Binar tak menyangka ujian cintanya bersama sang suami hadir setelah menikah, masalah bertubi-tubi silih berganti menghampiri rumah tangga mereka.
Mertua dan ipar yang selalu mengganggu kenyamanannya, masalah orang ketiga pun juga ikut mendekati biduk rumah tangganya. Mereka selalu mencari celah, agar bisa merusak hubungan yang selama ini ia bangun bersama sang suami.
Saat batas kesabaran mulai di ambang batas dan tidak satupun orang percaya padanya, pantaskah Binar bertahan dengan semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MinNami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Kejutan Untuk Intan -
Ancaman Fadli benar-benar terbukti. Begitu Intan memasuki area kampus hampir seluruh mata menatap tajam kearahnya terutama kaum wanita. Tatapan menghakimi itu membuat Intan semakin merasa tersudut, ditambah tidak ada Ella disampingnya.
"Oh ternyata dia yang mau jadi pelakor." Intan mendengar ucapan bernada sinis yang berasal dari salah satu seniornya.
"Dih nggak malu banget, kakak sahabat sendiri mau ditikung. Masih punya muka lagi berkeliaran di kampus."
Kalimat-kalimat tajam itu terus Intan terima bahkan sampai teman-teman sekelasnya pun menatap sinis kearahnya. Intan tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi.
"Lo kenapa natap gue begitu?" Intan bertanya pada Ivy salah satu teman sekelasnya.
Ivy hanya melengos tidak memedulikan pertanyaan Intan. Gadis itu terlihat begitu muak menatap wajah sok polos Intan.
"Jadi cita-cita lo mau jadi pelakor toh," Romi menyela disertai tawa mengejek diikuti teman-teman yang lainnya.
"Maksud lo apa?" tanya Intan terdengar marah, dia tidak terima dengan perkataan Romi.
"Widih galak bener nih pelakor. Mana sok polos pula," Romi kembali mengejek membuat Intan semakin marah. Jelas saja dia tidak terima dikatai pelakor.
"Jaga mulut lo ya!" Intan berseru marah, benar-benar tersinggung dengan ucapan itu. Dia gadis baik-baik dari keluarga terpandang pula mengapa bisa dia mendapat julukan mengerikan seperti itu.
Salsa, gadis yang terkenal bermulut pedas itu bergerak maju membawa beberapa lembar kertas. Gadis itu tersenyum sinis sebelum melempar lembaran kertas kewajah Intan yang terlihat kaget.
Intan dibuat semakin tercengang melihat lembaran kertas itu berisi pesan yang dia kirim untuk Albiru. Pesan yang jelas sekali tidak satupun ditanggapi Albiru. Belum cukup sampai disitu, beberapa foto yang kemarin diambil diam-diam oleh Ella juga tampak hanya saja wajah Alburu terlihat diblur.
PELAKOR YANG MAU MERUSAK RUMAH TANGGA KAKAK DARI SAHABATNYA SENDIRI
Begitu kira-kira kalimat yang tertera disetiap lembar bukti bagaimana kelakuan Intan selama ini.
"Gimana? Kaget sama berita ini, lo jelas nggak bisa nyangkal karena ada bukti akurat." Salsa berucap sinis, kemudian gadis itu bergerak maju membisikan sesuatu pada Intan yang terlihat semakin pucat.
"Gue nggak pernah main-main sama ancaman gue dan lo jelas salah karena sudah berani nantang gue. Tapi lo tenang aja ini masih awal, sebagai peringatan untuk segera mundur."
Bisikan itu memang berasal dari Salsa, tapi Intan sangat tahu siapa dalangnya. Benar, Salsa suruhan Fadli untuk membuat Intan segera jera.
Riwayat Intan sudah tamat, Fadli berhasil menghancurkannya dalam sekali pukulan. Intan menyesal mengikuti saran Ella, menyesal menganggap Fadli remeh. Dan sekarang Intan sudah hancur, orang yang seharusnya membela justru tidak tampak.
Ella berhasil mencuci tangan, meninggalkan Intan seorang diri menanggung rasa malu ini.
...****************...
Intan tidak berani kembali ke kampus, gadis itu melarikan diri bersembunyi didalam mobilnya sambil menangis seorang diri. Ella yang seharusnya datang membela justru tidak dapat dihubungi.
Suara dering ponsel terdengar, panggilan masuk dari nomor yang tidak dia kenal. Intan sedikit takut menjawab panggilan tapi melihat si penelpon terus menghubungi akhirnya Intan memberanikan diri.
