Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Pengakuan di Balik Luka
Perjalanan pulang dari restoran Le Sommet terasa jauh lebih lama dari biasanya. Di dalam mobil limosin yang kedap suara, keheningan terasa begitu pekat hingga suara deru napas Dante yang berat terdengar seperti dentuman jam raksasa. Aruna duduk di pojok kursi, menatap ke luar jendela yang dibasahi hujan, sementara tangannya mengepal kuat di atas pangkuan. Cincin Valerius yang ia pakai terasa membakar kulitnya.
Dante bersandar di kursi seberangnya, wajahnya separuh tertutup bayangan. Ia tampak seperti sisa-sisa kejayaan seorang raja yang hampir runtuh. Sesekali ia meringis saat mobil melewati jalanan yang tidak rata, namun matanya tidak pernah lepas dari sosok Aruna.
Sesampainya di safe house, Enzo dan tim medis segera mendekat, namun Dante mengangkat tangan, menolak bantuan mereka.
"Keluar," perintah Dante pendek. "Semuanya. Jangan ada yang mendekati sayap ini sampai aku memanggil."
"Tapi Tuan, luka Anda—"
"Keluar, Enzo!" bentak Dante, yang segera diikuti oleh batuk hebat yang mengeluarkan bercak darah di telapak tangannya.
Enzo menunduk patuh dan memberi isyarat pada yang lain untuk mundur. Aruna tetap berdiri di tengah ruangan, membelakangi Dante. Ia mendengar pintu besar tertutup dan suara kunci yang berputar otomatis. Sekarang, hanya ada mereka berdua di ruangan luas yang hanya diterangi lampu dinding temaram itu.
Aruna berbalik perlahan. "Katakan padaku," suaranya tenang, namun itu adalah ketenangan yang menakutkan. "Apa yang dikatakan Julian... apakah itu hanya racun, atau sebuah kebenaran yang tertunda?"
Dante menyeret langkahnya menuju kursi kerja besar, duduk di sana dengan susah payah. Ia menatap Aruna, mencari celah untuk berbohong, namun ia tahu Aruna yang sekarang bukan lagi wanita yang bisa dikelabui dengan kata-kata manis.
"Julian benar tentang satu hal," Dante memulai, suaranya parau. "Satria Kirana bukan orang biasa. Dia adalah mata-mata yang dikirim untuk memantau pergerakan Marco. Dan aku... aku tahu siapa dia jauh sebelum aku mengenalmu."
Aruna merasakan jantungnya mencelos. "Lalu? Apakah kau yang memberitahu Marco tentang posisinya malam itu?"
Dante memejamkan mata, seolah-olah ia sedang melihat kembali kejadian dua tahun lalu. "Aku tidak memberitahu Marco. Tapi aku membiarkannya terjadi. Aku memiliki informasi bahwa Marco telah mencium pengkhianatan Satria dan berencana melenyapkannya di Jalan Kenanga. Saat itu, aku butuh keributan. Aku butuh alasan agar polisi fokus pada Marco sehingga aku bisa mengambil alih jalur logistiknya di pelabuhan."
"Kau tahu dia akan dibunuh," bisik Aruna, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Kau tahu suamiku akan dieksekusi di depan rumah kami sendiri, dan kau... kau hanya diam menonton?"
"Aku bukan penonton, Aruna. Aku adalah pemainnya," jawab Dante dengan kejujuran yang kejam. "Di duniaku, Satria adalah aset yang sudah habis masa pakainya. Jika dia mati di tangan Marco, itu akan memberikan keuntungan bagiku. Jadi, aku menarik tim pemantauku. Aku membiarkan jalanan itu kosong malam itu."
Plak!
Aruna melangkah maju dan menampar Dante dengan seluruh tenaga yang ia miliki. Dante tidak menghindar. Kepalanya terlempar ke samping, meninggalkan bekas merah di pipinya yang pucat.
"Kau monster!" teriak Aruna, suaranya pecah menjadi tangisan histeris. "Kau membiarkan Bumi kehilangan ayahnya! Kau membiarkan aku menjadi janda miskin yang ketakutan selama dua tahun, sementara kau duduk di tahtamu menghitung keuntungan dari kematiannya!"
Aruna memukul dada Dante berkali-kali, tidak peduli pada luka-luka pria itu yang mulai merembeskan darah segar ke kemejanya. Ia merasa dikhianati oleh setiap inci kebaikan yang pernah Dante tunjukkan padanya. Setiap perlindungan, setiap tatapan lembut, kini terasa seperti kompensasi yang menjijikkan atas nyawa yang ia biarkan melayang.
