NovelToon NovelToon
Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Keluarga / Dijodohkan Orang Tua / Dark Romance / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: yuliza sisi

Ia datang membawa cinta yang dipinjamkan dalam kehidupan Aira Maheswari.

cukup hangat untuk dipercaya, cukup palsu untuk menghancurkan.
Keluarga Aira runtuh, ekonomi hampir patah, dan jiwanya perlahan kehilangan arah.

Ketika dendam menunaikan tugasnya dan ia ditinggalkan di titik paling sunyi,
Hingga seorang lelaki yang mencintainya sejak bangku SMP akhirnya mengetuk pintu terakhir.

Ia datang bukan untuk melukai,
melainkan menyelamatkan.

Di antara dendam yang menyamar sebagai cinta
dan cinta yang setia menunggu dalam diam,
pintu mana yang akan Aira pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Setelah tiga hari cuti, Kartik kembali.

Tidak ada pengumuman.

Tidak ada sambutan.

Hanya pintu lift yang terbuka seperti biasa.

Aira sedang menata berkas di mejanya ketika langkah kaki itu terdengar.

Langkah yang ia kenal betul.

Tenang. Terukur. Tidak pernah tergesa.

Dadanya langsung menegang.

Ia mengangkat kepala perlahan.

Kartik berjalan melewati mejanya.

Menyapa staf lain dengan anggukan singkat.

Profesional. Jauh. Seperti orang asing yang sopan.

Tidak ada tatapan ke arah Aira.

Tidak ada senyum kecil yang biasanya singgah lebih dulu sebelum bicara.

“Aira,” katanya akhirnya

bukan lembut,

bukan dingin,

tapi netral.

“Tolong siapkan berkas rapat jam sepuluh.”

Itu saja.

Tidak menayangkan kamu baik-baik saja?

Tidak menayangkan sudah sarapan?

Aira mengangguk cepat.

“Iya, Pak.”

Suara itu keluar stabil.

Tapi dadanya terasa runtuh.

Kartik masuk ke ruangannya dan menutup pintu.

Bunyi klik itu terdengar sangat pelan.

Tapi rasanya seperti pintu yang ditutup dari dalam hidup Aira.

Ia duduk kembali.

Tangannya gemetar saat membuka map.

Kenapa rasanya sesak?

Bukankah ini yang ia minta?

Pergi.

Jauh.

Jangan hadir.

Tapi kenapa dadanya seperti kehilangan udara?

Sepanjang hari, Kartik bersikap sempurna.

Profesional. Efisien. Tidak ada celah emosi.

Dan justru itu yang menyakitkan.

Karena Aira sadar, ia tidak kehilangan Kartik karena marah.

Ia kehilangan Kartik karena Kartik menepati janjinya. Tapi Aira berpikir mungkin ini lebih baik.

Langit mulai gelisah di hari keempat.

Tidak ada pesan.

Tidak ada telepon.

Tidak ada permohonan maaf.

Biasanya, Aira akan membujuk dan minta maaf saat ia marah.

Menangis. Meminta bicara. Mengalah.

kini tidak.

Langit berjalan mondar-mandir di kamar kosnya.

“Dia lagi jual mahal,” gumamnya.

“Iya… pasti.”

Ia mengetik pesan.

Kamu masih ngambek?

Tidak dibalas.

Ia mengetik lagi.

Jangan kekanak-kanakan, Aira.

Tetap sunyi.

Langit membanting ponsel ke kasur.

“Berani-beraninya…”

Rahangnya mengeras.

Ia mulai membuka media sosial.

Melihat unggahan lama Aira.

Senyumnya. Temannya. Dunia yang dulu ia kira sudah ia pegang.

Dan untuk pertama kalinya,

Langit merasa takut.

Bukan kehilangan cinta, tapi kehilangan kendali.

“Dia nggak bisa lepas dari aku,” katanya pada diri sendiri, lebih keras.

“Dia nggak berani.”

Tapi suaranya sendiri terdengar tidak yakin.

Pagi itu mendung.

Aira duduk di kursi penumpang, mobil melaju dengan kecepatan sedang ia menatap jalan tanpa benar-benar melihat. Ibunya menyetir dengan kedua tangan yang tenang, tenang yang dipelajari dari bertahun-tahun menahan.

Gerbang penjara terlihat dari kejauhan.

Jantung Aira berdegup keras.

“Aira,” kata ibunya pelan,

“kalau kamu belum siap ketemu ayah , ibu bisa sendiri nak.”

Aira menggeleng.

“Aku harus tahu,” katanya.

“Semuanya.”

Mereka masuk.

Ayah Aira duduk di balik meja kecil. Rambutnya lebih putih. Bahunya lebih turun.

Ketika melihat Aira, ia tersenyum.

Senyum yang membuat Aira ingin menangis seketika.

“Aira…”

Suara itu berat, tapi hangat.

Aira duduk. Tangannya gemetar.

“Yah…”

Suaranya patah.

Ibunya duduk di samping Aira.

Tangannya menggenggam tangan anaknya erat.

Beberapa menit mereka hanya saling menatap.

Akhirnya ibunya berbicara.

