Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.
Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.
Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Bandara Soekarno–Hatta International Airport
Terlihat begitu sibuk, banyak orang berlalu lalang keluar dari pesawat yang baru saja mendarat. Di antara mereka, ada tiga orang remaja yang baru saja turun dari pesawat.
Mereka tak lain, adalah Seyra dan dua sahabatnya. Namun, dari mereka bertiga hanya gadis itu yang tidak membawa koper.
Seyra hanya menenteng satu ransel berwarna hitam di pundaknya, sedangkan kedua sahabatnya membawa koper mereka masing-masing yang berukuran sedang.
"Baju lo di tinggal semua, Sey? Gue penasaran dari kita berangkat, kok lo nggak bawa koper satu pun padahal pas pergi lo bawa koper loh," tanya Samuel heran.
Seyra mengangguk, "Gue males bawanya, berat."
Agha menggelengkan kepalanya pelan, "Terus kapan lo mau ke Paris lagi? belum tentu dalam waktu dekat lo bisa kesana lagi."
Seyra mengangkat kedua bahunya acuh, "Gue tahu, cuma di sini juga gue bisa beli baju, kan. Toh, baju gue juga masih banyak di rumah."
"Terserah lo deh, dasar orang kaya." Sinis Samuel.
Seyra terkekeh, dia merangkul pundak Samuel kasar. Tinggi mereka tidak berbeda jauh, sebab Seyra memiliki tinggi 179 senti sedangkan Samuel dan Agha memiliki tinggi badan 187 senti.
Ketika mereka keluar dari bandara, orang yang menjemput mereka bertiga sudah datang. Seyra melambaikan tangan ketika mobil kedua sahabatnya berlalu lebih dulu.
"Mari, Non." Ajak sang supir.
Seyra mengangguk singkat, "Papa nggak ikut?"
Seingatnya, sebelum berangkat semalam kakek Jhon memberitahunya jika besok dia akan di jemput oleh ayahnya. Tapi ternyata pria itu tidak muncul.
"Nggak, Non. Tuan besar sedang ada rapat dadakan jadi beliau menitipkan Anda pada saya." Jawab sang supir sopan.
"Oh, oke."
Ketika Seyra hendak memasuki mobil tiba-tiba sesuatu menabrak kakinya, sontak Seyra menunduk dia melihat anak kecil dengan pakaian beruang nemplok di kaki kanannya.
"Mama... Mama." Rengek anak itu.
"Eh... anak siapa nih?" Seyra menunduk, dia menarik pelan pakaian anak itu seperti menenteng kresek.
Begitu wajahnya terlihat, Seyra tak bisa menahan tawa. Pipi anak kecil itu merah, di tambah ingusnya yang belepotan membuat Seyra tertawa hingga terpingkal-pingkal.
"Anjir, ingusan." Katanya mengejek.
Hal itu jelas membuat si anak semakin menangis, hingga membuat tatapan orang-orang di sekitar mereka menatap Seyra tajam.
"Pfftt, maaf, abisnya kamu lucu banget." Ujarnya seraya berjongkok di depan anak kecil itu.
"Mama..." panggilan tersebut kembali keluar dari bibir anak itu.
"Mana mama kamu? kenapa dia biarin kamu keluyuran sendiri?" cecar Seyra, dia menoleh kanan kiri mencoba mencari ibu dari anak itu.
Namun, tidak ada tanda-tanda ibu-ibu yang kehilangan anaknya. Seyra menggaruk kepalanya, bingung. Dia merasa ada yang tidak beres dan sedikit waspada jika dia harus bertanggung jawab atas anak itu.
'Gue nggak mau bawa nih bocah, semoga orang tuanya ada.' Batin Seyra penuh harap.
"Ayo, kita cari mama kamu, ya?" Seyra berkata sambil mencoba menenangkan anak itu. Dia meraih tangan kecilnya dan berdiri.
