Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.
Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.
Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**
Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.
Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 – Cemburu Tara
Tara tidak pernah menyukai perasaan kehilangan kendali.
Sejak kecil, hidupnya tersusun rapi. Apa yang ia inginkan biasanya akan ia dapatkan. Perhatian keluarga, prestasi di sekolah, pujian dari guru, bahkan posisi tidak tertulis sebagai pusat lingkaran pertemanan. Semua itu terasa alami, seolah memang sudah menjadi haknya.
Itulah mengapa, melihat Kia dan Daffa berdiri berdampingan di koridor sekolah keesokan paginya membuat sesuatu di dalam dada Tara bergetak tidak nyaman.
Mereka tidak berpegangan tangan. Tidak tertawa berlebihan. Bahkan jarak di antara mereka masih terjaga. Tapi ada sesuatu yang lebih mengganggu daripada kemesraan terang-terangan.
Kenyamanan.
Daffa mencondongkan tubuh sedikit agar bisa mendengar ucapan Kia di tengah riuh siswa. Kia berbicara tanpa defensif, tanpa nada dingin yang biasa ia gunakan pada orang lain. Sesekali ia mengangguk, sesekali menatap Daffa dengan ekspresi netral yang anehnya terasa hangat.
Tara berhenti melangkah.
“Kenapa lo bengong?” tanya Rina, sahabatnya.
Tara tersadar. “Nggak.”
“Lo lihat Kia lagi?” Rina mengikuti arah pandangnya. “Sama anak baru itu, ya?”
Tara mengalihkan pandangan cepat. “Biasa aja.”
Tapi jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya.
Di kelas, konsentrasi Tara berantakan.
Penjelasan guru hanya lewat seperti suara latar. Setiap kali Daffa mengangkat tangan atau Kia berbicara, pikirannya terpecah. Ia mulai menghitung hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah ia pedulikan.
Sejak kapan Kia duduk lebih tegak saat Daffa menoleh ke belakang?
Sejak kapan senyum tipis itu muncul tanpa paksaan?
Dan sejak kapan keberadaan Kia terasa… mencuri sorotan?
“Tar.”
Suara itu membuatnya tersentak.
“Iya, Pak,” jawab Tara terlalu cepat.
Guru mengernyit. “Saya belum tanya apa-apa.”
Beberapa siswa menahan tawa.
Wajah Tara memanas.
Dari sudut matanya, ia melihat Kia menunduk, pura-pura fokus pada buku. Tapi Tara tahu, Kia menyadari semuanya.
Dan itu membuatnya semakin kesal.
Jam istirahat berubah jadi neraka kecil.
Di kantin, Daffa duduk di meja yang sama dengan Kia. Bukan bersebelahan, tapi berhadapan. Mereka berbagi satu buku catatan, kepala mereka sedikit condong ke tengah.
“Apaan sih yang dibahas?” gumam Tara, menusuk nasi gorengnya tanpa selera.
“Katanya tugas kelompok,” jawab Rina santai. “Kenapa?”
“Kelompok? Dari kapan mereka sekelompok?”
“Ya sejak guru sosiologi ngacak kelompok minggu lalu.”
Tara terdiam.
Ia lupa. Atau mungkin… ia tidak mau ingat.
Pandangan matanya kembali ke arah Kia. Ada perasaan asing yang muncul. Bukan benci sepenuhnya. Bukan juga marah yang jelas arahnya.
Lebih seperti takut kehilangan tempat.
Tempat yang selama ini ia anggap aman.
Sementara itu, Kia sebenarnya merasa tidak nyaman.
Bukan karena Daffa.
Justru karena tatapan Tara.
Ia bisa merasakannya. Seperti bayangan yang terus mengikuti ke mana pun ia pergi. Ada tekanan halus yang tidak diucapkan, tapi terasa jelas.
“Kamu kenapa?” tanya Daffa saat Kia tiba-tiba terdiam.
“Nggak apa-apa,” jawab Kia refleks.
“Bohong,” kata Daffa ringan. “Tapi gue nggak maksa.”
Kia tersenyum kecil. “Makasih.”
Itu kata sederhana. Tapi terasa berarti.
Mereka kembali ke buku. Namun Kia tahu, ketenangan ini tidak akan bertahan lama.
Dan benar saja.
Saat bel berbunyi, Tara berdiri tepat di depan meja mereka.
“Daffa,” katanya.
Daffa mendongak. “Iya?”
“Kamu anak baru, kan?” Nada Tara ramah. Terlalu ramah.
“Iya.”
“Kalau belum punya banyak teman, kamu bisa gabung sama kami,” lanjut Tara. “Lingkaran kami.”
