Mau menyimpan bangkai serapat apa pun, pada akhirnya akan tercium juga.
Niat hati memberi kejutan untuk suami tercinta di tahun ke 2 pernikahan. Nyatanya aku, yang di beri kejutan yang menjadi awal runtuhnya kepercayaan dan hancurnya hati ku. Hingga perpisahan gak lagi bisa ku hindari. Dari pada hidup bersama pria yang sudah menghianati.
Di balik ruang kebesaran Joseph.
"Pelan pelan, sayang!"
"Gak bisa, mas! Aku udah gak sabar pengen piton kamu!"
"Kamu ini, selalu saja pandai memu4skan ku! Kamu agresif, inisiatif, aku suka itu!"
"Siapa dulu dong, Karin! Kekasih mu! Karena aku, kamu bisa berada di posisi ini! Ingat itu! Aku pahlawan mu, mas!"
"Dan sayangnya aku harus berkorban menikahi si Jenny. Wanita bodoh, manja, menyusahkan, dan gak bisa apa apa!" gerutu Joseph.
Ceklek.
"Je- Jenny, ka- kamu ngapain ke sini?"
Hingga aku di pertemukan kembali, dengan bocah yang mampu mengusik hidup ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
...🌻🌻🌻🌻🌻...
Brugh.
Joseph menutup pintu mobilnya kasar, netranya mengedar seiring dengan kerutan yang tampak di keningnya. Lantaran ia gak menemukan keberadaan mobil sang istri.
“Kenapa mobil Jenny gak ada? Apa ini salah satu siasat, dia tau aku akan marah besar padanya! Dasar istri licik! Istri gak berguna!” gerutu Joseph, dengan nafas memburu kesal. Melangkah lebar menuju rumahnya.
Krek krek.
“Sial4n! Kenapa pake di kunci sih pintunya!” sentak Joseph, saat dirinya gak bisa membuka pintu rumah.
Dugh dugh dugh.
Joseph menggedor pintu rumah dengan gak sabaran.
“BI! BUKA PINTUNYA, BI! BI YATI! JENNY! BUKA!” teriak Joseph penuh amarah.
“Sial4n! Awas kalian!”
Joseph mengeluarkan kunci mobilnya kembali dari saku celana yang ia kenakan. Dengan pasti, membuka pintu rumah dengan kunci yang ia miliki.
Kesabaran Joseph kembali di uji, saat mendapati keadaan di dalam rumah gelap gulita. Gak ada satu pun lampu yang menyala menerangi ruangan.
“Sialan! Kenapa pake mati lampu sih!” pikir Joseph, mengira listrik di rumahnya padam. Membuatnya terpaksa menyalakan senter dari benda pipinya.
Belum sempat ia melangkah menuju kamar, ponselnya berdering. Nama Karin muncul di layar Joseph.
Tring tring.
^^^[ “Ada apa lagi?” ] umpat Joseph ketus, usai mendekatkan benda pipihnya ke daun telinga kanannya.^^^
Dari seberang telepon, hembusan nafas panjang terdengar. Sebelum akhirnya suara Karin yang manja dengan nada merajuk, terdengar jelas di telinga Joseph.
“A- aku cuma mau memastikan kamu sampai rumah dalam keadaan baik baik aja, sayang! Ja- jangan marah pada ku! A- aku ini sekarang istri mu, loh! Gak salah kan kalo aku memperhatikan suami ku?”
Joseph merendahkan nada suaranya, ia ingin segera mengakhiri pembicaraannya dengan Karin. Namun sayangnya wanita itu menyela.
^^^[ “Momennya kurang tepat, Rin! Aku baru sampai rumah. Nanti aku hubungi ka- “]^^^
“Apa kamu sudah bertemu Jenny? Tolong jangan marahi dia. Kalo kamu marahi dia, dia pasti gak akan mengakuinya, sayang! Dia akan takut pada mu! Kita harus main cantik, sayang! Ancam dia untuk membuat pengakuan, kamu berhak mendapatkan segalanya sayang!” desak Karin.
^^^[ “Aku akan ikuti saran mu! Sudah kan!” ]^^^
“Katakan pada ku, apa kamu sudah menemuinya? Si Jenny?”
^^^[ “Belum, mobilnya gak ada di rumah. Di rumah juga lagi mati lampu.” ] beo Joseph.^^^
Kini suara Karin terdengar panik, “Mobilnya gak ada? Mati lampu? Kamu yakin rumah yang lain juga mati, sayang?”
^^^[ “CUKUP KARIN! Jangan membuat ku tambah kesal dengan pertanyaan bodoh mu itu!” ]^^^
“Bu- bukan gitu maksud ku, mas! Bisa aja Jenny benar gak ada di rumah. Dia menghindar dari amukan mu. Mungkin malam ini dia tidur di apartement miliknya! Bisa jadi kan? Dan gak mungkin juga dia pulang ke rumah orang tuanya.” terang Karin, mencoba membuat Joseph mengerti.
Joseph langsung memutuskan sambungannya sepihak. Membuatnya memblokir nomor Karin tanpa pikir panjang.
“Sialan! Hanya rumah ini yang padam!” umpat Joseph, usai melihat keadaan di luar rumah. Hanya rumah yang ia tempati dengan Jenny yang padam. Sementara rumah yang lain terang benderang.
Tak.
Kini keadaan di dalam rumah terang benderang, usai Joseph menghidupkan stop kontak di salah satu dinding.
Sementara di tempat lain.
“Terima kasih atas makan malamnya, pak bos besar! Tolong perkataan saya dan Lia jangan di ambil hati.” beo Serli, sebelum di antar pulang oleh supir pribadi Jaya.