"Gimana kejutannya Intan? Suka atau malah kurang seru?"
Itu suara Fadli, bahkan Intan belum mengucapkan kata 'halo' tapi Fadli sudah lebih dulu berbicara.
"Ini benar-benar perbuatan mas Fadli? Intan nggak nyangka mas bisa sejahat ini sama Intan." Intan terisak pelan tidak terima dengan semua perbuatan Fadli.
"Gue sudah peringati lo tapi nggak mau denger sekarang terima akibatnya. Ingat Intan ini semua belum seberapa,"
Intan kembali menangis tidak tahu harus berbuat apa. Nama baiknya sudah tercemar, belum lagi jika berita ini sampai pada orang tuanya.
"Tolong bersihkan nama baik Intan, mas Fadli nggak bisa ngelakuin ini semua. Gimana sama orang tua Intan nantinya?"
"Untuk itu lo tenang aja, gue pastikan berita tentang lo cuma nyebar di kampus tapi sekali lagi lo buat ulah gue pastikan orang tua lo bakal tahu keburukan lo selama ini."
Fadli menutup telepon tidak membiarkan Intan berbicara lebih lanjut. Fadli akan membatasi diri karena biar bagaimanapun semua ini ada campur tangan Ella dan jika Ella terseret jelas nama baik keluarganya juga ikut rusak.
...****************...
Binar tahu ada yang aneh dengan dirinya belakangan ini, sesungguhnya Binar tidak ingin berharap karena takut dikecewakan untuk kesekian kalinya. Namun agar hatinya tenang, Binar akhirnya memberanikan diri mengambil sebuah benda yang selama ini dia sembunyikan.
Test Pack
Binar menutup matanya berdoa dalam hati, apapun hasilnya dia tidak akan kecewa lagi. Dia sudah berusaha menguatkan hatinya.
Bismillah, batin Binar menguatkan diri.
Binar membuka matanya, menatap nanar benda yang dia pegang dengan tangan gemetar.
Dua garis!
Hasil yang selama ini dia impikan. Binar menangis haru, dia pikir sedang bermimpi indah. Jika ini memang hanyalah mimpi Binar tidak ingin bangun dari mimpi indah ini.
Binar keluar dari kamar mandi, mendatangi Albiru yang sedang tertidur pulas. Dengan perasaan haru, Binar memeluk tubuh Albiru yang segera terbangun merasakan pelukan erat istrinya.
"Kenapa sayang?" tanya Albiru dengan wajah mengantuknya.
Binar menyerahkan benda ditangganya dengan mata berkaca-kaca. Albiru segera bangun, menerima benda itu dengan bingung. Namun setelah melihat dengan jelas Albiru melotot tak percaya.
"Positif Bi, aku sudah cek lima test pack hasilnya positif semua Bi." Binar berucap penuh haru.
"Ya Allah, sayang Alhamdulillah. Ini bukan mimpikan?"
Binar menggeleng, kali ini air mata bahagia menghiasi wajah cantiknya.
"Alhamdulillah Bi... Alhamdulillah," Albiru terus mengucap rasa syukur atas kabar bahagianya.
Keduanya tersenyum bahagia, berbagi pelukan hangat. Jawaban atas doa-doa mereka selama ini, jawaban atas kesabaran mereka selama ini.
Tuhan memang selalu punya rencana terbaik untuk setiap hamba-Nya yang senantiasa bersabar.
TBC
Terima kasih sudah mampir dan jangan lupa dukungannya biar author tambah semangat update 😊
Rekomendasi novel bagus untuk kalian karya Dara. Silahkan mampir dan jangan lupa dukungannya.
Judul : Mendadak Nikah
Berniat memasang bubu Zena malah menemukan sesosok pria yang pingsan di tepi sungai, lantas ia dan neneknya menolong pemuda tersebut. Suatu hari pria yang bernama Satya itu ingin membalas kebaikan orang yang telah menyelamatkannya, namun siapa sangka yang dilakukannya malah berujung petaka. Membawa pada sebuah kesalahpahaman yang mengharuskan Zena dan Satya menikah hari itu juga. Setelah pernikahan, Satya memperlakukan Zena dengan sangat baik hingga hal itu perlahan membuat sang istri jatuh cinta. Namun suatu kebenaran membuat Zena harus menelan pil pahit, karena Satya ternyata sudah punya kekasih. Bagaimana kisah selanjutnya? Apakah perasaan Zena akan terbalas? atau dia hanya menjadi peran antagonis di kisah cinta suaminya?
lagiiii...