Sofia hamil anak dari Jabez suaminya namun Layla merebut kebahagian itu dari Sofia dengan mencuri Test Pack milik Sofia, dan Layla mengaku-ngaku bahwa dia lah yang hamil anak dari Jabez.
Mendengar kabar baik atas kehamilan Layla, tentu saja membuat Jabez menjadi senang karena selama ini, dia sangat mendambakan seorang anak untuknya sebagai penerus keturunan Gurita kerajaan perusahaan EZAZ RAYA.
Layla merupakan istri pertama dari Jabez Ezaz yang digadang-gadang semua orang untuk meneruskan garis keturunan keluarga Ezaz Raya.
Mampukah Sofia menjalani pernikahan ini bersama Jabez serta membuktikan pada semua orang bahwa Layla berbohong akan kehamilannya. Dan kembali merebut hati suaminya agar Jabez mencintainya lagi serta menendang kekuasaan Layla dari istana Alhambra.
Mohon dukungannya ya pemirsa yang budiman 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 KEBAIKAN HATI EMRE YANG TULUS
Sofia menunggu dengan was-was di depan pintu apartemen. Ia tidak tahu siapa yang datang, tapi ia berharap itu adalah Emre yang kembali. Ketika pintu terbuka, Sofia melihat seorang wanita cantik dengan rambut panjang dan mata yang tajam. Wanita itu memandang Sofia dengan rasa ingin tahu.
"Siapa kamu?" tanya wanita itu.
Sofia ragu-ragu sejenak sebelum menjawab. "Aku Sofia. Emre ada di sini?"
Wanita itu memandang sekeliling apartemen sebelum menjawab. "Emre? Aku tidak tahu siapa itu. Aku mencari seseorang yang bernama lain."
Sofia merasa sedikit curiga. "Apa yang kamu cari di sini?"
Wanita itu tersenyum. "Aku hanya ingin tahu tentang seseorang yang mungkin kamu kenal. Apakah kamu sendirian di sini?"
Sofia menggelengkan kepala. "Tidak, Emre ada di sini. Ia hanya keluar sebentar."
Wanita itu memandang Sofia dengan mata yang tajam. "Aku lihat. Jika kamu tidak keberatan, aku ingin menunggu Emre di sini."
Sofia ragu-ragu sejenak sebelum mengangguk. "Baiklah, tapi aku tidak tahu kapan Emre akan kembali."
Wanita itu tersenyum. "Aku tidak masalah. Aku bisa menunggu."
Sofia mengangguk dan mempersilakan wanita itu masuk. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia merasa sedikit curiga dengan wanita itu.
Apakah wanita itu benar-benar mencari Emre, atau apakah ada sesuatu yang lain?
Sofia mempersilakan wanita itu masuk dan duduk di sofa. Wanita itu memandang sekeliling apartemen dengan mata yang tajam, seolah-olah mencari sesuatu.
"Aku tidak tahu apa yang kamu cari," kata Sofia, "tapi Emre tidak ada di sini sekarang. Ia hanya keluar sebentar."
Wanita itu tersenyum. "Aku tidak cari apa-apa, aku hanya ingin menunggu Emre di sini."
Sofia merasa sedikit curiga dengan wanita itu. Ada sesuatu yang tidak beres dengan wanita itu. "Apa hubunganmu dengan Emre?" tanya Sofia.
Wanita itu memandang Sofia dengan mata yang tajam. "Aku hanya kenalan lama," kata wanita itu. "Aku tidak tahu apa yang Emre ceritakan tentang aku."
Sofia merasa sedikit tidak nyaman dengan pertanyaan wanita itu. Ia tidak tahu apa yang harus dijawab.
Tiba-tiba, wanita itu berdiri dan berjalan ke arah jendela. "Pemandangan yang indah," kata wanita itu. "Aku bisa melihat seluruh kota dari sini."
Sofia mengikuti wanita itu ke jendela dan memandang keluar. Pemandangan kota memang indah dari sini.
Ketika Sofia memandang ke arah wanita itu, ia melihat sesuatu yang aneh. Wanita itu memandang ke arah Sofia dengan mata yang berbeda, mata yang penuh dengan kebencian.
"Aku tidak suka menunggu," kata wanita itu dengan suara yang berbeda. "Aku akan memberitahu Emre bahwa kamu ada di sini."
Sofia merasa sedikit takut. Ada sesuatu yang tidak beres dengan wanita itu. Ia mencoba untuk mundur, tapi wanita itu sudah terlalu dekat.
Sofia mencoba untuk berteriak, tapi suara wanita itu seperti memiliki kekuatan hipnotis yang membuatnya tidak bisa bergerak. Wanita itu semakin dekat, matanya yang penuh kebencian membuat Sofia merasa semakin takut.
Tapi tiba-tiba, pintu apartemen terbuka dan Emre masuk. Ia melihat situasi yang tidak beres dan langsung bereaksi.
"Apa yang terjadi?" tanya Emre dengan suara yang keras.
Wanita itu berbalik ke arah Emre, dan untuk sekejap, Sofia melihat kilas balik kebencian di matanya. Tapi kemudian, wanita itu tersenyum dan berjalan ke arah Emre.
"Emre, aku sudah lama tidak bertemu denganmu," kata wanita itu dengan suara yang manis.
Emre memandang wanita itu dengan waspada. "Apa yang kamu inginkan, Eleanor?" tanya Emre.
Eleanor ? Sofia tidak mengenal nama itu. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan wanita itu.
"Aku hanya ingin mengobrol denganmu," kata Eleanor. "Tentang lama-lama."
Emre tidak terlihat percaya. "Aku tidak punya waktu untukmu," kata Emre. "Kamu harus pergi sekarang."
Eleanor tersenyum lagi, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda dalam senyumnya. Ada sesuatu yang membuat Sofia merasa bahwa Eleanor tidak akan pergi tanpa alasan.
"Baiklah," kata Eleanor. "Aku akan pergi. Tapi ini bukan akhir dari kita, Emre."
Dengan itu, Eleanor berbalik dan pergi meninggalkan apartemen. Emre memandang Sofia dengan khawatir.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Emre.
Sofia mengangguk, masih merasa sedikit terguncang. "Siapa wanita itu?" tanya Sofia.
Emre memandang ke arah pintu yang sudah tertutup. "Eleanor adalah seseorang dari masa laluku," kata Emre. "Seseorang yang aku tidak ingin kamu temui."
Sofia merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan cerita Emre. Ia merasa bahwa Emre tidak memberitahu dia semua kebenaran.
Sofia memandang Emre dengan serius. "Apa yang terjadi antara kamu dan Rachel?" tanya Sofia, ingin tahu lebih banyak tentang masa lalu Emre.
Emre menghela napas dan berjalan ke arah sofa. "Eleanor adalah mantan pacarku," kata Emre. "Kami memiliki hubungan yang rumit dan berakhir dengan buruk."
Sofia memandang Emre dengan curiga. "Apa yang kamu tidak katakan padaku?" tanya Sofia.
Emre memandang Sofia dengan serius. "Aku tidak ingin kamu terlibat dalam masalahku dengan Eleanor," kata Emre. "Aku ingin melindungimu."
Sofia merasa sedikit tersinggung dengan kata-kata Emre. "Aku bisa menjaga diriku sendiri," kata Sofia. "Tapi aku ingin tahu apa yang terjadi."
Emre memandang Sofia dengan lembut. "Aku akan memberitahu kamu semua," kata Emre. "Tapi bukan sekarang. Aku ingin kamu aman."
Sofia mengangguk, memahami kekhawatiran Emre. Tapi ia masih ingin tahu lebih banyak tentang Eleanor dan masa lalu Emre.
Tiba-tiba, Sofia merasakan sakit perut yang tajam. Ia memegang perutnya dan mengerutkan kening.
"Apa yang terjadi?" tanya Emre dengan khawatir.
Sofia mencoba untuk menjawab, tapi sakitnya terlalu kuat. Ia merasa dirinya pingsan...
Sofia terjatuh ke lantai, dan Emre segera berlari ke arahnya untuk membantunya. "Sofia! Sofia, apa yang terjadi?" Emre berteriak khawatir.
Sofia mencoba untuk berbicara, tapi sakitnya terlalu kuat. Ia hanya bisa menggelengkan kepala dan memegang perutnya.
Emre segera mengangkat Sofia dan membawanya ke kamar tidur. Ia meletakkan Sofia di atas tempat tidur dan memeriksa denyut nadi Sofia.
"Sofia, aku akan membawamu ke rumah sakit," kata Emre dengan suara yang tegas.
Sofia mengangguk lemah, dan Emre segera mengangkatnya lagi untuk membawanya ke rumah sakit.
Saat mereka tiba di rumah sakit, dokter segera memeriksa Sofia dan menemukan bahwa Sofia mengalami kontraksi dini. Dokter memberitahu Emre bahwa Sofia harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari ke depan.
Emre terlihat sangat khawatir dan tidak mau meninggalkan sisi Sofia. "Aku akan selalu di sini untukmu, Sofia," kata Emre dengan suara yang lembut.
Sofia tersenyum lemah dan memegang tangan Emre. "Terima kasih, Emre," kata Sofia dengan suara yang lembut.