Jiao Lizhi, 25 tahun, seorang agen profesional di abad ke-21, tewas tragis saat menjalankan misi rahasia. Yatim piatu sejak kecil, hidupnya dihabiskan untuk bekerja tanpa pernah merasakan kebahagiaan.
Namun tak disangka, ia terbangun di dunia asing Dinasti Lanyue, sebagai putri Perdana Menteri yang kaya raya namun dianggap “tidak waras.” Bersama sebuah sistem gosip aneh yang menjanjikan hadiah. Lizhi justru ingin hidup santai dan bermalas-malasan.
Sayangnya, suara hatinya bersama sistem, dapat didengar semua orang! Dari keluhan kecil hingga komentar polosnya, semua menjadi kebenaran istana. Tanpa sadar, gadis yang hanya ingin makan melon dan tidur siang itu berubah menjadi pejabat istana paling berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Dekranasda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menggali Rahasia Kaisar
Ke esokan paginya, sudah waktunya pergi ke pengadilan lagi. Di kediaman perdana Mentri, cui hendak membangunkan jiao lizhi.
“Nona… sudah waktunya bangun.” Kalimat itu terhenti di tenggorokan Cui. Matanya membelalak.
Di hadapannya, Jiao Lizhi sudah, mengenakan pakaian resmi pejabat. Rambutnya tersanggul rapi, bahkan sabuk pinggangnya sudah dikencangkan.
“N-nona…?” Cui mendekat dengan ragu.
Jiao Lizhi membuka mata setengah, tampak lesu. “Mm, bantu aku membasuh wajah saja.”
Nada suaranya datar. Tanpa drama. Tanpa keluhan.
Cui menelan ludah. Ia membantu membasuh wajah sang nona, memperbaiki sedikit rambut di pelipis.
Beberapa waktu kemudian, kereta kuda Perdana Menteri berhenti di depan gerbang istana kekaisaran.
Tuan Jiao turun lebih dulu, wajahnya serius, lalu menoleh ke putrinya yang turun perlahan dengan langkah malas.
“A Zhi, tolong hari ini, jangan menimbulkan masalah lagi.”
Jiao Lizhi menatap ayahnya dengan bingung, sejak kapan ia menimbulkan masalah, padahal ia hanya diam saja di ruang sidang.
“Baiklah, Ayah. Aku akan berusaha.” ucap Jiao Lizhi sekena nya.
Nada ‘berusaha’ nya membuat Tuan Jiao menutup mata sejenak dan menarik napas panjang.
Aula sidang pagi itu penuh.
Para menteri berdiri di posisi masing-masing, wajah serius, nada bicara tinggi-rendah saling tumpang tindih.
Begitu Jiao Lizhi masuk, beberapa pejabat langsung saling melirik.
Ada yang berbisik, “Itu dia, si bocah pembawa bencana.”
Yang lain hanya pura-pura melihat, tapi menajamkan telinga, siapa tahu hari ini ada pertunjukan gratis.
Sidang pun dimulai.
Para menteri satu per satu menyampaikan laporan tentang pajak, panen, logistik militer, perdagangan, dan urusan rakyat.
Jiao Lizhi berdiri di barisan pejabat. Matanya setengah terpejam. Bahunya sedikit turun. Capek, itulah yang dirasakan. Kepalanya masih terasa berat. Otot-ototnya belum sepenuhnya pulih dari pertarungan semalam. Dan pagi-pagi sudah harus mendengar para pejabat berbicara.
“…oleh karena itu, hamba berpendapat pajak wilayah barat harus...”
“…tidak! Kebijakan itu justru akan merugikan...”
“…yang mulia, hamba sudah memperingatkan sejak tahun lalu...”
Ia memijat pelipisnya, wajahnya muram, matanya sayu. Sejak semalam, ia belum puas tidur setelah pertarungan dengan pembunuh bayaran.
