" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"
"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"
"Halah paling juga nanti kamu nyesal"
Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nikah?
Abian menarik Nana keluar dari sana, melewati meja kerja Juan dengan langkah lebar. Nana yang masih lemas dan bingung hanya bisa mengikuti tarikan tangan bosnya itu sambil berusaha menyeimbangi langkah kaki Abian yang panjang.
"Bapak mau bawa saya ke mana?" tanya Nana sambil berusaha melepaskan diri.
"Pak, lepas! Saya mau pulang sendiri."
"Tenang saja, nanti juga kamu tahu," jawab Abian singkat tanpa menghentikan langkah.
Juan yang melihat kejadian itu langsung berdiri dengan wajah melongo. "Pak! Bapak mau ke mana? Ini berkasnya gimana?"
Abian menoleh sekilas sambil terus menarik Nana menuju lift. "Tolong backup kerja saya dulu ya, saya mau pergi sebentar."
"Tapi Pak...."
Pintu lift tertutup, memutus kalimat Juan. Di dalam lift yang sunyi, Nana hanya bisa tertunduk, memandangi maskaranya yang mengotori punggung tangan. Abian meliriknya sekilas, lalu beralih menatap angka lantai yang bergerak turun.
Abian fokus menyetir, tangannya bergerak tenang di atas kemudi sementara Nana masih menatap ke luar jendela dengan perasaan tak menentu.
"Sebenarnya kita mau ke mana sih, Pak?" tanya Nana akhirnya, suaranya terdengar lelah.
"Temani saya makan dulu, saya belum sarapan tadi pagi. Maag saya bisa kambuh kalau telat makan."
Nana mendengus pelan, hampir tidak percaya bosnya masih memikirkan perut di tengah situasi seperti ini. Ia kemudian teringat sesuatu dan segera melihat pantulan dirinya di spion tengah. Matanya membelalak.
"Pak, lihat wajah saya! Bagaimana saya mau menemani Bapak makan kalau maskara saya luntur begini? Saya kayak hantu," protes Nana sambil mencoba mengusap noda hitam di bawah matanya dengan ujung jari.
Abian tidak menoleh, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis yang sangat samar.
"Makanya, lain kali kalau mau beli makeup itu yang waterproof," jawab Abian santai.
"Biar kalau kamu menangis karena saya marahi atau karena hal lain, wajahmu tetap aman."
Nana langsung menoleh tajam, merasa kesal karena bosnya masih sempat-sempatnya melontarkan cringe kering seperti itu.
"Di dashboard ada tisu basah. Pakai saja,"
Mobil berhenti di depan sebuah restoran bergaya klasik. Abian langsung mengajak Nana masuk ke dalam, memilih meja di pojok yang jauh dari keramaian.
Seorang pelayan datang membawakan menu. Tanpa banyak bicara, Abian memesan beberapa menu andalan yang terlihat bergizi. Setelah selesai, ia menutup buku menu dan menatap Nana yang sejak tadi hanya diam.
"Kamu mau makan apa?" tanya Abian.
Nana melihat sekilas daftar harga di buku menu tersebut, lalu segera menutupnya kembali. Matanya sedikit membelalak.
"Enggak, Pak. Saya enggak mau apa-apa. Harganya mahal banget," bisiknya pelan.
Abian menghela napas, ia sudah menduga reaksi asistennya ini. "Tenang saja, saya yang bayar. Pesan saja apa yang kamu mau, jangan dipikirkan harganya."
"Tapi, Pak..."
"Ini perintah atasan, Nana," potong Abian. Akhirnya, Abian memesankan satu porsi makanan hangat dan jus buah untuk Nana tanpa menunggu persetujuannya lagi.
Setelah pelayan pergi dan suasana kembali sunyi, Abian melipat tangannya di atas meja. Ia menatap Nana yang terus menunduk, memainkan ujung serbet.
Nana hanya diam saat pesanan makanan datang. Ia menatap mangkuk sup hangat dan jus buah di depannya dengan tatapan kosong, sementara Abian sudah mulai menyantap sarapannya dengan perlahan.
"Kenapa nggak kabari saya waktu itu?" tanya Abian tiba-tiba.
Nana yang sedang melamun tersentak. Ia mendongak, menatap Abian dengan bingung. "Tiba-tiba apa, Pak?"
