NovelToon NovelToon
TETANGGA GARIS KERAS

TETANGGA GARIS KERAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rachel Imelda

Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nggak Mungkin

Begitu sampai di minimarket, Gavin langsung mengambil keranjang belanja dengan gerakan sigap, sementara Aruna masih sibuk merapikan rambutnya yang berantakan karena buru-buru.

"Runa, kita bagi tugas. Kamu ambil kebutuhan sanitasi wanita, saya akan menangani sektor logistik cair," instruksi Gavin sambil menyalakan kalkulator di ponselnya.

Aruna awalnya cuek saja, sampai akhirnya dia sadar Gavin sudah berdiri selama lima menit di depan rak sabun cuci piring. Gavin tidak cuma melihat merk, tapi memegang dua botol sabun berbeda ukuran di tangan kanan dan kiri.

"Runa, lihat ini. Merk A harganya Rp.15.500 untuk 650ml, artinya Rp.23,8 per mililiter. Sedangkan merk B sedang promo, harganya Rp.18.000 untuk 800ml, jatuh di angka Rp.22,5 per mililiter." Kata Gavin sambil menekan kalkulatornya.

"Ya udah, ambil yang merk B aja, Mas. Lebih murah kan?" jawab Aruna.

"Tunggu dulu, merk B memiliki tingkat kekentalan yang lebih rendah. Jika kita harus menggunakan dua kali lipat volume untuk hasil bersih yang sama, maka secara fungsional merk A tetap lebih efisien sebesar dua belas persen." kata Gavin lagi

Gavin mulai menghitung serius di kalkulator, dahi berkerut dan mulutnya komat kamit. Beberapa pengunjung lain mulai lewatkan melirik aneh. Ada ibu-ibu yang sampai berhenti cuma buat memastikan apakah Gavin itu pegawai minimarket yang lagi Audit stok atau orang aneh.

"Mas, itu sabunnya mau diminum apa mau dihitung?" celetuk seorang bapak-bapak yang lewat.

Gavin hanya menoleh datar. "Saya sedang melakukan optimalisasi anggaran rumah tangga, Pak. Silahkan lanjut. Anda menghalangi pencahayaan saya untuk membaca label komposisi."

Ditengah aksi audit sabun itu, seorang pria dengan kaos oblong kusam dan celana pendek datang mendekat ke arah kulkas minuman di dekat rak sabun itu. Itu adalah Rian. Dia cuma mau beli air mineral botolan karena galon di kosannya habis.

Rian awalnya nggak ngeh, tapi dia mendengar suara yang sangat familiar.

"Runa, tolong ambil timbangan digital di tas saya. Saya curiga berat bersih botol ini tidak sesuai dengan yang tertera di label." Pinta Gavin

"Gavin, jangan aneh-aneh ah. Malu dilihat orang," kata Runa berbisik

Rian menoleh. Matanya hampir copot. Dia melihat Aruna, mantan pacarnya yang dulu bisa dia atur-atur. Sekarang berdiri di samping cowo necis yang gantengnya nggak masuk akal, tapi lagi sibuk ngitung harga sabun pakai kalkulator.

"Itu Aruna? Kok... kok dia makin cakep? Jadi ini suaminya? Kok gayanya kayak mau beli saham minimarket padahal cuma mau beli sabun?" kata Rian dalam hati.

Rian merasa minder seketika. Dia melihat keranjang belanja Aruna penuh dengan barang-barang bermerk dan berkualitas, sementara dia cuma pegang satu botol air mineral yang paling murah. Dia berniat lewat begitu saja tanpa menyapa, tapi malah kesenggol keranjang Gavin.

"Maaf, saudara. Anda baru saja mengganggu fokus perhitungan saya. Secara hukum gerak, benturan Anda menyebabkan deviasi pada angka di layar ponsel saya."

Rian cuma melongo, nggak paham omongan Gavin. "Eh... iya, maaf Mas."

Rian melirik Aruna. Aruna kaget melihat Rian, tapi dia cuma tersenyum tipis dan sopan, lalu kembali fokus ke Gavin. Tidak ada raut kangen, tidak ada raut benci. Aruna benar-benar sudah move on ke level yang jauh lebih tinggi.

"Eh... tadi itu kayak kenal? tapi lupa... siapa ya?" tanya Gavin ketika Rian sudah pergi dari situ. "Kamu kenal, Runa?"

"Nggak penting itu. Fokus sama belanjanya aja," kata Aruna mengalihkan pembicaraan.

