Zavian Hersa mengira jalannya menuju keseriusan cinta dengan Grace akan semulus adiknya. Namun, realitas menghantam keras. Perbedaan status yang mencolok antara putra mahkota Hersa Group dan wakil ketua Gangster Blackrats menciptakan jurang yang lebar. Zavian, yang dihantui ketakutan kehilangan Grace seperti saat ia hampir kehilangan Nalea, berubah menjadi pria yang sangat posesif. Ia mencoba "menjinakkan" Grace dengan kemewahan dan perlindungan ketat, namun bagi Grace, perlindungan itu adalah penjara.
Kekosongan kepemimpinan sementara di Blackrats setelah Nalea fokus pada pendidikannya memicu gejolak di dunia bawah. Musuh-musuh lama dan baru mulai mengincar kekuasaan Blackrats. Teror silih berganti menghantui, mulai dari sabetan senjata tajam, pertumpahan darah, hingga pengorbanan nyawa.
Akankah cinta mereka bertahan di tengah pertumpahan darah dan tuntutan status sosial, ataukah mereka memilih jalan masing-masing dan merelakan cinta sejatinya?
NB: JANGAN SALFOK COVERNYA YAA😂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Nyata
Zavian menatap tumpukan berkas di depannya, namun pikirannya melayang jauh. Di hadapannya, Azlan duduk menanti keputusan.
"Apa poin modal bahan baku tidak bisa dibuat lebih minimal?" tanya Zavian sambil mengetukkan jarinya ke meja.
Azlan menggeleng pelan. "Itu kita menggunakan kualitas menengah, Kak. Bisa dibuat lebih kecil lagi, tetapi kualitas juga akan menyesuaikan. Budget ini memang realistis, tidak berlebihan dan sesuai dengan harga pasar. Tapi dalam lelang proyek kali ini, dengan pengajuan dana seperti ini tidak akan diterima. Pasti banyak perusahaan lain yang budgetnya lebih rendah, bahkan jauh di bawah harga pasaran."
"Tapi perusahaan kita tidak muluk-muluk dengan pengajuan dana seperti itu, kita juga tidak mengambil untung banyak," sanggah Zavian.
"Tapi yang namanya bisnis, mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, Kak. Perusahaan pasti akan mencari rekanan yang bisa membuat budget minimal dengan hasil maksimal," balas Azlan logis.
Zavian menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. "Sudahlah Kak, kita ajukan saja sesuai budget. Ada harga, ada kualitas. Perusahaan Hersa sudah lama terjebak di dunia bisnis dengan sangat menjaga kualitas. Jangan sampai hanya mengejar keuntungan sedikit tetapi merusak citra perusahaan yang telah Papa bangun dengan susah payah."
"Iya, kamu benar juga," Zavian membubuhkan tanda tangannya di lembar pengesahan. "Ini Kakak ACC. Kamu tinggal buat power point-nya, buat konten semenarik mungkin. Kita tonjolkan apa yang menjadi kelebihan perusahaan kita. Kualitas adalah jati diri Hersa."
Setelah Azlan keluar, Zavian merebahkan punggungnya di kursi kerja. Kepalanya berdenyut. Ia meraih sebuah pigura foto di sudut meja, foto saat pertunangan Nalea dan Kayzo. Di sana ada Grace. Itu pertama kalinya Zavian melihat wajah natural Grace, anggun, manis dengan sanggul sederhana dan kebaya modern. Meski awalnya Grace ogah-ogahan karena merasa itu bukan dunianya, Nalea berhasil membujuknya.
"Apa kamu merasa senang sekarang, Grace? Bisa bebas melakukan apa pun di luar sana," gumam Zavian pelan. Ia mengusap kaca pigura itu. "Entah apa yang tengah kamu lakukan, Abang hanya berharap kamu bisa menjaga diri. Tunggu Abang menjadi kuat dan pantas untuk menjadi pelindungmu."
Lamunan itu pecah saat ponselnya bergetar hebat. Sebuah nomor tak dikenal, namun Zavian tahu siapa itu.
"Boss, Nona Nalea terlihat keluar rumah dengan terburu-buru," lapor suara di seberang telepon.
Zavian langsung tegak. "Kayzo yang menjemputnya?"
"Tidak Boss, pergi dengan motor kesayangannya. Kecepatannya di atas rata-rata."
"Ikuti ke mana Nalea pergi. Jika ada hal yang mencurigakan, segera hubungi aku kembali," perintah Zavian tegas.
Dua puluh menit berlalu seperti berjam-jam. Ponsel itu berbunyi lagi.
"Boss, Nona Nalea mendatangi sebuah rumah sakit besar. Ada Kayzo yang sudah menunggu di lobi. Wajah mereka tampak sangat cemas. Apa ada anggota keluarga Anda yang sakit?"
Dahi Zavian berkerut. Papa dan Mama baik-baik saja tadi pagi. "Ikuti saja diam-diam. Jangan sampai ketahuan, apalagi ada Kayzo di dekat Nalea. Instingnya sangat peka, dia mantan intelijen lapangan. Setiap ada informasi sekecil apa pun, beritahu aku."