“Sudah waktunya kamu tahu,” katanya pada Aira.

Ia menatap suaminya di balik kaca sebentar, lalu kembali pada anaknya.

“Ayahmu ini… Tidak lebih dari sebatang kara.”

Aira menoleh cepat.

“Nenekmu sudah lama meninggal. Saudara-saudara ayahmu… hanya dekat pada orang yang punya kedudukan.”

Ayah Aira menunduk.

“Waktu ayahmu masih merintis,” lanjut ibunya,

“mereka menjauh. Tidak ada yang membantu. Tidak ada yang peduli.”

Aira menahan napas.

“Ayahmu takut,” kata ibunya lirih.

“Takut kamu bernasib sama. Dijauhi. Diremehkan.”

Ia menggenggam tangan Aira lebih erat.

“Makanya dia keras. Makanya dia ingin kamu jadi kuat. Jadi penerus Wira Group.”

Air mata Aira jatuh.

“Dia pikir… kalau kamu punya citra baik, perusahaan kuat, keluarga tidak akan menjauh.”

Ayah Aira akhirnya bicara.

“Ayah salah caranya,” katanya pelan.

“Tapi ayah tidak pernah berniat menyakitimu.”

Aira menangis.

“Proyek Sungai Selatan itu…” lanjut ibunya.

“Ayahmu tidak bersalah. Ketika tahu uang kompensasi tidak dibagikan merata, dia pakai uang pribadinya.”

Aira terisak.

“Dan dia takut,” kata ibunya lagi.

“Takut ada orang yang akan mencelakai mu, Takut kamu jadi sasaran. Makanya dia menjauh. Membuat kamu keras.”

Ayah Aira menatap anaknya.

“Kalau ayah pergi suatu hari nanti,” katanya lirih,

“ayah ingin kamu cukup kuat untuk berdiri sendiri.”

Aira tidak bisa menahan lagi.

Ia berdiri, ia ingin memeluk ayahnya melewati pembatas kaca.

“Maaf… Yah…”

Tangisnya pecah.

“Maaf aku berpikir buruk…”

Ayah Aira menangis tanpa suara.

“Ayah mungkin bukan ayah yang baik,” katanya pelan, “tapi ayah tidak akan menipu anak ayah sendiri.”

Ibunya mengusap punggung Aira.

“Bahasa cinta ayahmu berbeda,” katanya lembut.

“Tidak hangat. Tidak pandai. Tapi tulus.”

Aira memejamkan mata.

Kini ia mengerti.

Cinta tidak selalu datang dalam bentuk yang kita harapkan.

Kadang ia datang sebagai jarak.

Sebagai ketakutan.

Sebagai pengorbanan yang tidak pernah diceritakan.

Udara di ruang kunjungan terasa lebih berat dari sebelumnya.

Bukan karena dinding atau jeruji

melainkan karena kata-kata yang akhirnya berani diucapkan.

Ayah Aira menatap anaknya lama.

Tatapan itu berbeda dari sebelumnya.

Tidak keras.

Tidak menilai.

Hanya… penuh penyesalan.

“Aira,” katanya pelan.

Aira mengangkat wajah.

Matanya masih basah, tapi kini lebih tenang.

“Ayah mau minta maaf.”

Dua kata itu.

ayah mau minta maaf.

membuat dada Aira bergetar hebat.

“Ayah pernah menyuruh kamu memilih,” lanjut ayahnya.

“Memilih ayah… atau Langit.”

Ayah Aira menunduk.

“Itu salah,” katanya jujur.

“Salah besar.”

Aira terdiam.

Ibunya menggenggam tangan Aira lebih erat, seolah tahu apa yang sedang berkecamuk di dada anaknya.

“Ayah tidak berhak memaksa kamu,” kata ayahnya lagi.

“Cinta tidak bisa dipaksa. Tidak bisa diatur.”

Suara ayahnya bergetar, tapi tidak pecah.

“Kalau kamu benar-benar mencintai Langit,” katanya pelan,

“dan dia benar-benar mencintaimu… ayah akan merestui.”

Kata merestui itu terdengar seperti sesuatu yang terlalu terlambat.

dan terlalu mahal.

Aira menatap ayahnya.

Lama.

Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, tapi tidak ada yang keluar.

Ia lalu menoleh pada ibunya.

Ibunya hanya tersenyum kecil.

Tidak berkata apa-apa.

Tidak menjelaskan.

Senyum itu bukan senyum kemenangan.

Bukan juga senyum rahasia.

Itu senyum seorang ibu yang berkata:

biarkan anakku menyimpulkan sendiri.

Aira menunduk.

Dadanya terasa penuh.

Beberapa menit kemudian, waktu kunjungan habis.

Mereka berpamitan.

Pelan.

Tanpa kata-kata berlebihan.

Ayah Aira menatap punggung anaknya sampai ia benar-benar pergi dari ruang itu.

Mobil melaju keluar dari area lapas.

Hening.

Ibunya memegang setir dengan kedua tangan, wajahnya terlihat lebih ringan dari biasanya.

Ada semangat kecil yang tidak ia sadari terlalu terang.

