Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Pagi itu, sinar matahari terasa lebih hangat dari biasanya. Arga sudah berdiri bersandar di pintu mobilnya tepat pukul tujuh pagi. Pria itu tampak sangat berbeda; tidak ada lagi wajah kaku atau tatapan tajam yang mengintimidasi. Ia hanya mengenakan kemeja biru langit dengan lengan yang digulung hingga siku, memberikan kesan santai namun tetap berkelas.
Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka. Ayu muncul dengan setelan pakaian kerjanya yang simpel,celana katun gelap dan kemeja putih yang sedikit kebesaran. Meski matanya masih sedikit sembab karena tangis semalam, ia memoles wajahnya dengan riasan tipis yang membuatnya tampak segar.
Arga terpaku sejenak. Ia tidak bisa menahan senyumnya saat melihat gadis itu melangkah ragu ke arahnya.
"Tepat waktu, seperti biasanya," ucap Arga sambil membukakan pintu mobil untuk Ayu.
"Bapak juga... niat banget jemputnya. Padahal kantor kan baru buka jam sembilan," sahut Ayu, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Sebelum Ayu masuk ke dalam mobil, Arga menahan pintu itu dengan tangannya. Ia menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan Ayu hingga jarak mereka kembali menipis. Aroma parfum maskulin Arga bercampur dengan udara pagi yang segar, membuat jantung Ayu mulai berulah lagi.
"Ada yang tertinggal," bisik Arga.
"Apa? Dompet? Kamera?" Ayu meraba-raba tasnya dengan panik.
Tanpa jawaban, Arga mendaratkan satu kecupan singkat dan lembut di dahi Ayu. "Ucapan selamat pagi. Sekarang sudah lengkap."
Wajah Ayu langsung memanas. Ia buru-buru masuk ke kursi penumpang, menutupi wajahnya dengan tas kamera. "Bapak benar-benar ya... sejak kapan jadi sepintar ini merayu orang?"
Arga tertawa lepas,suara tawa yang terdengar begitu merdu di telinga Ayu. Ia menutup pintu mobil dan segera duduk di kursi kemudi. Sebelum menjalankan mesin, ia meraih tangan Ayu dan menggenggamnya erat di atas persneling.
"Aku hanya melakukan apa yang hatiku katakan, Ayu. Sepertinya manekin ini sudah benar-benar menemukan baterai barunya," gurau Arga, merujuk pada ejekan Ayu tempo hari.
Di sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa begitu manis. Tidak ada lagi keheningan yang menyesakkan. Arga memutar musik dengan tempo ceria, sesekali ia ikut bersenandung kecil,sesuatu yang mustahil dilakukan Arga versi sebulan yang lalu.
"Nanti siang, aku ingin mengajakmu keluar Tidak ada urusan kantor, hanya kita berdua," ujar Arga tanpa melepaskan genggaman tangannya.
Ayu mengangguk, mencoba menikmati setiap detik kebahagiaan ini. Namun, di balik senyumnya, ucapan Ardan semalam masih terngiang-ngiang. Ia menatap profil samping wajah Arga yang tampak sangat bahagia pagi itu, dan sebuah ketakutan besar kembali merayapi hatinya.
Andai waktu bisa berhenti di sini saja, sebelum kebenaran itu menghancurkan senyummu, Pak... batin Ayu pedih.
Siang menuju sore,udara terasa lebih sejuk saat mobil Arga membelah jalanan menanjak menuju daerah perbukitan yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Arga sengaja mengambil jalan pintas agar kejutan ini tetap terjaga.
Begitu pintu mobil terbuka, aroma tanah dan kesegaran pohon pinus langsung menyerbu indra penciuman.
Ayu spontan menutup mulutnya dengan mata membulat sempurna. Di depan matanya, terhampar hutan pinus yang hijau menjulang, berselimut kabut tipis yang merayap di sela-sela batang pohon. Mereka kini berada di sebuah area private camping di ketinggian, dengan pemandangan lembah yang menakjubkan di bawah sana.
Lebih mengejutkan lagi, sebuah tenda estetik berwarna krem sudah berdiri kokoh di atas dek kayu, lengkap dengan kursi lipat dan meja kecil yang tertata rapi. Sepertinya Arga sudah menyuruh orang ke sini lebih dulu untuk menyiapkannya, atau mungkin ia melakukannya sendiri dengan sangat cekatan.
"Wah... ini luar biasa! Pak, ini serius?" teriak Ayu kegirangan. Ia berlari kecil menuju tepi pembatas, merentangkan tangannya lebar-lebar seolah ingin memeluk seluruh hutan itu.
Arga berjalan perlahan, lalu berdiri tepat di samping Ayu. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, membiarkan angin gunung mengacak-acak rambutnya yang biasanya rapi.
