Serka Davis mencintai adiknya, hal ini membuat sang mama meradang.
"Kamu tidak bisa mencintai Silvani, karena dia adikmu," cegah sang mama tidak suka.
"Kenapa tidak boleh, Ma? Silvani bukan adik kandungku?"
Serka Davis tidak bisa menolak gejolak, ketika rasa cinta itu begitu menggebu terhadap adiknya sendiri, Silvani yang baru saja lulus sekolah SMA.
Lalu kenapa, sang mama tidak mengijinkan Davis mencintai Silvana? Lantas anak siapa sebenarnya Silvana? Ikuti kisah Serka Davis bersama Silvani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Keresahan Mama Verli
"Yang benar, Ma? Mungkin dia tidak sengaja dan dia buru-buru mau buang air ke toilet sehingga tidak sempat minta maaf," respon Papa Vero masih berpikir positif.
"Mama tahu mungkin dia tidak disengaja karena jalannya dia buru-buru. Tapi bukan itu yang jadi masalah, Pa. Dia itu sempat natap mama yang sedang mengaduh, tapi anehnya dia tidak merasa bersalah atau minta maaf. Dia lurus saja pergi berlari kecil menuju toilet. Dasar attitudenya jelek. Anak muda tapi tidak punya sopan santun," rutuknya lagi benar-benar sangat dongkol dengan perempuan tadi.
"Ya sudah. Sekarang betis mama masih sakit, nggak?"
"Tadi sakit, tapi sekarang sakitnya justru menjalar ke lutut. Gara-gara perempuan tidak punya sopan santun tadi, lutut mama sakit." Mama Verli terus merutuk sembari meringis, karena kini lututnya terasa sakit.
"Mama ini sepertinya efek pengapuran. Nanti di rumah, jangan lupa minum lagi susu untuk tulangnya, supaya lutut Mama tidak sakit lagi," hibur Papa Vero tidak mau sang istri terus mendumel.
"Silva, mama peringatkan untuk kamu. Sebagai anak muda di manapun berada, yang paling penting yang harus kamu pakai dalam kehidupan sehari-hari adalah adab. Jangan sampai kamu serius dan fokus mendalami ilmu, tapi adab tidak dipakai, mama tidak mau itu," tekan Mama Verli, kini kekesalannya ia tumpahkan dengan menasehati Silva disertai mata yang mendelik-delik.
"Ya, Ma." Silva menyahut pendek.
"Ayo, Pah. Kita pulang saja kalau makannya sudah. Tapi sebelum keluar dari kafe ini, kita hampiri dulu Davis. Mama pengen memperlihatkan kalau perempuan tadi adalah orang yang menendang mama. Kesal mama," ujar Mama Verli masih menyimpan kesal dengan perempuan yang bersama Davis tadi.
"Tapi, Ma." Papa Vero tidak digubris, karena Mama Verli segera bergegas menuju meja yang masih diduduki Davis. Silva dengan cepat menyusul sang mama.
Tiba di meja Davis, Mama Verli langsung berbicara pada Davis.
"Dav, besok setelah pulang kerja, kamu datang ke rumah," titah Mama Verli seraya menatap lurus ke arah Rara, perempuan muda yang tadi tidak sengaja tabrakan dengannya. Perempuan itu menoleh, dengan lipstik di tangan. Karena saat Mama Verli datang, Rara tengah memoles bibirnya.
Rara sedikit terkejut ketika melihat Mama Verli dan Silva datang. Bibirnya sedikit terbuka. Mama Verli sebal melihatnya. Jangankan mau senyum, saat ini yang ada hanya kesal.
"Iya, Ma. Sebentar, Ma," tahan Davis seraya menolehkan tatap ke arah Silva yang sejak tadi tidak berani melihat ke arah Davis dan Rara.
"Ayo, Silva. Jangan lupa, Dav. Besok ke rumah mama. Mama tunggu," ulang Mama Verli seraya membalikkan badan yang dipapah Silva. Terlihat saat berjalan, Mama Verli seperti menahan rasa sakit.
"Baik, Ma," sahut Davis seraya menatap kepergian Silva dan sang mama.
"Siapa itu, Kak?" tanya Rara penasaran.
"Itu, mama kak Davis," jawab Davis masih menatap kepergian Silva dan sang mama.
Rara sedikit tersentak saat Davis menjawab bahwa perempuan tadi adalah mamanya.
"Kita pulang, ini sudah malam. Kamu harus segera kakak antar," ajak Davis.
"Tapi, Kak, aku belum mau pulang. Aku mau ke bioskop dulu, mau nonton," rengek Rara.