Anak itu mengangguk, meskipun air mata masih membasahi pipinya. Sebelum pergi, Seyra meminta sang supir untuk menunggunya sebentar di sana.
Seyra mulai melangkah perlahan, mengajak anak itu berjalan menyusuri keramaian bandara. Sambil berjalan, Seyra sesekali mengajak bicara.
"Nama kamu siapa?" tanyanya.
"Nino," jawab anak itu dengan suara pelan.
"Nino? nama yang bagus. Umur berapa sekarang?" Seyra melanjutkan.
"Lima," jawab Nino sambil mengusap ingusnya dengan punggung tangan.
Seyra tertawa kecil. "Lima tahun, ya? wah, Nino sudah besar rupanya. Kita harus cari mama kamu supaya bisa pulang cepat," ujarnya sambil menepuk punggung Nini dengan lembut.
Ketika mereka sudah berjalan cukup jauh, terlihat seorang pria berpakaian formal sedang mondar mandir dengan mimik wajah panik.
"Papa!" pekik Nino cempreng.
Sontak Seyra terkejut, begitu juga pria yang tadi sedang mondar mandir. Dia berlari ke arah mereka dan langsung memeluk Nino erat begitu tiba.
"Astaga, kamu dari mana hm? Papa nyari kamu dari tadi." Tanya pria itu raut lega terlihat jelas di wajahnya.
"Aku nyari mama," jawab Nino seraya menunjuk Seyra.
Seketika Seyra melotot, dia menggeleng cepat sambil mengangkat kedua tangannya di depan dada.
"Saya bukan penculik, Om. Beneran tadi saya ketemu anak ini di depan mobil, dia lagi nangis nyari mamanya." Jawab Seyra mencoba menjelaskan, dia tidak mau di cap sebagai penculik di hari pertamanya tiba di Jakarta. Masa iya, cewek secantik dia jadi penculik? Kan nggak lucu.
Pria itu melepaskan pelukannya dan menatap Seyra dengan curiga. "Jadi, kamu bilang kamu menemukan Nino di depan mobil?" tanyanya, suaranya sedikit meninggi.
"Betul, Om." Seyra menjelaskan sambil berusaha tetap tenang. Dia bisa merasakan ketegangan di udara, dan dia tidak ingin membuat situasi ini semakin buruk.
Nino terdiam, mengamati antara Seyra dan papanya. "Papa, dia baik. Mama ngajak aku jalan nyari Papa," katanya sambil menggenggam tangan Seyra.
Pria itu menghela napas, sepertinya mulai mendinginkan suasana. "Maaf, saya hanya khawatir. Nino nggak biasanya begini, dan terima kasih sudah mengantarkan anak saya kembali," katanya sambil mengalihkan pandangannya pada Nino.
Seyra mengangguk, merasa lega mendengar penjelasan itu. "Nggak apa-apa, Om. Saya juga khawatir saat melihat dia sendirian," jawab Seyra sambil tersenyum.
"Sekali lagi, terima kasih sudah menjaga Nino," kata pria itu, akhirnya merelaksasi wajahnya. "Saya Killian, papa Nino. Kamu baru di Jakarta?"
"Iya, saya baru saja tiba. Ah, perkenalkan saya Seyra," Seyra menjawab, merasa sedikit lebih nyaman.
"Senang bertemu denganmu, Seyra." Killian mengalihkan pandangan pada putranya. "Nino, yuk kita pulang sekarang," ajak Killian sambil berjongkok untuk melihat Nino lebih dekat.
Nino mengangguk antusias, namun tangan mungil anak itu terus memegang jari telunjuk Seyra. "Mama, ayo pulang."
"Hah?" sesaat otak Seyra menjadi lemot.
Melihat raut syok Seyra, Killian berinisiatif melepas tangan Nini. "Sayang, dia bukan mama kamu. Lepasin tangan kakaknya, ya."
"Nggak mau, aku mau sama mama!" teriak Nino lantang.