NovelToon NovelToon
TERKUTUK! Rumah Tua Ini Simpan Rahasia Kematian Ibuku Yang Sebenarnya!

TERKUTUK! Rumah Tua Ini Simpan Rahasia Kematian Ibuku Yang Sebenarnya!

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Trauma masa lalu / Keluarga / Roh Supernatural / Romansa
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Bangjoe

Setelah kematian ayahnya, Risa Adelia Putri (17) harus kembali ke rumah tua warisan mendiang ibunya yang kosong selama sepuluh tahun. Rumah itu menyimpan kenangan kelam: kematian misterius sang ibu yang tak pernah terungkap. Sejak tinggal di sana, Risa dihantui kejadian aneh dan bisikan gaib. Ia merasa arwah ibunya mencoba berkomunikasi, namun ingatannya tentang malam tragis itu sangat kabur. Dibantu Kevin Pratama, teman sekolahnya yang cerdas namun skeptis, Risa mulai menelusuri jejak masa lalu yang sengaja dikubur dalam-dalam. Setiap petunjuk yang mereka temukan justru menyeret Risa pada konflik batin yang hebat dan bahaya yang tak terduga. Siapa sebenarnya dalang di balik semua misteri ini? Apakah Bibi Lastri, wali Risa yang tampak baik hati, menyimpan rahasia gelap? Bersiaplah untuk plot twist mencengangkan yang akan menguak kebenaran pahit di balik dinding-dinding usang rumah terkutuk ini, dan saksikan bagaimana Risa harus berjuang menghadapi trauma, dan Pengkhianatan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bangjoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Terjebak dalam Kegelapan

Kevin terhuyung mundur, punggungnya menabrak dinding dingin. Jantungnya bergemuruh, memukuli tulang rusuknya seakan ingin melarikan diri. Bayangan hitam pekat itu bergerak cepat, jauh lebih cepat dari yang bisa Kevin bayangkan. Sebuah rantai, terbuat dari kegelapan murni, melesat ke arahnya, ujungnya seperti cakar yang siap merobek. Bau anyir, bau tanah basah bercampur karat, tiba-tiba memenuhi udara. Ini bukan bau rumah tua yang berdebu. Ini bau kematian yang sangat kuno.

“Jangan!” Kevin berteriak, suaranya serak. Ia mencoba menangkis, mengangkat lengan, tapi itu sia-sia. Rantai itu melilit pergelangan tangannya, dingin menusuk, seolah terbuat dari es dan bayangan. Rasa sakit yang tajam menjalar, bukan sakit fisik biasa, melainkan sakit yang menggerogoti jiwanya, menariknya ke dalam keputusasaan yang dalam.

Bibi Lastri tertawa, suara melengkingnya bergema di lorong sempit. Di tangannya, liontin kunci itu memancarkan cahaya redup, seolah menjadi sumber kekuatan bayangan mengerikan ini. Bekas luka bakar di pergelangan tangannya kini terlihat seperti sulur-sulur hitam yang bergerak di bawah kulitnya, berdenyut-denyut.

“Selamat datang, Kevin,” desis Bibi Lastri, matanya menyala-nyala oleh kegilaan. “Selamat datang di rumah yang tak akan pernah melepaskanmu. Penjaga ini… dia lapar. Dia sudah lama menanti. Dan sekarang, dia punya dua jiwa muda untuk disantap.”

Rantai kedua, yang tadinya terikat pada liontin di tangan Bibi Lastri, kini terlepas dan melayang, bergabung dengan rantai yang mencengkeram Kevin. Mereka mulai menariknya mundur, ke arah kegelapan yang lebih pekat, ke sebuah lorong yang tidak ia sadari ada sebelumnya. Lorong itu seperti jurang tanpa dasar, menelan semua cahaya.

Kevin melawan sekuat tenaga. Ia menghentakkan kaki, menarik lengannya, tapi cengkeraman rantai itu terlalu kuat. Semakin ia melawan, semakin kuat rantai itu menjeratnya, mencekik pergelangan tangannya. Darah di pembuluh darahnya terasa membeku. Matanya mencari-cari. Risa. Di mana Risa? Ia harus menemukan Risa.

“Risa!” ia meraung, suaranya pecah. “Risa, dengar aku!”

