Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.
Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.
Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.
Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.
"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."
Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 29 - OLAHRAGA GABUNGAN 3
Bel makan siang berbunyi.
Dalam beberapa detik saja, lorong sekolah yang tadi sunyi langsung penuh. Pintu kelas terbuka, siswa keluar berbondong-bondong. Ada yang menuju kantin, ada yang ke halaman, ada juga yang langsung membuka bekal di kelas.
Di kelas XI-A, suasana masih dipengaruhi pertandingan pagi tadi.
Tim voli putri yang menang membuat kelas jadi lebih ramai dari biasanya.
Beberapa siswa masih membahas rally yang seru di set ketiga. Ada yang memuji penyelamatan Via yang tadi sempat membuat penonton kaget. Ada juga yang mengulang cerita tentang poin terakhir yang memastikan kemenangan XI-A.
Tapi tidak semua percakapan terdengar semangat.
Di barisan tengah kelas, ada beberapa suara yang lebih pelan.
Nada mereka tidak seceria yang lain.
Karena mereka adalah tim sepak bola XI-A yang tadi kalah adu penalti.
Ara duduk di bangkunya.
Bekalnya sudah terbuka di atas meja, tapi belum ia makan.
Pikirannya masih setengah berada di lapangan tadi pagi.
Dan setengah lagi… masih teringat kalimat Via.
Atau justru tidak menyebalkan sama sekali dan itu yang jadi masalah.
Via duduk di sebelahnya.
Ia makan seperti biasa— tenang, tidak terburu-buru, tapi juga tidak santai berlebihan.
Via tidak mengatakan apa-apa lagi tentang kalimatnya tadi di lorong.
Mereka makan dalam diam.
Diam yang terasa berbeda dari biasanya.
Ara akhirnya mengambil sendok.
Satu suapan.
Lalu dua.
Baru saja ia akan mengambil suapan ketiga ketika terdengar langkah dari pintu kelas.
Langkah yang tidak asing.
Tidak terburu-buru. Tidak ragu. Tapi juga tidak meminta perhatian.
Gill.
Ia berdiri di ambang pintu kelas XI-A dengan tas di punggung.
Ekspresinya sudah kembali ke ekspresi datarnya yang biasa.
Seolah dua jam lalu ia tidak baru saja memenangkan pertandingan lewat adu penalti.
Beberapa siswa langsung menoleh.
Beberapa percakapan berhenti.
Gill melangkah masuk.
Dan sebelum ia sempat berjalan jauh—
tiga orang berdiri dari barisan tengah.
Rafi.
Dimas.
Dan Hendra.
Tiga pemain sepak bola XI-A yang tadi kalah dari tim Gill.
Gill berhenti.
Menatap mereka bertiga tanpa terlihat terganggu sedikit pun.
Rafi melangkah maju setengah langkah.
"Gill."
"Hm," jawab Gill singkat.
"Kamu tadi di lapangan."
"Iya."
"Kamu menepis tendangan Rafi," kata Dimas.
Nadanya campuran antara tidak percaya dan kagum.
"Iya."
Hendra menyilangkan tangan.
"Kamu itu sebenarnya kiper, ya."
Gill mengangkat bahu sedikit.
"Sudah lama tidak main."
"Sudah lama?" kata Rafi.
"Kamu baru main lagi hari ini, tapi bisa menahan penalti seperti itu."
Gill berpikir sebentar.
"Dulu sering latihan sendiri."
"Latihan sendiri," ulang Rafi.
Ia tampak tidak yakin apakah informasi itu membuat situasi terasa lebih baik atau lebih buruk.
"Iya," kata Gill.
Ketiganya saling menatap sebentar.
Lalu Dimas melirik ke arah meja Ara.
Ia kembali menatap Gill.
"Dan kamu juga punya pacar secantik Ara."
Hendra langsung mengangguk.
"Ya. Itu juga tidak adil."
Rafi menghela napas panjang.
"Sangat tidak adil."
Gill menatap mereka.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu tanpa berkata apa-apa, ia berjalan melewati mereka.
Tidak agresif.
Tapi jelas.
Ia hanya perlu lewat.
Dan entah kenapa, mereka langsung memberi jalan.
Ara yang melihat semua itu dari mejanya tidak bisa menahan senyum kecil.
Situasi itu terasa lucu.
Bukan karena tiga orang itu bodoh.
Justru karena reaksi mereka sangat manusiawi.
Campuran iri, kesal, dan kagum pada orang yang sama.
Via di sebelah Ara masih makan dengan tenang.
Seolah semua ini bukan hal besar.
Gill terus berjalan melewati barisan meja.
Ara tanpa sadar menegakkan duduknya sedikit.
Ia sudah cukup sering melihat pola ini.
Biasanya Gill akan berhenti di mejanya.
Mengatakan sesuatu singkat.
Atau menaruh kotak susu seperti yang sering ia lakukan di pagi hari.
Gill berjalan semakin dekat.
Ara menunggu.
Gill berhenti.
Tapi—
bukan di depannya.
Ia berhenti di depan Via.
"Via."
Via mengangkat kepala dari bekalnya.
Menatap Gill.
Gill langsung berkata,
"Makan siang."
Via diam.
"Ada tempat bagus di lantai tiga," lanjut Gill. "Kamu mau?"
Seluruh kelas XI-A mendadak sunyi.
Percakapan berhenti.
Beberapa siswa bahkan masih memegang sendok di udara.
Via menatap Gill selama dua detik.
Lalu ia menutup kotak bekalnya.
Berdiri.
"Oke."
Gill mengangguk.
Ia langsung berbalik menuju pintu.
Via mengambil tasnya.
Sebelum pergi, ia sempat melirik Ara.
Ekspresinya sulit dibaca.
Lalu ia mengikuti Gill keluar kelas.
Pintu tertutup di belakang mereka.
Dan kelas XI-A tetap diam beberapa detik.
Seolah semua orang sedang mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
Ara masih duduk di bangkunya.
Bekalnya terbuka di meja.
Sendok masih di tangannya.
Posisinya belum berubah sejak Gill tadi berdiri di depan mereka.
Tapi sesuatu terasa berbeda.
Di kursi sebelahnya, tempat Via duduk tadi, sekarang kosong.
Di luar kelas, Gill dan Via mungkin sudah berjalan menuju lantai tiga.
Ke tempat yang Ara bahkan tidak tahu ada.
Ara menatap bekalnya.
Ia meletakkan sendok.
Mengambilnya lagi.
Lalu meletakkannya kembali.
Dari barisan tengah, suara Rafi terdengar.
"Cowok itu ngajak Via."
Dimas menjawab,
"Bukan Ara."
"Iya."
"Itu aneh."
"Sangat aneh."
Ara tidak menoleh.
Ia hanya menatap ke depan.
Ke ruang kosong di depannya.
Ada sesuatu yang muncul di dadanya.
Perasaan kecil.
Sangat jujur.
Dan sangat tidak nyaman.
Kecewa.
Bukan kecewa besar.
Bukan kecewa yang membuat orang ingin marah atau menangis.
Hanya kecewa kecil.
Justru karena kecil, rasanya lebih sulit diabaikan.
Ara akhirnya mengambil sendok lagi.
Ia makan satu suapan.
Rasanya sama seperti biasanya.
Tapi siang ini tetap terasa berbeda.