NovelToon NovelToon
Jodohku Ternyata Lurah

Jodohku Ternyata Lurah

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Wanita Karir / Keluarga / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: zenun smith

Menurut Azalea Laire, dirinya mempunyai bapak kolotnya minta ampun. Jaman sekarang masih saja dijodoh-jodohkan, mana pakai ada ancaman segala, dimana kalau tidak mau dijodohkan, dirinya akan ditendang bukan lagi dari keluarga, tapi di depak dari muka bumi.

Azalea geram di tagih perjodohan terus oleh bapaknya, sehingga dia punya niat buat ngelabrak pria yang mau dijodohkan olehnya agar laki-laki itu ilfeel dan mundur dari perjodohan. Tapi eh tapi, ketika Azalea merealisasikan niat itu yang mana dia pergi ke desa untuk menemui sang jodoh, ternyata dia melakukan kesalahan.

Ternyata jodoh dia adalah Lurah.

Terus kira-kira masalah apa yang udah dibikin oleh Azalea? Kira-kira masalah Azalea ini bikin geram atau malah bikin cengar-cengir?

Nyok kita pantengin aja ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diterimanya Adi

Hagia melangkah menuju ruang depan sanggar, tempat di mana calon pendaftar biasanya menunggu. Pikirannya masih sedikit terbagi antara kegalauan hatinya soal Azalea dan tanggung jawabnya sebagai ketua sanggar.

"Adi?" Hagia menyapa.

Adi langsung berdiri memberikan hormat yang berlebihan seakan-akan sedang menyambut komandan militer.

"Siap, ketua!"

Hagia menghela napas, mengusap wajahnya sebentar. "Kamu serius mau daftar ke sanggar ini? Nggak cuma buat main-main, kan?"

Pertanyaan Hagia langsung menusuk ke inti prasangkanya. Biasanya Adi akan langsung menciut. Namun kali ini ada yang berbeda. Berkat bisikan sakti dari Suci di bawah pohon tadi, Adi merasa memiliki tameng mental yang kuat. Ia menarik napas dalam, membusungkan dada, lalu menatap Hagia dengan tatapan yang ia usahakan tegas.

"Ketua, dengarkan baik-baik. Aku ke sini bukan untuk main-main. Aku sadar selama ini kelakuan ku mungkin terlihat kurang meresahkan. Tapi hari ini, aku datang dengan kesadaran penuh akan pentingnya melestarikan budaya dan seni di tanah kelahiran kita."

Hagia menyilangkan tangan di dada, masih belum yakin. "Oya? Betulkah begitu?"

Tanpa membuang waktu, Adi membuka map plastiknya dan mengeluarkan selembar kertas yang penuh dengan tulisan tangan yang rapi (yang sebenarnya dituliskan oleh Suci sementara Adi mendiktekan kata-kata yang dia hapal).

"Ini adalah Visi dan Misiku sebagai calon anggota Sanggar Watuasih." seru Adi.

"Visi: Menjadikan diri sebagai ikon kreativitas pemuda lokal yang berkarakter demi kemajuan desa Watuasih. Misi: Pertama, mendalami seni peran sebagai sarana ekspresi jiwa. Kedua, membangun sinergi antar pemuda untuk memajukan kesenian daerah. Ketiga, membuktikan bahwa keberanian dan kepercayaan diri adalah modal utama dalam pertunjukan."

Hagia sedikit terperangah. Ia tidak menyangka Adi bisa menyusun kalimat-kalimat serapi itu. Ia mencoba mengetes lebih jauh.

"Keberanian dan kepercayaan diri itu bagus, Adi. Tapi seni bukan cuma soal keberanian tampil. Seni itu soal rasa, soal konsisten, dan soal kepatuhan pada arahan. Bagaimana kalau aku minta kamu latihan dasar selama tiga bulan tanpa boleh tampil sekali pun? Apa kamu sanggup?"

"Ketua, jangankan tiga bulan, satu tahun pun aku sanggup."

Ini orang kesambet apa? batin Hagia. Ia merasa ada yang tidak beres. Jawaban Adi terlalu mantap dan sulit dipatahkan secara logika organisasi. Namun insting pelindungnya terhadap Azalea tetap berteriak. Ia tahu betul arah angin ini akan ke mana.