Dari balik kegelapan lorong, ia mendengar erangan samar, seperti suara Risa. Tapi suaranya sangat lemah, terputus-putus. Kengerian mencengkeramnya. Risa juga terjebak. Sendirian. Dalam kegelapan yang sama.

“Dia tidak akan bisa mendengarmu,” kata Bibi Lastri, berjalan mendekat, langkahnya pelan dan mengancam. “Dia sudah terlalu jauh. Jiwanya sudah mulai larut. Sama sepertimu sebentar lagi.”

Kevin menggeram. Ia tak bisa membiarkan ini terjadi. Ia sudah berjanji pada Risa. Ia harus menyelamatkannya. Ia menoleh, mencari sesuatu, apa saja, yang bisa ia gunakan. Senter di tangannya, meski cahayanya redup, masih menyala. Ia mengayunkannya, berharap bisa mengenai sesuatu, tapi rantai itu menariknya terlalu cepat. Kakinya terseret di lantai kayu, menimbulkan suara berderit yang mengerikan.

“Kunci itu…” Kevin terengah-engah. “Kunci itu bukan milikmu! Ibumu… dia tidak mencurinya!”

Senyum Bibi Lastri menghilang. Wajahnya menegang, matanya memancarkan kemarahan. “Jangan berani-beraninya kau bicara tentang ibuku! Dia pengkhianat! Dia mencoba mengambil warisan yang bukan haknya! Dia pantas mati! Sama seperti Risa, anak serakah itu!”

Kata-kata itu seperti tamparan di wajah Kevin. Bibi Lastri benar-benar gila. Ia bukan hanya serakah. Ia membenci ibu Risa. Kebencian itu memancar dari setiap pori-porinya, begitu pekat hingga terasa pahit di lidah Kevin.

“Kamu… kamu yang membunuh ibu Risa, kan?” Kevin berteriak, meski napasnya mulai tersengal. “Kamu yang merencanakan semuanya! Kamu yang ingin mengambil rumah ini!”

Bibi Lastri terdiam sejenak, wajahnya menunjukkan kilatan kejutan, seolah tak menyangka Kevin bisa menyimpulkan itu. Lalu, senyum tipis kembali mengembang, kali ini lebih dingin, lebih kejam. “Dan jika iya, memangnya kenapa? Siapa yang akan percaya padamu? Kau akan menghilang. Seperti abu. Seperti tidak pernah ada. Aku akan mendapatkan semuanya. Warisan ini. Kekuatan ini. Keabadian.”

Bayangan hitam di balik Bibi Lastri menjulang lebih tinggi, menutupi seluruh lorong di belakangnya. Kevin bisa merasakan tarikan yang semakin kuat. Kakinya mulai terangkat dari lantai. Ia ditarik masuk, ke dalam kegelapan yang dingin dan mematikan. Udara di sekitarnya menjadi berat, sulit dihirup. Ia bisa merasakan sentuhan-sentuhan dingin dan menjijikkan di kulitnya, seolah ada banyak tangan tak terlihat yang menyentuhnya, menariknya semakin dalam.

Suara-suara berbisik mulai terdengar, memenuhi telinganya. Bisikan-bisikan asing, tidak dikenal, namun terasa penuh penderitaan dan dendam. Ribuan suara yang seolah berasal dari jiwa-jiwa yang terjebak di tempat itu. Penjaga rumah ini… itu bukan satu entitas. Itu adalah kumpulan jiwa-jiwa yang tak tenang. Jiwa-jiwa yang haus.

Kevin menatap Bibi Lastri, matanya dipenuhi tekad yang membara, menolak menyerah. “Aku… tidak… akan… membiarkanmu!”

Dengan kekuatan yang tersisa, Kevin berusaha melakukan hal gila. Ia mengayunkan senter yang masih ia genggam erat. Bukan ke arah Bibi Lastri, tapi ke arah rantai yang melilit pergelangan tangannya. Dengan suara benturan tumpul, ia memukulkan senter itu ke rantai bayangan. Senter itu retak, cahayanya berkedip-kedip, tapi rantai itu tidak terpengaruh sama sekali.