Abian sempat terhenti, sendoknya tertahan di udara. Ia menatap mata Nana, lalu menghela napas panjang dan menggeleng pelan. "Sudah, lupakan saja. Makan makananmu."
Keheningan kembali menyelimuti mereka selama beberapa saat, hanya terdengar denting sendok dan garpu. Abian tampak menimbang-nimbang sesuatu sebelum akhirnya meletakkan alat makannya dan menatap Nana lurus-lurus.
"Kamu... beneran serius mau resign?" tanya Abian lagi.
"Ya, Pak," jawab Nana singkat.
"Kenapa?"
"Ya mau aja, Pak. Saya capek," jawab Nana sambil mengaduk-aduk jus buahnya, enggan menatap mata bosnya itu.
Abian bersandar di kursinya, melipat tangan di depan dada. Ia menatap Nana dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Terus nanti kamu kerja apa di luar sana?" tanya Abian sinis.
"Mencari kerja itu tidak semudah mencari muka, Nana. Kamu pikir di luar sana ada bos yang mau sesabar saya menghadapi kelakuanmu yang tiba-tiba hilang begini?"
Nana mendengus pelan, hampir tertawa kecil mendengar kata sabar dari mulut Abian. "Bapak bilang Bapak sabar? Tiap hari saya dikasih tekanan batin, Pak."
"Oke, kalau soal tekanan batin, saya minta maaf. Tapi saya tahu tabungan rumah kamu hampir mencapai target," ucap Abian dengan nada yang lebih melunak.
"Saya naikkan gaji kamu dua kali lipat. Dan kamu dapat bonus tunai sekarang juga untuk menutupi kekurangan harga rumah itu."
Nana tertegun sejenak mendengar angka yang ditawarkan Abian. Itu jumlah yang sangat besar, cukup untuk melunasi rumah impian ibunya tanpa harus mencicil lagi. Namun, ia kemudian menggeleng pelan dengan raut wajah yang tampak sudah sangat lelah.
"Nggak, Pak. Makasih," jawab Nana pelan.
Abian mengerutkan kening, tidak percaya tawarannya ditolak begitu saja. "Kenapa? Kurang? Kamu bisa sebutkan angkanya, Nana."
"Ini bukan soal uang lagi, Pak," sahut Nana sambil menatap keluar jendela restoran.
"Dulu saya butuh uang itu untuk Ibu. Saya mau Ibu bangga, saya mau Ibu istirahat di rumah yang layak. Sekarang... rumah itu mau saya tempati dengan siapa? Saya cuma mau tenang, Pak. Uang Bapak nggak bisa beli ketenangan batin saya."
Abian terdiam seribu bahasa. Untuk pertama kalinya, ia merasa uang dan kekuasaannya sama sekali tidak berguna di depan wanita di hadapannya ini.
Abian terdiam sejenak, menatap Nana yang tampak begitu putus asa. Ia meletakkan gelasnya, lalu memajukan tubuhnya sedikit ke arah meja, menatap Nana dengan intensitas yang berbeda dari biasanya.
"Kamu bilang rumahnya mau ditempati sama siapa?" ulang Abian, suaranya kini terdengar rendah dan sangat tenang.
Nana tidak menjawab, ia hanya menatap kosong ke arah supnya yang mulai mendingin.
"Sama saya aja. Kita nikah," ucap Abian dengan nada yang begitu santai.
Nana yang tadinya lemas seketika tersentak. Kepalanya terangkat dengan cepat, matanya membelalak lebar menatap bosnya itu.
"DIHH, NGACO!" seru Nana spontan.
"Bapak sakit? Atau kebanyakan tekanan kerja juga sampai otaknya konslet?"
Abian sama sekali tidak terlihat tersinggung. Ia justru bersandar kembali ke kursinya dengan sikap tenang, meski ada kilat geli di matanya melihat reaksi Nana.
"Pak, saya ini lagi berduka, mau resign, mau pulang! Bapak malah bahas yang enggak-enggak!" protes Nana.
"Memangnya saya kelihatan bercanda?" tanya Abian balik.
🤣😭
update nya jangan lama" dunk
apa yang dijodohkan sama Sofia temannya Abian🤔🤔🤔