Bagaimana caranya untuk menjadi kaya? Bekerja? Berinvestasi? Itu adalah cara klasik. Semua orang bisa melakukannya.
Namun berbeda dengan Andi. Jika semua orang menjadi kaya dengan bekerja keras, maka yang Andi lakukan hanya diam menikmati harinya. Yang perlu ia lakukan hanyalah bernafas. Iya bernafas.
[Ding]
[Level : 1 (10000/100000)
[Host masih berada di level 1. Tingkat konversi : setiap nafas dihargai dengan satu rupiah]
[Host perlu mengeluarkan uang untuk bisa meningkatkan level. Semakin tinggi level semakin tinggi pula tingkat konversi]
[Selamat berjuang menghabiskan uang Host]
----
Yang perlu Andi lakukan hanyalah bersantai dan menghabiskan uangnya untuk bisa bertambah kaya. Cukup mudah bukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyoka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 1 VS 12
Melihat preman-preman itu semakin mendekat, Andi mengambil beberapa langkah meninggalkan motornya. Ia tidak mau serangan dari preman-preman tersebut mengenai motor ibunya. Jika sampai terdapat goresan apalagi sampai motor ibunya mengalami kerusakan, maka Andi perlu memberikan penjelasan kepada orangtuanya.
Mengingat seperti apa orangtuanya selama ini, sudah jelas pemuda itu perlu menjelaskan semua permasalahnya dengan Jony. Mulai mereka yang sama-sama menaruh rasa kepada Dinda. Hingga pada kemarahan Jony yang tidak suka dirinya berbicara balik kepadanya. Menurut Andi terlalu merepotkan baginya untuk menjelaskan semua itu.
Melihat Andi yang sedikit menjauh, para pereman itu sedikit mempercepat langkah kaki mereka. Seorang preman, sebut saja preman 1, mengayunkan balok kayu yang dipegangnya ketika dirinya sudah dekat dengan Andi. Melihat hal tersebut Andi langsung meresponnya.
Pemuda itu menundukkan kepalanya menghindari pukulan tersebut. Tidak hanya itu, sebelah tangannya meraih tangan sang preman yang memegang balok kayu sementara tangannya yang lain melayangkan pukulan di ketiak preman tersebut. Kejadian tersebut begitu cepat sehingga preman 1 tidak dapat menghindar.
Pukulan yang diberikan Andi pada ketiaknya cukup keras bagi preman 1. Laki-laki tersebut berteriak kesakitan dan langsung menjatuhkan balok kayu yang di pegangnya. Sebelah tangannya memegangi ketiaknya yang sudah di pukul Andi.
Melihat balok kayu itu akan terjatuh, Andi langsung meraihnya dan melemparkannya ke arah preman 2 yang tidak jauh dari mereka. Balok kayu yang dilemparkan oleh Andi itu tepat mengenai perut sang preman. Hal tersebut membuat langkah preman tersebut terhenti.
Jika yang dihadapi Andi ini adalah siswa SMA, maka kesemuanya pasti akan mengehentikan serangan mereka dan mempertimbangkan semuanya. Namun ini adalah seorang preman yang sudah terlalu sering melakukan kekerasan. Bagi yang lain, kedua preman yang sudah tumbang itu adalah orang yang lemah. Begitu saja mereka sudah tumbang.
Preman-preman masih tetap dengan rencana awal mereka menyerang Andi. Melihat hal tersebut Andi mengerahkan tujuh puluh lima persen kekuatannya untuk menghajar para preman ini tanpa ampun. Para preman ini bukan anak-anak SMA yang masih bisa dibina. Jadi Andi tidak perlu menahan diri menghajar mereka. Toh di sini juga tidak ada CCTV. Jadi pemuda itu aman menghajar preman-preman ini.
Satu persatu preman itu berusaha menjatuhkan pukulan kepada Andi namun pemuda itu berhasil menghalau semuanya. Sampai saat ini belum ada yang berhasil menjatuhkan satu pukulan pun di tubuh Andi. Yang ada malah pemuda itu yang menjatuhkan beberapa pukulan dan tendangan yang cukup keras di tubuh para preman itu.
Jony dan Rendi yang mengawasi dari kejauhan terlihat was-was melihat hal itu. Kedua pemuda itu bisa melihat dengan jelas bagaimana kedua belas preman itu seakan-akan dipermainkan oleh Andi. Dari pengamatan mereka, gerakan para preman itu seolah sudah diatur oleh Andi, melihat bagaimana pemuda itu dengan mudahnya menghindar dan menangkis semua serangan.
Lima belas menit kemudian, tidak ada satu dari kedua belas preman yang masih berdiri. Mereka semua tergeletak di tanah. Kebanyakan dari mereka merintih kesakitan sembari memegangi bagian tubuh mereka yang terluka. Beberapa di antara mereka juga terlihat tidak sadarkan diri setelah menerima pukulan dari Andi pada kepala mereka.
[Ding]
[Misi memberi mengalahkan para preman telah selesai]
[Hadiah telah disimpan di penyimpanan sistem]
[Host hanya perlu menginformasikan sistem ketika sudah siap untuk menerima hadiah]
Sebuah misi telah ia selesaikan. Kini pemuda itu mengarahkan pandangannya ke arah Jony dan Rendi yang menatap Andi dengan penuh ketakutan. Melihat mereka seperti itu membuah sebuah seringai muncul di wajah Andi.
Andi berjalan mendekati kedua pemuda tersebut. Andi bisa melihat bagaimana tubuh mereka bergetar setiap Andi melangkah mendekat ke arah mereka.
“Mau apa kamu jangan mendekat kemari. Apa kamu tidak tahu kalau ayahku adalah calon walikota. Jangan macam-macam denganku jika tidak kamu akan tahu akibatnya.” Ucap Jony dengan suara bergetar.
“Andi jangan pukul aku. Semua ini ide Jony. Aku hanya perantara antara dia dan preman-preman itu saja. Jadi aku tidak ada hubungannya dengan semua masalah kalian berdua. Jangan hajar aku.” Mohon Rendi yang ada di sebelah Jony.
Jony memandang tidak percaya ke arah Rendi yang ada di sampingnya. Ia tidak percaya temannya itu lepas tangan begitu saja dengan masalah ini. Meskipun dia hanya sebagai perantara, tetap saja itu terhitung Rendi sudah terlibat. Sekarang dia malah lepas tangan disaat yang menyulitkan seperti ini.
“Rendi kamu….” Jony tidak bisa berkata-kata lagi melihat respon Rendi yang seperti itu.
Andi ingin tertawa melihat kedua pemuda tersebut. Lihatlah mereka sekarang mencoba menghindar dari tanggungjawab dan menyalahkan temannya. Sangat lucu sekali. Berani berbuat tetapi ketakutan ketika diminta pertanggungjawaban.
Ketika mendekat, Andi bisa mencium bau pesing yang cukup tajam dari arah mereka. Pemuda itu tidak menyangka bahwa mereka ketakutan hingga ngompol seperti itu. Ayolah mereka sudah dewasa, sudah berumur tujuh belas tahun lebih tetapi kenapa masih mengompol seperti itu.
“Cih, baru seperti itu saja kalian ketakutan. Aku bahkan belum menyetuh kalian dan kalian sudah mengompol di celana. Sekarang siapa yang pecundang di antara kita? Lelaki sejati menyelesaikan semua permasalahannya sendiri. Tidak menggunakan tangan orang lain seperti itu.”
“Jika kamu senang sekali meminjam tangan orang lain, tenang saja aku juga akan membalas hal itu. Aku rasa jika tidak besok pagi kemungkinan lusa kamu akan mendapatkan sebuah surat cinta Jony. Pasti ayahmu akan sangat senang ketika tahu kamu mendapatkan surat cinta tersebut.”
Tadi Andi mendapatkan telfon dari pengacara yang dikenalkan Brian padanya. Mereka berkata bahwa semua berkas sudah tersusun rapi sekarang mereka tinggal membuat laporan ke kepolisian. Jadi dalam waktu dekat ini Jony pasti akan mendapatkan panggilan dari kepolisian.
Sekarang Andi merasa sangat yakin melakukan hal ini kepada Jony. Lihat saja Jony sekarang malah melibatkan preman. Jika dia tidak diberi pelajaran, bisa jadi nantinya pemuda itu akan melibatkan preman yang lebih kuat atau lebih banyak daripada yang sekarang.
Ketika Andi tengah asik mengamati kedua pemuda di depannya, sebuah motor mendekat ke arah mereka. Hal itu Andi ketahui dari suara deru motor dan sorot lampu tunggal khas motor. Motor tersebut berhenti tidak jauh dari mobil Jony. Seorang laki-laki berjaket kulit terlihat turun dari motor tersbut.
Sepertinya ia adalah teman dari para preman yang sudah Andi hajar. Itu telihat dari bagaimana laki-laki tersebut memandangi para preman itu yang masih tergeletak di tanah. Pencahayaan yang kurang tidak membuat laki-laki itu gagal melihat keadaan mereka yang tidak baik itu. Rintihan dari para preman itu tidak masih bisa terdengar hingga sekarang.
Melihat kedatangan laki-laki tersebut, mata Rendi berbinar. Ia seperti menemukan dewa penolong dengan datangnya laki-laki tersebut. Tanpa mempedulikan Andi yang ada di depannya, pemuda itu berjalan mendekat kea rah laki-laki tadi.
Sepertinya laki-laki itu mencium bau pesing dari Rendi. Laki-laki itu terlihat memundurkan badannya dan menutup lubang hidungnya dengan jari telunjuknya. Ia juga terlihat mengerutkan dahinya. Sudah sangat jelas bahwa dia terganggu dengan bau pesing yang ada pada tubuh Rendi.
“Mas Damar, akhirnya kau datang juga. Semua anak buahmu sudah terkalahkan Mas. Aku tidak menyangka bahwa target kali ini cukup kuat. Dia sangat sombong sekali. Dia bilang sebenarnya dia bisa saja mengalahkan anak buahmu dengan sebelah tangannya. Dia juga bilang mau menantangmu karena ia ingin menguji kekuatan bos para pecundang.” Bual Rendi.
baru kali ini baca novel sistem yang mc nya gak mampu menjelaskan uangnya 😁