NovelToon NovelToon
Luka Di Balik Janji Semu

Luka Di Balik Janji Semu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Persahabatan / Cinta Murni / Romansa / Cinta Karena Taruhan / Idola sekolah
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.​Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Lonceng sekolah berbunyi panjang, menandakan berakhirnya jam pelajaran terakhir. Ribuan siswa SMA International Bima Karya berhamburan keluar, namun Sheila melangkah dengan aura yang berbeda. Ia mengacuhkan Risma yang masih berdiri termangu, melewati sahabatnya begitu saja tanpa menoleh sedikit pun. Baginya, siapa pun yang meragukan Devano adalah musuh, termasuk sahabatnya sendiri.

​Sheila menghirup udara sore dengan dalam. Pikirannya sudah melompat jauh ke sebuah apartemen mewah di pusat kota. Ia merasa inilah momen terbesar dalam hidupnya, sebuah pengorbanan yang akan mengunci hati sang most wanted selamanya.

​Risma hanya bisa membuang napas kasar sambil menatap punggung Sheila yang menjauh. "Huuffhhh! Semoga kamu mendengarkan apa yang barusan aku katakan, Sheil," batin Risma dengan perasaan berat, seolah ia sedang melihat sahabatnya berjalan menuju tebing curam.

​Sesampainya di rumah, Sheila langsung mengunci diri di dalam kamar. Ia membongkar isi lemarinya, mencari pakaian yang paling sempurna. Pilihan jatuh pada sebuah gaun sederhana namun sangat pas membalut tubuhnya, memberikan kesan cantik dan rapuh secara bersamaan.

​Sambil memoles riasan di wajahnya, ia menatap dirinya di cermin. "Malam ini, semuanya akan berubah. Aku akan menjadi milik Vano seutuhnya," bisiknya pada diri sendiri dengan tatapan yang terobsesi.

​Tiba-tiba, suara ketukan pintu membuatnya terlonjak. Itu adalah bundanya. "Sheila, sayang? Kamu sudah pulang? Tumben sekali langsung mengunci diri."

​Sheila menelan ludah, mencoba menormalkan suaranya. "Iya, Bun! Sheila lagi ada tugas kelompok di rumah Risma sampai malam. Sheila langsung pergi ya, takut ketinggalan!" seru Sheila berbohong. Sebuah kebohongan pertama yang ia lakukan demi pria yang sedang menjadikannya bahan taruhan.

​Dengan jantung yang berdebar kencang, Sheila keluar lewat pintu samping agar tidak berpapasan langsung dengan bundanya. Ia memesan taksi online menuju alamat apartemen yang sudah dikirimkan oleh Devano.

​Di sepanjang perjalanan, ia terus menggenggam ponselnya, menunggu pesan semangat dari Devano. Namun, sang pangeran dingin itu hanya mengirimkan satu pesan singkat: "Lantai 15, unit 201. Pintu tidak dikunci."

​Sheila tersenyum, menganggap sikap singkat itu sebagai bentuk ketidaksabaran Devano menantinya. Ia tidak tahu bahwa di lantai 15 tersebut, Indra dan Bayu mungkin sedang menunggu di unit sebelah, menyiapkan kamera atau sekadar menunggu konfirmasi kemenangan atas motor sport yang menjijikkan.

​Kini Sheila sedang dalam perjalanan, hanya ada kesunyian di dalam taksi hingga taksi berhenti tepat di lobi sebuah apartemen mewah bergaya modern minimalis. Sheila keluar dengan langkah yang sedikit ragu, menatap bangunan menjulang tinggi itu dengan perasaan yang tak menentu. Udara malam kota terasa lebih dingin dari biasanya, menembus gaun tipis yang ia kenakan, namun rasa hangat akibat obsesi cintanya pada Devano mengalahkan segalanya.

​Di dalam lift yang bergerak naik menuju lantai 15, Sheila menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengkilap. Wajahnya cantik, namun guratan kecemasan tak bisa disembunyikan dari matanya.

​"Semoga langkah yang kuambil tidak akan pernah sia-sia. Aku yakin bahwa Devano benar-benar mencintaiku," batin Sheila kembali menguatkan diri, mencoba mengusir suara peringatan Risma yang masih terngiang-ngiang di kepalanya.

​Ting!

​Pintu lift terbuka. Koridor lantai 15 terasa sangat sepi dan beraroma pengharum ruangan yang mewah namun terasa hampa. Sheila berjalan menyusuri karpet tebal hingga berhenti di depan sebuah pintu dengan angka perak: 201.

​Sheila menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila. Teringat pesan Devano bahwa pintu tidak dikunci, ia memutar kenop pintu dengan perlahan. Ruangan di dalamnya tampak remang-remang, hanya terang oleh cahaya lampu kota yang masuk lewat jendela besar floor-to-ceiling.

​"Vano? Aku sudah di sini..." panggil Sheila dengan suara hampir berbisik.

​Dari balik kegelapan ruang tamu, siluet seorang laki-laki yang sedang duduk sambil menyesap minuman dingin mulai terlihat. Itu adalah Devano Narendra. Ia tidak langsung menjawab, hanya menatap Sheila dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan predator yang sangat tersembunyi di balik wajah dinginnya.

​"Tepat waktu, Sheila," jawab Devano dengan suara rendah yang bergema di ruangan sunyi itu. Ia berdiri dan berjalan mendekat, langkahnya begitu tenang—sangat berbeda dengan Sheila yang gemetar.

​Di unit sebelah, tanpa diketahui Sheila, Indra dan Bayu sedang tertawa kecil sambil memperhatikan jam. Mereka sudah bersiap untuk merayakan kemenangan atas motor sport itu. Mereka hanya menunggu satu pesan konfirmasi dari Devano bahwa "misi" telah selesai.

​"Malam ini adalah bukti bahwa kamu adalah milikku seutuhnya, Sheila. Jangan ada kata ragu lagi," ucap Devano sambil meraih pinggang Sheila dan menariknya ke dalam pelukan yang terasa posesif namun begitu dingin.

​Dengan agresif, Devano melancarkan aksinya. Tidak ada kelembutan dan tidak ada cinta yang pernah Sheila rasakan, hanya perlakuan kasar dari seorang Devano Narendra.

​Suasana kamar apartemen yang mewah itu seketika terasa mencekam. Devano menarik Sheila masuk ke dalam kamar utama dengan kasar, mengabaikan getaran ketakutan yang menjalar di seluruh tubuh gadis itu. Tanpa kata-kata manis, tanpa kelembutan yang selama ini Sheila impikan, Devano menghempaskan tubuh Sheila ke atas ranjang besar berseprai gelap.

​"V-vano... kenapa kasar sekali? Aku takut..." lirih Sheila dengan suara tercekik. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya saat melihat tatapan Devano yang buas dan tanpa belas kasihan.

​Devano tidak menjawab. Ia justru menindih tubuh Sheila, mengunci kedua tangan gadis itu di atas kepala dengan satu tangan kuatnya. Tidak ada cinta di matanya, hanya ada ambisi untuk memenangkan taruhan dan memuaskan hasrat pribadinya. Ia mulai mencumbu Sheila secara agresif, menciptakan rasa sakit dan sesak yang luar biasa.

​Sheila merasa dunianya runtuh seketika. Rasa sakit fisik dan batin bercampur menjadi satu saat Devano memaksa masuk ke dalam pertahanan terakhirnya. Mahkota yang ia jaga mati-matian kini dirampas dengan cara yang paling menghinakan.

​"Ngghhh... akhh! Sakit, Vano... hiks... hiks... tolong berhenti, ini sakit sekali..." rintih Sheila di tengah isak tangis yang tak terbendung. Tubuhnya melengkung menahan perih yang luar biasa, namun Devano justru semakin menekan dan tidak mempedulikan penderitaannya.

​"Hiks... pelan-pelan, Vano... aku mohon..." suara Sheila terdengar parau, nyaris hilang di antara suara napas Devano yang memburu. Setiap sentuhan yang dulu ia anggap sebagai tanda cinta, kini terasa seperti sembilu yang mengiris kulit dan kehormatannya.

​Di sisi lain, Devano merasa berada di puncak kemenangannya. Ia menatap wajah Sheila yang penuh air mata dengan senyum puas yang menyebalkan. Baginya, tangisan Sheila adalah musik kemenangan yang menandakan motor sport terbaru sudah dalam genggaman.

​"Kau sangat nikmat, Sheila! Ngghh... ini pengalaman pertama yang sudah aku impikan sejak lama!" seru Devano dengan napas tersengal, menikmati setiap detik penaklukannya atas gadis yang ia anggap bodoh itu. "Jangan menangis, bukankah ini yang kamu mau? Menjadi milikku seutuhnya?"

​Sheila hanya bisa terus terisak, "Hiks... hiks... ngghhh..." Ia memejamkan mata rapat-rapat, berusaha menghilangkan kenyataan pahit bahwa laki-laki yang ia puja sedang menghancurkannya tanpa rasa bersalah. Kehangatan yang ia harapkan berubah menjadi dingin yang membeku di dalam jiwanya.

​Malam terus berlanjut dalam kesunyian yang menyakitkan di lantai 15. Sementara di unit sebelah, Indra dan Bayu melakukan high-five saat mendengar suara gaduh yang menandakan Devano telah berhasil.

​Sheila tergeletak lemas dengan tubuh yang terasa hancur dan jiwa yang telah mati. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Rasa sakit itu tidak hanya ada di tubuhnya, tapi menanamkan trauma abadi yang akan menghantuinya seumur hidup. Ia baru saja menyadari bahwa kata-kata Risma adalah kebenaran, dan cinta yang ia agungkan hanyalah sebuah mimpi buruk yang nyata.

​Srek!!

​Suara lemparan gaun yang mengenai wajah Sheila terasa lebih menyakitkan daripada luka fisik di tubuhnya. Kata-kata Devano berputar di kepalanya bagai kaset rusak, menghancurkan setiap kepingan harapan yang baru saja ia pertaruhkan. Dunia yang tadinya ia pikir akan menjadi indah setelah penyerahan ini, seketika berubah menjadi neraka yang paling dingin.

​"Bagaimana, Sheila? Sekarang kau sudah menjadi milikku seutuhnya, dan aku sudah tidak membutuhkanmu lagi!" Kalimat itu keluar dari mulut Devano tanpa sedikit pun getaran penyesalan.

​Sheila terpaku, menatap sosok laki-laki yang berdiri di depan jendela sambil merapikan kemejanya. Tidak ada lagi tatapan intens yang membius, hanya ada tatapan menghina seolah Sheila adalah barang bekas yang tak lagi bernilai.

​"Pakai kembali bajumu, aku tidak membutuhkanmu untuk lebih lama lagi di sini," tambah Devano datar, tanpa sudi menoleh ke arah tempat tidur di mana Sheila masih terbaring lemah.

​Dengan tangan yang gemetar hebat dan isak tangis yang tertahan di kerongkongan, Sheila berusaha duduk. Rasa perih di tubuhnya mengingatkan bahwa segalanya telah hilang. Ia meraih gaunnya yang tergeletak di lantai, memeluknya erat sambil menatap punggung Devano dengan pandangan hancur.

​"Vano... apa maksudmu? Kamu bilang ini bukti cinta... kamu bilang kita akan serius setelah lulus..." bisik Sheila dengan suara serak dan parau.

