Akibat mengintai sang ayah yang dicurigai selingkuh, Freya justru berakhir di kamar hotel bersama seorang Pria. Namun, siapa sangka jika semua ini hanya jebakan agar Freya menerima perjodohan bisnis dari keluarganya. Lantas, bagaimanakah Freya menjalani pernikahannya, sedangkan Freya sedang memperjuangkan teman satu kampusnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tie tik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saksi Bisu Kamar Sederhana
"Astaga, ternyata di sana sedang hujan," gumam Alexander setelah mengakhiri panggilan bersama Freya. "Lebih cepat, Pak. Kita harus segera sampai."
Raut wajah pria tampan itu terlihat resah. Dia sangat khawatir dengan keadaan Freya. Apalagi, setelah mendengar isak tangis istrinya itu, Alexander semakin cemas. Dia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Sebelumnya, dia tidak memperhitungkan masalah kecil ini. Mengingat saat ini sedang musim kemarau. Rasa sesal pun semakin menyiksa diri.
"Apakah tidak ada jalan lain?" tanya Alexander saat mobilnya terjebak macet di perbatasan kota.
"Saya sedang mencari rute tercepat melalui maps," ucap sopir pribadi Alexander itu sambil menatap layar maps.
Pada akhirnya setelah menempuh perjalan beberapa puluh menit lamanya, mobil SUV hitam itu memasuki perkampungan. Hujan deras masih mengguyur kawasan tersebut. Angin serta guntur yang menggelegar pun masih terdengar nyaring. "Silahkan Bapak kembali. Nanti akan saya hubungi lagi jika ada sesuatu yang genting." Setelah mengucapkan pesan tersebut, Alexander segera keluar dari mobil yang terparkir di halaman rumah. Sebagian jasnya basah karena Alexander tidak menggunakan payung.
"Freya," panggil Alexander setelah berada di dalam rumah. Dia mengayun langkah menuju kamar.
"Freya, kamu di mana?" tanya Alexander setelah berada di dalam kamar yang gelap gulita. Dia hanya melihat ponsel Freya tergeletak di lantai dengan keadaan senter menyala.
"Aku di sini, Al." Suara lirih Freya terdengar dari arah almari. "Aku takut."
Alexander segera menghampiri pusat suara istrinya. Dia membuka pintu almari yang tidak terkunci itu. Sebenarnya Alexander ingin sekali tertawa lepas melihat kelakuan konyol istrinya, tetapi ditahannya. Bagaimana bisa, Freya bersembunyi di dalam almari. Beberapa pakaian yang tertata di hanger berserakan di lantai.
"Kenapa kamu bersembunyi di sini? Ayo keluar," tanya Alexander seraya mengulurkan tangannya. Lantas, dia menuntun Freya hingga naik di atas tempat tidur.
"Aku sangat takut. Aku mau pulang, Al. Aku gak mau tinggal di sini lagi," ujar Freya seraya memeluk Alexander dengan erat. "Bajumu basah?" Freya meraba dada bidang suaminya.
"Sedikit. Tadi aku tidak memakai payung saat keluar dari mobil," jelas Alexander seraya mengusap rambut Freya. "Sebentar, biar aku lepas dulu kemejanya." Alexander mengurai tubuh Freya dan setelah itu melepas kemejanya.
Kini, pria taman itu bertelanj4ng dada. Dia kembali merengkuh tubuh Freya dan tak henti menenangkan Freya. "Sudah jangan takut lagi, sekarang aku sudah bersamamu di sini," ucap Alexander tanpa melepaskan dekapannya.
Hujan seperti tak kenal lelah. Semakin malam rintik hujan semakin deras. Freya masih terjaga dan tetap pada posisinya. Dia berada dalam dekapan hangat Alexander. Tentu suasana di sana terasa lebih hangat karena Freya mulai melupakan ketakutan yang sempat mendera. Sesekali dia tertawa saat mendengar cerita dari Alexander.
"Ternyata kalau hujan rasanya dingin dan tidak nyaman ya di rumah ini," gumam Freya setelah tidak ada pembahasan lagi.
"Jadi bagaimana? Lebih enak kehidupan kita atau hidup menjadi orang sederhana tanpa tuntutan apapun?" tanya Alexander.
"Aku lebih memilih hidup seperti dulu saja. Ternyata aku lebih bahagia hidup di rumah yang dulu dengan segala kenyamanan dan fasilitas yang ada. Aku menyerah," ucap Freya.
