NovelToon NovelToon
Sistem Peningkatan Kekayaan

Sistem Peningkatan Kekayaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Kaya Raya
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Gu Yanqing hidup miskin, tanpa latar belakang, tanpa peluang.
Hingga suatu hari, Sistem Peningkatan Kekayaan aktif—memberinya kesempatan untuk naik kelas, selama semua yang ia peroleh masuk akal dan sah.

Dari nol ke kaya, dari diremehkan ke dikelilingi orang-orang yang terlihat tulus.
Tapi di dunia uang dan status, kepercayaan punya harga.

Dan saat harga itu terlalu mahal, tidak semua orang sanggup membayarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 : Narasi Dibentuk

Pagi itu, udara di area pelabuhan terasa lebih berat dari biasanya.

Bukan karena kabut laut. Bukan pula karena jadwal bongkar muat yang padat. Ritme kerja tetap berjalan—rantai besi berderit, forklift bergerak stabil, suara mesin kapal menggetarkan dermaga seperti napas panjang yang tak pernah berhenti.

Yang berubah adalah jarak.

Gu Yanqing menyadarinya sejak langkah pertama memasuki ruang istirahat buruh lama.

Beberapa tahun lalu, ruangan itu adalah tempat ia berbagi rokok murah, bercanda tentang lembur, dan mengeluh soal cuaca. Kini, ketika pintu terbuka dan sosoknya muncul di ambang, percakapan yang sebelumnya terdengar padat mendadak terpotong.

Sunyi sepersekian detik.

Lalu suara kembali, lebih pelan, lebih terarah.

Gu Yanqing tidak berhenti. Ia mengambil secangkir air panas dari dispenser, berdiri di sudut seperti biasa. Tatapannya tenang, tidak mencari siapa pun secara khusus.

Namun ia mendengar.

“Katanya memang sengaja dibesar-besarkan.”

“Kalau tidak, mana mungkin angkanya segitu.”

“Perusahaan sebesar itu bisa dituntut hanya karena satu kecelakaan?”

Kata “kecelakaan” disebut dengan nada yang meremehkan.

Tidak ada yang menyebut nama ayahnya. Tidak ada yang menyebut detail peristiwa. Tetapi insinuasi telah terbentuk: bahwa tragedi itu adalah alat.

Gu Yanqing menyesap airnya perlahan.

Beberapa buruh lama yang dulu menyapanya dengan bahu saling bersentuhan kini hanya mengangguk tipis. Tidak ada permusuhan terbuka. Hanya jarak yang sengaja diciptakan.

Ia melangkah keluar menuju area kontainer.

Di dekat derek utama, Wang Jicheng berdiri bersama tiga pekerja senior. Nada bicaranya tidak keras, tetapi cukup untuk menjangkau lingkaran kecil di sekitarnya.

“Kita semua tahu insiden itu disayangkan,” katanya dengan wajah serius. “Tapi membawanya ke pengadilan dengan tuntutan sebesar itu… sulit tidak mempertanyakan niatnya.”

Salah satu pekerja bertanya pelan, “Maksudnya Pak Gu memang…?”

Wang Jicheng mengangkat tangan, seolah menahan tuduhan langsung. “Saya tidak menuduh siapa pun. Saya hanya khawatir. Kalau setiap insiden dijadikan alat negosiasi, perusahaan bisa runtuh. Dan kalau perusahaan runtuh, kita semua terdampak.”

Nada suaranya terukur. Tidak agresif. Tidak kasar.

Justru itu yang membuatnya efektif.

Gu Yanqing berdiri cukup dekat untuk mendengar sebagian kalimat, tetapi tidak cukup dekat untuk dianggap sedang menguping. Ia memeriksa lembar inspeksi di tangannya, seolah fokus sepenuhnya pada pekerjaan.

Ia tidak marah.

Ia menganalisis.

Narasi yang dibangun bukan tentang benar atau salah. Ia tentang kepentingan kolektif. Tentang stabilitas. Tentang rasa takut kehilangan pekerjaan.

Dengan cara itu, Gu Yanqing diposisikan sebagai ancaman.

Ancaman terhadap sistem yang memberi makan mereka.

Beberapa menit kemudian, Chen Baojun muncul dari arah kantor operasional. Wajahnya netral seperti biasa. Ia berhenti di dekat kelompok yang sama.

“Saya dengar tuntutannya memang tinggi,” katanya ringan. “Kalau hakim melihatnya sebagai upaya mencari keuntungan, bisa jadi dampaknya buruk untuk semua pihak.”

