Aluza, seorang Office girl cantik di Bandara, terjebak dalam kenangan Ivan mantan kekasihnya yang sudah lama meninggal.
Namun di hari pertama Aluza bekerja ia di pertemukan kembali dengan seorang pilot bernama Bara yang wajahnya sangat mirip sekali dengan Ivan
Tapi Bara yang mirip Ivan itu ternyata memiliki kepribadian yang sangat berbeda. Dia kasar, angkuh, dan tidak peduli dengan perasaan orang lain.
Aluza terjebak dalam dilema, apakah dia bisa melupakan Ivan dan jatuh cinta dengan Bara, atau justru Bara akan menjadi racun yang menghancurkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elzaluza2549, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Baru
Keesokan harinya Aluza kembali bekerja jam 4 sore, setelah sampai di bandara ia langsung menuju ruang ganti pakaian.
Namun pada saat ia berada di ruang ganti pakaian ia kembali bertemu dengan wanita yang kemarin, seorang wanita yang katanya tidak bisa bekerja karena nyeri haid.
Wanita itu menghampiri Aluza.“Hay..”Sapanya ramah.
“Kamu...”ia menggantung kalimat nya.
Wanita itu kembali bersuara lalu segera mengulurkan tangannya.“Oh iya kita belum berkenalan, aku Diana. Nama kamu siapa.?”
Aluza menerima jabatan tangan itu.“Aku Aluza..”
“Hay Aluza senang berkenalan dengan mu, dan untuk yang kemarin makasih yah kamu Udah mau bantuin aku..”
“Oh iya sama-sama..terus bagaimana apakah sekarang kamu sudah tidak nyeri haid lagi..?”
Diana tersenyum, "Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik namanya juga haid pertama pasti sakit. sekali lagi makasih ya Aluza. Kamu baik banget deh padahal aku kemarin udah minta tolong sama yang lain tapi mereka gak mau nolongin aku tapi beruntung nya aku ketemu kamu"
Aluza tersenyum kembali, "Iya sama-sama"
“Pokoknya kalau kamu butuh apa-apa ngomong aja yah sama aku pasti nanti aku bantu”
Mereka berdua kemudian melanjutkan berganti pakaian sambil mengobrol membicarakan pekerjaan masing-masing, suasana pun menjadi lebih santai dan nampaknya Diana seorang teman yang asyik dan enak di ajak ngobrol.
Lambat laun pertemanan mereka semakin dekat Bahkan Aluza tak sungkan meminta pertolongan pada Diana.
Diana membantu Aluza dengan senang hati, memberikan saran dan dukungan. Aluza merasa lega memiliki teman seperti Diana di tempat kerja. "Kamu tahu, Aluza, kamu bisa mengandalkan aku kapan saja," kata Diana dengan senyum hangat. Aluza tersenyum kembali, merasa lebih percaya diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bara kembali pulang ke rumahnya setelah dua hari lamanya ia tak pulang karena ada jadwal penerbangan yang begitu padat. Ia pulang kerumah menggunakan mobil keluaran terbaru dan langsung menuju garasi mewahnya. Setelah parkir, dia keluar dari mobil dan mengambil tas dan kopernya dari bagasi belakang. Saat berjalan menuju pintu rumah, dia disambut oleh pembantu rumah tangga yang sudah menunggunya. "Selamat malam Tuan Bara," kata pembantu itu dengan senyum. Bara mengangguk, "malam Bi, bagaimana kabar Mu Bi?”
“Alhamdulilah baik tuan, sini tuan koper nya biar BiBi bawakan,”
Bara menyerahkan kopernya kepada pembantu itu, "Terima kasih, Bi.”Bara berjalan di iringi oleh Bi Ainun dari belakang.
“Kemana yang lain Bi..?”Tanya Bara di saat mereka sudah mulai sampai di ruang utama.
“Nyonya ada pertemuan dengan teman-temannya, Kalau non Keysa menginap di rumah temennya karena kerja kelompok, kalau Pak Bayu sedang ada meeting di luar kota tuan..”
Bara mengangguk, dia memang paham dengan keadaan bahkan seluruh orang di rumah ini yang super sibuk jadi wajar saja mereka jarang bertatap muka karena jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.
“Terus kakek...?”
“Kakek ada di dalam kamarnya tuan..”
“Oke, yasudah Bi Tolong siapkan air panas untuk saya mandi”
"Baik, Tuan.Saya akan siapkan segera," jawab pembantu itu sambil mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya. Bara kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kamar kakeknya.
Pada saat Bara telah sampai di depan pintu kamar kakeknya tanpa ragu Bara mengetuk pintu kamar itu.
tok..tok..tok...
“Kek, apa kakek ada di dalam..?”
Suara kakeknya terdengar dari dalam, "Masuklah, Bara." Bara membuka pintu dan melihat kakeknya duduk di kursi favoritnya menikmati secangkir teh.
Bara menghampiri kakek lalu memeluknya erat.“Bagaimana kondisi kakek sekarang setelah dua hari tidak bertemu dengan ku?”
Kakeknya membalas pelukan Bara dengan hangat, "Kakek baik-baik saja, Bara. Tapi kakek lebih khawatir tentang wanita itu bagaimana apa kamu telah bertemu takdir mu Bar..”
Bara mulai melepaskan pelukannya dan mulai duduk di kursi sebelah kakeknya sambil menghela nafas. Menurutnya kakek memang seperti itu, omongannya selalu tak masuk akal Mungkin saja karena usianya yang semakin tua.
Kakeknya tersenyum, "Apa yang kamu pikir, Bara? kakek tahu kamu selalu bilang jika kakek omongannya tak masuk akal. tapi kakek benar takdir mu sudah dekat Bara, dan takdir mu itu adalah jodoh mu”
"Haha, Kakek,Aku belum siap untuk itu,”
Kakeknya tersenyum lagi, "kakek tahu, tapi kamu tidak bisa menghindar selama-lamanya, Bara."
Bara berdiri lalu berjalan ke pintu keluar seperti nya dia mulai bosan dengan omongan kakeknya "Kakek jangan lupa minum obat yah" katanya dengan nada yang serius.
Kakeknya tidak menjawab, hanya tersenyum dan mengangguk, seolah-olah dia sudah tahu apa yang akan terjadi.