Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elisa-25
Di mansion Mahendra yang belakangan ini sudah tidak kaku lagi seperti hari-hari biasanya yang diawali dengan diskusi serius mengenai harga saham ataupun geopolitik. Tapi pagi ini Sebaliknya, meja makan yang biasanya formal kini terasa menjadi arena pertempuran antara dua pria dewasa yang keras kepala. Siapa lagi kalau bukan Si putra mahkota Mahendra dan sang Kaisar Mahendra? Ya…Kalandra dan Tuan Baskoro.
Di tengah-tengah suasana yang sedikit tegang karena pertempuran antara anak dan papa itu Di meja makan, Elisa dengan asyiknya mengunyah potongan mangga muda dengan santai, sementara Aris sibuk mencoba menyusun menara dari potongan pancakenya. Padahal Di antara mereka, aura pertempuran terasa sangat kental.
"Pokoknya Papa yakin, cucu-cucu papa minimal dua dari mereka itu pasti perempuan," ujar Baskoro sambil menyesap kopinya dengan gaya otoriter. "Firasat seorang kakek itu tidak pernah salah Landra. Lihat, Garis wajah Elisa itu lembut sekali sekarang, itu tanda-tanda ada bidadari kecil di dalam sana."
Kalandra mendengus, ia memotong sosisnya dengan gerakan yang presisi. "Papa itu terlalu subjektif. Berdasarkan statistik keluarga Mahendra selama tiga generasi, anak pertama selalu laki-laki. Dan karena ini kembar tiga, Landra sangat yakin mereka laki-laki semua. Bayangkan, Pa, tiga jagoan sekaligus. Tim basket mini."
"Laki-laki semua itu sangat melelahkan, Landra! Rumah ini butuh suara tawa anak perempuan supaya tidak kaku seperti kamu," balas Baskoro tidak mau kalah. Ia lalu menoleh ke arah menantunya. "Elisa, kamu lebih setuju sama Papa, kan?"
Elisa yang sedang menikmati mangganya hanya mengangkat bahu sambil tersenyum geli. "Elisa apa saja boleh, Pa. Yang penting mereka sehat dan nggak hobi berantem seperti di dalem perut."
"Nggak bisa begitu!" Kalandra menyela dengan wajah serius yang dibuat-buat. "Pa, gimana kalau kita taruhan?"
Bimo dan Gery yang baru saja masuk ke ruang makan untuk memberikan laporan harian langsung saling lirik. Mereka tahu kalau dua bos besar ini sudah mulai bertaruh, urusannya pasti jadi panjang dan hasil akhirnya biasanya menjadi konyol.
"Taruhan apa?" tantang Baskoro, matanya berbinar.
"Kalau anak-anak Landra tiga-tiganya laki-laki, Papa harus kasih ijin Landra buat renovasi sayap kiri mansion jadi lapangan indoor serbaguna," ujar Kalandra.
Baskoro tertawa meremehkan. "Itu mah Kecil, Papa setuju. Tapi Kalau minimal ada satu saja perempuan, kamu harus kasih nama belakang Mahendra untuk yayasan pendidikan baru di luar negeri, dan... kamu harus pakai baju warna pink saat acara syukuran tujuh bulanan nanti. Terus kalau diantara mereka ada dua yang perempuan kamu harus pakai Baju pink juga di acara syukuran untuk ketiga cucu-cucuku saat mereka sudah lahir…hmm kamu sanggup Landra?
Gery langsung tersedak ludahnya sendiri. "Bos pakai baju pink? Gue bayar sejuta buat lihat hari itu datang!"
"Dua juta!" sahut Bimo sambil menahan tawa. "Gue yang bakal jadi fotografer pribadinya."
Kalandra sempat ragu mendengar syarat harus memakai baju pink itu, tapi egonya sebagai penganut statistik laki-laki, ia akan menang. "Oke. Deal!"
Keduanya bersalaman di atas meja makan, disaksikan oleh Elisa yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat dua pria Mahendra itu yang pagi ini bertingkah seperti anak kecil yang akan memperebutkan mainan.
Setelah drama taruhan itu selesai, suasana kembali sedikit serius ketika Bimo dan Gery duduk di kursi tambahan.