"Oke, tapi sepertinya saya belum bisa menerimamu untuk saat ini."

Mendengar penolakan itu, Adi tidak langsung menyerah seperti biasanya. Ia justru memasang wajah paling melas nan dramatis.

"Alasannya apa, Ketua? Bukankah kuota pendaftaran ini masih banyak? Aku tahu sanggar tidak ada batasan bagi siapa pun untuk belajar seni, kan? Apakah karena aku ini Adi, si pembuat onar sehingga hakku untuk belajar di tanah kelahiranku sendiri dicabut?" Adi berusaha menggiring opini.

Hagia mencoba menyusun kata-kata profesional agar tidak terkesan personal. "Bukan begitu, Di, tapi--"

"Sedih sekali rasanya," Adi langsung memotong, suaranya kini sengaja dikeraskan agar anggota lain yang sedang berlatih bisa mendengar.

"Seorang putra asli Watuasih tertolak di tanah kelahirannya sendiri. Salahkah diri ini jika ingin mengeksplorasi kreativitas agar menjadi manusia yang lebih baik? Padahal diri ini sudah membawa bekal kepercayaan diri yang tinggi, sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam sebuah pertunjukan. Apakah sanggar yang Ketua pimpin ini hanya menerima orang-orang pilihan saja? Apakah ada diskriminasi di sini?!"

Hagia mulai merasa gerah. Beberapa anggota sanggar mulai melongokkan kepala karena mendengar kata diskriminasi. Jika ia tetap menolak Adi dengan argumen yang lemah, citra sanggar bisa rusak. Ia merasa seperti sedang dipojokkan. Apalagi ada kabar bahwa sanggar ini hendak kedatangan media.

Hagia membatin, kalau sanggar ini punya cabang, sudah kuterima dia lalu aku tempatkan dia di sanggar satunya biar nggak dekat-dekat Azalea. Tapi sayangnya sanggar ini tidak punya cabang.

Hagia memutar otak dengan cepat. Jika ia menerima Adi, risikonya adalah Azalea akan terus diganggu. Namun jika ia menolak, ia akan dicap sebagai pemimpin yang tidak adil.

"Baiklah, saya terima kamu sebagai anggota percobaan. Tapi ingat, ada aturan mainnya. Kamu akan berada di bawah pengawasan ketat, dan kalau kamu melanggar satu saja aturan tentang ketertiban, kamu keluar hari itu juga."

Adi berbinar-binar. "Sepakat! Terima kasih, Ketua."

Hagia mengangguk lemah, sementara otaknya mulai menyusun rencana penanggulangan. Ia harus memastikan jadwal latihan Adi tidak akan pernah berbenturan dengan jadwal latihan Azalea. Ia akan menaruh Adi di bagian logistik yang paling berat atau di bagian artistik yang mengurusi dekorasi di luar gedung, agar pria itu tidak punya waktu untuk sekadar menyapa Azalea.

...****...

Sementara itu,

Di dalam kamarnya, Azalea sedang duduk di tepi ranjang dengan pandangan kosong. Pikirannya tidak sedang berada di tumpukan bibit tanaman atau membuat pupuk. Ia sedang mengulang-ulang informasi yang didengarnya dari Bima, adik Hagia.

Hagia sudah punya calon istri? Kenapa Hagia tidak pernah bercerita? Kenapa sikap Hagia kepadanya selama ini justru menunjukkan perlindungan yang lebih dari sekadar teman atau rekan organisasi? Azalea merasa ada sesuatu yang tidak jujur dalam hubungan pertemanan mereka.

"Aku nggak bisa cuma diam begini," gumam Azalea. Ia merasa perlu mengulik informasi lebih dalam. Ia harus bertemu dengan Bima lagi, tapi kali ini secara diam-diam. Jika Hagia tahu ia menemui adiknya untuk urusan pribadi seperti ini, Hagia pasti akan melarang atau mencari-cari alasan untuk menghalangi.

Saat ia sedang menyusun rencana untuk menculik Bima, tiba-tiba ponselnya di atas nakas bergetar. Sebuah panggilan masuk. Azalea sempat mengira itu adalah ayahnya yang kembali menelepon untuk memaksanya pulang dan membicarakan perjodohan yang membosankan itu.

