NovelToon NovelToon
Teduhnya Wanita

Teduhnya Wanita

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Duniamasadepan / Tamat
Popularitas:107.7k
Nilai: 5
Nama Author: StrawCakes

Suatu hari Reka jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Zikri, seorang laki-laki yang ia tolong karena memiliki penyakit gula atau diabetes.

Pertemuan kedua mereka berawal dari Reka diterima bekerja di perusahaan milik Zikri. Lalu mengetahui Zikri sudah memiliki istri dan anak perempuan yang menyebutnya "mamah". Namun setelah istrinya meninggal dunia, Zikri semakin ketat mendekati Reka.

Bagaimana kelanjutan kisah hidup Reka? akankah Reka melabuhkan hatinya pada Zikri?

"Maukah kamu menjadi ibu dari anakku?" tanya Zikri pada Reka.


Selamat membaca 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StrawCakes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pada Kepo

Reka yang dipanggil namanya pun menoleh.

"Eh pak Dian saya cari-cari kirain kemana. Maaf ya pak saya baru dateng."

"Iya udah gak apa-apa. Kamu langsung masuk line aja ya, jangan lupa sarung tangan sama gelang graundid dipakai."

Reka mengangguk paham, kemudian Dian pun memberhentikan operator yang sedang berjalan didalamnya.

"Kalian jalan bertiga ya, soalnya hari ini produksi di line ini meningkat," ucap Dian dan Reka pun langsung masuk kedalam line terdebut sebagai orang pertama karena Reka masih sangat baru dan belum bisa semua prosesnya.

"Emangnya hari ini kita bikin berapa pak?" tanya Amel yang sebagai orang terakhir di line tersebut.

"Delapan ratus pices, tapi nanti bucketnya kalian full in ya soalnya stok di gudang udah mulai tipis. Syukur-syukur kalian bisa lebihin banyak di shutter," jelas Dian mebuat ketiga orang yang berada didalam line pun mengangguk paham. Dian menyalakan lampu line kembali dari merah ke hijau.

Lalu Yayan sebagai sub leader Dian datang menghampirinya saat Reka sedang merakit produk.

"Pak sini deh," Yayan sembari menarik lengan Dian menjauh dari line tersebut.

"Sebentar, saya lagi nulis dulu di papan produksi ini," Yayan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menunggu Dian selesai menulis.

Setelah selesai Dian mengikuti Yayan dan berdiri tepat di depan ruangan training.

"Pak tadi saya liat Reka turun dari mobilnya direktur. Kayaknya mereka berangkat bareng deh. Tapi bukan cuma Reka, ada Dinda anak buahnya pak Deni dan satu orang laki-laki yang kayaknya karyawan baru disini," penuturan Yayan membuat Dian berpikir sejenak.

Apa mungkin Reka emang berangkat bareng sama direktur? tapi mungkin aja sih, soalnya waktu hari Jumat aja dia keluar dari ruangan direktur masuknya telat pula lagi. Kalau emang bener, aduh gak boleh sembarangan memperlakukan Reka nih.

"Yaudah sih biarin aja, yang penting disini gimana cara kita kerja bikin produk yang bener. Gak bikin masalah, ngerakit sesuai instruksi kerja, selesai. Mau dia ada hubungan kek mau enggak kek. Itu urusan pribadi dia. Lagian lu tuh kenapa sih? cemburu sama si Reka atau temennya itu si Dinda?"

Yayan hanya cengengesan dan menggaruk kepalanya kembali.

"Ya, bukannya gitu pak. Masa iya kalau emang mereka ada hubungan si Reka masih ditempatin di produksi sih. Kenapa gak disuruh berhenti kerja aja?"

"Ngawur, iya kalau mereka ada hubungan asmara. Lah kalau mereka ternyata saudara, kasihan lah si Reka mungkin niatnya ke sini mau cari kerja buat orangtuanya di kampung masa suruh berhenti. Udah sana mending bantuin line yang lagi keteter dari pada ghibahin orang."

Mendengar masukan dari Dian, pemikiran Yayan pun akhirnya terbuka lebar.

Apes karena gue cemburu sama si Reka jadi pagi-pagi dapet ceramah dari pak Dian kan.

Yayan pun akhirnya pergi meninggalkan Dian sendiri disana dan berjalan menuju line yang target produksinya sedang banyak hari ini. Saat jam kerja seperti ini. Semuanya pada sibuk dengan line masing-masing terlebih leader dan sub leader.

Satu jam sebelum bel istirahat makan siang berbunyi. Hansen masuk ke ruang produksi sesuai perintah dari Zikri untuk menjemput Reka. Hansen pun menghampiri Dian yang sedang sibuk dengan kanban yang baru saja selesai ia print.

"Permisi pak Dian."

Dian langsung membalikkan tubuhnya.

"Eh pak Hansen, ada apa pak?"

"Saya dapat perintah dari pak Zikri untuk membawa Reka. Dan jam kerja Reka hanya sampai sekarang ya pak."

"Memangnya kenapa ya pak Hansen? saya lagi butuh orang buat line saya."

Mendengar perkatanyaan Dian, Hansen langsung membuka layar ponselnya untuk menghubungi Rifki seorang manager produksi yang super killer.

"Sebentar ya pak Dian," Dian pun mengangguk sembari berpikir.

Haduh semoga dapet orang pengganti supaya gak lembur sampai jam 9 malam.

Tak lama Hansen mematikan ponselnya, Rifki pun datang menghampiri mereka.

"Ada apa pak Hansen?" tanya Rifki dengan wajah datar nan dinginnya.

"Pak Rifki tolong carikan orang pengganti untuk Reka yang bisa di line ini. Kata pak Dian, line tempat Reka jalan itu sedang banyak permintaan produksinya."

