Kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen adalah kelanjutan dari Luka dari Suami, Cinta dari Mafia, yang menyoroti perjalanan orang tua mereka, Holdes Shen dan Janetta Lee.
***
Shen Xiao Han dan Colly Shen, putra-putri Holdes Shen dan Janetta Lee, mewarisi dunia penuh kekuasaan dan bahaya dari orang tua mereka, Holdes dan Janetta.
Shen Xiao Han, alias Little Tiger, menjadi mafia termuda yang memimpin kelompok ayahnya yang sudah pensiun—keberanian dan kekejamannya melebihi siapa pun. Colly Shen, mahasiswi tangguh, terus menghadapi rintangan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
Di dunia di mana kekuasaan, pengkhianatan, dan ancaman mengintai setiap langkah, apakah mereka akan bertahan atau terperangkap oleh bayangan keluarga mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Apartemen Jacky
Lampu kota berkilauan di balik jendela besar apartemen lantai atas. Jacky berdiri dengan satu tangan di saku celana, punggungnya menghadap ruangan, sementara wajahnya tercermin samar di kaca jendela.
Ia sedang berbicara melalui ponsel.
“Bos, Holden Shen sedang menemui beberapa klien di restoran dan klub malam,” lapor suara di seberang sana. “Sepertinya dia memang telah meninggalkan dunia bawah tanah.”
Sudut bibir Jacky bergerak tipis. Tatapannya tajam, seolah menembus jarak ribuan kilometer.
“Apakah dia masih membawa pengawal?” tanyanya tenang, namun bertekanan.
“Asisten setianya bernama Bowie. Dia selalu mengikuti Holden Shen, sejak muda hingga sekarang,” jawab anak buahnya tanpa ragu.
Jacky menghela napas pelan. Jarinya mengetuk kaca jendela sekali.
“Lalu, selain bisnis… apakah dia tidak memiliki kegiatan lain?” tanyanya lagi
Di seberang, terdengar jeda singkat sebelum laporan dilanjutkan.
“Tuan muda, dalam beberapa hari terakhir Holden Shen sering terlihat bersama seorang wanita. Mereka kerap pergi ke lapangan golf, kafe, dan hotel.”
Alis Jacky terangkat sedikit.
“Wanita?” ulangnya pelan. “Seorang Holden Shen memiliki selingkuhan di luar?”
“Tidak mengherankan juga,” lanjut anak buahnya. “Dia cukup lama berada di luar negeri, sudah berbulan-bulan. Hubungan mereka terlihat sangat dekat. Nama wanita itu Chimmy Wu. Identitasnya sengaja disembunyikan. Kemungkinan Holden tidak ingin ada yang tahu.”
Jacky tertawa kecil. Bukan tawa senang—melainkan tawa sinis.
“Dapatkan foto mereka,” perintahnya dingin. “Kalau sampai Janetta Lee mengetahui suaminya memiliki selingkuhan di luar sana… aku penasaran reaksi wanita itu.”
Tanpa menunggu jawaban, Jacky memutuskan panggilan.
Keheningan kembali menyelimuti apartemen.
Jacky menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca.
“Bahkan wanita sekelas Janetta Lee saja bisa diselingkuhi,” gumamnya. “Holden Shen… istrimu begitu tangguh dan cantik, tapi kau masih tidak puas.”
Senyumnya mengembang perlahan, gelap dan penuh perhitungan.
“Usiamu sudah tua, tapi masih berulah. Kedua anakmu sudah dewasa,” lanjutnya pelan.
“Keluarga bahagiamu… akan hancur tidak lama lagi.”
Lampu kota tetap bersinar di luar, seolah tak peduli bahwa satu keluarga besar sedang perlahan menuju kehancuran—dirancang dengan rapi oleh seorang pria bernama Jacky Yin.
Keesokan harinya
Markas Little Tiger
Gudang bawah tanah itu dipenuhi bau besi dan darah kering. Lampu putih menggantung rendah, memantulkan bayangan panjang di lantai semen yang dingin.
Beberapa pria berlutut dalam keadaan terikat. Mereka adalah pelaku penyerangan terhadap Colly dan Janetta.
Wajah mereka bengkak, lebam, dan penuh luka. Darah mengalir dari sudut bibir yang pecah, napas mereka tersengal, penuh ketakutan dan penyesalan.
Jeritan tertahan menggema di ruangan.
