Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:
**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**
Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.
Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.
Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: KABAR BURUK
Tiga minggu berlalu sejak debut gemilang Ha-neul di Arena Naga Emas.
Namanya kini dikenal di seluruh Kota Selatan. "Hantu Pedang Kayu" — julukan itu melekat padanya setelah kemenangan cepat atas Gong Nam-su. Para penjudi memasang taruhan tinggi setiap kali ia bertarung. Para petarung lain mulai menghindarinya atau justru menantangnya untuk naik nama.
Ha-neul sendiri sudah bertarung tiga kali lagi dalam tiga minggu itu. Semua kemenangan, semua dengan gaya yang sama: bertahan, mengamati, lalu melumpuhkan dalam hitungan detik. Ia belum pernah membunuh, tapi lawan-lawannya selalu terbaring lumpuh sementara, titik-titik vital mereka terkena tusukan presisi.
Manajer Park sangat senang. Jin Dae-hyun semakin ramah. Dan uang terus mengalir.
Tapi ketenangan itu tidak akan bertahan selamanya.
---
Pagi itu, Ha-neul sedang duduk di atap losmen, berlatih pernapasan. Matahari baru saja terbit, menyinari kota dengan cahaya keemasan. Ia menikmati momen tenang ini sebelum memulai hari.
Soo-ah sudah pergi ke toko herbal sejak subuh. Nyonya Song sekarang mempercayakannya untuk meracik ramuan sederhana, dan Soo-ah sangat menikmati pekerjaannya.
Ha-neul tersenyum memikirkan adiknya. Hidup mereka mulai membaik. Mungkin dalam setahun mereka bisa menyewa rumah kecil, bukan hanya kamar losmen.
Tiba-tiba, cincin di jarinya terasa hangat.
"Ha-neul." Suara Hyeol-geon serius. "Ada yang datang. Dua orang. Mereka berhenti di depan losmen."
Ha-neul langsung waspada. Ia mengintip dari atap. Dua pria berpakaian preman berdiri di pintu masuk losmen. Postur mereka tegap, bukan preman biasa—bekas militer atau pengawal.
Mereka bertanya pada penjaga losmen, lalu menunjuk ke arah kamarnya.
Ha-neul turun cepat, masuk ke kamar melalui jendela belakang. Ia mengambil pedang kayunya, bersiap.
Beberapa saat kemudian, ketukan di pintu.
"Kang Ha-neul?" Suara berat dari luar.
Ha-neul tidak menjawab. Ia diam, mengamati bayangan di balik pintu.
"Kami tahu Anda di dalam. Buka pintu, kami hanya ingin bicara."
"Jangan buka," perintah Hyeol-geon.
Tapi Ha-neul berpikir cepat. Jika mereka dikirim untuk menyerang, mereka tidak akan mengetuk. Mungkin ini utusan.
Ia membuka pintu sedikit. Dua pria itu berdiri dengan sopan, meski wajah mereka keras.
"Anda Kang Ha-neul?"
"Siapa kalian?"
Kiri, yang lebih tua, mengeluarkan amplop. "Kami disuruh menyampaikan ini. Dari Tuan Jin Dae-hyun."
Ha-neul mengerutkan kening. Jin Dae-hyun? Kenapa tidak langsung saja ke arena?
Ia menerima amplop itu. Pria-pria itu membungkuk, lalu pergi tanpa berkata lagi.
Ha-neul menutup pintu, membuka amplop. Isinya sepucuk surat pendek.
---
"Kang Ha-neul,
Ada urusan penting. Datang ke kantor saya sore ini jam 5. Jangan beritahu siapa pun, termasuk adik Anda.
Ini menyangkut keselamatan kalian berdua.
– Jin Dae-hyun"
---
Ha-neul membaca berulang kali. "Ini menyangkut keselamatan kalian berdua." Kata-kata itu mengganggunya.
"Apa ini jebakan?" tanya Hyeol-geon.
"Mungkin. Tapi Jin Dae-hyun selama ini tidak pernah menunjukkan niat buruk."
"Atau dia hanya menunggu waktu yang tepat."
Ha-neul merenung. Ada dua kemungkinan: Jin Dae-hyun benar-benar ingin membantu, atau ini jebakan untuk menangkapnya.
Tapi satu hal yang pasti—ia harus tahu.
---
Sore itu, Ha-neul pergi ke Arena Naga Emas lebih awal. Ia tidak memberi tahu Soo-ah, hanya bilang akan bertemu Manajer Park untuk urusan kontrak.
Di kantor Jin Dae-hyun, pria itu sudah menunggu. Wajahnya serius, tidak seperti biasanya yang ramah.
"Duduk." Jin Dae-hyun menunjuk kursi. Tanpa basa-basi, ia langsung bicara. "Ada orang mencari Anda. Dari Klan Pedang Kang."
Dunia Ha-neul seperti berhenti.
"Bagaimana Anda tahu?"
