Jameela Iskandar , seorang putri dari konglomerat kaya raya, dia wanita yang cantik , baik hati , juga sukses dalam karir.
Dirga Wijaya, seorang CEO kondang , pebisnis muda yang sukses . tampan , mapan , idaman semua wanita .
Dirga dan Jameela menikah karena saling mencintai, bukan karena perjodohan bisnis . Dirga sangat menyayangi dan mencintai Jameela begitu besar . hingga rasa cinta itu merubahnya menjadi sosok yang posesif.
pada awslnya punya suami posesif memang membuat hati wanita tersanjung , tapi ternyata posesif nya tak selamanya membawa bahagia
karena kelewat posesif nya menjadikan dia cemburu buta dan bertindak berlebih .
sehingga karena cemburu buta itu , berubah menjadi kemarahan tanpa dasar , dan jatuhlah talak tiga dari mulut Dirga
Dirga menyesali nya dan ingin rujuk kembali
bisakah keduanya bersatu kembali
lalu bagaimana dengan tanggapan dari orang tua Jameela, relakan mereka melepas putrinya kembali
ikuti kisahnya dalam
Talak Tiga Suamiku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ingatan tentang......
Sementara itu, di sebuah rumah sakit swasta terkenal...
"Mil, cari makan yuk!" seru Imelda, salah seorang rekan sejawatnya, yang tiba-tiba membuka pintu tanpa permisi. Sungguh kebiasaan yang buruk.
"Aku lagi mager nih. DO aja deh!" sahut Mila, kemudian merebahkan dirinya di sofa. Ruang kerja Mila memang didesain layaknya ruang pribadi, dengan perabot yang lumayan lengkap. Imelda pun melakukan apa yang Mila ucapkan. Tak lama, dia mengotak-atik ponselnya. Seorang pelayan kantin datang mengantar pesanan mereka.
"Ish, kok kalian makan nggak nungguin aku sih?!" seru Ratih yang baru saja datang.
"Ya udah, ikut makan sini aja lagi, toh banyak juga ini makanannya. Dan aku juga lupa kalau tadi bawa bekal dari rumah!" seru Mila, seraya mengambil kotak bekal yang tadi diletakkannya di atas kulkas mini yang ada di ruang kerjanya.
"Tumben tadi lo nggak diantar bodyguard elo, Mil?!" Imelda mengutarakan rasa penasarannya. Karena tadi pagi melihat Mila naik mobilnya sendiri, setelah dalam kurun waktu satu bulan dia terbiasa melihat Mila diantar jemput oleh suaminya. Itu tentu patut dipertanyakan.
"Ya nggak papa sih. Katanya memang lagi ada sedikit problem di perusahaan, jadinya dia buru-buru berangkat!" jawab Mila memberikan alasan yang sebenarnya.
"Eh Mil, ngomong-ngomong gue penasaran deh... em... itu...!" Ratih menghentikan ucapannya, karena merasa sedikit ragu.
"Apaan sih? Ngomong yang jelas deh, am em am em nggak jelas lo!" ucap Mila sambil menyuapkan sesendok salad buah dan sayur, bekal yang dibawanya dari rumah, ke dalam mulutnya.
"Em... itu, gue penasaran, ngomong-ngomong, setelah sebulan lebih lo nikah sama Agung, menurut lo antara Agung sama Dirga, yang mana yang lebih sayang ke elo?!" Ratih memelankan suaranya di akhir kalimat. Sebenarnya dia takut Mila tersinggung.
"Uhuk uhuk...!" Pertanyaan dari Ratih membuat Mila otomatis tersedak oleh salad buah yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.
"Minum, Mil!" Imelda spontan mengulurkan gelas minumnya kepada Mila. Dan Mila pun menerimanya lalu menenggak isi gelas itu hingga habis tak tersisa.
"Elo rese amat sih, Tih...!" omel Imelda. Dia merasa kasihan kepada Mila yang mukanya menjadi merah. Pasti tenggorokannya terasa sakit.
"Yee, gue kan cuma penasaran aja. Secara kalau diamati lebih jelas, pembawaan Agung itu kelihatan lebih tulus daripada si Dirga. Menurut aku, si Dirga itu cuma menang di uang aja sih, dibandingkan Agung."
"Bukannya apa-apa, tapi mengingat dia yang memang terlahir dengan sendok emas di mulut, jadi mungkin dia berpikir segalanya bisa beres dengan uang. Jadi mungkin dengan menggelontorkan banyak materi ke elo itu dia pikir sudah cukup sebagai bentuk kasih sayang. Kata-kata aku ini benar kan, Mil?! Tapi maaf sebelumnya ya kalau kamu nggak suka sama penilaian aku," tanya Ratih panjang lebar. Dia merasa benar dengan persepsinya sendiri.
Wajah Mila semakin memerah. Bukan karena efek dari tersedak yang tadi, akan tetapi efek dari pertanyaan Ratih, karena dia merasa ucapan sahabatnya itu tidak sepenuhnya salah. Itu membuatnya menyadari betapa besar kasih sayang Agung padanya.
"Tolong jangan tersinggung sama yang aku ucap ya, Mil!" ucap Ratih dengan menangkupkan dua tangannya di depan dada, membuat Mila semakin nggak bisa berkata-kata.