Kia menutup bukunya pelan.
Ia tahu ini bukan ajakan biasa.
Daffa melirik Kia sekilas, lalu kembali ke Tara. “Makasih. Tapi gue udah cukup.”
Senyum Tara mengeras sedikit. “Cukup?”
“Iya. Gue nyaman.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi Tara mendengarnya sebagai penolakan.
Dan penolakan itu… menyakitkan.
Rumor mulai berubah arah.
Jika sebelumnya hanya bisik-bisik soal kedekatan Kia dan Daffa, kini narasinya bergeser.
“Kata gue sih Tara nggak suka,”
“Ya jelas lah, posisi dia keambil,”
“Kia makin berani sekarang,”
“Atau jangan-jangan Daffa cuma mainin?”
Kia mendengar sebagian. Mengabaikan sebagian. Tapi ada satu hal yang tidak bisa ia abaikan: sikap Tara yang berubah.
Tara jadi lebih dingin. Lebih tajam. Komentarnya tidak lagi frontal, tapi menusuk.
“Beberapa orang memang suka cari perhatian dengan cara murahan,” ucap Tara suatu kali di kelas, tanpa menyebut nama.
Beberapa pasang mata langsung mengarah ke Kia.
Kia tidak bereaksi. Tapi tangannya mengepal di bawah meja.
Sore itu, hujan turun deras.
Sebagian siswa berteduh di teras sekolah. Kia berdiri sendiri, menunggu hujan reda. Ia tidak membawa payung.
“Kamu mau bareng?” suara Daffa terdengar dari samping.
Ia memegang payung hitam.
“Ke mana?” tanya Kia.
“Gerbang. Atau halte.”
Kia ragu sejenak. Lalu mengangguk. “Oke.”
Mereka berjalan berdampingan. Payung itu cukup besar untuk berdua, tapi jarak mereka masih terjaga.
Dari lantai dua gedung sekolah, Tara melihat pemandangan itu.
Kia dan Daffa di bawah satu payung.
Sesuatu di dalam dadanya runtuh pelan.
Ia tidak berteriak. Tidak menangis. Tidak marah terang-terangan.
Tapi sejak saat itu, satu keputusan mulai terbentuk.
Jika Kia tidak bisa dijauhkan dari Daffa…
maka Kia harus dibuat goyah.
Keesokan harinya, konflik kecil berubah jadi sesuatu yang lebih besar.
Di kelas olahraga, Kia sengaja didorong saat pemanasan. Tidak keras, tapi cukup membuatnya kehilangan keseimbangan.
“Eh, maaf,” kata salah satu siswi, berpura-pura polos.
Kia bangkit tanpa berkata apa-apa.
Tara melihat semuanya.
Ia tidak menyuruh. Tapi ia juga tidak menghentikan.
Dan itu sudah cukup.
Daffa mulai menyadari perubahan itu.
“Kamu sering diincer,” katanya suatu hari saat mereka duduk di bangku taman sekolah.
“Biasa,” jawab Kia. “Aku udah kebal.”
“Ini beda,” ujar Daffa pelan. “Ini terarah.”
Kia menatapnya. “Lo mau gue ngapain?”
“Jujur aja.”
Tentang apa?
Tentang Tara?
Tentang masa lalu?
Tentang perasaan yang bahkan belum diberi nama?
Kia menghela napas. “Nanti.”
Daffa tidak memaksa. Tapi ia tahu, badai itu nyata.
Di rumah, Tara menatap bayangannya di cermin.
Ia terlihat sempurna. Seragam rapi. Rambut tertata. Wajah tanpa cela.
Tapi di balik itu, ada kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Kenapa aku harus kalah sama dia?” bisiknya.
Ia menggenggam sisi wastafel.
Untuk pertama kalinya, Tara merasa takut.
Takut bukan karena kehilangan Daffa—karena ia bahkan tidak yakin itu perasaan cinta.
Tapi karena Kia, yang selama ini ia anggap di bawahnya, mulai berdiri sejajar.
Dan itu sesuatu yang tidak siap ia terima.
Sementara di kamarnya, Kia duduk di tepi ranjang.
Ia menatap ponselnya. Ada pesan dari Daffa.
Kalau besok kamu capek, bilang. Gue temenin.
Kia tersenyum tipis.
Di luar sana, cemburu Tara mulai berubah jadi api kecil yang sulit dikendalikan.
Dan Kia, tanpa sadar, sudah berdiri tepat di jalur yang akan membawanya pada konflik yang jauh lebih dalam—
konflik yang bukan hanya tentang sekolah,
tapi tentang identitas, pengakuan, dan luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh.
...****************...
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
blm bisa komen bnyk..
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya