NovelToon NovelToon
Rencana Gagal Mati

Rencana Gagal Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mantan / Komedi
Popularitas:409
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.

dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Di Dermaga

Reza tidak banyak bicara. Tangannya mencengkeram ponsel, memastikan Anya dan Fajar sudah berada dalam perlindungan Budi dan tim keamanan koperasi di Bogor. Ancaman terhadap keluarganya adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar. Jika Kelompok Naga Hitam ingin bermain dengan nyawa, Reza akan menunjukkan bahwa ia adalah kurir yang paling ahli dalam mengantarkan "paket" pembalasan.

"Kita tidak bisa langsung masuk ke markas Guntur, Mas," Aris memecah kesunyian saat mereka berada di atas kapal feri yang membawa mereka kembali ke Jawa.

"Guntur punya setidaknya dua puluh orang di gudang belakang dermaga. Mereka bersenjata."

"Aku tidak butuh senjata, Aris," sahut Reza, matanya menatap lampu-lampu Merak yang mulai mendekat. "Aku punya sesuatu yang lebih menghancurkan bagi orang seperti dia:

Arip DiGital".

Selama ekspansi, Reza diam-diam menugaskan tim IT-nya untuk melacak aliran dana pungli di pelabuhan. Ia menemukan bahwa Guntur bukan bos besar; dia hanyalah "anjing penjaga" bagi oknum pejabat pelabuhan yang lebih tinggi. Uang pungli itu mengalir ke rekening-rekening yang selama ini dianggap bersih.

Sampai di Merak pukul dua dini hari, mereka tidak menuju gerbang utama. Aris memandu Reza melewati jalur tikus di balik tumpukan kontainer tua. Mereka berhenti di depan sebuah gudang pengap yang tersembunyi dari pantauan lampu sorot dermaga. Suara gelak tawa dan denting botol terdengar dari dalam.

"Itu mereka," bisik Aris.

Reza tidak menyelinap. Ia justru berjalan tegap menuju pintu utama gudang dan menendangnya hingga terbuka lebar.

BRAKK!

Suasana di dalam gudang mendadak sunyi. Belasan pria bertampang sangar berdiri, termasuk Guntur yang sedang duduk di kursi kebesarannya sambil menghitung tumpukan uang tunai.

"Reza?" Guntur ternganga, lalu tertawa mengejek. "Kau benar-benar punya nyawa cadangan, ya? Datang sendiri ke sini setelah aku kirim salam ke istrimu?"

"Lepaskan tanganmu dari uang itu, Guntur," kata Reza tenang. Suaranya tidak bergetar sedikit pun. "Atau uang itu akan menjadi bukti terakhir yang membuatmu membusuk di penjara seumur hidup."

"Kau mengancamku di rumahku sendiri?" Guntur memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengepung Reza dan Aris.

Reza mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. "Saat ini, seluruh data transaksi ilegal kelompokmu selama tiga tahun terakhir sudah terunggah ke server pusat kementerian dan kepolisian. Satu tombol 'Enter' dari rekanku di Bogor, dan seluruh asetmu termasuk milik atasanmu di kantor pelabuhan—akan disita malam ini."

Wajah Guntur berubah pucat. "Kau gertak sambal!"

"Coba saja," tantang Reza. "Tapi sebelum itu, kau harus tahu satu hal: batu yang dilempar ke rumahku semalam sudah mengenai sasaran. Tapi sasarannya bukan rasa takutku, melainkan rasa kasihanku padamu. Sekarang, kasihanku sudah habis."

Tiba-tiba, suara sirine polisi meraung dari kejauhan. Bukan satu atau dua mobil, tapi konvoi besar. Aris tersenyum tipis; ia tahu bahwa sebelum mereka sampai, Reza sudah berkoordinasi dengan Satgas Pungli yang selama ini mencari celah untuk masuk ke Merak.

"Sikat mereka, Ris!" perintah Reza.

Pertempuran pecah. Aris bergerak seperti badai di tengah gudang yang sempit. Ia melumpuhkan tiga orang sekaligus dengan gerakan yang presisi. Sementara itu, Guntur mencoba kabur lewat pintu belakang, namun Reza lebih cepat. Ia menjegal kaki pria gempal itu hingga tersungkur di atas tumpukan palet kayu.

Reza mencengkeram kerah baju Guntur.

"Ingat wajahku, Guntur. Aku adalah orang yang gagal mati hanya untuk memastikan orang-orang seperti kau tidak bisa merusak hidup orang lain lagi."

Polisi menyerbu masuk, mengamankan seluruh anggota Naga Hitam. Guntur diseret keluar dengan tangan terborgol, tepat di depan kamera wartawan yang sudah dipersiapkan Reza sejak awal.

Malam itu, Merak kembali tenang. Kabut mulai naik, menutupi jejak perkelahian. Reza berdiri di depan gudang, napasnya tersengal namun dadanya terasa ringan.

"Mas Reza," Aris mendekat, menyeka darah di pelipisnya. "Anya barusan telepon. Bogor sudah aman. Orang yang melempar batu tadi sudah ditangkap oleh Budi."

Reza memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah istrinya dan tawa bayinya. Ia merasa seolah-olah baru saja menyelesaikan rute pengiriman yang paling berbahaya dalam hidupnya.

"Kita pulang, Ris," kata Reza.

"Sumatera bagaimana?"

"Besok pagi, truk kita akan lewat jalur lintas utama tanpa ada satu orang pun yang berani minta pungli lagi. Kita sudah membuka jalannya."

Reza berjalan menuju mobil, meninggalkan dermaga Merak yang kini terasa lebih bersih. Di saku jaketnya, ia meraba potongan tali kuning yang selalu ia bawa. Ia menyadari bahwa hidup ini memang penuh dengan "perampok" dan "mafia", tapi selama ada kejujuran yang diperjuangkan, takdir akan selalu punya cara untuk memberikan jalan keluar.

1
oratakasinama
kek pernah baca di novel sebelah 🤣🤭
Kal Ktria: kak? mna , spil dong
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!