"Tidak, Dek. Saya tidak mau kamu kemalaman. Lagipula saya besok harus lebih pagi ke kantor," ujar Davis tidak mau mengikuti permintaan Rara, terlebih dia memang tidak mau mengantarkan Rara kalau kemalaman.
Rara terlihat kecewa, tapi Davis tidak peduli. Dia tidak mau disetir perempuan yang masih baru dikenalnya, apalagi dirinya dan Rara belum pacaran dan hanya sekedar pertemuan pertama.
Davis segera meninggalkan kafe itu diikuti Rara, setelah ia membayar bill.
***
Mobil Papa Vero sudah tiba di rumah. Mama Verli dan Silva segera keluar dari mobil. Saat memasuki rumah, Mama Verli masih di papah Silva, karena jujur saja lututnya jadi sakit gara-gara kena tendangan tidak sengaja dari perempuan yang bersama Davis tadi.
"Ibu, kenapa kakinya, Bu?" sambut Bi Acah heran.
"Bi, tolong buatkan susu kalsium punya saya. Lutut saya sakit," titah Mama Verli sembari duduk di sofa ruang tamu.
Bi Acah patuh dan segera bergegas menuju dapur. Tidak berapa lama Bi Acah sudah datang dengan segelas susu kalsium pesanan Mama Verli.
"Ini susunya Bu." Bi Acah meletakkan gelas itu di atas meja di depan Mama Verli. Silva yang sejak tadi masih setia menunggui sang mama, kini pikirannya kembali pada Davis dan Rara tadi. Hatinya kembali terasa sedih melihat Davis bersama Rara. Entahlah ini rasa apa, yang jelas saat melihat Davis bersama Rara tadi, Silva seakan tidak memiliki keberanian menyapa Davis seperti biasanya. Davis baginya sudah menjauh.
Mama Verli meraih gelas susu yang kini sudah tidak terlalu panas seperti tadi, lalu susu itu segera diteguknya.
"Sudah minum susunya, Ma?" Papa Vero masuk setelah selesai menyimpan mobilnya ke garasi.
"Sudah, Pa."
"Ya sudah, sebaiknya Mama ke kamar saja. Ayo, biar papa yang antar." Papa Vero mengangkat lengan Mama Verli lalu memapahnya menuju kamarnya.
Sepanjang menuju kamar, Mama Verli masih saja mengungkit kejadian tadi di kafe Delicious. Dia berulang-ulang kali mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap perempuan muda yang bersama Davis tadi.
***
Besoknya menjelang, Mama Verli kini sedang menantikan kedatangan Davis yang kemarin malam ia suruh datang ke rumah. Sayang sekali, Davis belum datang juga. Sehingga satu pesan muncul dari Davis yang memberitahukan kalau dia hari ini tidak bisa datang ke rumah karena ada suatu kegiatan.
"Kegiatan, kegiatan apa yang Davis maksud? Jangan-jangan dia bertemu lagi dengan perempuan yang kemarin itu. Mama tidak setuju Davis dengan perempuan itu. Mama tidak suka," dengusnya dengan wajah berang.
"Papa, ini gimana dengan Davis. Seandainya dia jadian dengan perempuan tadi malam? Mama tidak mau, Pa. Mama tidak suka perempuan yang tidak punya sopan santun seperti itu. Pokoknya kalau Davis datang dan meminta restu, mama tidak akan merestuinya. Kalau dia memaksa, maka Davis harus langkahi mayat mama dulu," sungutnya emosi.
"Ya ampun, Mama. Jangan bicara seperti itu. Davis juga belum tentu menjalin hubungan serius dengan perempuan itu. Davis juga bukan tipe yang mudah jatuh cinta. Kita biarkan dulu Davis mencari pasangan yang benar-benar srek di hatinya. Papa yakin, Davis juga tidak akan sembarangan menentukan pasangan. Mereka sepertinya masih penjajakan dan belum jadian," sergah Papa Vero berusaha meredam emosi sang istri.
"Mama doakan tidak berjodoh dengan perempuan itu. Belum jadian saja, sikapnya tidak ramah dan tidak sopan. Gayanya juga mama tidak suka. Papa tahu, saat mama dan Silva mendatangi mejanya, perempuan itu dengan santainya sedang memoles bibirnya di depan Davis. Muak mama lihatnya," dumel Mama Verli mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan perempuan yang duduk satu meja dengan Davis di kafe Delicious.
akhirnya direstui juga...
nunggu Davis tantrum dulu ya ma
berhasil ya Davis 😆😆😆👍👍