​Devano tertawa sinis, sebuah tawa yang sangat iblis. Ia membalikkan tubuh dan menatap Sheila dengan sorot mata kejam. "Jangan terlalu drama, Sheila. Aku hanya butuh kamu untuk memenangkan taruhan motor sport bersama Indra dan Bayu. Dan sekarang, misi itu selesai. Kamu pikir aku benar-benar mencintai gadis murahan yang begitu gampang menyerahkan kehormatannya?"

​Deghh!

​Jantung Sheila rasanya berhenti berdetak. Kenyataan bahwa dirinya hanya menjadi bahan taruhan menikam langsung ke pusat jiwanya. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan kini meledak menjadi histeris yang memilukan di tengah kamar yang hening itu.

​"Hiks... hiks... kamu jahat, Vano! Aku memberikan segalanya karena aku percaya kamu! Hiks... akhhh!" Sheila berteriak sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya terguncang hebat oleh rasa malu dan hina yang tak terkira.

​Devano hanya menatapnya dengan jengah. Ia mengambil dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu, dan melemparkannya ke atas ranjang di samping Sheila. "Ambil ini untuk ongkos taksimu pulang. Jangan pernah cari aku lagi di sekolah, anggap saja kita tidak pernah kenal."

​Sheila memakai bajunya dengan terburu-buru, mengabaikan rasa sakit di seluruh persendiannya. Ia berlari keluar dari apartemen itu sambil menangis tersedu-sedu. Di sepanjang koridor lantai 15, ia merasa dinding-dinding apartemen itu menertawakan kebodohannya.

​Saat melewati unit sebelah, ia sempat mendengar suara gelak tawa Indra dan Bayu yang sedang merayakan kemenangan mereka. Dunia Sheila benar-benar telah runtuh. Kata-kata Risma kini menjadi bayang-bayang hitam yang menghantuinya. Ia telah kehilangan segalanya demi seorang laki-laki yang bahkan tidak menganggapnya manusia.

1
Chimpanzini Banananini
nyesek banget anjirr jadi sheila /Sob//Sob/
putri bungsu
mulut kamu bisa berkata baik-baik saja shei, tapi sahabat kamu tau kalau kamu sedang tidak baik-baik saja
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Infokan duel di ring sekarang /Curse//Curse/

Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Sumpah Devano, kamu bakal menyesal main wanita kayak gini/Curse/
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Aku pingin jerit Ya Allah 😭😭
☕︎⃝❥Haikal Mengare
cukup aku gak kuat 😭😭, ini bertolak belakang sama prinsip ku🤣
Peri Cecilia
risma baik banget
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Sejauh mana obsesimu 😭
Peri Cecilia
nah kan, aku sangat puas awoakwoka
Ani Suryani
Sheila trauma
Stanalise (Deep)🖌️
Pergaulan gila macam apa ini. Masih sekolah padahal Udh kayak gini. nanti dikasih bayi beneran, nangesss/Hey/
Jing_Jing22: pergaulan anak muda masih mengutamakan ego...
total 1 replies
Wida_Ast Jcy
thor kalimat yang huruf kapital ini dirubah mungkin lebih baik dech🙏🙏🙏 saran ya thor
Jing_Jing22: ok siap kacan! thanks sarannya😊
total 1 replies
Mingyu gf😘
Andai bundanya tahu, anaknya sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal
Mingyu gf😘: iya kak
total 2 replies
Herman Lim
aduh sapa lagi yg mau jahat sama Sheila
Jing_Jing22: masa lalunya yang sakit hati sama sheila
total 1 replies
Ikiy
kenapa baru nyesel sekarang/Scream/
Nadinta
DEVANO ASTAGAAA KATA GUE LU MINTA MAAF, SHEILAAA UHUUUU
CACASTAR
kecintaan sih Sheila..makanya
CACASTAR
emang kadang perempuan itu dibutakan oleh cinta,, udah bagus punya teman kayak Risma
CACASTAR
jangan Sheila..jangan...
CACASTAR
di mana-mana memang yang namanya Devano dalam karakter cerita sering banget jadi ketua gank, anak nakal, gitu ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!