Tapi matanya membelalak saat melihat nama yang tertera di layar. Tumben sekali ibunya menelepon secara langsung, biasanya hanya lewat pesan singkat.

"Halo, Assalamualaikum, Bu?"

"Waalaikumsalam, Nak. Kamu lagi apa?"

"Lagi di kamar, Bu. Baru selesai bantu mahasiswa KKN. Ada apa, Bu?"

"Kamu punya pacar?"

"Hah? Kenapa ibu nanya begitu?"

"Begini, Nak, Bapakmu bilang kamu susah sekali disuruh pulang. Katanya kamu selalu beralasan sibuk di sanggar dan asrama."

"Ya memang sedang sibuk sih, Bu. Terus hubungannya nanya Azalea punya pacar, apa?"

"Ayahmu curiga kamu betah di sana karena ada laki-laki yang menahanmu. Apa itu benar?"

Azalea ingin menjawab tidak, tapi wajah Hagia tiba-tiba melintas. Namun di saat yang sama, berita tentang calon istri Hagia juga ikut muncul, membuat hatinya terasa nyeri.

"Kenapa Ibu tanya gitu?" Azalea mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Karena kalau kamu belum punya, Bapakmu mau mempercepat pertemuan dengan keluarga teman lamanya itu. Tapi kalau kamu sudah punya, Ibu ingin tahu siapa orangnya. Jangan sampai kamu terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama menyakitkan, Nak."

Azalea terdiam seribu bahasa. Di satu sisi ada desakan keluarga, di sisi lain ada ketidakpastian Hagia.

"Iya, Azalea udah punya pacar."

"Namanya?"

"Mau tahu banget apa mau tahu aja bu?"

"Banget! Namanya siapa? Cepetan sebutin, Lea."

"Namanya Lurah. Bilangin Ayah ya bu, berhenti menjodohkan Azalea sama anak temannya. Azalea udah punya calon suami pilihan Azalea sendiri."

Sangking speechlessnya, Ibunya Azalea diseberang sana manggil-manggil suaminya, Pak Sutopo, setelah telepon tertutup. Beliau manggil-manggil dengan gerakan gemas gimanaa gitu. Soalnya ia telah menyadari sesuatu.

.

.

Bersambung.

1
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
kamu salah paham. tapi aku suka. biarkan kesalah paham ini, semakin panjang /Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
iya, punya ayahmu. tapi kamu pewarisnya
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
heleehhhh, modus mu /Facepalm//Facepalm//Curse/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dan ternyata itu ialah nomor sang penipu /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
sebegitu khawatirnya hagia sama lea. apalagi itu, jika bukan cinta
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
ooo, lebih privasi gitu maksudnya
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dia memang menyukai mu hagia. seharusnya bukan akting yg ditunjukkan tapi kebenaran
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
fokus leaaa, fokus /Chuckle//Chuckle//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
aku suka sama pikiranmu
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
nah kan, akhirnya kamu sadar lea
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dia bukan khawatir kamu patah hati Lea. yang dia khawatirkan kamu berhasil berada di hati Hagia. walaupun itu, memang benar adanya
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
Sebutkan nama lengkapnya Yahh /Facepalm//Grin/
〈⎳ FT. Zira
eaaa katahuannn
〈⎳ FT. Zira
aduh alasannya/Facepalm/
〈⎳ FT. Zira
lahhh... kelihatan banget jadinya
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
zenuuuuuunnnnnnn nackal sekali kamuuuhhhhhhh. ihhh geeemmmeeessshhhh
Zenun: iiih ada akak😄🥳👍
total 1 replies
Felycia R. Fernandez
tapi anak nya lagi ngambek lho Pak,Bu
karena Hagia salah ngomong
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Felycia R. Fernandez: Gak sabar liat reaksi Azalea nantinya 😆😆😆
total 2 replies
Felycia R. Fernandez
weeeeh lurah 😍😍😍😍😍😍😍😍
Felycia R. Fernandez: kk Thor jago visual nih 👍👍👍
total 4 replies
Felycia R. Fernandez
jiaaaah 😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez: aku itu 😆😆😆😆😆🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
tinie
aaah gak ada yg jujur😔😔🤔
Zenun: eps selanjutnya dikit-dikit kebuka kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!