"Oh gitu, hmm.. biasanya siapa Dian yang bisa disini?"

Dian hanya menghela nafasnya karena hubungannya dengan Rifki sebenarnya tidak terlalu baik saat Rifki lebih memihak line yang leadernya bernama Santi.

"Biasanya Kemuning pak, tapi sekarang Kemuning udah diambil bu Santi buat jalam di line nya."

"Kalau begitu pak Rifki pindahkan Kemuning ke line pak Dian sekarang ya. Soalnya Reka sudah ditunggu pak Zikri."

Rifki pun mengangguk. Ia langsung pergi dari hadapan mereka untuk membawa Kemuning pada Dian. Reka yang masih berada di dalam line pun hanya terdiam mendengar suara keributan yang barusan saja terjadi setelah Hansen berada disana.

"Suutt.. Reka," Riska yang berjalan di sebelah Reka pun penasaran dengan perbincangan sekretaris direktur, manager produksi dan juga leader.

"Apa?" jawab Reka dengan nada berbisik.

"Kamu ada hubungan apa sama direktur yang duda keren tajir melintir itu?"

"Entahlah."

Reka enggan untuk bercerita, karena dia bukan tipikal orang yang mudah menceritakan masalah pribadinya kepada orang yang hanya sekedar tahu dirinya tapi tidak mengenal dia lebih dalam.

"Ih pelit gak mau cerita," Riska mencebikkan bibirnya saat Reka enggan untuk menceritakan apa yang telah terjadi antara dia maupun Zikri. Menurutnya lambat laun semuanya akan terbongkar, terlebih mereka akan menikah kurang dari dua minggu lagi.

"Santi, saya mau ngambil kembali Kemuning buat line nya pak Dian. Ini perintah dari pak Hansen sekretaris pak Zikri itu."

"Yah, saya juga lagi butuh orang pak. Apalagi Kemuning bisa di semua line saya."

"Lemburin aja kalau gak sampe target," mendengar titah dari Rifki, Santi hanya menghela nafasnya pasrah.

Kemudian Kemuning pun dikeluarkan dari line tempatnya sedang proses.

"Stop! Kemuning ikut pak Rifki ya," Kemuning pun mengangguk dan langsung keluar line lalu berjalan dibelakang Rifki.

Dari kejauhan Dian dengan senyum tipisnya melihat Rifki berjalan dengan Kemuning dibelakangnya. Ia pun langsung mengeluarkan Reka dari line.

"Stop!" Dian memindahkan lampu line dari hijau ke merah tandanya operator yang berjalan di line membuat produk harus berhenti.

"Reka kamu ikut pak Hansen sekarang ya, kalian jalan dulu berdua nanti Kemuning masuk sini tenang aja," Reka pun mengangguk paham kemudian keluar dari line tersebut lalu Dian menyalakan kembali lampu hijau di line tersebut.

"Pak Hansen, Reka nya sudah bisa dibawa sekarang."

"Oke, ayok Reka pak Zikri sudah menunggu," Reka hanya mengangguk seraya melepaska sarung tangan dan juga gelang graundid yang ia pakai lalu ia taruh ke dalam kantong pakaian antistaticnya.

Setelah kepergian Hansen, Rifki yang baru saja tiba dihadapan Dian bersama Kemuning pun memberikan Dian berbagai macam pertanyaan.

"Dian nih masukin dulu si Kemuning ke dalam line."

Dian pun merasa bahagia, akhirnya Kemuning masuk ke dalam line sebagai orang ketiga. Setelah lampu line hijau kembali, Rifki yang masih penasaran mengajak Dian untuk berbicara.

"Dian, si Reka itu bukannya anak baru ya?"

"Iya pak, betul."

"Kenapa dia bisa kenal sama direktur?"

"Mana saya tau pak, kan saya bukan bapaknya."

"Yee kamu ini, saya curiga si Reka ngegodain duda itu.

"Gak boleh su'udzon pak gak baik, siapa tau si Reka saudaranya direktur mungkin."

"Ah iya bener juga ya kamu Dian. Yaudah lanjutin kerjanya."

Dian pun mengangguk lalu Rifki pun pergi meninggalkan Dian.

Aneh, kenapa juga pada penasaran. Lagipula urusan mereka sih pada kepo aja.

Bersambung..

1
dina
Luar biasa
Christy Oeki
sukses selalu
bythetwinny
vote ku untuk mu thor, semangat lanjutin cerita baru thor
StrawCakes🍰: terima kasih banyak 😍😍😍😍
total 1 replies
mutoharoh
😍😍😍😍😍😍
mutoharoh
👍👍👍👍👍👍
Tiktok: misshel_author
Hayoo looo ... 😉😉😉
Tiktok: misshel_author
❤❤❤❤
Tiktok: misshel_author
❤❤❤❤❤
Tiktok: misshel_author
Hai akak ... semangat ya ...
👑Ria_rr🍁
roti buaya nya wee jadi ngiler aku nyaa... jangan lupa bikin jamu bang biar ekheeem😅😅😅
RN
double like hadir harian datang lagi kk feedback totok pembangkit saling dukung kk
Mommy Gyo
2 like hadir Thor
Mommy Gyo
2 like hadir Thor salam cantik tapi berbahaya
coni
ehh, udah end ya😂 ketinggalan cerita baru dong.
abjdefghij
mampir
Andropist
cayo
Andropist
lanjut
👑
Yook lanjuuutt yookk 🏃🏃

semangat 💪
Mei Shin Manalu
Lanjut
ᴍ֟፝ᴀʜ ᴇ •
bener tuh bukan cinta, tapi egoisss..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!