Namun, benturan itu memberinya ide. Jika ia tak bisa menghancurkan rantai itu, mungkin ia bisa menghancurkan sumbernya. Liontin. Kunci itu. Jika Bibi Lastri adalah dalangnya, maka kunci itu adalah pusat kekuatannya.

Kevin mengumpulkan semua tenaganya. Ia tahu ini mungkin satu-satunya kesempatan. Ia tidak bisa melawan bayangan, tapi ia bisa melawan wanita gila di depannya. Ia harus mengalihkan perhatian, setidaknya. Ia mendorong kakinya, menjejak lantai dengan sekuat tenaga, berusaha melawan tarikan rantai. Untuk sesaat, ia berhasil menghentikan pergerakannya.

“Cih, bocah bodoh!” Bibi Lastri mendengus jijik. Ia mengangkat tangannya yang memegang liontin kunci, bersiap melancarkan serangan lain. Bayangan di belakangnya ikut bergerak, seolah merespons perintahnya.

Kevin memejamkan mata sesaat, lalu membukanya lagi. Kali ini, ia melihat kilatan cahaya yang sangat lemah, nyaris tak terlihat, di ujung lorong tempat Risa menghilang. Itu adalah liontin Risa. Liontin kunci yang sama dengan milik Bibi Lastri. Ada sesuatu yang berbeda. Liontin Risa bersinar redup, seolah berjuang.

“Risa…” bisiknya, harapannya menyala kembali. Risa masih di sana. Risa masih berjuang.

Kilatan harapan itu memberinya kekuatan baru. Ia berteriak, sebuah teriakan marah yang dipenuhi keputusasaan dan tekad. Dengan gerakan tiba-tiba, yang tidak disangka Bibi Lastri, Kevin menarik lengannya yang terikat rantai, lalu menggunakannya sebagai tumpuan untuk melompat.

Tubuhnya melayang sesaat, rantai itu menegang, hampir merobek kulitnya. Tapi ia sudah berada di udara. Tujuannya bukan Bibi Lastri, bukan liontinnya. Ia tahu ia tak akan bisa mencapainya. Tujuannya adalah… lorong tempat Risa menghilang.

Ia harus sampai ke Risa. Ia harus membangunkannya. Hanya Risa yang memiliki kunci yang sebenarnya. Bukan kunci fisik, tapi kunci untuk membuka rahasia ini. Kunci yang tersembunyi di dalam dirinya, di dalam ingatannya.

Tarikan rantai semakin kuat, mencoba menariknya kembali. Kevin bisa merasakan tubuhnya mulai mati rasa. Namun, dengan satu gerakan putus asa terakhir, ia mengayunkan kakinya, menendang udara, mendorong dirinya sejauh mungkin ke depan. Hanya beberapa senti. Tapi cukup.

Ia berhasil meraih bingkai pintu lorong gelap itu. Tangannya mencengkeram kusen kayu yang lapuk, jari-jarinya berjuang mencari pegangan. Rantai itu menariknya dengan brutal, mencoba melepaskannya dari pegangan terakhirnya. Otot-ototnya menjerit, sendi-sendinya terasa seperti akan terlepas.

Bibi Lastri menggeram, terkejut dengan perlawanan tak terduga Kevin. “Beraninya kau, bocah!”

Penjaga bayangan itu juga bereaksi. Rantai yang mencengkeram Kevin menegang lebih kuat, mencoba mencabik tangannya dari kusen pintu. Kevin bisa merasakan kukunya patah, kulitnya robek. Darah menetes, menodai kayu tua itu. Tapi ia tidak melepaskan.

Ia tidak bisa melepaskan. Tidak setelah ia melihat kilatan liontin Risa.

Dari dalam lorong gelap, Kevin mendengar suara yang lebih jelas. Kali ini bukan erangan, tapi bisikan lirih yang memanggil namanya. Bisikan itu terdengar putus asa, namun juga seperti sebuah panggilan. Sebuah panggilan dari Risa. Ia harus mendekat.

“Risa! Aku datang!” Kevin meraung, berusaha melawan rasa sakit yang luar biasa. Ia mengumpulkan semua sisa kekuatannya, mendorong kakinya ke dinding di seberang, mencoba membebaskan diri dari tarikan yang tak terlihat.

