligus menjadi dekapan yang lembut untuk luka. Ia memikul kayu di siang hari, dan memikul kesedihanku di malam hari.

Dulu aku hanya tahu bahwa aku merindukan Ibu. Sekarang aku tahu, bahwa di balik kerinduanku itu, ada seorang laki-laki hebat yang rela menghabiskan seluruh tenaganya agar dunianya yaitu, aku, tidak benar-benar runtuh. Ayahku memang tidak punya banyak harta, tapi ia memiliki ketabahan yang seluas samudera.

Kini, setiap kali aku mendengar orang-orang yang berbisik tentang keluarga kami, aku tidak lagi merasa ingin marah. Aku justru merasa kasihan pada mereka. Mereka hanya melihat seorang lelaki pemikul kayu yang kusam, sementara aku melihat seorang ksatria yang sedang bertarung melawan sepi dan lelah setiap detik dalam hidupnya.

Jika kelak aku ditanya seperti apa rupa cinta yang paling tulus, aku tidak akan menunjuk pada sepasang kekasih di film-film. Aku akan menceritakan tentang seorang ayah yang rela bahunya lecet karena memikul kayu di siang hari, dan rela pundaknya basah oleh air mata anaknya di malam hari, tanpa pernah sekalipun berkata "Aku lelah."

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Zanahhan226: terima kasih, Kak..
🥰🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!