"Lan, soal hantu yang kemarin kirim foto bukit belakang," Bimo memulai, suaranya dipelankan. "Gue udah trace. Sinyalnya loncat-loncat, tapi titik terakhirnya ada di sebuah gudang tua di daerah pelabuhan. Kayaknya Danu beneran udah pindah markas ke tempat yang nggak terduga."
Gery mengangguk, kali ini tanpa cengiran. "Gue juga udah sebar mata-mata di area sana. Masalahnya, Lan, Danu ini lagi kayak tikus kejepit. Dia nggak punya duit buat sewa tentara bayaran kelas kakap lagi, tapi dia mulai rekrut preman-preman jalanan yang nggak punya otak. Orang-orang kayak gitu justru lebih bahaya karena nggak bisa kita prediksikan."
Kalandra mengerutkan kening. "Preman jalanan?"
"Iya. Preman jalanan. Dan ada kabar juga kalau salah satu dari mereka mencoba cari informasi tentang jadwal kontrol dokter Elisa lewat orang dalam di rumah sakit," lanjut Gery. "Tapi lo tenang aja, suster yang dia hubungi itu ternyata sepupunya salah satu anak buah gue. Jadi kita sekarang dapet informasi balik."
"Bagus," sahut Kalandra. "Kita mainkan saja permainannya. Berikan saja jadwal palsu pada mereka."
...----------------...
Siang harinya, Kalandra sedang menemani Elisa berjalan-jalan di taman samping. Perut Elisa yang sudah mulai membuncit membuatnya harus berjalan perlahan. Di sela-sela obrolan, Kalandra mendadak berhenti di depan sebuah pohon besar.
"Kenapa, Mas?" tanya Elisa bingung.
Kalandra menatap pohon itu dengan serius. "Elisa, menurut kamu, kalau pohon ini kita tebang sedikit terus kita buat jadi rumah pohon yang punya tiga lantai, bagus nggak?"
Elisa melongo. “Tiga lantai? Mas, untuk apa buat rumah pohon tiga lantai?”
“Ya untuk mereka, Anak-anak saya” jawab kalandra sembari mengusap pelan perut Elisa
“Astaga mas, mereka saja belum lahir dan itu masih lama Mas. mereka baru akan lahir beberapa bulan lagi. Dan itu juga mereka Belum bisa manjat pohon!" Jawab Elisa sedikit gemes sama sang suami.
"Ya buat persiapan, sayang. Biar kalau mereka udah bisa jalan, rumah pohonnya udah berdiri kokoh," dalih Kalandra.
Tiba-tiba, Kalandra memegang perutnya sendiri. Wajahnya meringis.
"Mual lagi?" tebak Elisa.
"Nggak... tapi saya mendadak pengen banget makan... seblak," gumam Kalandra dengan nada tidak percaya pada dirinya sendiri.
"Seblak?" Elisa tertawa lepas. "Mas Landra yang biasanya cuma makan wagyu sama truffle, sekarang mau kerupuk basah dan pedas?"
"Saya juga nggak tahu, El! Aroma seblak mendadak muter-muter di hidung saya. Rasanya kayak ada kerupuk yang manggil-manggil nama saya dari kejauhan," Kalandra tampak sangat tersiksa dengan keinginan anehnya itu.
Gery yang lewat di dekat mereka langsung menyahut, "Bos, lo mau seblak? Tenang, gue tau tempat yang paling nendang di gang sebelah kantor. Tapi syaratnya satu, Bos harus makan di situ langsung, pake kursi plastik."
"Gery, kamu mau saya mati keracunan rasa pedas atau mati karena malu?" ancam Kalandra, meski tangannya tetap memegang perut yang terasa lapar.
"Demi anak, Bos! Katanya jagoan semua, pasti mereka pengen ayahnya jadi lebih lokal," ledek Gery sambil lari sebelum kena lempar sepatu Kalandra.
...----------------...
Sore harinya, rencana dan gerakan Danu mulai terbaca. Bimo melaporkan bahwa ada sebuah mobil pick-up butut yang sudah tiga kali lewat di depan gerbang mansion dengan alasan salah alamat.
"Itu pasti orangnya Danu," ujar Bimo di ruang monitor CCTV. "Lihat tatonya di lengan kiri. Itu tanda kelompok para preman pelabuhan. Mereka kayaknya mau coba-coba cek kekuatan pagar kita."