Ia tidak menyebut nama Gu.

Namun kalimatnya jatuh tepat di tengah percakapan yang sudah terarah.

Wang Jicheng mengangguk pelan. “Kita hanya berharap keadilan berjalan dengan wajar.”

Kata “wajar” terdengar seperti batas moral.

Gu Yanqing mencatat pola itu.

Wang Jicheng menyebarkan keraguan.

Chen Baojun memberi legitimasi dengan nada rasional.

Keduanya tidak menyerang langsung.

Itulah tekniknya.

Ia berjalan menyusuri dermaga, menyapa seorang operator derek yang dulu cukup dekat dengannya.

“Shift malam lancar?” tanya Gu tenang.

Operator itu tersenyum kaku. “Lancar, Pak.”

Tidak ada kelanjutan. Tidak ada obrolan tambahan.

Gu Yanqing melihat sekilas perubahan kecil pada bahasa tubuh: jarak setengah langkah lebih jauh, kontak mata lebih singkat.

Isolasi sosial jarang datang dengan pengumuman. Ia tumbuh seperti bayangan, memanjang perlahan saat cahaya berubah.

Di ruang administrasi, dua staf berhenti berbicara ketika ia masuk. Salah satunya buru-buru membuka berkas, pura-pura sibuk.

Gu Yanqing duduk, membuka laptopnya, dan membaca kembali kronologi perkara.

Fakta tetap fakta.

Kontrak yang dilanggar tercatat.

Dokumen pendukung lengkap.

Prosedur ditempuh sesuai hukum.

Namun fakta tidak selalu menang dalam ruang opini.

Panel sistem muncul tipis di sudut pandangannya.

Peringatan: Tekanan opini meningkat.

Indeks stabilitas sosial internal: menurun.

Tidak ada solusi. Tidak ada rekomendasi.

Hanya indikator.

Gu Yanqing memejamkan mata sesaat.

Perang telah berpindah medan.

Jika sebelumnya tekanan datang dari ruang sidang dan media, kini ia merembes ke lingkungan asalnya sendiri—ke orang-orang yang dulu melihatnya sebagai bagian dari mereka.

Ia membuka mata kembali.

Langkah Wang Jicheng cerdas. Ia tidak perlu membuktikan bahwa Gu salah. Ia hanya perlu menanamkan pertanyaan.

Apakah tuntutan itu terlalu besar?

Apakah tragedi itu dimanfaatkan?

Pertanyaan, jika diulang cukup lama, berubah menjadi keyakinan.

Menjelang siang, suara percakapan di ruang istirahat semakin jelas. Seseorang berkata dengan nada getir, “Kalau memang niatnya murni keadilan, kenapa angkanya harus setinggi itu?”

Yang lain menjawab, “Orang berubah kalau melihat uang.”

Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk mengikis reputasi bertahun-tahun.

Gu Yanqing berdiri di luar ruangan, mendengar tanpa terlihat.

Ia tidak masuk untuk membantah. Tidak menjelaskan dasar perhitungan. Tidak menunjukkan dokumen.

Penjelasan emosional hanya akan membuatnya terlihat defensif.

Sebaliknya, ia mencatat satu kesimpulan penting.

Narasi telah mengambil alih ruang sosial.

Ia bukan lagi sekadar penggugat dalam perkara hukum.

Ia adalah figur yang dipertanyakan moralnya.

Chen Baojun melintas di depannya, berhenti sejenak.

“Tekanan seperti ini berat,” katanya pelan, nada seolah simpatik. “Kadang orang sulit memahami keputusan besar.”

Gu Yanqing menatapnya tanpa perubahan ekspresi. “Keputusan hukum tidak dibuat untuk dipahami semua orang.”

Chen tersenyum tipis. “Semoga saja semua berjalan baik.”

Ia pergi sebelum ada jawaban lain.

Gu Yanqing berdiri sendiri di tengah deru mesin dan suara ombak yang menghantam tiang dermaga.

Keterasingan itu nyata, tetapi tidak melumpuhkan.

Ia menerima fakta bahwa konflik telah melebar. Bahwa ia kini tidak hanya menghadapi Dongkou Port Group di ruang sidang, tetapi juga persepsi kolektif di lingkungan yang pernah menjadi tempatnya bertumbuh.

Narasi adalah alat kontrol massa.

Dan saat ini, alat itu sedang diarahkan kepadanya.

Panel sistem memudar perlahan.

Tekanan opini meningkat.

Gu Yanqing merapikan kerah jasnya.

