"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Pagi, 07.00 WIB.
Pagi ini kontrakan itu terasa lebih mencekam dari biasanya. Disa bangun lebih awal, mandi dengan tenang dan berdandan dengan sangat teliti. Ia sengaja memakai blazer yang paling formal dan tegas. Di dapur, ia hanya menyeduh kopi hitam tanpa gula. Pahit, sama seperti kenyataan yang ia telan selama tiga tahun.
Abdi keluar dari kamar dengan wajah yang sangat kusut. Semalaman ia tidak bisa tidur nyenyak di sofa yang keras dan sempit. Matanya merah, menatap Disa yang sedang memasukkan beberapa map ke dalam tas kerjanya.
"Dis... soal Ibu dan adik-adikku siang nanti... kamu beneran mau pulang?" tanya Abdi dengan suara serak. "Tolonglah, jangan bikin keributan mereka itu keluargaku."
Disa menoleh perlahan memasang anting di telinganya. "Aku nggak bikin keributan, Mas. Aku cuma mau menyambut tamu yang katanya mau memberi pelajaran padaku. Kamu tenang saja, kerjakan saja tugasmu di kantor. Jangan sampai fokusmu pecah, nanti malah bikin salah input data lagi seperti yang sering kamu lakukan di laporan pengadaan itu."
Kalimat terakhir Disa membuat Abdi tertegun. Ia merasa setiap ucapan istrinya kini mengandung ancaman tersembunyi. "Maksud kamu apa, Dis?"
"Nggak ada maksud apa-apa. Aku berangkat dulu," jawab Disa datar sambil melangkah keluar tanpa mencium tangan suaminya.
Kantor Firma Audit, 10.00 WIB.
Di kantor, Disa mencoba fokus. Rio sempat lewat di depan mejanya membawa beberapa berkas.
"Dis, kamu oke? Pucat banget, tapi auranya... beda," sapa Rio singkat.
"Aku oke kok Yo. Cuma butuh sedikit waktu nanti jam makan siang buat urusan rumah. Pak Heru sudah kasih izin," jawab Disa singkat. Ia tidak menceritakan detail masalahnya pada Rio. Baginya, ini adalah perang pribadinya yang harus ia menangkan dengan tangannya sendiri.
Tepat jam 11.30 WIB, Disa merapikan mejanya. Ia menarik napas panjang, meyakinkan hatinya bahwa apa yang ia lakukan adalah demi masa depan Fikri. Ia memesan taksi dan meluncur menuju rumah kontrakannya.
Kontrakan Asri, 12.15 WIB.
Saat taksi berhenti di depan rumah, Disa melihat pemandangan yang memuakkan. Motor Andi terparkir miring dan mobil putih Amel mobil yang dibeli dari "darah" asuransi anaknya terparkir pongah di sana.
Disa masuk tanpa suara. Di dalam, suara Bu Ratna sudah terdengar mendominasi.
"Pokoknya kamu harus tegas, Abdi! Disa itu sudah dicuci otaknya sama teman-temannya di kantor itu. Masa dia berani nitipin Fikri ke mertua tanpa tanya Ibu? Itu cucu Ibu!"
Disa mendorong pintu depan hingga terbuka lebar. Semua mata tertuju padanya. Bu Ratna duduk di kursi utama, Andi sedang asyik membuka-buka kulkas, dan Amel sibuk berswafoto di depan cermin ruang tamu. Abdi berdiri di sudut, tampak terjepit.
"Oh, datang juga si Nyonya Besar," sindir Bu Ratna dengan nada pedas.
Disa tidak menyapa. Ia berjalan menuju meja makan, meletakkan map cokelat yang ia bawa dan mengeluarkan satu paket makan siang mewah yang ia beli di jalan hanya untuk dirinya sendiri.
"Mbak Disa! Mbak nggak lihat ada Ibu? Bukannya salam malah sibuk sendiri!" bentak Andi sambil menutup pintu kulkas dengan keras.