Di depannya, Jiao Wenqing sambil menengok putrinya dengan khawatir. Wajahnya masam.
Dan benar saja. Di tengah argumen para menteri yang makin panas...
Jiao Lizhi menguap tanpa menutup mulut. Yah, normal baginya artinya, membosankan setengah mati.
“Sistem…” gumamnya pelan dalam hati.
“Aku sangat bosan. Apa yang harus kulakukan? Para pria tua ini hanya tahu bicara, bicara, dan bicara. Aku merasa, usia ku ikut menua bersama mereka.”
Kalimat itu terdengar ke seluruh ruangan. Dan seketika, seluruh pejabat menegang.
Beberapa yang berusia tiga puluhan langsung menatap ke arahnya dengan ekspresi geram, “Pria tua? Siapa yang kau sebut tua, hah?!”
Yang berusia lima puluh ke atas malah saling melirik dengan wajah getir.
“Dia… dia bilang pria tua?”
“Ya ampun, apakah kita ini tidak terlihat muda lagi?!”
Tuan Jiao di sebelahnya hampir pingsan.
Nafasnya memburu, tangannya mencengkeram lutut. Ia tahu, ini pertanda buruk. Apalagi lirikan para pejabat terhadapnya yang seperti membunuhnya, membuatnya mengecilkan lehernya.
Kaisar mengangkat alis pelan, berdeham dua kali. Namun, daripada marah, bibirnya justru sedikit menahan tawa. Anak kecil ini memang tidak pernah membiarkan pagi berlalu tanpa kegaduhan.
Sementara itu, suara sistem terdengar di kepala Lizhi.
[Tuan rumah, bagaimana jika kita bergosip saja? Tentang kaisar, misalnya?]
“Eh? Tentang kaisar?”
[Ya. Sepertinya melon kaisar sangat manis.]
Wajah Jiao Lizhi seketika berbinar.
Wajah yang tadinya muram dan menunduk kini terangkat.
“Cepat katakan padaku, aku sudah tak sabar!”
Para pejabat yang di sekelilingnya menajamkan telinga. Mereka pura-pura tidak peduli, tapi sebenarnya mereka semua sangat peduli. Bahkan beberapa pejabat muda mencondongkan tubuh ke depan.
Namun, yang paling parah adalah reaksi kaisar sendiri. Tiba-tiba, tubuhnya kaku. Senyumnya membeku. Keringat dingin mulai menetes di pelipis. Ia mengusap dahinya perlahan dengan sapu tangan yang disodorkan Kasim utama.
“Oh tidak… kali ini dia mau membicarakan apa tentang aku?!”
Di sisi lain, Tuan Jiao melotot kan mata nya ke arah Jiao Lizhi yang tidak memperhatikannya, “Gadis sialan ini… kenapa malah menggali rahasia kaisar?! Banyak pejabat di ruangan ini yang bisa jadi korban, kenapa harus kaisar?! Apakah hidupku terlalu panjang sampai harus dipangkas hari ini?!”
Tangannya gemetar di balik lengan jubah.
Keringat dingin mengalir di tengkuknya.
Sementara itu, Jiao Lizhi sama sekali tidak peduli pada dunia luar.
Baginya, aula sidang ini sudah berubah menjadi ruang gosip eksklusif antara dirinya dan sistem.
“Baiklah Gugu, apa gosip tentang kaisar?”
[Ehem… sebenarnya, Tuan Rumah, kaisar dulu jatuh cinta pada permaisuri saat ini]
“Hm? Itu semua orang juga tahu, kan?”
Kaisar mengangguk kan kepalanya setuju, ia memang jatuh cinta duluan pada sang permaisuri. sementara para pejabat yang mendengarkan juga sama-sama menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Jiao Lizhi.
[Tapi yang tidak semua orang tahu, sebenarnya Yang Mulia telah ditolak berkali-kali oleh permaisuri.]
