Kisah tentang Cahaya atau Aya (30) seorang pengusaha wanita muda yang sudah menjalin hubungan kasih selama lebih dari 10 tahun dengan kekasihnya yang bernama Rudi. Mereka sudah merencanakan acara lamaran namun tiba-tiba Rudi membatalkan dan memutuskan hubungan dengan Aya tanpa alasan yang jelas. Aya yang tidak ingin membuat ibunya bersedih karena kegagalan acara lamarannya berusaha untuk mencari pengganti Rudi.
Kemudian ia bertemu dengan Rizal (23) seorang OB berwajah tampan. Pertemuan karena salah paham itu membuat mereka semakin dekat. Aya dan Rizal akhirnya sepakat untuk melangsungkan pernikahan istimewa dengan perjanjian tertentu.
Pada akhirnya mereka saling jatuh cinta di dalam ikatan pernikahan istimewa tersebut. Apa yang membuat mereka saling jatuh cinta? Dan bagaimana mereka menyikapi konflik karena kehadiran orang ketiga yaitu orang-orang yang pernah hadir di masa lalu Aya dan Rizal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guling Ternyaman
Rizal pun maju ke depan menempati shaf imam.
"Bismillahirrohmanirrohim." Suara Rizal terdengar lirih. Aya yang berada di shaf paling belakang sudah merasa deg degan.
Haduh bisa ga yah dia jadi imam salat. Aya bergumam di dalam hatinya.
"Allahu Akbar." Rizal mengangkat kedua tangannya mengucap lafaz takbir artinya salat Isya sudah dimulai. Semua makmum di belakang mengikuti Rizal yang jadi imam. Mereka melaksanakan salat Isya dengan penuh kekhusyukan. Bacaan salat dan bacaan surah yang dilantunkan Rizal terdengar sangat merdu, makhraj hurufnya hampir sempurna, tajwidnya pun fasih.
"Assalamualaikum warahmatullah." Rizal sudah menolehkan kepalanya ke sebelah kiri pertanda salat sudah selesai. Lalu berzikir dan membaca doa sesudah salat hingga tuntas. Setelahnya Rizal menyalami semua kakak iparnya yang ada di shaf belakangnya.
"Alhamdulillah... Zal, kamu lulus jadi imam salat... semoga kamu juga bisa jadi imam yang baik untuk adik bungsu kami ya. Jagain Nong yah... bimbing dia sebagai istrimu, tegurlah kalau dia melakukan salah." Wejangan Kang Guntur.
"Insyaallah Kang," jawab Rizal dengan lembut.
Ya Allah, kamu tuh pria idaman ya udah ganteng, baik, soleh lagi, hanya sayang kerjaan kamu itu ga mapan. Seandainya saja kamu punya pekerjaan yang mapan, aku pasti sudah jatuh cinta sama kamu. Batin Aya berucap.
Usai salat semuanya berkumpul untuk sekedar berbincang-bincang dan menonton Televisi, kehangatan keluarga sangat terasa saat ini. Waktu menunjukkan pukul 21.00 Aya sudah merasa sangat mengantuk.
"Whoooaaaaammmm." Aya sudah berkali-kali menguap pertanda ia sudah mengantuk.
"Sudah sana Nong, udah ngantuk mah tidur sana!" ujar Bu Aisyah.
"Hmmm, itu mah kode ... Zal, tuh si Nong udah ngasih kode," goda Wulan.
"Ih apaan sih Teh memang udah ngantuk banget nih," sanggah Aya.
"Ya sudah tidur sana! ibu juga mau tidur badan rasanya lelah," kata Bu Aisyah.
"Iya ah aku mah mau tidur duluan, udah ga tahan, ngantuk banget." Aya bergegas ke kamarnya.
"Nak Rizal juga istirahat sana pasti lelah juga kan?" ujar Bu Aisyah.
"Iya Bu," jawab Rizal.
Kemudian Rizal melangkah ke kamar mandi untuk berwudu. Rizal selalu membiasakan untuk berwudu sebelum tidur. Setelahnya ia masuk ke kamar Aya.
Rizal POV.
Sedari tadi dengan mencuri-curi pandang aku memperhatikannya. Aku melihatnya menguap berkali-kali. Terlihat jelas pancaran matanya sudah meredup seperti lampu lima watt. Dia bergegas masuk ke kamarnya. Sementara aku seperti biasa melakukan rutinitas sebelum tidur, sekedar membuang hadas kecil lalu berwudu. Setelahnya aku pun ikut masuk ke kamar.
Saat aku masuk ke kamar, aku melihatnya sudah tertidur, entah pura-pura tidur atau memang dia sudah benar-benar tidur. Terdengar suara dengkuran halus, ah rupanya dia memang sudah tertidur. Padahal kurang dari sepuluh menit yang lalu dia masuk kamar, cepat sekali dia tertidur.
Aku juga ingin merebahkan tubuhku yang terasa lelah ini. Lalu aku harus tidur di mana ya? Ku coba untuk mengingat kembali surat perjanjian yang sudah ku tanda-tangani tempo hari. Diantara banyak pasal itu yang paling aku hafal adalah pasal 1.
"Pihak Kedua bersedia untuk tidak melakukan kontak fisik terhadap Pihak Pertama tanpa persetujuan Pihak Pertama. " Benar kan, susunan katanya saja aku sangat hafal. Tidak boleh ada kontak fisik tapi tidak dijelaskan bahwa boleh atau tidak tidur bersama dalam satu ranjang.
