Kata orang menikah adalah ibadah terpanjang. Betul itulah yang dirasakan Elmira. Masalahnya pernikahan yang dia rasakan bukan tentang bahagianya tapi tentang sakit hati saja. Selama 15 tahun menikah..selama itu pula suaminya berselingkuh.
"Maaf..maafkan aku sayang...aku berjanji kan menjadi suami yang lebih baik lagi untukmu"
Akankah Elmira memberi kesempatan lagi saat suaminya telah jauh melewati batas? Ataukah harus menjauh pergi menyambut cinta lain yang menunggu di depannya?
Ini karya pertamaku..dan ini tidak mudah..mohon dukungan dan sarannya yaa..terima kasih..I love u🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElHi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memulai Misi
Tak lama pintu terbuka. Elmira pun menahan nafasnya bingung mau bagaimana.
"Kamu datang El, ayo masuklah," Jeffry yang membuka pintu tersenyum melihat sosok yang dia harapkan berdiri di depan pintu unitnya sambil membawa rantang makanan.
"Mmm...maaf pak kalau mengganggu. Ini..ini saya tadi sudah masak sedikit kalau berkenan Bapak bisa cicipi," Elmira menjawab dengan menunduk.
"Kenapa harus cicipi, harusnya yang benar "Habiskan." Kan saya sudah bilang kita makan bersama. Kamu mau kan El? Ayo masuk," pinta Jeffry.
"Iya baiklah pak," Elmira akhirnya setuju. Dia masuk ke dalam unit apartemen Jeffry. Dia tidak ingin terlihat memalukan dengan melihat-lihat interior ruangan. Tetapi matanya menangkap suasana ruangan yang tercipta begitu nyaman dan maskulin sekali. Hanya ada nuansa warna hitam dan putih perabotannya.
"Kamu bisa letakkan makanannya di meja makan sebelah sana, silakan," tawar Jeffry.
"Baik pak," jawab Elmira dengan bergegas menuju ruang makan yang ditunjukkan Jeffry.
Selagi Elmira mengeluarkan makanannya dari rantang, Jeffry langsung membantunya menyiapkan piring, sendok dan minumannya.
"Wah, harumnya. Apa yang kamu masak ini El?" tanya Jeffry spontan karena sepertinya lezat dan terlihat menarik.
"Hanya masakan rumahan biasa pak. Saya masak capcay, mie goreng, udang goreng tepung dan ayam ukep. Maaf ya kalau tidak sesuai ekspektasi bapak. Saya tidak bisa masak makanan ala Fine-Dining restaurant pak," pasrah Elmira.
"Justru saya suka masakan rumahan El. Lebih menggugah selera dan gak bikin gampang bosen. Kelihatan lezat nih. Yuk kita makan," ajak Jeffry.
Mereka terlihat makan bersama dengan lebih santai. Baru suapan pertama Jeffry sudah diam tidak mengunyah dan terlihat kaget.
"Kenapa pak? Ada yang salah kah? Pedas? Tapi saya tidak pakai cabe sama sekali kok. Pak Jeffry?" bingung Elmira.
"Percaya gak sih kamu. Ini makanan pertama yang sangat pas di lidah dan selera saya sejak ibu saya berpulang tiga tahun lalu. Rasanya seperti mimpi makan masakan seperti ini lagi. Persis sekali dengan buatan ibu dulu. Enak pake buanget," senyum Jeffry kepada Elmira.
"Ohh..begitu ya pak? Syukurlah kalau bapak suka. Saya khawatir Bapak kenapa-napa tadi...huh....," jawab Elmira lega sambil menghembuskan nafas.
"Lagian kamu itu kenapa sih saya belum selesai ngomong, selalu berpikir dan menyimpulkan yang tidak-tidak. Sudah begitu, salah pula yang kamu pikirkan," protes Jeffry.
"Lha salah siapa juga, kita kan juga menebak gesture seseorang pak. Bapak kelihatannya mukanya aneh saat bicara. Saya bisa artikan bapak tidak suka kan?" jawab Elmira.
"Masak sih aneh? Sok tau kamu ah. Muka tampannya begini kok dibilang aneh," Jeffry membela diri.
"Kan saya bilang saat bicara pak. Maksudnya saat Bapak mau komentari sesuatu itu ekspresi mukanya seperti aneh gitu," El tidak mau kalah.
"Berarti, kalau saya tidak sedang bicara muka saya tampan ya? Tampan atau tidak El?" Jeffry coba menggelitik El.
"Eh.....anu pak...i..iya deh Bapak tampan. Bilang saja itu kan yang bapak mau dengar?" Elmira menyerah.
"Pinter! Gitu donk, hahahahha...." Jeffry senang bisa menggoda El.
El pun malu bukan main. Tersenyum bingung sendiri dan tidak berani menatap Jeffry.
Mereka akhirnya melanjutkan makan hingga 30 menit berikutnya. Semua tandas pindah ke perut. Elmira hanya makan capcay dan ayam gorengnya. Itupun hanya sepotong saja.
Sedangkan Jeffry? Jangan tanya lagi. Semua makanan yang ada di piring dia pindahkan semua ke perutnya. Tak henti-hentinya dia makan sambil memuji masakan Elmira.
"Dari 1 to 10, masakan kamu 10 nilainya El. Apalagi ayamnya 12 deh," puji Jeffry saat suapan terakhirnya.
"Makasih banyak ya sudah sempatin masak buat saya El. Kamu sudah lulus..cocok kok." lanjutnya.
"Cocok? Cocok apa maksudnya pak?" tanya Elmira merasa kalimat Jeffry tak jelas dan menggantung.
"Cocok untuk dijadikan ISTRI IDAMAN."
----------BERSAMBUNG---------