Zavian menutup telepon. Rasa cemas mulai merayap di dadanya. Rumah sakit? Untuk apa Nalea ke sana dengan terburu-buru?
Koridor Rumah Sakit – Depan Ruang Perawatan Grace
Suara langkah sepatu boots Nalea bergema di koridor yang sunyi, diikuti oleh Kayzo yang berusaha mengimbangi langkah cepat tunangannya. Di depan kamar VIP, Miller masih berdiri tegak, meski matanya menunjukkan kelelahan yang luar biasa.
"Di mana dia?!" Nalea berseru tanpa basa-basi begitu melihat Miller.
"Nalea, tenanglah," Kayzo memegang bahu Nalea, namun gadis itu menepisnya.
"Miller! Katakan padaku apa yang terjadi pada Grace! Kenapa dia bisa masuk rumah sakit dengan status 'perawatan intensif'?" Nalea menatap Miller dengan mata yang berkaca-kaca sekaligus marah.
Miller menghela napas, ia melirik pintu kamar Grace yang tertutup. "Dia mengalami infeksi pada lukanya, Madam Nalea. Dan... ada tekanan mental yang hebat."
"Tekanan mental? Apa maksudmu?" Nalea melangkah maju, memojokkan Miller ke dinding. "Jangan berputar-putar. Apa yang dilakukan Andreas padanya? Aku tahu Grace, dia tidak akan ambruk hanya karena luka ringan. Dia petarung!"
Miller terdiam sejenak, wajahnya mengeras. "Tuan Muda Andreas... semalam dia sedang tidak dalam keadaan sadar sepenuhnya. Dia melampaui batas. Dia mencoba melakukan sesuatu yang sangat buruk pada Grace."
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Miller. Bukan karena Miller yang bersalah, tapi karena Nalea tidak tahu harus meluapkan kemarahan ini kepada siapa lagi.
"Dan kamu diam saja?!" teriak Nalea. "Kamu asistennya! Kamu tahu Grace itu sahabatku, kamu tahu dia dikirim ke sana untuk bekerja, bukan untuk dilecehkan!"
"Nalea, cukup," Kayzo menarik Nalea ke dalam pelukannya. Kayzo menatap Miller dengan tatapan dingin yang mengancam. "Jelaskan semuanya, Miller. Sebelum aku sendiri yang menyeret Andreas ke kantor polisi."
Miller mengusap pipinya yang panas. "Aku yang menyelamatkannya semalam. Aku membawanya ke sini. Aku sangat menyesal, Nalea. Aku gagal menjaga keseimbangan di rumah itu."
"Aku kecewa, Miller. Sangat kecewa," suara Nalea bergetar. "Grace diperlakukan seperti sampah di sana. Dia luka karena hukuman nyonya besar dan... dan hukuman itu sebenarnya tidak pantas untuk Grace. Tapi aku masih mentolerirnya. Sekarang aku mendapatkan kabar jika Grace dilecehkan oleh tuan muda brandal itu? Ini gila! Aku minta kompensasi. Aku minta kontrak Grace dihentikan sekarang juga! Kirim orang lain untuk menjaga Andreas, jangan Grace!"
"Aku tidak punya wewenang untuk itu, Madam Nalea," jawab Miller lemah. "Semua keputusan ada di tangan Andreas. Dia yang memegang kontrak eksklusif Grace."
"Keputusan di tangan Andreas? Setelah apa yang dia lakukan?" Nalea tertawa sinis. "Kalau begitu, katakan pada bosmu yang brengsek itu. Jika dia tidak melepaskan Grace secara baik-baik, jangan salahkan aku jika Tuan Besar Hadi. Dan kalian tahu sendiri, jika Tuan Besar Hadi sudah turun tangan, bukan hanya kontrak yang akan hancur, tapi kebebasan satu-satunya pewaris keluarga utama Hadi akan hilang!"
"Nalea, jangan bawa-bawa Tuan Besar dulu," Kayzo memperingatkan.
"Kenapa tidak?!" Nalea menoleh pada Kayzo. "Baru kali ini aku mendapatkan pekerjaan yang seperti memungut sampah seperti ini! Jangan karena klien membayar mahal, lalu mereka bisa memperlakukan kita dengan sangat rendah. Tidak! Hutang kehormatan ini aku tagih!"
Miller tertunduk. Ia tahu Nalea benar. Badai besar sedang menuju ke arah mereka, dan Andreas masih terlalu angkuh untuk menyadarinya. Di dalam kamar, dalam tidurnya yang gelisah, Grace merintih pelan, memanggil sebuah nama yang membuatnya merasa aman.
"Abang... tolong..."
Suara rintihan itu terdengar sampai ke luar pintu, membuat pertahanan Nalea runtuh. Ia jatuh terduduk di lantai, menangis sejadi-jadinya, sementara Kayzo hanya bisa menatap pintu itu dengan kepalan tangan yang memutih.