NovelToon NovelToon
TAHTA YANG DICURI

TAHTA YANG DICURI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.

Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.

Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Negosiasi di Atas Air

Gelombang laut utara Jakarta mulai meninggi, menghantam lambung Arunika Jaya dengan irama yang tidak beraturan. Di dalam ruang mesin yang kini terasa seperti bunker bawah tanah, cahaya biru dari layar ponsel satelit Baskara memantul di wajahnya yang keras. Reno sedang sibuk menyambungkan jalur komunikasi melalui enkripsi berlapis, sementara Alea berdiri di sudut, matanya terpaku pada layar monitor yang menunjukkan koordinat Brankas 00—titik pusat dari segala badai yang mereka hadapi.

"Sambungan terenkripsi siap, Bas," bisik Reno. Suaranya gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena kengerian dari apa yang akan mereka lakukan. "Ingat, Sandi punya teknologi pelacak lokasi. Aku hanya bisa menyamarkan titik kita selama tiga menit. Setelah itu, dia bisa mengunci posisi satelit ini."

Baskara mengangguk singkat. Ia menarik napas panjang, menekan tombol panggil, dan menempelkan perangkat itu ke telinganya.

Satu nada sambung. Dua. Pada nada ketiga, sebuah suara berat dan tenang menjawab di ujung sana.

"Aku sudah menunggu telepon ini, Baskara. Kau lebih lambat dari perkiraanku," ujar Sandi. Suaranya terdengar jernih, tanpa ada nada terkejut sedikit pun.

Baskara tidak membuang waktu dengan basa-basi. "Kau tahu posisi Sarah sekarang, Sandi. Dan kau tahu apa yang ada di dalam kunci perak yang kubawa. Jika aku menyerahkan dokumen ini ke otoritas internasional, kau bukan hanya kehilangan pekerjaan. Kau akan menjadi orang pertama yang diekstradisi karena keterlibatanmu dalam pembersihan saksi-saksi Proyek Erase."

Terdengar tawa kecil yang dingin dari seberang telepon. "Kau selalu pandai menggertak, anak muda. Tapi kau lupa satu hal. Aku adalah orang yang memegang kendali keamanan Mahardika. Tanpa aku, kau bahkan tidak akan bisa mendekati bibir pantai Jakarta tanpa diringkus tim elit kepolisian yang sudah disuap Sarah."

"Itulah sebabnya aku meneleponmu," balas Baskara, suaranya tetap datar namun penuh tekanan. "Sarah adalah kapal yang sedang tenggelam, Sandi. Dia akan mengorbankanmu sebagai pemberat agar dia bisa melompat ke sekoci terakhir. Tapi aku... aku menawarkanmu posisi sebagai Direktur Keamanan Utama di Mahardika Group yang baru, tanpa bayang-bayang kasus hukum. Aku punya bukti bahwa semua perintah eksekusi datang langsung dari akun pribadi Sarah, bukan darimu."

Keheningan sesaat terjadi. Hanya suara desis statis dari satelit yang mengisi ruang hampa di antara mereka. Baskara melirik jam tangannya. Sisa waktu mereka tinggal sembilan puluh detik.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Sandi akhirnya. Nada suaranya telah berubah—dari meremehkan menjadi penuh perhitungan.

"Akses ke Brankas 00. Malam ini," tuntut Baskara. "Aku tahu Sarah sedang menuju ke sana untuk memusnahkan dokumen asli. Aku butuh kau mematikan protokol Self-Destruct dan memberiku celah masuk selama lima belas menit."

"Brankas 00 adalah zona merah," Sandi mendesah pelan. "Jika aku mematikan protokol itu, Sarah akan langsung tahu ada pengkhianat di sistemnya. Dia tidak bodoh, Baskara."

"Maka buatlah seolah-olah terjadi kegagalan sistem akibat serangan siber," sahut Baskara. "Reno sudah menyiapkan virus trojan yang bisa kau suntikkan ke pusat data utama. Sarah akan sibuk mengurus server yang mati, dan kau punya alasan untuk berada di pusat kendali tanpa dicurigai."

"Berapa banyak bukti yang kau punya untuk menjamin keselamatanku?" tanya Sandi lagi.

"Cukup untuk membuatmu menjadi pahlawan yang mengungkap kebenaran, bukan kaki tangan kriminal. Keputusan ada di tanganmu, Sandi. Ikut tenggelam bersama ratu yang sudah gila, atau berdiri di samping raja yang baru."

Baskara mematikan sambungan tepat saat Reno memberi isyarat bahwa waktu mereka habis. Baskara menurunkan ponselnya, keringat dingin membasahi punggungnya. Ia menoleh ke arah Alea yang sejak tadi menahan napas.

"Dia setuju?" tanya Alea lirih.