“Ditolak? Kenapa?”. Nada Lizhi langsung naik satu oktaf.
[Ya. Alasannya sederhana tapi menyakitkan.]
“Apa?”
[Permaisuri berkata, Yang Mulia terlalu cerewet.]
Sunyi yang berat, seperti petir yang menggantung tapi belum jatuh. Beberapa pejabat refleks menelan ludah karna takut tiba-tiba kAisar melotot ke arah mereka.
Jiao Lizhi melongo, lalu spontan berkomentar dalam hati,
“Ew, jadi begitu. Kaisar sangat tangguh tidak mengenal lelah untuk mendapatkan permaisuri. Salut untuk yang mulia.”
Mendengar ucapan Jiao Lizhi, kaisar menghela nafas karna gosip nya tidak buruk. Meskipun itu kenyataan, tapi hanya dirinya dan permaisuri yang tau kejadian itu. Namun kini, semua orang di dalam ruangan tau semua, membuat pipi Kaisar memerah karna malu.
“Tenang. Ini tidak buruk. ini hanya cerita romantis antara aku dan permaisuri.”
Ia berusaha mempertahankan wibawanya, duduk tegak dengan ekspresi datar, meski jari-jarinya mencengkeram sandaran singgasana sedikit lebih kuat dari biasanya.
Sementara para pejabat, menahan senyum karna ternyata perjalanan cinta Kaisar tidak semulus itu untuk mendapatkan permaisuri.
Pejabat muda di sebelahnya hampir menggigit lidah sendiri, “Astaga… selama ini aku kira Yang Mulia itu dingin dan tak tersentuh.”
Yang lain menunduk lebih dalam, bahunya bergetar halus.
“Jangan tertawa. Jangan tertawa. Kepalamu masih ingin menempel di leher.” ucap beberapa para pejabat.
Namun itu belum berakhir.
[Dan akhirnya, setelah bertahun-tahun dikejar, permaisuri menyerah. Ya. Kata permaisuri, ‘daripada telingaku terus berdengung, lebih baik aku menikah saja dengannya.’]
Jiao Lizhi terdiam sesaat, lalu memberi penilaian polos tapi mematikan, “Wah… jadi pernikahan mereka dimulai dari kelelahan mental.”
Kaisar menghela napas panjang dalam hati.
Setidaknya, ini tidak menjatuhkan martabatnya sebagai kaisar.
Hanya, sedikit memalukan.
Namun saat ia baru saja berniat menganggap semua ini selesai, sistem Gugu melanjutkan dengan nada ceria yang terlalu berbahaya.
[Oh ya, ada yang lebih lucu lagi.]
“Apa?!”
“
[Dan lucunya lagi, di usia muda ketika Kaisar mengejar permaisuri, Kaisar pernah menyamar menjadi rakyat biasa untuk melihat permaisuri yang sedang berbelanja dan hampir ditangkap karena dikira pencuri di pasar.]
“Apa? Kaisar menguntit permaisuri? Ckckck, sungguh memalukan.”
[Benar sekali, Tuan Rumah. Beruntung salah satu jendral yang bertugas tau jika itu adalah Yang Mulia, jadi dibebaskan.]
“Hahaha, sudah di kira pencuri, eh ketahuan sama bawahannya.”
Jiao Lizhi tertawa puas dalam hati hingga wajahnya memerah karna menahan rasa geli di hati nya.
Para pejabat menunduk, menahan napas.
Ada yang wajahnya merah menahan tawa, ada pula yang menatap langit-langit, berusaha pura-pura tuli.
Sementara Kaisar sangat malu hingga ia ingin sekali mencari lubang untuk menutupi rasa malu nya. Saking malu nya,
Kaisar sendiri langsung tersedak ludahnya sendiri hingga terbatuk.
“Uhuk! Uhuk!”
Ia menepuk dadanya pelan, mencoba terlihat tenang.