Namun, bayangan itu terlalu kuat. Tarikan itu tidak pernah berhenti. Tangan Kevin perlahan terlepas dari kusen pintu. Satu jari. Dua jari. Lalu semua jari-jarinya terlepas. Ia jatuh. Terlempar ke belakang, ke arah kegelapan yang tak terhingga.

Sebelum kegelapan menelannya, ia melihat Bibi Lastri tersenyum penuh kemenangan. Matanya berkilat gila, puas. Dan di tangannya, liontin kunci itu bersinar terang, seolah merayakan kemenangan atas dua jiwa muda yang kini terjebak dalam perangkapnya.

Kevin jatuh. Ke dalam kehampaan yang dingin, di mana bisikan-bisikan jiwa-jiwa tersiksa semakin keras, memanggilnya untuk bergabung dalam penderitaan abadi. Ia melihat kilatan terakhir dari senter yang telah hancur. Kegelapan. Hanya kegelapan. Dan suara Risa, yang kini hanya terdengar seperti gema yang jauh, memudar, seiring dengan kesadarannya yang mulai menghilang.

*

Di tempat lain, jauh di dalam rumah tua itu, Risa berjuang melawan kegelapan yang menyelimutinya. Tubuhnya terasa beku, pikirannya berkabut. Ia mencoba bergerak, tapi ia tidak bisa. Sesuatu yang dingin dan lengket menahannya, melilitnya dari ujung kaki hingga kepala. Ia seperti terbungkus dalam jaring laba-laba raksasa yang terbuat dari bayangan.

Napasnya tercekat. Ia bisa merasakan sesuatu yang tajam menembus kulitnya, bukan rasa sakit yang menusuk, tapi rasa sakit yang menguras energi, menghisap vitalitasnya. Itu adalah rantai. Rantai yang sama seperti yang ia rasakan sebelumnya, ketika ia pertama kali kehilangan kesadaran.

Ia mendengar suara-suara. Bisikan-bisikan. Tapi kali ini lebih jelas. Itu adalah suara ibunya. Suara ibunya yang memanggil namanya. Namun, suara itu dipenuhi kesedihan, ketakutan, dan sebuah peringatan.

*“Risa… lari… Risa… jangan percaya…”*

Siapa yang tidak boleh ia percaya? Bibi Lastri? Tapi Bibi Lastri sudah terbukti jahat. Lalu siapa lagi?

Risa membuka matanya paksa. Hanya ada kegelapan pekat. Ia tidak bisa melihat apapun. Tapi ia bisa merasakan. Merasakan energi dingin yang mengalir ke dalam tubuhnya, membuat darahnya terasa seperti es. Ia merasakan liontin kuncinya. Hangat. Berdenyut-denyut. Mencoba melawan hawa dingin ini.

Liontin itu adalah satu-satunya jembatan ke ibunya. Jembatan ke masa lalu yang terlupakan. Jembatan ke kebenaran.

“Ibu… apa yang terjadi?” Risa mencoba bersuara, tapi hanya erangan lemah yang keluar dari tenggorokannya. Ia merasakan air mata mengalir di pipinya, tapi ia tidak bisa menyekanya. Tangannya terkunci.

*“Kunci… Risa… kunci itu…”*

Suara ibunya semakin samar, seperti terdistorsi oleh gangguan. Risa mencoba fokus. Kunci apa? Liontin ini? Atau ada kunci lain? Kunci yang Bibi Lastri bicarakan.

Sebuah ingatan singkat melintas di benaknya. Malam itu. Malam kematian ibunya. Ia melihat ibunya terbaring di lantai, tangan terulur, dan… sebuah kunci. Sebuah kunci perak berkilauan di tangannya. Bukan liontinnya. Kunci yang berbeda. Kunci yang lebih besar.

Kunci itu. Kunci yang Bibi Lastri coba ambil. Kunci yang ibunya lindungi. Kunci yang… mengarah ke kebenaran.

Tiba-tiba, ia mendengar suara Kevin. Suara teriakannya yang putus asa. *“Risa! Aku datang!”*

Jantung Risa berdesir. Kevin. Dia masih di luar. Dia datang untuk menyelamatkannya. Kekuatan baru entah dari mana mengalir dalam dirinya. Ia tidak sendirian. Ia tidak boleh menyerah. Ia harus berjuang.