Beberapa dari mereka roboh ke depan, tubuhnya gemetar setelah “interogasi” yang tak memberi ruang bagi kebohongan. Ada yang meraung saat besi panas didekatkan ke tubuhnya, ada pula yang menangis histeris setelah hukuman diberikan sebagai peringatan—bukan untuk membunuh, melainkan mengingatkan siapa penguasa sebenarnya.
“Bicara sebelum kalian kehilangan nyawa!” bentak Roy dengan suara berat.
Salah satu pria yang terikat gemetar hebat. Tubuhnya bergetar, matanya merah karena ketakutan.
“Kami… kami benar-benar tidak tahu,” ucapnya terbata. “Orang yang membayar kami tidak pernah menunjukkan wajahnya. Mereka mengenakan masker dan penutup kepala. Bahkan bola matanya pun tidak terlihat.”
Xiao Han melangkah maju. Ia menyalakan pemantik api dengan gerakan santai—klik. Nyala api kecil menari di ujung jarinya, memantulkan cahaya dingin di matanya.
“Menyerang keluargaku,” katanya rendah namun mengancam, “lalu sampai sekarang kalian masih memilih diam.”
Ia mendekat satu langkah.
“Kalau aku membunuh salah satu dari kalian sekarang, orang yang membayar kalian juga tidak akan datang menyelamatkan,” lanjutnya. “Dan keluarga kalian… akan tetap aku temukan.”
Ancaman itu membuat beberapa pria langsung tersungkur.
“Tuan! Tolong lepaskan kami!” jerit mereka panik. “Jangan libatkan keluarga kami! Tolong—!”
“Kami hanya menerima bayaran!” sahut yang lain, suaranya pecah.
Monica melangkah ke depan sambil menatap tablet di tangannya.
“Bos, nomor rekening yang mentransfer uang ke akun mereka sudah diblokir. Sepertinya rekening itu hanya digunakan sementara.”
Xiao Han menoleh. “Siapa nama pemilik rekeningnya?”
Monica menyerahkan data hasil penyelidikan.
“Ronald. Tapi kemungkinan besar itu bukan nama asli. Tidak ada data apa pun yang cocok.”
Xiao Han tersenyum tipis—senyum dingin yang tak membawa kehangatan.
“Luar biasa,” gumamnya. “Bahkan namanya palsu. Rekening dihapus setelah pembayaran.”
Ia menatap para pria yang berlutut di lantai.
“Cukup berhati-hati… atau justru terlalu berpengalaman.”
Salah satu pria mengangkat wajahnya, air mata bercampur darah di pipinya.
“Tuan… aku tidak berbohong. Aku hanya butuh uang untuk ibuku,” katanya terisak. “Orang itu bertubuh tinggi. Hanya itu yang bisa kuingat. Wajahnya benar-benar tertutup… aku tidak bisa mengenali ciri lainnya.”
Sebuah pesan masuk ke ponsel Xiao Han yang saat itu berada di tangan Monica.
Monica menurunkan pandangannya ke layar. Matanya langsung membulat, napasnya tertahan sesaat.
“Bos…” ucapnya pelan namun tegang.
Ia segera mendekat dan menunjukkan ponsel itu kepada Xiao Han.
Di layar terpampang serangkaian foto.
Holden Shen—jelas dan tak terbantahkan—tampak bersama seorang wanita di berbagai tempat.
Di lapangan golf, mereka berdiri berdekatan, senyum mereka terlihat akrab dan mesra.
Di sebuah kafe, wanita itu duduk condong ke arahnya, tangan mereka hampir bersentuhan.
Foto berikutnya memperlihatkan mereka memasuki sebuah hotel, berdampingan tanpa upaya menyembunyikan hubungan.
Dan masih ada foto-foto lain.
Makan malam berdua.
Berjalan di tepi jalan kota asing.
Tertawa seperti sepasang kekasih yang tak peduli dunia.
“Ini…” Monica menelan ludah. “Sepertinya seseorang sengaja mengirimkannya pada kita.”
"Lacak pengirimnya!" perintah Xiao Han.
"Baik, Bos," jawab Monica.
"Jangan sampai mama tahu sebelum kita menemukan jawabannya. Aku harus menunggu papa pulang. Siapa pun pegirimnnya, foto ini terbukti papa berselingkuh," ucap Xiao Han.