"Itu cuma feeling kita-kita aja, Mil, kalau Agung menyayangimu lebih besar daripada Dirga. Dan kita juga ngerasa kalau Agung itu memang benar-benar tulus sama kamu?!" Imelda ikut menimpali.
Ya Tuhan, wajah Mila terasa panas. Kenapa bahasannya jadi tentang Agung dan Dirga... Mila jadi teringat tentang beberapa malam yang lalu.
Flashback Mila dan Agung
Malam itu, Mila dan suaminya baru saja pulang dari acara keluarga di tempat saudara Nyonya Monica.
"Kamu mandi duluan deh, Gung!" seru Mila lalu merebahkan tubuhnya di sofa. Dia ingin istirahat dulu sebelum mandi.
"Baiklah!" jawab Agung. Lalu bergegas ke kamar mandi. Terakhir mereka mandi adalah sebelum berangkat ke acara, sekitar jam satu siang. Dan sekarang sudah hampir jam dua belas malam. Tentu tidak enak rasanya kalau tidur tanpa mandi dulu setelah seharian lelah dan tentu juga berkeringat.
Sepuluh menit kemudian, Agung telah keluar dari kamar mandi, tetapi terlihat olehnya Mila malah sudah tertidur di sofa. Agung ingin membangunkannya, akan tetapi dia merasa kasihan melihat wajah istrinya yang terlihat begitu lelah. Akhirnya Agung pun berinisiatif untuk menyeka tubuh istrinya dengan air hangat.
Secara perlahan, Agung memindahkan tubuh istrinya dari sofa dan meletakkannya di atas ranjang. Hati-hati sekali Agung melakukannya, agar jangan sampai istrinya terbangun karena terganggu tidurnya.
Setelah itu, Agung mengambil wadah kecil yang tersedia di kamar mandi, dan juga handuk kecil serta mengambil air hangat dari shower. Dibubuhkannya sedikit aroma terapi pada air hangat tersebut, dan dibawanya untuk membersihkan tubuh istrinya.
Pelan-pelan sekali, Agung membuka satu persatu pakaian yang melekat di tubuh istrinya. Lalu menutup tubuh sang istri dengan selimut, agar tidak terkena dinginnya AC yang menerpa. Dia tidak mau istrinya itu jatuh sakit.
Secara perlahan, Agung mengusapkan handuk basah yang telah diperasnya untuk membersihkan tubuh istrinya. Dimulai dari wajahnya, untuk membersihkan make up-nya. Pelan sekali, berharap agar istrinya itu tidak terbangun karena perbuatannya.
Setelah itu, Agung juga membersihkan badan istrinya sedikit demi sedikit, dan dengan gerakan yang teramat pelan, agar sang istri tidak terganggu tidurnya. Tampaknya sang istri memang benar-benar lelah hingga tidak terusik sedikit pun.
Agung begitu telaten merawat sang istri. Baginya itu sudah biasa, bukan hal yang sulit. Karena sebelumnya Agung juga terbiasa merawat ibunya yang sedang sakit, yang bahkan tak bisa beranjak dari tempat tidurnya.
Setelah selesai, Agung segera memakaikan pakaian baru yang bersih untuk istrinya, agar istrinya nanti lebih pulas tidurnya jika badannya terasa segar.
"Selamat malam sayang. Mimpi indah ya!" ucap Agung sambil mengecup kening istrinya penuh kasih sayang. Setelah itu dia menyelimuti tubuh istrinya, dan dia pun segera ikut berbaring di samping istrinya.
Dia juga lelah, dan dia juga ingin segera beristirahat dan pergi ke pulau mimpi, berharap bertemu dengan ibunya dalam mimpi, agar dia bisa menceritakan kebahagiaannya kepada sang ibu.
Kebahagiaannya yang dulu selalu menjadi topik utama dalam doa yang selalu dilangitkan di setiap malam oleh sang ibu. Kini doa sang ibu telah terkabul, tapi sayang sang pemanjat doa justru tak lagi bisa melihat hasil dari doanya.
Agung meraih kepala Mila lalu meletakkannya di atas bahunya. Wajah keduanya menempel. Tatapan Agung memandang langit-langit kamar. Tampak sesosok wajah di sana, sedang tersenyum ke arahnya.
"Apa kabarmumu di sana, Ibu? Lihat! Di sini putramu sudah bahagia. Doamu sudah terkabul, Ibu. Aku bahagia, dan Ibu juga harus bahagia ya!" ucap Agung meski hanya dengan suara yang lirih. Karena dia tentu tak mau sang istri terbangun jika dia berisik.
Sosok wajah di sana terlihat membalas senyumannya, lalu melambaikan tangannya sebelum kemudian menghilang.
Agung mengusap sudut matanya yang tanpa sadar sudah basah.
"Aku mencintaimu sayang! Kuharap kau bisa bahagia di sampingku," ucap Agung sambil mengecup ubun-ubun istrinya, kemudian mendekapnya erat dan dia pun tertidur. Tanpa dia sadari, sedari tadi istrinya itu terjaga, dan dia begitu terharu dengan kasih sayang sang suami.
"Aku juga mencintaimu, Mas!" ucap Mila lalu memasukkan dirinya lebih dalam pada pelukan sang suami.