Aku mencari-cari barangkali ada tikar atau kasur lantai yang bisa aku gunakan untuk tidur di bawah tapi aku tidak menemukannya. Tidak mungkin aku tidur di lantai tanpa alas tidur nanti aku bisa enter wind (alias masuk angin😅). Ok, baiklah aku juga akan tidur satu ranjang dengannya.
Aku merebahkan diriku tepat di sampingnya. Untuk pertama kalinya aku tidur dengan wanita, wanita yang kini sudah menjadi istriku. Aku tidak memungkiri ada perasaan aneh dalam diriku, detak jantungku berdegup lebih kencang seperti genderang mau perang, aliran darahku terasa mengalir lebih cepat dan deras, lebih deras dari air hujan yang sangat deras.
Orang bilang ini adalah malam pertama. Jika saja ini bukan pernikahan sandiwara tentu naluriku sebagai laki-laki akan melakukan apa yang semestinya dilakukan saat malam pertama. Tapi sekali lagi ini adalah pernikahan istimewa, tidak seperti pernikahan pada umumnya. Aku harus menghargainya, aku akan menjaga kepercayaannya dengan tidak melanggar isi dari surat perjanjian itu.
Aku membaringkan tubuhku menghadap dan memandang wajahnya. Ah, kenapa wajahnya terlihat sangat manis saat tidur. Membuat perasaanku semakin tidak karuan. Aku kembali merubah posisi tidurku, telentang menatap langit-langit kamar.
Sudah satu jam aku berusaha memejamkan mataku, namun sulit rasanya untuk tertidur.
Kemudian...
Brug...
Kaki kanannya menyilang di atas perutku. Disusul tangan kanannya memelukku. Aku bingung, jangan ditanya rasanya seperti apa, tubuhku terasa bergetar ada sesuatu yang terasa mulai menegang di bawah sana. Waduh bahaya ini mah. Aku berusaha mencoba menghempaskan tangan dan kakinya dari tubuhku dengan sangat pelan. Namun pelukannya malah semakin erat, dia malah mengenduskan hidungnya di sisi tangan kananku dan semakin erat memelukku. Sepertinya, dia merasa aku adalah gulingnya.
Ingin rasanya aku membangunkannya, mengingatkannya tentang pasal 1 di surat perjanjian itu. Kenapa malah dia yang melakukan kontak fisik duluan terhadapku. Kamu membuat aku berada di posisi yang sulit.
Teh Aya,,, bangun dong.!!!
Hah... Tentu saja aku hanya bisa berteriak dalam hati.
Ya Allah kuatkanlah aku dari godaan yang maha dahsyat dari kekasih halalku ini. Jangan sampai akhirnya aku melakukan hal-hal yang diinginkan. Aku berzikir saja barangkali bisa melemahkan sesuatu yang terasa semakin kuat ini.
Author POV
Ini kok gulingnya nyaman banget ga seperti biasanya, jadi pengen peluk lebih erat lagi. Gumam Aya di alam bawah sadar nya. Tangannya mulai meraba-raba gulingnya, dia merasa ada yang aneh dengan gulingnya. Lalu ia membuka matanya.
"Aaaaaaaaahhhh...." Aya berteriak.
"Husssh...." Rizal membekap mulut Aya. Aya berusaha melepaskan tangan Rizal yang membekap mulutnya. Rizal baru melepaskan tangannya ketika Aya sudah terlihat sadar dan nyawanya sudah terkumpul.
"Apaan sih kamu?!!" bentak Aya dengan pelan, khawatir suaranya terdengar di luar.
"Atuh Teteh kenapa teriak nanti dikira lagi diapain."
"Kamu kok tidur di sini?!"
"Lah saya harus tidur di mana? Kalau tidur di bawah tanpa alas nanti saya masuk angin," jawab Rizal.
"Ya sudah, kamu boleh tidur di sini... tapi dibatasi guling ... sebelah sini wilayah aku, sebelah sana wilayah kamu, tidak boleh melewati wilayah masing-masing," ujar Aya sambil tangannya meletakkan dan memposisikan guling di tengah-tengah mereka.
"Bukannya tadi Teteh yah yang nyerendel-nyerendel ke saya." Rizal menggoda Aya.
"Iiihhhh...." cibir Aya. Rizal hanya tersenyum gemas melihatnya.
"Udah kita tidur saja, besok kita banyak kerjaan, beres-beres rumah ini dan rumah aku."
"Memang Teteh sudah punya rumah, di mana?"
"Ya sudah nanti besok aja... besok juga tahu... Whoooaaamm..."
Plek... Aya langsung tertidur lagi.
Eh, si Teteh cepet amat tidurnya, bisa langsung tidur lagi begitu. Gumam Rizal dalam hati.
Wah Neng Aya pas udah nikah malah enak tidur yah, padahal sebelum nikah sering insomnia kan??.
Akang Rizal yang sabar ya,,, tapi lumayan lah udah menang banyak hari ini udah cium kening pas setelah ijab kabul tadi, udah jadi guling juga dipeluk-peluk sama Neng Aya.
Uhuy...
Like dan Komen ya biar author nya semangat. Vote juga dan kasih rate bintang terbaik untuk karyaku. Terima kasih. Love U.