Aroma melati yang merebak di gedung itu terasa mencekik paru-paru Rina. Harusnya, hari ini menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun, di balik riasan bold dan kebaya putih mewah yang melekat di tubuhnya, ada hati yang sedang hancur berkeping-keping.
Di sampingnya, duduk Gus Azkar. Pria itu tampak tenang, nyaris tanpa cela. Dua bulan lalu, saat Azkar datang melamar ke rumahnya, Rina tak punya kuasa untuk menolak keinginan orang tuanya. Azkar adalah menantu idaman—seorang ustadz muda yang dihormati, santun, dan memiliki garis keturunan pemuka agama yang terpandang.
Tapi bagi Rina, Azkar adalah orang asing yang memisahkan dunianya dengan Bian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2 Rapuhnya Sang Pengantin
Kondisi fisik Rina yang sudah mencapai batas akhirnya tumbang juga. Tekanan mental karena harus menikah di usia sekolah, ditambah aksi mogok makan sebagai bentuk protes bisu, membuat tubuhnya tak lagi sanggup menopang beban tersebut.
Lampu gantung di gedung pernikahan itu seolah berputar di mata Rina. Suara riuh tamu undangan perlahan memudar, berganti dengan dengingan panjang yang menyakitkan telinga. Genggaman tangan Gus Azkar yang tegas tadi kini terasa jauh, sangat jauh.
"Dek? Kamu dengar saya?" suara Azkar terdengar samar, kini nada dinginnya berubah menjadi kecemasan yang tertahan.
Pandangan Rina mengabur. Bayangan Bian yang pergi, buku-buku sekolah kelas 2 SMA yang masih tersusun rapi di kamarnya, dan masa depan yang terasa dirampas darinya, semuanya berkelindan menjadi satu. Rina ingin bicara, ingin memohon agar ia dipulangkan saja ke bangku sekolahnya, namun lidahnya kelu.
Bruukk!
Tubuh mungil Rina luruh begitu saja di atas pelaminan. Kepalanya jatuh tepat di dada Gus Azkar sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri sepenuhnya.
Penyesalan yang Terlambat
Gus Azkar dengan sigap menangkap tubuh istrinya. Wajahnya yang tadi kaku kini memucat pasi. Ia menyadari sesuatu; telapak tangan Rina terasa sangat dingin dan tubuhnya begitu ringan, seolah hanya tulang yang dibalut kulit.
"Rina! Bangun, Dek!" serunya, mengabaikan tatapan panik para tamu dan keluarga.
Ibu Rina berlari mendekat sambil menangis histeris. "Ya Allah, Azkar! Rina memang tidak mau makan sejak seminggu yang lalu. Dia stres, dia masih ingin sekolah..."
Mendengar ucapan mertuanya, jantung Azkar serasa berhenti berdetak. Ia menatap wajah Rina yang pucat pasi di dekapannya. Ada rasa bersalah yang menghantam dadanya. Ia lupa bahwa wanita yang baru saja ia "klaim" secara tegas itu hanyalah seorang gadis remaja yang dunianya baru saja diruntuhkan paksa.
Tanpa membuang waktu, Gus Azkar mengangkat tubuh Rina dengan gaya bridal style. Ia tidak lagi mempedulikan adat atau wibawanya sebagai seorang Gus.
"Siapkan mobil! Kita ke rumah sakit sekarang!" perintahnya tegas, namun kali ini suaranya bergetar karena ketakutan yang luar biasa.
Titik Balik
Di dalam mobil menuju rumah sakit, Gus Azkar terus menggenggam tangan Rina yang dingin, menyadari bahwa memiliki Rina secara sah ternyata tidak sama dengan memiliki hatinya.
Suasana di lorong rumah sakit yang dingin itu mendadak mencekam. Rina baru saja siuman dengan selang infus yang menancap di tangannya. Wajahnya masih pucat pasi, namun matanya langsung membelalak saat melihat sosok pria berdiri di ambang pintu kamar rawatnya.
"Kak Bian..." bisik Rina parau. Air matanya langsung mengucur deras.
Bian, yang mendengar kabar Rina pingsan, tidak peduli lagi dengan harga dirinya. Pria berusia 23 tahun itu menerobos masuk dengan napas terengah-engah. "Rin, maafkan Kakak... Kakak nggak seharusnya biarin kamu sendirian hadapi ini," ucap Bian penuh penyesalan.
Rina berusaha bangun, tangannya gemetar ingin meraih ujung jaket Bian. "Kak, jangan pergi... aku mau sekolah lagi, aku nggak mau di sini..." tangisnya pecah, menyayat hati siapa pun yang mendengar.
Ketegasan Sang Suami
Cklek.
Pintu terbuka lebar. Gus Azkar masuk dengan langkah tenang namun auranya sangat menekan. Melihat Bian ada di sana, rahang Azkar mengeras. Ia berjalan santai menghampiri ranjang, lalu berdiri tepat di tengah-tengah antara Rina dan Bian, memutus kontak mata mereka.
"Sudah puas dramanya?" tanya Azkar dengan nada santai namun sangat dingin.
"Gus, Rina menderita! Dia masih anak sekolah, dia butuh kebebasannya!" seru Bian berani. Sebagai pria yang hanya terpaut satu tahun dari Azkar, Bian tidak merasa gentar.
Azkar terkekeh sinis, sebuah tawa pendek yang tidak sampai ke mata. Ia berbalik menatap Bian dengan tatapan tajam, persis seperti seorang ustadz yang sedang menghadapi santri paling nakal di pesantrennya.
"Bian, kamu punya jam tangan, kan? Lihat sekarang jam berapa. Ini sudah larut, dan kamu berada di kamar istri orang tanpa izin suaminya," ucap Azkar sambil melipat tangan di dada. "Sebagai laki-laki yang sudah bekerja, harusnya kamu punya logika yang lebih dewasa daripada anak SMA ini."
Hukuman untuk Rina
Rina semakin terisak, "Mas... tolong, biarkan Kak Bian di sini sebentar saja..."
Azkar menoleh ke arah Rina. Tatapannya kini berubah galak, membuat nyali Rina menciut. "Diam, Rina. Satu kata lagi kamu membantah, saya pastikan Kakakmu ini tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di radius satu kilometer dari rumah kita."
Azkar beralih kembali ke Bian. "Keluar sekarang. Atau saya panggil keamanan karena tindakan tidak menyenangkan? Kamu tamu tak diundang, dan saya punya hak penuh atas keselamatan istri saya."
"Rin..." Bian menatap nanar.
"Saya bilang KELUAR!" bentak Azkar dengan suara baritonnya yang menggelegar di ruangan itu.
Bian terpaksa mundur. Ia tahu, secara hukum dan agama, posisi Azkar tidak tergoyahkan. Setelah Bian menghilang di balik pintu, Azkar menutup pintu itu dengan bantingan keras lalu menguncinya.
Ia berjalan mendekat ke arah Rina yang sedang meringkuk ketakutan di bawah selimut. Azkar duduk di kursi samping ranjang, menatap istrinya dengan ekspresi yang sulit ditebak—campuran antara cemburu, marah, dan tanggung jawab.
"Menangislah sampai matamu bengkak, Rina. Tapi ingat satu hal," Azkar menyentuh kening Rina dengan jarinya, memberi tekanan kecil. "Detik ini, duniamu adalah saya. Bukan sekolahmu, bukan juga pria itu. Kamu sakit karena kamu membangkang, dan saya tidak suka istri yang tidak patuh."