“Aira,” kata ibunya tiba-tiba.

“Nanti kalau pulang, ibu mau masak sayur asem.”

Aira mengangguk kecil.

Beberapa detik berlalu.

Lalu ibunya mendadak mengerem pelan.

“Astaga,” katanya lirih.

“Ada apa, Bu?” tanya Aira.

“Ibu lupa,” kata ibunya.

“Makanan kesukaan ayah kamu. Ibu lupa untuk memberikan nya”

Nada suaranya penuh penyesalan kecil.

Sepele, tapi nyata.

“Ibu terlalu senang ketemu ayah,” katanya pelan sambil tersenyum sendiri.

Ia memutar setir.

Mobil berbalik arah, akhirnya mereka sampai di parkiran lapas

“Aku antar saja, Bu,” kata Aira spontan.

“Ibu tunggu di mobil.”

Ibunya menoleh.

Ragu.

“Tidak apa-apa?”

“Iya,” jawab Aira.

“Sebentar saja.”

Ibunya mengangguk.

Aira turun dari mobil, membawa tas berisi makanan itu.

Langkahnya ringan.

Ia tidak tahu bahwa beberapa langkah ke depan, hidupnya akan benar-benar berubah.

Di dekat ruang penitipan barang, Aira berhenti.

Ada suara.

Suara yang ia kenal.

Terlalu kenal.

Langit.

Nada suaranya tinggi.

Kasar.

Tidak ada sisa kelembutan.

Aira refleks berhenti di balik dinding.

Dadanya berdegup keras.

“Aku tidak peduli,” suara Langit terdengar jelas. “Keluarga Maheswari itu harus hancur.”

Aira membeku.

“Itu harga yang harus dibayar,” lanjut Langit.

“Bapak tahu kenapa aku mendekati Aira?”

Aira menutup mulutnya dengan tangan.

Napasnya tertahan.

“Aku ingin balas dendam,” kata Langit tanpa ragu.

“Aku ingin menjauhkan dia dari kebahagiaan. Dari hidup yang tenang.”

Nada suaranya dingin.

Licik.

“Aira itu cuma alat,” katanya.

“Dan cepat atau lambat… dia akan kembali ke kendaliku.”

Ada jeda.

Lalu tawa pendek.

“Dan saat itu terjadi,” lanjutnya,

“aku akan pastikan dia tersiksa. Pelan-pelan.”

Aira merasa kakinya lemas.

Tangannya gemetar hebat.

Ia tidak berani mengintip.

Tidak perlu.

Setiap kata sudah cukup untuk menghancurkan apa pun yang tersisa.

Itu bukan salah paham.

Bukan emosi sesaat.

Bukan ucapan orang yang terluka.

Itu pengakuan.

Pengakuan bahwa cinta yang ia perjuangkan

tidak pernah ada.

Air mata mengalir tanpa suara.

Ia mundur pelan.

Sangat pelan.

Tak ingin diketahui.

Tak ingin berhadapan.

Tas makanan itu terasa berat di tangannya.

Ia menyerahkannya pada petugas dengan suara yang hampir tidak keluar.

“Untuk… Pak Salman Maheswari,” katanya lirih.

Petugas mengangguk.

Aira berbalik.

Langkahnya goyah.

Aira masuk ke mobil.

Ibunya menoleh cepat.

“Kok lama?” tanyanya.

Aira tidak menjawab.

Ibunya memperhatikan wajah anaknya.

Pucat.

Kosong.

“Aira?”

“Tidak apa-apa, Bu,” jawab Aira akhirnya.

Suaranya datar. Terlalu datar.

Mobil melaju.

Aira menatap jalan.

Di kepalanya, potongan-potongan kenangan runtuh satu per satu.

Senyum Langit.

Kata aku khawatir.

Kalimat aku cuma mau jaga kamu.

Semuanya palsu.

Dadanya terasa seperti lubang besar.

Ia tidak menangis.

Tidak bicara.

Tidak bergerak.

Ibunya meliriknya berkali-kali, tapi memilih diam.

Karena seorang ibu tahu.

ada luka yang tidak bisa disentuh dengan kata-kata.

Aira menyandarkan kepala ke kaca jendela.

Dalam hatinya, satu kalimat berulang, pelan tapi kejam:

Jadi ini yang disebut cinta?

Atau aku hanya sedang dimanfaatkan sejak awal?

Dan di perjalanan pulang itu,

Aira tidak hanya kehilangan Langit.

Ia kehilangan ilusi.

Dan ilusi, ketika pecah,

menyisakan luka yang lebih dalam dari putus cinta mana pun.

Bersambung

1
Azha Nasgor
Lanjut thoor
Azha Nasgor
semngat thoor
Azha Nasgor
sangat baik
Aisyah
sangat bagus
Salman Akbar
lanjut Thorr
Zahra Putri utami
kok enggak berenti ujian Aira
Zahra Putri utami
Kasian Raka
Zahra Putri utami
Ya allah raka
Zahra Putri utami
kasian Aira
Zahra Putri utami
semangat thor
Zahra Putri utami
lanjut
Zahra Putri utami
Lanjut
Zahra Putri utami
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!