“Saya akan langsung memecat kalian! Kalo sampai kalian memihak Joseph dan gundiknya itu!” timpal Jaya dengan tegas.
“Saya masih waras, bos! Kalo bisa memilih, saya lebih baik bekerja di kantor pusat sebagai staf biasa. Dari pada harus menjadi sekretaris pak Joseph.” beo Serli.
“Itu namanya kamu cari mati, Ser! Buat sementara waktu, kamu tetap kerjakan tugas mu seperti biasa. Selebihnya biar pengacara papa yang urus.” timpal Jenny.
“Yakin kamu hanya mengandalkan om Rendra? Biar tua gini, papa mu masih memegang penuh kendali perusahaan pusat, Jen!” Jaya menunjukkan kepalan tangannya di depan yang lain dan juga Jenny.
Jenny menggandeng lengan Jaya, dengan senyum sumringah, “Papa pastinya, yang paling utama Jen andalkan! Hehe!”
‘Kenapa aku merasa iri melihat kedekatan Jenny dan om Jaya? Bukan kah wajar, seorang anak bersikap manja pada ayahnya?’ pikir Alan, dengan pandangan yang sulit di artikan. Namun tetap menyimak percakapan yang lainnya.
Bak kompor, Lia ikut angkat suara. Dengan penuh semangat, “Jujur nih bos besar! Jangankan saya dan Serli, bos! Sebagian besar karyawan di kantor, pasti akan memihak bu Jenny.
Karin itu bukan tipe wanita baik, dia cuma mengandalkan hubungannya dengan pak bos Joseph, selain marah marah dan memerintah kami seenaknya. Gak ada kelebihannya.”
“Udah malam. Mending kalian cepat masuk mobil, biar pak Eko bisa langsung antar kalian pulang.” tegur Jenny pada Serli dan Lia.
Mobil yang membawa Serli dan Lia dengan pasti meninggalkan kediaman Jaya. Menyisakan Jaya, Jenny dan Alan di depan teras rumah.
Jenny mengerdik kan dagunya, menatap sinis Alan.
“Kamu tunggu apa lagi, bocah? Jangan bilang kamu masih betah berada di rumah papa saya!” ketus Jenny.
“Jenny!” tegur Jaya penuh penekanan.
“Betah bangat malah! Kalo di perbolehkan, saya mau bermalam di rumah om! Apa boleh?” tanya Alan tanpa pikir panjang dengan wajah seriusnya.
Jenny membola, berseru dengan nada gak santai pada Alan, “Astagaaa, kamu nih bocah! Ngelunjak ya! Baru ketemu, udah numpang makan malam, dan sekarang mau bermalam? Setelah itu apa lagi yang kamu ingin kan dari papa saya hah?”
Alan mengerutkan keningnya, seakan gak ada yang salah dengan perkataannya. Ia menjawab dengan kelewat santai.
“Apa lagi? Kan saya udah jelasin tujuan saya datang ke rumah om Jaya untuk apa! Lupa ya mbak cantik?”
Jenny mencengkram udara dengan ke dua tangan terangkat di depan wajah Alan, “Kamu nih ya! Dasar bocah gak punya malu! Nyebelin tau gak!”
“Sudah sudah, Jen! Alan ini tamu papa! Bukan tamu kamu! Kamu masuk sana! Istirahat! Besok hari mu akan jauh lebih berat dari sekarang!” Jaya mendorong punggung Jenny, memintanya masuk ke dalam rumah.
Jenny merengek, dengan kepala menoleh ke arah Jaya, “Tapi pah…!”
“Masuk! Istirahatkan tubuh dan pikiran mu!” titah Jaya tegas, membuat Jenny gak bisa lagi berkutik.
“Mimpi indah, mbak cantik! Jangan lupa mimpiin saya ya!” goda Alan dengan tangan melambai.
Jenny mengibaskan rambutnya ke belakang, tanpa menghentikan langkahnya menuju ke dalam rumah.
“Bisa mimpi buruk saya yang ada, kalo sampe kamu masuk dalam mimpi saya!” ketus Jenny.
Grap.
Jaya mencengkram bahu Alan, menatapnya tajam, “Kamu serius ingin mendekati putri om?”
“Dua rius malah om!”
“Selesaikan dulu sekolah mu! Pendidikan mu! Dan kamu coba rebut perhatian putri om dari mantan suaminya.” celetuk Jaya tanpa saringan.
Alan tersenyum lebar, netranya menatap ke arah balkon. Tepat di kamar Jenny berada.
“Saya sudah mendapatkan perhatiannya, om! Om gak liat, mbak Jenny kesal sekali melihat saya berada di sekitarnya? Pasti gak lama lagi, dia jadi terbiasa. Dan akan merasa kehilangan kalo gak ada saya di sisi nya!” terang Alan dengan yakin.
Jaya mengikuti arah pandangan Alan, tampak siluet bayangan yang baru aja menjauh dari balkon.
“Om belum menguji mu sebagai calon mantu, Lan!”
Alan mengalihkan pandangan nya, menatap serius Jaya, “Apa pun ujiannya, Alan pasti bisa melewati ujian yang om berikan!”
“Jadi bermalam? Apa kamu sudah memberi tahukan orang tua mu?” tanya Jaya, mengalihkan pembicaraan.
“Pulang aja, om! Udah malam, Alan pamit pulang ya om!” Alan mencium punggung tangan kanan Jaya.
Deg.
Jaya terpaku di buatnya, ‘Begini rasanya, di hormati anak kandung. Yang selama ini hanya ku dengar perkembangan nya dari orang kepercayaan ku!’
Bersambung...