Kalandra memperhatikan layar dengan tatapan dingin. "Jangan tangkap mereka di sini. Biarkan mereka merasa berhasil sudah mengintai. Gue mau mereka lapor ke Danu kalau keamanan kita longgar di sisi timur."
"Lho, kenapa begitu, Lan?" tanya Bimo heran.
"Karena di sisi timur itu sebenarnya ada hadiah yang udah gue siapkan bersama Papa," Kalandra tersenyum miring, senyum khas Mahendra yang terlihat sangat mematikan.
Di saat yang sama, Tuan Baskoro masuk ke ruang monitor sambil membawa sebuah kotak kecil. "Kalandra, taruhan kita tetap jalan, kan? Papa baru saja beli sepasang sepatu bayi warna pink paling mungil di dunia. Papa mau taruh di atas meja kerjamu biar kamu termotivasi."
Kalandra mendesah. "Pa, jangan sekarang. Kita lagi bahas keamanan."
"Keamanan itu penting, tapi warna sepatu cucu Papa lebih penting!" balas Baskoro keras kepala. "Ayo, Bimo, Gery, kalian dukung siapa? Cewek atau cowok?"
"Aku cewek, Om!" seru Gery tanpa ragu. "Biar ada yang bisa bikin Bos Kalandra jadi lembut kayak sutra."
"Aku dukung Bos, cowok semua!" sahut Bimo. "Biar mansion ini jadi markas Avengers."
Elisa yang menyusul masuk ke ruangan hanya bisa tertawa melihat kekacauan itu. "Kalian ini bener-bener ya. Danu di luar sana lagi nyusun rencana jahat, kalian di sini malah sibuk bahas warna sepatu."
Kalandra menghampiri Elisa, merangkul bahunya. "Justru itu cara kita tetap waras, sayang. Danu itu cuma kerikil kecil. Dia nggak akan bisa menang melawan keluarga yang bahkan sudah berantem soal warna baju bayi sebelum mereka lahir."
Elisa menyandarkan kepalanya di bahu Kalandra. Ia merasa aman, bukan karena pagar mansion yang tinggi atau pengawal yang banyak, tapi karena ia tahu ia berada di tengah orang-orang yang meskipun terlihat konyol tapi sangat menyayanginya dan tiga nyawa di rahimnya. Rasa trauma yang dulu sempat ia rasakan juga seolah-olah sudah mulai menghilang karena kepedulian dari mereka semua.
Malam harinya, Kalandra akhirnya benar-benar makan seblak sesuai keinginannya yang suda dibelikan Gery. Ia makan dengan keringat bercucuran di ruang makan mewah, sementara Elisa menontonnya sambil memberikan tisu.
"Gimana, Mas? Enak seblak nya?"
"Pedas... panas... tapi... kenapa bikin nagih ya?" gumam Kalandra sambil menyuap kerupuk kenyal itu. "Saya rasa salah satu dari mereka nanti bakal hobi jajan di pinggir jalan."
"Ya asal jangan hobi taruhan kayak Papa dan kakeknya saja," sindir Elisa manis.
Kalandra tertawa, ia menatap perut Elisa yang kini sedang tenang. Masa-masa sulit mungkin belum berakhir sepenuhnya, tapi dengan seblak di tangan dan cinta di hati, entah kalandra belum bisa dan masih bingung untuk memberikan nama pada apa yang dia rasakan, antara sudah cinta atau belum masih ada keraguan tapi semua yang dia lakukan untuk Elisa selama ini benar-benar jujur akan ketulusannya. Jadi kalandra merasa ia sanggup menghadapi preman mana pun atau bahkan memakai baju warna pink sekalipun jika memang itu takdirnya.
Di luar, mobil pick-up butut itu kembali lewat lagi untuk yang keempat kalinya. Mereka tidak tahu bahwa di dalam mansion, mereka sedang ditertawakan oleh seorang CEO yang sedang kepedasan makan seblak dan seorang kakek yang sedang menata sepatu bayi warna merah muda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Selamat membaca☺️🥰...
...Jangan lupa like, comment, vote dan Ratenya ya manteman🙏🏻🙌🏾❤️...