Novel ini berdasarkan kisah nyata.
Nama tokoh, nama tempat, atau nama daerah sudah diganti demi menjaga kerahasiaan identitas asli.
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, laku tirakat tertentu, profesi tertentu, atau latar daerah tertentu dengan para pembaca semua, mohon dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"TOLONGLAH ORANG YANG BISA KAMU TOLONG"
Sosok itu menunjuk tepat ke arahku dengan tangan kirinya yang berkuku tajam.
Dalam pandangan mata kiriku, tiba-tiba salah satu kuku sosok mengerikan itu memanjang. Perlahan-lahan semakin mendekat ke arahku kukunya.
Dan... Saat kuku itu hampir menyentuh dadaku, ada sebuah selendang kuning keemasan yang menghalangi, mengelilingi dadaku selendang itu. Dan sepersekian detik aku tahu, selendang itu adalah selendang Dayang Putri. Lalu...
"Krakkk!!!"
Kuku sosok mengerikan itu patah. Dan... Aku merasakan ada aliran hangat dan anyir dari hidungku.
Nafasku yang tercekat mulai perlahan kembali normal, dan perlahan penglihatan mata kiriku memudar. Tubuhku terasa lemas. Kepalaku pusing.
Saat ku pegang hidungku, ternyata keluar aliran darah segar seperti mimisan ringan.
"Loh, Nis?! Kamu kenapa?!" tanya Dinda saat ia menoleh ke belakang, melihatku berdarah hidungnya. Disusul Ningrum dan beberapa ibu-ibu yang kaget saat mendengar Dinda bertanya seperti itu padaku.
"Eh, Dek Nisa? Kenapa Dek?" pertanyaan beberapa orang di dalam kamar menyusul.
Ustadz Furqon yang juga akhirnya melihatku, langsung meminta Dinda dan Ningrum untuk membawaku keluar dari kamar.
Segera Dinda dan Ningrum bangkit, memegang tanganku, dan aku diajak keluar dari kamar.
Apa yang terjadi padaku sedikit membuat kaget dan heran bapak-bapak yang ada di ruang tamu saat kami bertiga lewat menuju ke luar rumah.
"Rum, minta tissu dong, itu di atas meja ruang tamu." kata Dinda sambil memegangi tanganku.
Ningrum mengambil beberapa helai tissu dan segera menempelkannya ke hidungku. Dan aku segera keluar rumah bersama mereka berdua, kembali duduk di kursi depan rumah Pak Handoyo.
Bapakku dan bapaknya Ningrum terkejut melihat hidungku keluar darah.
"Weh?! Kenapa kamu Nis?!" tanya bapakku. Sambil menghampiriku yang sudah duduk.
"Gak tau Pak, tadi di dalam kamar tiba-tiba Nisa mimisan..." jawab Dinda sambil membantu membersihkan hidung.
"Kok bisa mimisan gini sih Nis?" tanya bapakku lagi sambil berjongkok di depanku, mengambil tissu di tangan Dinda, dan kembali mengelap sisa darah yang ada.
Aku rasanya ingin mengatakan apa yang terjadi saat di dalam kamar Pak Handoyo. Namun, aku urungkan itu karena aku sadar, hanya diriku sendiri yang merasakan dan melihat semua kengerian tadi.
Aku akhirnya hanya menjawab singkat, "Gak tau Pak, tiba-tiba kepalaku sakit banget tadi di dalam kamar."
Aku menjawab seperti itu karena tak ingin membuat bapak kaget, dan juga tak ingin Dinda sama Ningrum takut jika sampai aku berkata yang sejujurnya.
Beberapa detik bapak memandangiku, dan bertanya, "Kamu mau pulang sekarang? Ayo kalo mau pulang, mungkin kamu kecapean."
"Iya Nisa, pulang aja duluan sama bapakmu." ucap bapaknya Ningrum.
Sedangkan Dinda dan Ningrum masih menatapku dengan rasa heran.
"Gak apa-apa kok Pak, kita pulang bareng-bareng aja kaya tadi pas berangkat. Ini juga darahnya udah gak keluar kok." jawabku sambil memegangi tissu yang terkena darah dari hidungku.
"Kamu gak apa-apa Nis?" tanya Ustadz Furqon yang sudah berada di luar rumah. "Kamu panas dalam atau kecapean?" tambahnya.
"Gak tau Ustadz... Tapi gak kenapa-kenapa kok..." jawabku.
"Pak, tolong minta air putih ke dapur." pinta Ustadz Furqon kepada salah seorang bapak-bapak di ruang tamu.
Suasana yang tadi sempat sedikit kaget saat melihatku mimisan tiba-tiba, mulai mereda dan kembali normal.
Tapi tidak bagiku... Aku masih merasakan ada hawa panas menerpa tubuhku walau sudah berada di luar rumah Pak Handoyo.
Dan dalam pendengaranku, Dayang Putri berbisik...
"Tolonglah orang yang bisa kamu tolong... Aku akan bantu..."