"Dia tidak bilang ya, tapi dia juga tidak bilang tidak," jawab Baskara. "Bagi pria seperti Sandi, itu berarti dia sedang menghitung keuntungan. Dia akan bergerak jika dia melihat kita benar-benar punya kesempatan untuk menang."

Reno mulai mengemasi peralatan elektroniknya ke dalam tas kedap air. "Jadi, kita benar-benar akan turun ke laut sekarang? Dengan perahu cepat kecil itu? Di tengah badai yang mulai datang?"

"Tidak ada pilihan lain, Reno," ujar Baskara sambil mengenakan jaket taktisnya. "Sarah sudah bergerak menuju Brankas 00. Jika dia sampai di sana lebih dulu dan berhasil membakar dokumen fisiknya, semua yang kita lakukan di mikrofilm ini hanya akan menjadi omong kosong di depan hakim."

Mereka bertiga keluar dari ruang mesin menuju dek kapal. Angin laut yang liar langsung menerjang wajah mereka, membawa aroma garam yang tajam. Paman Reno, si pemilik kapal, sudah menyiapkan sebuah perahu karet bermesin ganda (RHIB) yang tersembunyi di balik tumpukan jaring nelayan di buritan kapal.

"Turunkan sekarang!" perintah Baskara.

Perahu itu perlahan diturunkan ke permukaan air yang bergejolak. Satu per satu mereka turun menggunakan tangga monyet. Alea sempat ragu sejenak saat melihat ombak gelap yang seolah siap menelannya, namun ia merasakan tangan Baskara yang kuat menangkap lengannya, membimbingnya turun.

Saat mereka sudah berada di dalam perahu karet, Reno segera menghidupkan mesin. Suara raungannya tertutup oleh deburan ombak dan mesin besar kapal kargo yang terus melaju menjauh. Sekarang, mereka benar-benar sendirian di tengah samudera, hanya dipandu oleh koordinat di layar GPS kecil yang berkedip-kedip.

"Berapa lama sampai kita mencapai lokasi?" tanya Alea, suaranya harus bersaing dengan deru angin.

"Empat puluh menit jika kita bisa mempertahankan kecepatan ini tanpa terbalik," teriak Reno dari posisi kemudi.

Baskara duduk di depan, matanya menatap tajam ke cakrawala yang gelap. Di kejauhan, ia mulai melihat kerlip lampu kecil yang tidak bergerak—sebuah anjungan tua yang tampak terbengkalai. Itulah Brankas 00. Tempat di mana identitas Alea dicuri, tempat di mana ibunya direncanakan untuk mati, dan tempat di mana Sarah Mahardika menyimpan semua dosa-dosanya.

"Baskara," panggil Alea. Ia bergeser mendekat agar bisa terdengar. "Jika Sandi berkhianat... jika dia sudah menunggu kita di sana bersama tim keamanannya... apa yang akan kita lakukan?"

Baskara menoleh pada Alea. Di bawah cahaya bulan yang tertutup awan, wajah Alea tampak begitu berani meski diliputi ketakutan. Baskara merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan kunci perak itu. Ia meletakkannya di telapak tangan Alea.

"Jika sesuatu terjadi padaku, kau harus masuk ke sana, Alea. Kau adalah 'Subjek 02'. Biometrikmu—sidik jari atau retinamu—mungkin adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dipalsukan oleh Sarah. Gunakan kunci ini untuk membuka brankas utama. Ambil dokumennya, dan lari."

"Aku tidak akan meninggalkanmu, Bas," protes Alea, matanya berkaca-kaca.

"Ini bukan tentang aku atau kau lagi, Alea," bisik Baskara, suaranya lembut namun tak terbantah. "Ini tentang memastikan bahwa kebenaran ini tidak ikut tenggelam ke dasar laut bersama kita."

Perahu karet itu melompat menembus ombak besar, semakin dekat dengan anjungan tua yang kini mulai terlihat bentuk aslinya—sebuah menara besi raksasa yang tampak seperti monster purba yang bangkit dari laut. Di puncak anjungan itu, sebuah helikopter tampak baru saja mendarat.

"Sarah sudah di sana," gumam Reno.

Baskara berdiri, memegang pinggiran perahu dengan erat. Senjata glock-nya sudah siap di tangan. "Matikan lampu perahu, Reno. Kita masuk lewat pilar penyangga bagian bawah. Kita akan mendaki melalui tangga darurat di bawah dek utama."

Fase persembunyian telah berakhir sepenuhnya. mereka tidak lagi memiliki jalan untuk kembali. Mereka sedang menuju jantung pertahanan musuh, di sebuah tempat terisolasi di mana hukum tidak berlaku, dan di mana hanya satu dari mereka yang akan keluar sebagai pemenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!