Gavin mengangguk, kemudian melanjutkan belanjanya.

Setelah urusan sabun selesai, mereka pindah le rak bumbu dapur.

"Mas, jangan lupa terasi pesanan Bu Tejo. Radi syaratnya bungkus merah yang baunya menyengat" kata Aruna mengingatkan Gavin.

Gavin mengambil satu bungkus terasi, lalu mendekatkannya ke hidungnya. Dia mengendus dengan sangat serius, seolah-olah sedang mencium aroma parfum mahal.

"Hmm... tingkat amonianya cukup tinggi. Ini memenuhi parameter menyengat dari Bu Tejo. Runa, tolong ambil plastik klip tiga lapis. Saya tidak ingin partikel bau terasi ini melakukan penetrasi ke dalam serat jok mobil kita." kata Gavin.

Rian yang masih ada di lorong sebelah makin geleng-geleng kepala. "Aruna dapet orang kaya, tapi kok dapet yang gila aturan gini sih?" gumamnya sambil buru-buru ke kasir karena merasa makin panas hati.

Selesai belanja, Gavin membawa semua barang ke kasir dengan urutan: barang berat di bawah, barang ringan di atas. Di kasir dia memantau monitor harga dengan mata elang, memastikan tidak ada perbedaan satu perak pun antara harga rak dan harga sistem.

Begitu mobil hitam mewahnya Gavin memasuki gerbang kompleks, Bu Tejo sudah berdiri di depan rumahnya dengan tangan di pinggang siap menagih "Harta karun" kulinernya. Gavin turun dari mobil dengan sebuah map plastik bening di tangan kiri dan bungkusan terasi yang dibungkus tiga lapis plastik di tangan kanan.

Ini pesanan Anda, Bu Tejo," ujar Gavin formal. Ia menyerahkan sebuah amplop kecil yang di dalamnya terdapat nota belanja yang sudah di staples sangat rapi pada selembar kertas HVS. "Santan instan tiga unit, harga per unit RP. 3500, total Rp.10.500. Terasi udang kemasan merah, harga Rp. 2.500. Total pengeluaran Anda adalah Rp. 13.000. Saya lampirkan juga struk aslinya untuk validasi."

Bu Tejo melongo melihat nota yang lebih rapi dari laporan keuangan RT itu. "Ya ampun, Mas Gavin, beli terasi aja pakai laporan pertanggung jawaban segala! Ini lho uangnya, kembaliannya buat beli permen aja."

"Maaf Bu, dalam prinsip audit kami, saldo harus nol. Ini kembalian Anda Rp. 2000, pas," jawab Gavin kaku. Aruna yang sedang menurunkan belanjaan hanya bisa cekikikan dari balik bagasi mobil.

Setelah urusan Bu Tejo selesai, mereka masuk ke dalam rumah. Saat sedang menyusun belanjaan di rak yang sudah diberi label, langkah Gavin tiba-tiba terhenti. Matanya membelalak, wajahnya menunjukkan ekspansi kepanikan yang luar biasa.

"Runa, Saya lupa satu variabel krusial!" seru Gavin sambil menepuk dahinya.

Aruna kaget, "Kenapa lagi, Mas? Ada sabun yang ketinggalan? Atau terasinya kurang bau?"

Gavin langsung berjalan ke arah gudang kecil di bawah tangga. Aruna yang sedang merapikan belanjaan di dapur pun merasa heran.

"Mas, lagi nyari apaan sih?" tanya Aruna.

Tak lama kemudian Gavin keluar sambil menggendong kardus besar denga label "DOKUMEN KLASIFIKASI TINGGI". Ia membawanya ke ruang tengah dengan sangat hati-hati, seolah isinya adalah kristal yang mudah pecah.

Begitu kardus dibuka, mata Aruna langsung copot. Isinya bukan dokumen, melainkan belasan boneka kucing imut yang memakai baju balerina, lengkap dengan tutu berwarna warni dan sepatu pointes kecil di kaki kucing tersebut.

"Ya ampun, Mas. Ternyata kamu sembunyiin toh boneka kucingnya. Pantesan aku cari-cari kok nggak ada lagi di raknya. Aku pikir udah kamu buang." kata Aruna.

"Nggak mungkin saya buang, Runa. Ini saya amankan waktu pernikahan kita. Kalau tidak pasti sudah dihancurkan oleh ponakan-ponakan kamu itu." kata Gavin.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!