Ia tidak akan membalas dengan kemarahan. Tidak akan mencari simpati.

Namun satu hal menjadi jelas di benaknya—

Jika ia membiarkan narasi ini tumbuh tanpa strategi, maka kerusakan reputasi jangka panjang akan lebih berbahaya daripada putusan pengadilan mana pun.

...

Sore itu, Gu Yanqing tidak langsung pulang ke apartemen.

Ia menuju kantor Zhao Haoran tanpa memberi tahu siapa pun di pelabuhan. Pergerakannya tenang, seperti biasa, tetapi pikirannya bekerja lebih cepat dari ritme langkahnya.

Ketika pintu kantor tertutup, atmosfer berubah. Tidak ada suara mesin derek. Tidak ada bisik-bisik buruh. Hanya ruang kerja yang rapi dan cahaya lampu putih yang stabil.

Zhao Haoran menatapnya sekilas. “Ekspresimu tidak berubah. Tapi aku bisa menebak situasinya.”

“Isu sudah masuk ke buruh lama,” jawab Gu singkat.

Zhao berhenti mengetik. “Seberapa jauh?”

“Mereka tidak menyerang langsung. Mereka mempertanyakan niat.”

Gu duduk, meletakkan map tipis di atas meja. “Wang Jicheng menyampaikan kekhawatiran tentang stabilitas perusahaan. Chen Baojun memperkuat dengan nada rasional. Tidak ada tuduhan eksplisit. Hanya pertanyaan.”

Zhao bersandar, wajahnya mengeras. “Teknik klasik. Bangun keraguan, biarkan massa menyimpulkan.”

Gu mengangguk. “Mereka menggeser fokus dari fakta hukum ke moralitas pribadi.”

“Dan itu lebih sulit dilawan,” tambah Zhao pelan.

Gu menatap dinding kosong di seberang meja. Ia tidak terlihat lelah, tetapi sorot matanya lebih tajam dari biasanya.

“Jika opini buruh lama terus bergerak negatif,” katanya tenang, “maka tekanan terhadap saksi akan meningkat. Jika saksi goyah, posisi kita di pengadilan melemah tanpa perlu serangan formal.”

Zhao membuka laptopnya, menarik beberapa data. “Sentimen daring juga naik. Artikel Linhai Daily dikutip dua portal lain. Judulnya lebih provokatif.”

“Angkanya?”

“Sekitar enam puluh lima persen komentar mendukung perusahaan. Banyak yang mengulang narasi ‘kompensasi berlebihan’.”

Gu tidak menunjukkan reaksi emosional.

“Artinya framing berhasil,” ujarnya.

Zhao menatapnya. “Kita tidak bisa lagi menganggap ini hanya perkara hukum.”

Ruangan itu hening beberapa detik.

Gu memahami implikasinya dengan sangat jelas. Dalam sistem peradilan formal, hakim menilai bukti. Namun dalam dunia nyata, reputasi memengaruhi kredibilitas. Kredibilitas memengaruhi persepsi. Dan persepsi, pada akhirnya, memengaruhi tekanan di luar ruang sidang.

Ia bukan hanya melawan Dongkou Port Group.

Ia melawan citra yang sedang dibentuk tentang dirinya.

“Apakah kita perlu merespons secara terbuka?” tanya Zhao.

“Belum.”

Jawaban itu datang cepat, tetapi tidak impulsif.

“Jika kita membantah sekarang,” lanjut Gu, “kita terlihat reaktif. Mereka belum menyerang langsung. Mereka hanya menanamkan pertanyaan. Jika kita membalas, kita memberi validasi bahwa pertanyaan itu sah.”

Zhao menghela napas. “Tapi membiarkannya juga berisiko.”

“Ya.”

Gu berdiri, berjalan perlahan ke jendela kantor. Lampu kota mulai menyala satu per satu. Di kejauhan, garis pelabuhan terlihat seperti bayangan gelap.

“Perusahaan ingin saya terisolasi,” katanya pelan. “Jika buruh lama menjauh, jika saksi merasa sendirian, jika publik melihat saya sebagai oportunis—maka tekanan psikologis akan bekerja tanpa mereka perlu menyentuh saya.”

Zhao memutar kursinya menghadap penuh ke arah Gu. “Dan kamu?”

“Saya tetap di jalur hukum.”

Jawaban itu sederhana.

Namun di baliknya, ada penyesuaian strategi yang lebih dalam.

Gu Yanqing menyadari bahwa perang telah memasuki ranah publik. Ia tidak bisa lagi bersikap seolah opini tidak relevan. Namun ia juga tidak bisa terjun sembarangan ke medan yang dibentuk lawan.

