NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Bocah

Transmigrasi Menjadi Bocah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Transmigrasi / Romansa Fantasi
Popularitas:36k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.

Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.

​Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.

​"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.

"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.

"Om?"

Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26

Hanya beberapa kilometer lagi sebelum mereka mencapai gerbang neraka milik Sean Harley, namun jalanan mendadak diblokade oleh deretan mobil hitam yang sangat familier.

"Sial, Luc. Itu bukan orang-orang Harley," gumam Bobby, tangannya refleks meraba senapan mesin di pangkuannya.

Sesosok pria jangkung dengan setelan jas hitam yang tampak sangat formal meski di tengah malam, melangkah keluar dari salah satu mobil blokade.

Ia berjalan tenang, seolah tidak peduli dengan moncong senjata yang mungkin membidiknya.

Pria itu mengetuk kaca mobil Luca dengan santai.

"Mau ke mana kalian?" suara berat Edgar Frederick merambat masuk ke dalam kabin.

Luca menggeram, ia membuka pintu mobil dan keluar dengan napas memburu. "Papa? Apa-apaan ini? Singkirkan mobil-mobilmu, aku punya urusan mendesak!"

"Kau mau bertindak gegabah? Pikirkan matang-matang, Luc!" Edgar menatap putranya dengan tatapan tajam yang mampu mengintimidasi siapapun.

"Kau pikir Sean Harley akan membiarkan mansionnya terbuka begitu saja? Di sana bukan hanya ada penjaga, tapi ribuan jebakan yang dirancang khusus untuk menghancurkan siapa pun yang berani masuk tanpa izin," lanjut Edgar.

"Aku tidak peduli," sahut Luca, dengan rahang mengeras. "Meskipun aku harus merangkak melewati ranjau, aku akan tetap datang ke sana dan membawa Queen pulang."

Edgar menyipitkan mata, ia melangkah maju hingga jaraknya hanya satu jengkal dari Luca. "Siapa Queen bagimu?"

Pertanyaan itu menghantam Luca lebih keras daripada peluru mana pun. Luca tertegun. Mulutnya terbuka, namun tidak ada kata yang keluar. "Apa maksud Papa bertanya seperti itu? Tentu saja dia... dia..."

Luca kehilangan kata-kata. Kebingungan merayap di wajahnya.

Benar, siapa Queen? Mereka tidak punya hubungan darah. Mereka baru bertemu beberapa hari. Queen hanyalah bocah yang ia temukan secara tidak sengaja.

Namun, kenapa dadanya terasa seperti terbakar hanya karena membayangkan bocah itu terluka?

"Lihat dirimu. Kau tidak bisa menjawabnya karena kau sendiri ragu. Jika Sean menahannya, itu masuk akal secara hukum dan darah karena dia adalah pamannya. Sementara kau? Kau bahkan bukan siapa-siapanya!" Edgar tertawa mengejek, sebuah tawa dingin yang menyayat harga diri Luca.

"Aku walinya!" seru Luca spontan.

Edgar tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Wali? Di atas kertas apa kau mendaftarkannya? Kau baru tujuh belas tahun, Luca. Kau bahkan belum bisa menjadi wali untuk dirimu sendiri di mata hukum dunia atas. Kau bertindak berdasarkan ego remaja yang labil."

"Aku tidak peduli soal hukum! Aku yang menyelamatkannya, jadi dia tanggung jawabku!" bentak Luca.

Edgar menghentikan tawa-nya secara tiba-tiba. Suasananya mendadak berubah mencekam.

"Kau boleh ke sana. Aku bahkan akan meminjamkan pasukan terbaikku untuk menemanimu meratakan tempat itu. Asalkan, kau sudah memutuskan apa arti Queen bagimu. Apakah dia sekadar aset? Ataukah sesuatu yang lebih dari nyawamu? Jika kau masih ragu, kau hanya akan mengantar nyawa dan menyeret klan kita ke dalam perang yang tidak berguna."

Edgar menoleh ke arah Bobby yang masih duduk di balik kemudi dengan wajah pucat.

"Bobby, bawa dia kembali ke villa. Dia butuh mendinginkan otaknya."

"Apa?! Tidak! Aku tidak mau pulang!" Luca hendak merangsek maju, namun Edgar memberikan kode mata pada Bobby.