Disa duduk dengan tenang, membuka kotak makanannya yang aromanya sangat menggoda paket Beef Teriyaki yang sangat wangi. "Andi, kulkas itu isinya barang-barang yang aku beli pakai uang gajiku. Jangan sembarang buka kalau kamu nggak ikut patungan bayar listrik."
"Kurang ajar kamu, Disa!" teriak Bu Ratna. "Abdi, lihat istrimu ini! Sudah nggak ada sopan santunnya!"
"Sopan santun itu mahal, Bu. Sama mahalnya dengan kejujuran yang nggak pernah ada di keluarga ini," Disa mengambil satu suapan daging dengan tenang, lalu menatap mereka satu per satu. "Mari kita bicara soal angka. Mas Abdi, kamu mau aku yang jelaskan atau kamu sendiri?"
Abdi hanya menunduk, tangannya gemetar.
"Oke, biar aku yang jelaskan," Disa membuka map itu dan melemparkan tumpukan kertas ke tengah meja. "Ini adalah mutasi rekening QQ Mas Abdi dan Mama Ratna. Selama tiga tahun, total ada 540 juta yang mengalir ke sana. Itu uang yang harusnya bisa buat kita punya rumah sendiri, bukan cuma ngontrak di sini sambil makan nasi basi."
Andi dan Amel terbelalak melihat nominal yang tertera. Selama ini mereka hanya tahu Abdi "ada uang", tapi tidak tahu sebanyak itu.
"Lalu ini," Disa menunjukkan lembaran lain. "Uang asuransi Fikri 30 juta yang cair ke rekening Amel. Kamu pakai buat DP mobil itu kan, Mel? Mobil yang sekarang parkir di depan itu?"
Amel pucat pasi. "Itu... itu kan Mas Abdi yang kasih..."
"PENCURI!" Disa menggebrak meja dengan sangat keras hingga botol air di sana terguling. "Kalian semua kenyang di atas perutku yang sering keroncongan! Kalian pamer kemewahan di saat aku harus mengirit dan hanya bisa makan beras raskin! Kalian tahu nggak gara-gara kalian aku sering nggak makan supaya Fikri bisa makan telur satu butir sehari?!"
"Disa, jaga bicaramu!" Mama Ratna berdiri dengan wajah merah padam.
"Mama yang jaga bicara!" balas Disa lebih kencang. "Mulai hari ini, nggak akan ada satu rupiah pun dari gaji Mas Abdi yang masuk ke rekening Ibu tanpa seizinku. Perhiasan emas yang Ibu beli bulan ini? Jual. Kembalikan uangnya untuk tabungan Fikri. Mobil Amel? Jual dan balikin uang asuransi anakku."
"Nggak sudi!" teriak Bu Ratna.
Disa tersenyum sinis. "Ibu nggak sudi? Baiklah. Di dalam map itu juga ada bukti penggelapan dana kantor yang dilakukan Mas Abdi demi memenuhi permintaan Mama yang nggak ada habisnya. Sekali aku kirim bukti ini ke bosnya Mas Abdi... dia bukan cuma dipecat, tapi bisa dipenjara."
Seketika, rumah itu menjadi sunyi senyap. Abdi jatuh terduduk di lantai dengan wajah pucat seperti mayat. Ia tahu Disa sanggup melakukannya.
"Mulai hari ini, aku yang pegang semua kendali keuangan. Mas Abdi cuma akan aku kasih uang bensin dan untuk kalian," Disa menunjuk Andi dan Amel. "Pergi dari rumahku sekarang. Jangan pernah datang lagi kalau cuma mau minta uang. Karena di rumah ini, nggak ada lagi jatah buat parasit."
Bu Ratna menangis histeris, menyalahkan Abdi yang tidak bisa mendidik istrinya. Andi dan Amel kabur ketakutan mendengar ancaman penjara. Setelah mereka pergi, Disa menutup pintu dan menguncinya.
Ia menatap Abdi yang masih lemas di lantai. "Mas, jangan menangis simpan air matamu buat besok, karena hidupmu setelah ini akan jauh lebih sulit daripada hidupku tiga tahun lalu."