Ia berjuang, meronta, mencoba melepaskan diri dari rantai bayangan. Setiap gerakan terasa menyakitkan, seolah menarik jiwanya dari tubuhnya. Tapi ia terus mencoba. Untuk Kevin. Untuk ibunya. Untuk dirinya sendiri.

Liontin di lehernya tiba-tiba terasa sangat panas. Bukan panas yang membakar, tapi panas yang menenangkan, memberi kekuatan. Sebuah cahaya redup mulai memancar dari liontin itu, menembus kegelapan di sekitarnya. Cahaya itu menari-nari di atas rantai bayangan, membuat rantai itu bergetar, seolah terganggu.

*“Risa… buka…”*

Buka apa? Pintu? Matanya? Ingatannya?

Cahaya dari liontin Risa semakin terang, melawan kegelapan yang mencekam. Sebuah energi aneh muncul, menekan rantai-rantai itu, melonggarkan cengkeramannya sedikit demi sedikit. Risa bisa merasakan jari-jarinya bisa bergerak sedikit. Ia menggerakkan tangannya, mencoba meraih liontinnya. Ia harus menggunakannya. Tapi bagaimana?

Ia teringat kata-kata Kevin. Kunci untuk membuka rahasia. Kunci yang tersembunyi di dalam dirinya. Di dalam ingatannya.

Bukan hanya liontin fisik. Tapi kenangan. Kenangan malam itu. Malam tragis yang selalu menghantuinya.

Ia memejamkan mata, memaksakan diri untuk mengingat. Wajah ibunya. Senyumnya. Tawanya. Dan lalu… kengerian. Jeritan. Darah.

Dan Bibi Lastri. Wajahnya yang tersenyum dingin. Matanya yang kosong. Dan di tangannya… sebuah belati. Bersinar di bawah cahaya rembulan.

Belati itu… dan kunci itu. Bersama.

Risa membuka matanya. Tidak ada lagi kegelapan total. Cahaya dari liontinnya kini cukup terang untuk melihat samar-samar. Ia melihat dirinya. Terjebak dalam sarang bayangan. Dan di kejauhan… sebuah pintu. Pintu yang sama persis dengan pintu di ingatannya. Pintu rahasia yang tersembunyi di balik cermin ruang tamu.

Itu bukan lorong. Itu adalah ruang rahasia. Tempat tersembunyi yang menyimpan kebenaran.

Dan di balik pintu itu… ia bisa merasakan keberadaan yang sangat kuat. Bukan hantu. Bukan penjaga. Sesuatu yang jauh lebih kuno. Sesuatu yang menunggu. Menunggu seseorang untuk membuka. Menunggu kunci yang sebenarnya.

Kevin. Dia datang untuknya. Dia berjuang untuknya. Dan dia juga pasti terjebak, di suatu tempat di kegelapan ini.

Risa harus menemukan pintu itu. Dia harus menemukan kunci yang sebenarnya. Dan dia harus menyelamatkan Kevin. Sebelum semuanya terlambat. Sebelum kegelapan menelan mereka berdua, selamanya. Ia harus menghadapi kenyataan yang paling mengerikan. Kenyataan tentang siapa ibunya sebenarnya, dan apa yang Bibi Lastri benar-benar inginkan. Kenyataan yang jauh lebih gelap dari sekadar warisan. Kenyataan yang terkunci di balik pintu itu, menanti untuk terungkap, menuntut harga dari setiap jiwa yang berani mendekatinya.

Liontin di lehernya berdenyut lebih kuat, seolah menariknya ke arah pintu rahasia itu. Rantai bayangan di sekelilingnya bergetar, mencoba menahannya, tapi cahaya liontin Risa kini begitu terang, begitu kuat, hingga mampu merobek kegelapan di sekelilingnya, menciptakan celah kecil. Celah untuk sebuah harapan. Celah untuk sebuah pelarian. Celah menuju… kebenaran.

Dan di balik celah itu, Risa bisa melihat samar-samar, sesosok bayangan lain. Bukan bayangan hitam yang menyeramkan. Tapi bayangan seorang wanita. Tersenyum. Melambai. Memanggilnya. Ibunya. Menantinya di balik pintu itu. Bersama kunci yang sesungguhnya. Bersama rahasia yang selama ini terkubur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!