Dengan gerakan kilat yang tidak terduga, Bobby keluar dari mobil dan mendekati Luca dari belakang. Sebelum Luca sempat bereaksi atau mencabut pistolnya, Bobby melayangkan pukulan telak ke tengkuk Luca dengan pangkal senjatanya.

BUK!

Tubuh remaja itu lemas seketika. Luca pingsan dalam dekapan Bobby sebelum sempat mengeluarkan makian terakhirnya.

"Bodoh," lirih Edgar sambil menatap wajah putranya yang pingsan. "Seorang pemimpin tidak boleh membiarkan perasaannya mengaburkan strategi. Bawa dia pergi, Bob."

Sementara itu, di mansion Harley, suasana tampak sangat tenang. Sean Harley berdiri di balkon kamarnya, menatap ke arah gerbang luar melalui teropong malam.

"Bagaimana, ada tanda-tanda bocah ingusan itu datang?" tanya Sean pada salah satu anak buahnya yang sedang memantau layar radar.

"Belum, Tuan. Sepertinya dia tidak akan berani datang kemari sendirian. Informan kita bilang Edgar Frederick sudah memblokir jalannya. Edgar sepertinya tidak mau ikut campur soal urusan bocah Harley," lapor anak buah itu.

Sean menyeringai lebar, ia menyulut rokoknya dan membuang asapnya ke udara dengan gaya kemenangan.

"Haha! Jelas saja. Edgar itu rubah tua yang cerdik. Dia tidak akan membiarkan putranya memicu perang terbuka hanya demi seorang keponakan orang lain. Hanya orang bodoh yang ingin merebut Queen dariku, karena secara sah, aku adalah satu-satunya keluarganya yang tersisa."

Sean merasa di atas angin. Tanpa ancaman dari Luca, ia memiliki semua waktu di dunia untuk memeras otak Queen. Ia mematikan rokoknya di pagar balkon, lalu berbalik menuju kamar tempat Queen dikurung.

"Kini saatnya melanjutkan misi utama," gumam Sean dengan tatapan haus kekuasaan. "Aku harus merayu si jenius kecil itu agar mau berdamai denganku. Sedikit kata-kata manis dan janji harta, dia pasti akan luluh. Anak kecil tetaplah anak kecil."

Sean melangkah menyusuri lorong dengan angkuh. Ia tidak tahu bahwa di dalam kamar, Queen sedang memegang sebuah kabel tembaga yang ia cabut dari lampu tidur, siap untuk menyabotase seluruh sistem kelistrikan mansion jika Sean berani menyentuhnya.

"Sebentar lagi, aku akan menguasai segalanya," bisik Sean sebelum memutar kunci pintu kamar Queen.

1
tinie
ditunggu kabar baiknya
lelaki remaja dgn anak balita 😁😁😁
Senja: Siappppp🤭
total 1 replies
partini
luca dah bangun dari semedi udah dapat Ilham 🤣🤣🤣
Tiara Bella
wow Luca KY anak remaja lg LG jatuh cinta ya.....makasih Thor up nya triple.....
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Maria Hedwig Roning
thnks thor ceritanya sangat menarik...
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ: Lanjut thor, seru and semangat ya💪
total 2 replies
Murni Dewita
double up donk thor
Senja: Heheh, udah triple up hari ini kak🤭 besok ya up seperti biasa 3bab
total 1 replies
partini
good
partini
luca lagi semedi kah Thor
Senja: Hooohh
total 1 replies
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Senja: Siappp
total 1 replies
Ita Xiaomi
Aku jg mau kue gosongnya 😁
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣.
Evi Marena
wkwkwkwwkk
ternyata Sean juga manusia biasa😌
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Kinara Widya
atau jangan2 Edgar dulu yg mencelakai orang tua queen....bakal ribet ni klo benar Edgar...
Ita Xiaomi: Berharap bukan Edgar. Kasihan nanti Sean, Queen ama Luca.
total 1 replies
Tiara Bella
wow Sean sangat mengharukan ...
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
tinie
mulut naga katanya🥺😁😄
Ita Xiaomi
Sama aja kalian berdua tuh kan sama-sama baru belajar tentang kehangatan 😁.
Ita Xiaomi
Sabar Luca. Ini Sean lg belajar menjd hangat😁. Ndak boleh panas.
Ita Xiaomi
Msh mencerna😁
Senja: Wkwkw😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!