NovelToon NovelToon
My Annoying Step-Brother

My Annoying Step-Brother

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat / Hamil di luar nikah / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Tamat
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Hari Sabtu yang seharusnya menjadi waktu bagi Araluna untuk bersantai dan menebar pesona pada Arsen, mendadak berubah menjadi medan perang. Sebuah mobil mewah terparkir di depan rumah, dan seorang gadis dengan gaya elegan—khas lulusan luar negeri—melangkah masuk dengan senyum yang sangat "teratur".

Itu dia. Clarissa.

Luna berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap, matanya memelotot seolah ingin menembus dahi gadis itu. Clarissa tampak sempurna dengan dress bunga-bunga yang sopan dan tatanan rambut yang rapi. Sangat kontras dengan Luna yang saat ini hanya memakai kaos oversize dan celana pendek, namun dengan aura "cegil" yang menyengat.

"Oh, jadi ini yang namanya Clarissa?" tanya Luna tanpa basa-basi saat Clarissa baru saja duduk di ruang tamu.

Clarissa tersenyum ramah, meski tampak bingung. "Iya, kamu Araluna, adiknya Arsen kan?"

Luna tidak menjawab "iya". Ia justru mengambil kursi dan duduk tepat di depan Clarissa, mencondongkan tubuhnya seperti detektif yang sedang menginterogasi buronan.

"Lulusan Inggris ya? Inggris sebelah mana? London? Manchester? Terus di sana belajarnya apa aja? Bisa masak sayur asem nggak? Atau tahunya cuma makan fish and chips?" Luna memberondong pertanyaan dengan nada ketus.

Clarissa kelabakan. "Eh, saya kuliah di London... soal masak, saya bisa beberapa masakan Barat—"

"Duh, Kak. Di sini tuh seleranya lidah lokal. Kak Arsen itu kalau nggak makan sambal terasi bisa meriang. Kakak sanggup ngulek sambal tiap pagi? Terus, Kakak tahu nggak hobi tersembunyi Kak Arsen? Dia itu kalau tidur harus dinyanyiin lagu nina bobo versi metal, Kakak bisa?" cerocos Luna asal bicara, membuat Clarissa hanya bisa berkedip bingung dengan wajah pucat.

Tak lama kemudian, Bunda memanggil Clarissa untuk membantu melihat beberapa bingkisan yang dibawa dari Jakarta. Saat itulah, Arsen turun dari lantai atas. Ia mengenakan kemeja santai yang lengannya digulung sampai siku—penampilan yang selalu sukses membuat Luna lemah.

Begitu urusan dengan Bunda selesai, Clarissa kembali ke ruang tamu. Kali ini, ia langsung duduk di samping Arsen. Jaraknya sangat dekat, bahkan Luna bisa melihat bahu Clarissa hampir bersentuhan dengan lengan Arsen. Mereka mulai mengobrol tentang Jakarta dan beberapa teman lama Papa Arga.

Darah Araluna mendidih. Ia tidak akan membiarkan wilayah kekuasaannya dijajah oleh "produk ekspor" seperti Clarissa.

Dengan gerakan yang sangat dramatis, Luna berjalan membelah ruang tamu. Tanpa permisi, ia langsung menyelipkan tubuhnya yang mungil tepat di tengah-tengah antara Clarissa dan Arsen. Ia mendorong punggungnya ke belakang hingga Arsen terpaksa bergeser, dan menyikut pelan Clarissa agar menjauh.

"JAGA JARAK AMAN KAKAK-KAKAK!" seru Luna dengan suara melengking. "Ingat, udara di sini lagi terbatas, kalau duduknya rapat-rapat begini nanti kalian kekurangan oksigen terus pingsan, repot kan?"

Clarissa tersentak dan otomatis bergeser menjauh. "Eh, maaf Luna... kami cuma lagi ngobrol."

"Ngobrol bisa dari jarak dua meter, Kak. Suara Kak Arsen itu ngebass, kedengeran kok sampai depan kompleks," sahut Luna ketus. Ia kemudian menoleh ke arah Arsen, memberikan tatapan "lo-mati-kalau-lo-ngeladenin-dia".

Arsen hanya bisa menghela napas panjang, mencoba kembali ke mode kaku andalannya agar tidak terlihat mencurigakan di depan Clarissa. Namun, Luna belum selesai.

Di atas meja, Luna tampak sibuk memakan camilan dengan wajah tak berdosa. Tapi di bawah meja, tangan Luna mulai beraksi. Ia meraih tangan kanan Arsen yang diletakkan di atas paha cowok itu.

Luna tidak sekadar menyentuh, ia menggenggam jemari Arsen dengan sangat erat. Ia menautkan jari-jarinya ke sela-sela jari Arsen, memberikan remasan yang menuntut perhatian.

Arsen tersentak, tubuhnya mendadak kaku seperti papan. Ia menatap Luna dari samping dengan mata membelalak, namun Luna justru asyik menatap Clarissa dengan senyum kemenangan.

"Kak Clarissa di sini berapa lama? Soalnya Kak Arsen udah janji mau nemenin aku bongkar gudang sampai malem. Iya kan, Kak?" tanya Luna sambil meremas jari tengah Arsen lebih kuat.

Arsen menelan ludah. Ia merasa keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Sifat kakunya benar-benar diuji; ia harus tetap terlihat sopan pada Clarissa sementara adek tirinya yang gila ini sedang melakukan kontak fisik yang sangat intim di bawah meja.

Arsen mencoba menarik tangannya, tapi Luna justru mencubit punggung tangan Arsen dengan kuku-kukunya, seolah memberikan tanda: 'Jangan lepas atau gue bakal teriak di depan cewek ini kalau lo pernah cium kening gue!'

"I-iya," jawab Arsen terbata. "Clarissa, maaf ya, kalau sore ini saya agak sibuk."

Clarissa yang merasa kehadirannya tidak diinginkan oleh sang "adik kesayangan", akhirnya tersenyum canggung. "Oh, nggak apa-apa kok. Mungkin lain kali kita bisa jalan bareng..."

"Nggak bisa bareng-bareng, Kak. Kak Arsen itu kalau jalan sama orang ketiga biasanya mendadak sariawan. Jadi mending sendiri-sendiri aja," potong Luna tajam.

Setelah Clarissa akhirnya berpamitan pulang dengan wajah penuh tekanan batin, Arsen langsung menarik tangannya dari genggaman Luna. Ia berdiri dan menatap Luna dengan napas memburu.

"Araluna! Lo bener-bener nekat ya! Gimana kalau dia liat tangan kita di bawah meja tadi?!" bentak Arsen pelan, matanya berkilat antara marah dan... gemas.

Luna ikut berdiri, ia berkacak pinggang dengan berani. "Biarin aja dia liat! Biar dia tahu kalau lo itu cuma punya gue! Lo pikir gue bakal diem aja liat dia duduk mepet-mepet sama lo? Nggak akan, Arsen Sergio!"

Arsen terdiam, sifat kakunya kembali runtuh melihat betapa posesifnya Luna padanya. Ia menarik pinggang Luna, mendekatkan wajah mereka hingga napas mereka beradu. "Lo bener-bener cegil yang nggak ada obatnya, Lun."

"Obatnya cuma lo, Kak. Dan gue nggak butuh dosis yang lain," balas Luna sambil tersenyum menantang.

Malam itu, Araluna menang telak. Clarissa mungkin punya gelar dari Inggris, tapi Araluna punya kunci ke hati Arsen yang kaku, dan ia tidak akan pernah memberikan kunci itu pada siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!