Narasi adalah alat.

Jika lawan menggunakannya, maka ia harus memahami mekanismenya—bukan dengan emosi, tetapi dengan perhitungan.

Zhao menutup laptopnya perlahan. “Jika kita tidak melakukan apa-apa, kerusakan reputasi bisa permanen. Bahkan jika kita menang di pengadilan.”

Gu tidak langsung menjawab.

Ia memikirkan urutan peristiwa:

Media membingkai.

Manajemen memperkuat.

Buruh lama mengulang.

Saksi mulai ragu.

Pola itu sistematis.

“Ini bukan reaksi spontan,” katanya akhirnya. “Ini dibentuk.”

Zhao mengangguk. “Narasi tidak pernah tumbuh sendiri.”

Gu kembali duduk. “Kita perlu memetakan alurnya. Siapa yang memulai. Siapa yang memperkuat. Dan di titik mana publik mulai menerima sebagai kebenaran.”

“Artinya kamu siap masuk ke medan opini?”

Gu menatapnya lurus. “Saya tidak akan menyerahkan medan itu begitu saja.”

Nada suaranya tetap datar, tetapi ada ketegasan baru di dalamnya.

Isolasi sosial di pelabuhan tidak membuatnya goyah. Justru memperjelas peta konflik.

Ia tidak lagi melihat perkara ini sebagai sekadar gugatan kontraktual. Ini adalah ujian terhadap kemampuannya mempertahankan posisi di bawah tekanan multidimensi—hukum, sosial, reputasional.

Zhao terdiam beberapa saat, lalu berkata pelan, “Kita mungkin perlu langkah cepat.”

Gu menunggu.

“Bukan klarifikasi emosional,” lanjut Zhao. “Tapi langkah yang terukur. Jika narasi mereka adalah bahwa kamu membesar-besarkan insiden demi uang, maka kita perlu menggeser fokus tanpa terlihat defensif.”

Gu mengingat kembali wajah para buruh lama yang menghindari tatapannya. Jarak setengah langkah. Senyum kaku. Percakapan yang terputus.

Tekanan itu nyata.

Namun ia tidak merasa sendirian.

Ia merasa sedang diuji.

“Siapkan analisis lengkap pergerakan media,” katanya akhirnya. “Identifikasi simpul penyebaran utama.”

Zhao menatapnya tajam. “Kamu ingin menyerang balik?”

Gu menggeleng tipis. “Saya ingin memahami medan.”

Keheningan kembali memenuhi ruangan.

Di luar, lalu lintas malam semakin padat. Kota terus bergerak, tidak peduli siapa yang sedang kehilangan reputasi atau mempertahankannya.

Zhao berdiri, berjalan ke meja arsip, lalu berhenti sejenak.

“Ada satu opsi,” katanya perlahan. “Jika tekanan opini terus naik, kita mungkin perlu membuat pernyataan terstruktur. Bukan untuk membela diri. Tapi untuk menetapkan posisi secara publik sebelum narasi mereka mengeras.”

Gu Yanqing tidak langsung menjawab.

Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela—tenang, terkendali, tetapi kini sepenuhnya sadar bahwa ia berdiri di tengah medan perang yang lebih luas dari ruang sidang.

Ia tidak mundur.

Ia menyesuaikan.

“Siapkan drafnya,” ucapnya akhirnya. “Tapi kita tidak akan menggunakannya tanpa perhitungan matang.”

Zhao mengangguk.

Di antara mereka, sebuah keputusan belum sepenuhnya diambil—namun arah sudah ditentukan.

Perang opini tidak lagi bisa diabaikan.

Dan malam itu, di kantor kecil yang jauh dari sorot kamera, langkah balasan pertama mulai dipertimbangkan.

Sementara itu, di pelabuhan, bisik-bisik terus beredar. Narasi tentang “kompensasi berlebihan” berubah menjadi cerita tentang “ambisi pribadi.” Beberapa pekerja mulai menyebutnya dengan nada yang tidak lagi netral.

Tekanan tidak lagi samar.

Ia membentuk gelombang.

Dan ketika Zhao Haoran menutup berkas terakhir malam itu, ia berkata dengan suara rendah namun tegas:

“Jika kita tidak bergerak sekarang, mereka akan mendefinisikan siapa dirimu untuk seluruh kota.”

Gu Yanqing menatap meja yang penuh dokumen.

Ia tahu satu hal pasti—

Langkah berikutnya tidak akan lagi sekadar bertahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!