"Arena saya punya jaringan informasi. Beberapa hari lalu, orang-orang Klan Kang masuk kota. Mereka menyebar, mencari seseorang. Ciri-cirinya persis Anda: pemuda kurus, sekitar delapan belas tahun, punya adik perempuan."
Ha-neul diam. Dadanya berdegup kencang.
"Saya juga dengar mereka sudah menyuap beberapa preman lokal untuk membantu pencarian. Belum tahu persis di mana Anda tinggal, tapi tinggal masalah waktu."
Ha-neul menarik napas dalam. "Kenapa Anda memberitahu saya?"
Jin Dae-hyun tersenyum tipis. "Karena Anda aset berharga saya. Saya tidak ingin kehilangan petarung terbaik hanya karena masalah keluarga." Ia mencondongkan tubuh. "Tapi saya juga tidak ingin arena saya dikepung Klan Pedang Kang. Mereka cukup kuat untuk membuat masalah."
"Apa saran Anda?"
"Pergi. Untuk sementara." Jin Dae-hyun mengeluarkan kantong uang. "Ini sisa honor Anda. Cukup untuk hidup beberapa bulan di tempat lain. Sembunyi sampai situasi reda."
Ha-neul menatap kantong itu. Lalu ia menatap Jin Dae-hyun.
"Dan kau? Apa kau akan bilang pada mereka kalau aku sudah pergi?"
Jin Dae-hyun tertawa kecil. "Saya pengusaha, Kang Ha-neul. Saya tidak suka masalah. Jika mereka tanya, saya akan bilang Anda sudah tidak terikat kontrak dan pergi entah ke mana. Itu saja."
Ha-neul merenung. Ini mungkin tawaran terbaik. Tapi...
"Ada satu masalah. Adik saya bekerja di toko herbal. Dia punya teman, punya kehidupan mulai. Aku tidak bisa bawa dia pergi begitu saja tanpa persiapan."
"Kau punya waktu semalam. Besok pagi, aku sarankan kau sudah tidak di kota ini."
Ha-neul berdiri, mengambil kantong uang itu. "Terima kasih."
"Jangan terima kasih dulu. Selamatkan diri dulu."
---
Ha-neul keluar dari arena dengan langkah cepat. Pikirannya kacau. Klan Pedang Kang datang. Dae-ho pasti di belakang semua ini. Atau mungkin pamannya. Atau mungkin mereka semua.
Ia harus segera memberi tahu Soo-ah.
Tapi saat ia tiba di losmen, kamar mereka kosong. Soo-ah belum pulang dari toko herbal. Ha-neul cemas, tapi berusaha tenang. Mungkin ia lembur. Mungkin Nyonya Song mengajarinya lebih lama.
Ia menunggu. Satu jam. Dua jam.
Matahari mulai terbenam. Lampu-lampu kota mulai menyala. Soo-ah belum pulang.
Ha-neul tidak bisa menunggu lagi. Ia berlari ke toko herbal.
Toko itu sudah tutup. Pintu kayu tertutup rapat, tidak ada lampu di dalam. Ha-neul mengetuk keras-keras.
"NYONYA SONG! SOO-AH!"
Tidak ada jawaban.
Ia memeriksa sekeliling. Di samping pintu, ada secarik kertas terselip. Tangannya gemetar saat mengambilnya.
Tulisan kasar, seperti ditulis terburu-buru:
"Kang Ha-neul, adikmu bersama kami. Datang sendiri ke gudang tua di pelabuhan timur. Jika kau bawa bantuan, dia mati. – K"
Ha-neul membeku.
Dunia terasa runtuh.
---
"Ha-neul, tenang." Hyeol-geon mencoba menenangkan. "Kau tidak bisa berpikir kalau panik."
Tapi Ha-neul sudah tidak bisa tenang. Soo-ah. Satu-satunya keluarga yang ia punya. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup selama ini.
"AKU AKAN BUNUH MEREKA!" raungnya dalam hati.
"Kau akan bunuh mereka dengan cara apa? Dengan pedang kayu? Dengan tubuh yang masih setengah lemah?" Hyeol-geon menghela napas. "Dengar, ini jebakan. Mereka tahu kau akan datang. Mereka pasti sudah siap."
"Aku tidak peduli!"
"Kau harus peduli. Soo-ah butuh kau hidup, bukan mati sia-sia."
Ha-neul terdiam. Napasnya tersengal. Air mata hampir jatuh, tapi ia tahan.
"Kita hadapi bersama. Tapi kau harus janji: jangan gegabah. Kita cari celah. Kita serang dari bayangan. Itu satu-satunya cara."
Ha-neul mengangguk pelan. Ia menggenggam cincinnya erat.
"Baik, Guru. Ayo kita selamatkan Soo-ah."
Ia berlari ke arah pelabuhan timur, meninggalkan toko herbal yang gelap dan sunyi.
Di langit, bulan purnama mulai naik. Malam yang panjang akan segera dimulai.