Setiap pernikahan mengharapkan kebahagiaan. Namun, tidak dengan pernikahanku.
Siapa sangka. Pernikahan yang kuanggap pemujaan ternyata semu belaka. Ucapan talak di depan rumah pojok dari bibir mas Akbar menyadarkanku arti diriku selama setahun ini.
Hujan belati menusuk hatiku, dengan penghianatan suami beserta sahabat baikku.
"Kamu hanyalah penebus hutang judi ku. Tidak lebih!"
Sesak, hingga gelap menyapa. Ketika kesadaran ku kembali, kertas putih menyambut dunia malang ku.
"Pilihanmu hanya dua, menjadi istri siri atau menjadi wanita malam!"
Hitam di atas putih. Kini hidupku hanya untuk menjadi penebus hutang mantan suamiku.
Sanggupkah Ara menjalani hidup sebagai istri siri pria asing? Apakah hidup Ara akan selalu dibawah kekuasaan orang lain?
Ikuti kisah perjuangan Ara mencari kebahagiaan sederhana dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: SURAT TERAKHIR SIFANI
Selembar kertas lipat di tangan kanan sang kakak, membuat Alkan menaikkan satu alisnya. "Apa maksud, kakak? Lalu, kertas apa yang kakak pegang?"
"Surat terakhir dari Sifani." jawab Papa Angkasa.
Tatapan Alkan berubah drastis. Pancaran cinta bercampur rindu terlihat nyata. Tidak ada keraguan akan cinta dihati adiknya, dan itu membuat Angkasa merasa bersalah. Namun, sudah waktunya sang adik mengetahui kebenaran tentang wanita yang selalu menjadi pujaan hati selama bertahun-tahun hingga melajang tanpa mau memiliki teman wanita sekalipun.
"Bacalah! Kuatkan hatimu, dan ingatlah kakak selalu ada untukmu." Angkasa memberikan kertas putih itu ke dalam genggaman tangan Alkan, lalu berdiri. "Maafkan, kakak sekali lagi. Seharusnya semua berakhir dua puluh lima tahun lalu, tapi kakak tidak bisa merenggut semangat hidupmu."
"Ka?" panggil Alkan tak paham kenapa sikap sang kakak sangat aneh.
Angkasa melangkahkan kaki menjauhi ranjang, membuat Alkan mengalihkan tatapan matanya ke surat di dalam genggaman tangannya. Tiba-tiba saja ada rasa cemas menyusup ke dalam hati, tapi rasa tak sabar akan basuhan rindu menghilangkan keraguan yang menyergap. Detak jantung berdetak lebih cepat dengan tangan gemetar membuka lipatan kertas.
...----------------...
Dear Mas Alkan,
Assalamu'alaikum, Mas.
Disaat surat ku sampai pada tangan yang tepat. Mungkin kehidupanku bukan lagi milikku. Andai aku bisa memilih, aku pasti berlari menemuimu dan mengatakan semua isi hati ku tanpa bantuan huruf yang kini terbakar dalam emosiku.
Sejak pertemuan pertama kita, aku jatuh hati padamu, dan hanya kamu yang mengubah dunia hampaku menjadi penuh warna. Setiap waktu terasa indah saat bersamamu, aku tidak pernah membayangkan akan mendapatkan cinta sebesar itu dari seseorang yang kucintai.
*Cintamu mengajarkan aku arti berjuang, dan mempertahankan. Apa dayaku ketika takdir berkata lain, mas. Maafkan aku, andai semua ada ditanganku. Aku akan datang padamu mengatakan *Aku sangat mencintaimu Mas Alkan**.
Suara hatiku bergema di dalam seluruh bilik detak jantungku. Apa kamu tahu, setiap malam ku hanya berdoa agar kita bisa bersama. Namun, takdir berkata jodohku bukanlah kamu. Kehadiran mu adalah masa terindah dalam hidupku, tapi aku harus memilih antara cinta atau keluarga ku, dan aku memilih....,
KELUARGAKU.
Keputusan ku menerima perjodohan, adalah hari perpisahan kita. Surat pertama sekaligus terakhir dari cintamu Sifani Yuan Moe. Kisah kita harus usai dalam takdir Tuhan. Aku bersyukur mendapatkan cintamu, lepaskan aku, mas. Aku ingin melihatmu bahagia. Tuhan selalu menyertai mu, dan melindungi kebahagiaanmu. Ameen.
Salam sayang Sifani Alkan.
...----------------...
Kertas luruh terbang terjatuh ke lantai, tubuh kekar Alkan bergetar hebat. Tidak ada lagi halangan bagi cairan bening terjun dari pelupuk matanya. Tatapan hancur semakin menyekap rasa sesak di dadanya.
"Aaaarrrrgggghhhh....,"
Seruan Alkan terdengar bagaikan sembilu rasa sakit teramat dalam, untuk pertama kalinya jeritan menggema di kamar pria dewasa itu. Angkasa yang baru saja keluar dari kamar sang adik bergegas kembali masuk. Tatapan hancur, kecewa dan kesedihan terpancar jelas, ini yang ditakutkan seorang kakak. Cinta adiknya begitu besar, dan untuk menerima sang kekasih memilih orang lain bukanlah hal mudah.
Tanpa kata, Angkasa berlari menghampiri Alkan. Kemudian merengkuh tubuh sang adik yang bergetar hebat agar tenang di dalam pelukannya. Usapan punggung pun diberikan penuh kasih sayang. Tangisan pecah mengubah suasana kamar itu menjadi kelabu.
Maafkan, kakak. ~batin Angkasa memejamkan matanya karena tak sanggup melihat kehancuran Alkan akibat cinta tulus yang selalu terjaga selama bertahun-tahun.
"Apa salahku, Ka? Apa cintaku tidak pantas untuknya?"
Sukses bwt karyanya