Dante menangkap kedua tangan Aruna, menahannya dengan sisa kekuatannya meskipun ia sendiri sedang menahan rasa sakit yang luar biasa di perutnya. "Ya! Aku monster! Aku membiarkan dia mati karena saat itu kau belum berarti apa-apa bagiku! Kau hanyalah statistik, Aruna! Nama tanpa wajah dalam laporanku!"
Dante menarik Aruna mendekat hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa inci. "Tapi kau tahu apa yang tidak direncanakan oleh monster ini? Aku tidak berencana untuk jatuh cinta padamu. Aku tidak berencana untuk merasa sesak setiap kali melihatmu menangis. Jika aku bisa memutar waktu, aku akan menyelamatkan Satria hanya agar aku tidak perlu melihat kebencian ini di matamu sekarang!"
Aruna terengah-engah, air matanya jatuh ke kemeja Dante. "Itu tidak mengubah apa pun, Dante. Kau membangun hubungan kita di atas kuburan suamiku."
"Maka hancurkan," tantang Dante. Ia melepaskan tangan Aruna dan mengambil sebuah pistol dari laci meja, lalu meletakkannya di tangan Aruna. Ia mengarahkan moncong pistol itu tepat ke jantungnya sendiri. "Jika ini satu-satunya cara bagimu untuk merasa adil, tarik pelatuknya. Aku berhutang nyawa padamu sejak kau membawaku masuk ke rumahmu, dan sekarang aku membayar hutang atas nyawa Satria. Lakukan."
Tangan Aruna gemetar hebat. Logam dingin pistol itu terasa sangat berat. Di depannya, Dante menatapnya dengan pasrah, tanpa rasa takut. Pria ini siap mati di tangannya.
"Tarik pelatuknya, Aruna!" bentak Dante. "Akhiri penderitaan kita berdua! Jadilah pahlawan bagi suamimu!"
Aruna menatap mata Dante. Di balik kekejaman pria itu, ia melihat kejujuran yang menyakitkan. Dante bisa saja berbohong, menyalahkan Julian, atau mengarang cerita lain. Tapi dia memilih untuk hancur di depan Aruna.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Aruna menjatuhkan pistol itu ke lantai. Suara dentuman logam di atas lantai kayu terdengar sangat nyaring. Aruna jatuh terduduk, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menangis sejadi-jadinya.
"Aku tidak bisa..." isyak Aruna. "Aku membencimu karena kau membiarkannya mati, tapi aku membenci diriku sendiri karena aku tetap tidak ingin kau pergi."
Dante turun dari kursinya, berlutut di depan Aruna meski lukanya terasa seperti dicabik-cabik. Ia memeluk Aruna erat, membiarkan wanita itu menumpahkan seluruh kemarahannya di pundaknya.
"Maafkan aku," bisik Dante, kata yang sangat jarang keluar dari mulutnya. "Aku tidak bisa mengubah masa lalu, tapi aku bersumpah demi nyawa Bumi dan nyawaku sendiri, aku akan menghancurkan siapa pun yang menyentuh kalian. Termasuk diriku sendiri jika aku menjadi ancaman bagi kalian."
Malam itu, rahasia besar telah terungkap. Fondasi hubungan mereka yang lama telah hancur, namun di atas puing-puing itu, sesuatu yang lebih nyata mulai terbentuk. Bukan lagi cinta yang buta, melainkan ikatan yang lahir dari penerimaan akan kegelapan masing-masing.
Di sisi lain kota, di sebuah apartemen steril, Julian Thorne sedang menonton rekaman satelit dari safe house Valerius. Ia melihat mobil-mobil yang berjaga dan lampu-lampu yang padam. Ia tersenyum, menyalakan sebatang rokok mahal.
"Retakannya sudah ada," gumam Julian. "Cinta adalah perekat yang kuat, tapi kebenaran adalah pelarut yang paling mematikan. Sekarang, kita lihat berapa lama Sang Vulture bisa terbang dengan beban rasa bersalah di punggungnya."
Julian mengambil sebuah berkas baru. Berkas itu berisi foto seorang wanita yang sangat mirip dengan Aruna, namun dengan tatapan yang jauh lebih tajam. "Panggil 'dia' kembali dari Rusia. Sudah waktunya kita memperkenalkan Aruna pada bayangannya sendiri."
Badai di luar mungkin sudah reda, namun di dalam lingkaran kekuasaan Valerius, Bab 20 hanyalah awal dari perang saudara yang akan menguji loyalitas Enzo, keberanian Aruna, dan sisa-sisa kemanusiaan Dante.