Alexander tersenyum tipis mendengar ucapan Freya. Meski harus memaksakan diri berada di rumah ini, pada akhirnya Alexander berhasil mengubah pikiran naif Freya. "Itulah alasannya kenapa aku mengajakmu tinggal di rumah ini. Aku ingin kamu bersyukur atas apa yang sudah kita miliki. Rumah kecil ini adalah sebagian mimpi para tunawisma. Sedangkan yang sudah memiliki rumah seperti ini, ada yang merasa cukup dan ada pula yang menginginkan hal lebih. Banyak sekali yang terobsesi menjadi kaya raya hingga melakukan segala cara. Lalu, kenapa kita yang sudah memiliki segalanya, justru bermimpi menjadi mereka? Tuntutan dan segala yang ada dalam keluarga kita hanyalah hal kecil yang tidak mengenakan di hati. Aku ingin kamu lebih bersyukur karena Tuhan telah menggariskan hidupmu menjadi orang terpandang."
Freya menengadah setelah mendengar penjelasan panjang dari suaminya itu. Dia mengembangkan senyum tipis karena kagum dengan tutur kata yang bijak dari Alexander. Tatapan mata keduanya saling bersirobok meski dalam gelapnya suasana malam tanpa penerangan.
"Ternyata kamu bijak juga ya? Aku gak menyangka loh jika kamu bisa mengatakan nasihat yang baik. Aku pikir mulut ini hanya bisa memaki, mengolok dan memarahiku," ucap Freya seraya menempelkan jari telunjuknya di bibir Alexander.
Alexander membuka bibir hingga membuat Freya menjauhkan jari telunjuknya karena takut digigit. Sementara Alexander menatap manik hitam Freya lebih lekat. "Kamu hanya belum mengenalku lebih dalam lagi, Freya," gumam Alexander seraya mengusap pipi Freya.
Freya terpaku setelah mendapat perlakuan manis dari Alexander. Dia hanya bisa menelan ludah tatkala Alexander semakin mendekatkan wajah. Sungguh, suasana seperti ini membuat Freya bingung. Dia tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa. Gadis cantik itu hanya bisa menutup kelopak matanya saat embusan napas Alexander terasa di kulit wajahnya. Persekian detik kemudian, tiba-tiba saja Alexander memberikan kecupan mesra di bibir Freya.
Nyonya muda Adiwijaya itu hanya bisa pasrah. Dia terbawa suasana dan hanya bisa mengikuti isi hatinya. Malam ini logika tak lagi menguasai, hanya naluri dan isi hati yang menuntun Freya untuk mengikuti segala yang dilakukan Alexander. Beberapa kali Freya mendesis saat merasakan cium4n panas dari suaminya itu.
"Freya, aku menginginkanmu." Suara Alexander terdengar berat. Sepertinya pria tampan itu sudah berada dalam puncak hasrat.
Alexander semakin intens menyentuh Freya saat tak mendengar sepatah katapun dari istrinya itu. Kebungkaman Freya dianggap sebuah persetujuan oleh Alexander. Pria tampan itu mulai menanggalkan satu persatu pakaian yang melekat di tubuh istrinya itu. Tubuh yang putih dan mulus terlihat jelas meski dalam kegelapan malam.
"Jangan ditahan, lepaskan saja," bisik Alexander saat mendengar sesuatu yang ditahan oleh Freya.
Lenguhan panjang mulai terdengar di kamar itu. Alexander terus bermain-main sebelum menguasai surga yang ada dalam kungkungannya. Rasa dahaga akan kenikmatan yang sempat terabaikan, kini telah kembali dirasakan. Suara manja Freya semakin mengobarkan semangat dalam diri.
"Hah!"
Freya tersentak dan reflek menyilangkan tangan di atas dada saat lampu kamar tiba-tiba menyala. Sepertinya pemadaman telah berakhir. Freya mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar yang terang itu dan berakhir pada wajah yang sangat dekat dengannya itu.
"Aku malu," gumam Freya seraya memejamkan mata. "Aku ... aku ... ak—" Freya tak melanjutkan ucapannya karena Alexander kembali membungkam mulutnya dengan cium4n.
Malam itu, Freya menyerahkan seluruh hidupnya kepada Alexander. Rintih kesakitan serta bulir air mata mengiringi penyerahan mahkota yang selama ini dijaga Freya. Kamar sederhana itu menjadi saksi bisu, betapa berkuasanya Alexander atas tubuh istrinya. Suara lenguhan seakan saling bersahutan dengan guntur yang menggelegar.
"Terima kasih, Freya," bisik Alexander setelah kegiatan panas itu selesai. Dia mengecup kening serta bibir Freya beberapa kali sebelum membaringkan tubuh di sisi Freya.
...🌹TBC🌹...
...Mohon maap baru update. Kemarin sibuk perdagingan🙂...
terima kasih buat karya2 terbaiknya,,sukses selalu
Selamat buat Alex sama Freya,,baby boy sudah lahir jadi pelengkap kebahagiaan keluarga kecil mereka