"Bagaimana? Kau senang?" tanya Arga pelan, matanya tidak menatap hutan, melainkan menatap binar bahagia di wajah Ayu.
Ayu mengangguk mantap, senyumnya merekah lebar. "Sangat senang! Bagaimana Bapak bisa tahu saya suka tempat seperti ini? Saya pikir Bapak tidak tahu tempat seperti ini?"
Arga tertawa kecil, suara tawanya menyatu dengan gemerisik daun pinus. "Kadang, manekin juga butuh udara segar agar kabel-kabel di dalamnya tidak korsleting, Yu."
Ia kemudian mengajak Ayu duduk di kursi lipat yang menghadap langsung ke arah tebing. Arga mulai menyalakan kompor portabel untuk menyeduh kopi, sebuah pemandangan yang sangat kontras dengan sosok CEO dingin yang dikenal orang-orang.
"Aku ingin kita punya waktu berdua. Hanya aku dan kamu di sini," ucap Arga sambil menyerahkan secangkir cokelat panas pada Ayu.
Ayu menerima cangkir itu, merasakan kehangatannya merambat ke jemarinya.Mereka pun berbincang hangat tanpa ada gangguan apapun.
Malam menjelang,menyisakan suara kayu bakar yang berderak pelan di tengah kesunyian hutan pinus. Arga meletakkan gitarnya, lalu perlahan memiringkan wajahnya. Matanya mengunci tatapan Ayu dengan kedalaman yang tak bisa dijelaskan, sebelum akhirnya ia menunduk dan mencium bibir Ayu,bibir yang tanpa ia sadari telah menjadi candu sejak pertama kali mereka bersentuhan.
Ayu terkesiap, namun kehangatan yang menjalar di sekujur tubuhnya membuat pertahanannya runtuh. Ia menyambut ciuman itu dengan perasaan yang meluap.
"Ayu..." bisik Arga di sela ciuman mereka, suaranya terdengar serak dan penuh damba. "Aku tidak tahu bagaimana caramu melakukannya, tapi kamu benar-benar membuatku gila."
Ayu menarik napas pendek, matanya sayu menatap Arga. "Pak... apa Bapak yakin? Maksudku, dengan semua ini?"
Arga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menyatukan kening mereka, membiarkan napas mereka saling beradu. "Jangan panggil aku 'Pak' saat kita hanya berdua seperti ini. Panggil namaku, Ayu. Katakan kalau kau juga menginginkanku."
"Arga..." desah Ayu lirih, nama itu terasa begitu manis sekaligus berat di lidahnya.
Tanpa sedikit pun melepas tatapan yang kian menuntut itu, Arga dengan cekatan mengangkat tubuh mungil Ayu ke dalam gendongannya. Langkahnya mantap menuju tenda estetik yang letaknya hanya beberapa meter dari sana. Ayu melingkarkan tangannya di leher Arga, menyembunyikan wajahnya yang panas di ceruk leher pria itu.
Begitu sampai di dalam tenda, Arga membaringkan Ayu dengan sangat hati-hati di atas alas yang empuk. Cahaya lampu gantung yang kuning temaram menyinari wajah Ayu, membuatnya tampak begitu cantik di mata Arga.
"Kau sangat indah, Ayu. Terlalu indah sampai aku takut ini hanya mimpi," bisik Arga sambil merayap naik di atas tubuh Ayu, mengunci pergerakan gadis itu dengan kedua lengannya.
Ayu menyentuh rahang tegas Arga dengan jemarinya yang gemetar. "Kalau ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku sekarang."
Arga tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan gairah sekaligus kasih sayang. Ia kembali mencium bibir Ayu, kali ini dengan intensitas yang lebih dalam, lebih menuntut, dan lebih berani. Tangan Arga mulai bekerja, menelusuri setiap lekuk tubuh Ayu dengan sentuhan yang membakar kulit.
"Aku menginginkanmu, seluruhnya," bisik Arga tepat di telinga Ayu, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
Ayu hanya bisa mengangguk pasrah, membiarkan gairah mengambil alih akal sehatnya.Kemudian ia menarik tengkuk Arga menyatukan bibir mereka kembali sambil memejamkan mata.Tanpa sadar air matanya jatuh.
"Arga maaf,aku bersalah..."
Bersambung....
Sengaja aku post malam-malam biar bacanya malam 🤣🤣🤣🤣.Penasaran gak sama kisah lanjutnya?tungguin ya
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???
smpe punya anak LG
....ank Arga ..
jd penasaran Thor...
entah apa yg jadi rahasia Ayu, sampai Ayu mengaku salah
up LG Thor 😍
mg org yg td manggil Arga g d apa apain SM org misterius it